
4 Tahun kemudian...
"FAUZAN!!" teriak Hanna dari dalam kamar.
Fauzan yang sedang meminum kopi di halaman belakang menjadi tersedak karena mendengar teriakan Hanna.
"Uhuk! Uhuk!"
Fauzan menepuk dadanya karena tersedak.
"Aduh! Ada apaan lagi sih?" gerutu Fauzan. Tapi tak urung dia segera menghampiri Hanna yang sedang berada di kamar.
"Ada apa?" tanya Fauzan sambil membuka pintu kamar.
Disana terlihat Hanna yang sedang duduk di atas karpet dengan perutnya yang membuncit.
"Bantuin bangun!" pinta Hanna dengan nada imut sambil mengulurkan kedua tangannya.
"Hah! Aku kira ada apaan," gumam Fauzan sambil menahan senyumnya.
"Aku denger loh. Aku gak bisa bangun juga gara-gara kamu," tuduh Hanna.
"Jadi kamu nyesel nikah sama aku?" tanya Fauzan sambil berjalan menghampiri Hanna dan membantunya bangun.
"Bukan aku yang bilang loh," ujar Hanna saat sudah berdiri dari duduknya dengan di bantu Fauzan.
"Terus kenapa kamu bilang gitu?" tanya Fauzan lagi.
"Ya maaf, tadi aku refleks karena pegal duduk terus," ucap Hanna sambil memegang kedua pipi Fauzan.
"Iya, gak pa-pa. Aku ngerti kok. Tadi aku takut loh kalau kamu nyesel udah nikah sama aku."
"Jangan sampai kamu berpikiran seperti itu lagi, ya. Aku gak pernah nyesel sama sekali. Justru aku sangat beruntung," ucap Hanna sambil mengalungkan tangannya ke leher Fauzan.
"Makasih." Fauzan mengecup kening Hanna dan tangannya yang mengusap perut Hanna yang membuncit.
Hanna dan Fauzan sudah menikah 1,5 tahun yang lalu. Dan sekarang Hanna hamil dengan usia kandungannya sudah hampir sembilan bulan.
"Oh, ya. Kita pergi ke rumah Bang Haikal yuk! Mau lihat dedek gemes Kaira!" ajak Hanna.
"Sekarang?"
"TAHUN DEPAN!! Ya sekarang lah!" kesal Hanna. "Ayo siap-siap!" ajak Hanna sambil menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit, mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Haikal yang tidak terlalu jauh dari sana. Mungkin sekitar 10 menit sampai kalau pakai mobil.
🌈🌈🌈
Sesampainya di rumah Haikal.
"KAIRA!! Auntie dateng!" teriak Hanna saat sampai di teras rumah Haikal.
Tak lama ada sosok anak perempuan berusia 2 tahun berlari dari dalam rumah.
"Auntie, Naa!" panggil Kaira, anak pertama Haikal dan Keisya.
Kaira pun memeluk kaki Hanna, awalnya Hanna ingin jongkok. Namun karena perutnya sudah besar jadi susah.
"Aduh Auntie kangen banget sama kamu." Hanna mengelus kepala dan pipi Kaira gemas.
"Ai uga kangen ama Auntie," ucap Kaira yang masih memeluk kaki Hanna. “Macuk yuk!” ajak Kaira. Lalu Kaira dan Hanna memasuki ruang tamu.
“Udah lama dateng kesini?" tanya Haikal yang datang dari dalam rumah menghampiri Fauzan.
"Nggak, baru aja," jawab Fauzan.
“Teriakan Hanna kenceng banget tadi, suaranya nyampe kamar,” sahut Haikal.
“Iya, semenjak Hamil. Banyak banget perubahan, termasuk suaranya itu yang melengking,” tambah Fauzan
"Hahaha! Ya udah, ayo masuk!" titah Haikal.
Haikal dan Fauzan pun masuk lalu duduk di ruang tamu.
"Kak Keisya dimana, Bang?" tanya Hanna.
"Dikamar lagi istirahat. Maklum kan usia kandungannya udah sembilan bulan lebih beberapa hari," ujar Haikal.
"Bang, Kaira aja masih usia 2 tahun. Mau punya anak lagi?" goda Hanna.
"Itu udah jadi rencana kita, biar seru aja umur mereka gak terlalu jauh!" ucap Haikal tenang.
"Kalau kalian gimana?" tanya Haikal.
"Ya kita jug—" Ucapan Fauzan terpotong oleh Hanna.
"Gimana nanti aja. Yang ini aja belum lahir, gimana sih?" kesal Hanna sambil mengelus perutnya.
"AAA!!" teriak Keisya dari dalam kamar.
Semua yang ada di ruang tamu terkejut, Kaira pun memeluk Hanna dari samping sedangkan Haikal langsung berlari ke arah kamar.
Disana Keisya tengah memegang perutnya dan terlihat ada cairan bening yang keluar dari daerah ************.
"Astagfirullah, Keisya!" kaget Haikal.
"Kal, aku kayaknya mau lahiran deh!" ucap Keisya menahan sakit.
"Apa? Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
__ADS_1
Dengan segera Haikal menggendong Keisya dengan ala brydal style.
Saat sudah sampai di lantai bawah.
Semua orang yang ada disana berdiri melihat Keisya berada di gendongan Haikal.
“Kenapa?” tanya Hanna khawatir.
“Mau lahiran. Zan, tolong bawa tas gendong yang berisi baju-baju yah di kamar!” pinta Haikal.
“Oke.” Fauzan segera berlalu menuju kamar Haikal.
Dengan segera Haikal menuju mobil.
“Bang, pakai mobil Fauzan aja dulu!” saran Hanna sambil mengikuti Haikal dengan tangan kanannya yang menggandeng Kaira yang tampak kebingungan.
“Oke.”
Haikal mendudukkan Keisya di kursi belakang disusul Hanna dan Kaira.
Lalu tak lama Fauzan datang dengan tas yang berisi baju-baju.
“Biar gue yang nyetir!” ujar Fauzan sambil memasuki pintu kemudi.
Mereka semua pun berlalu menuju rumah sakit terdekat.
🌈🌈🌈
Sesampainya di rumah sakit, Haikal dan Fauzan membopong Keisya yang tampak menahan perutnya.
Sedangkan Hanna menggandeng tangan Kaira dan mengikuti mereka memasuki rumah sakit.
“Auntie, Bunda napa sih?” tanya Kaira bingung.
“Kamu bakal segera punya adek, Ra,” jawab Hanna.
“Wah, benelan! Asik aku gak akan kecepian agi kalo gitu!” seru Kaira sambil lompat-lompat.
“Iya-iya. Ayo kita ke dalam!” ajak Hanna.
Sudah hampir dua jam, tapi dokter yang menangani Keisya belum keluar.
Tak! Tak! Tak!
Terdengar suara tergesa-gesa menghampiri mereka.
Yang datang adalah orang tua Keisya dan orang tua Haikal Hanna.
“Gimana keadaan Keisya?” tanya Mama Keisya, Kartika.
“Gak tahu, Tan. Dokternya belum keluar,” jawab Hanna.
“Di dalam, nemenin Kak Keisya,” jawab Fauzan.
“Oh, gitu.”
Satu jam sudah berlalu.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka.
Muncullah Haikal dengan wajah dan rambut yang kusut.
“Wah, Bang! Habis ngapain? Kusut amat tuh muka,” goda Hanna.
“Habis guling-gulingan,” canda Haikal sambil terkekeh.
Nadin menghampiri Haikal lalu memukul pundak Haikal.
“Jangan bercanda. Gimana keadaan Keisya? Anaknya udah keluar? Cewek apa cowok?” tanya Nadin menggebu-gebu.
“Alhamdulillah selamat dan sehat. Cowok,” jawab Haikal sambil tersenyum lebar senang karena akhirnya punya junior kecil.
“Alhamdulillah,” ucap semuanya.
🌈🌈🌈
Satu minggu kemudian...
Setelah melakukan aqiqahan hari ke tujuh kelahiran anak kedua Haikal dan Keisya. Kini semua keluarga besar Haikal dan Keisya melakukan acara makan-makan sederhana di rumah Haikal.
“Dede Arsa, gemes banget si. Mirip banget sama Bang Haikal waktu kecil,” ujar Hanna mengelus pipi Harsa, anak kedua Haikal dan Keisya.
“Iya, hasil jiplakan Haikal banget,” ucap Keisya yang sedang menggendong Harsa.
“Auw!” pekik Hanna.
“Kenapa?” tanya Keisya kaget.
Mereka berdua sedang duduk di bangku taman belakang rumah Haikal.
“Kok, agak mules ya perut aku!” ucap Hanna sambil memegang perutnya dengan keningnya yang mengerut.
“Hah! Beneran? Jangan-jangan mau lahiran lagi?” tebak Keisya.
“Kayaknya,” sahut Hanna memegang perutnya yang semakin sakit.
Keisya pun melihat ke arah kaki Hanna, dan disana terdapat cairan bening yang mengalir.
__ADS_1
“Astagfirullah!” Keisya menutup mulutnya.
“FAUZAN!!” teriak Keisya memanggil Fauzan.
Dalam dalam rumah, Fauzan tersentak kaget karena ada yang memanggilnya. Dengan segera dia menghampiri orang yang berteriak tadi.
“Ada apa?” tanya Fauzan dari pintu menuju taman belakang.
“Istri lo mau lahiran,” jawab Keisya dengan suara menggelegar.
Mendengar itu mata Fauzan membulat dan dengan segera menghampiri Hanna yang tengah memegang perutnya.
“Na, tahan dulu ya, tahan!” pinta Fauzan sambil menggendong Hanna.
Saat sampai di ruang tamu. Semua orang kaget melihat Hanna berada di gendongan Fauzan.
“Hanna kenapa?” tanya Nadin khawatir.
“Mau lahiran, Ma,” jawab Fauzan.
“Aku bawa ke mobil dulu ya,” lanjutnya dengan langkah tergesa.
Di susul oleh Nadin, Haikal, dan Haris.
“Biar Papah yang nyetir!” tawar Haris.
“Aku aja, Pah!” ujar Haikal sambil menuju pintu kemudi.
Fauzan pun mendudukkan Hanna di belakang bersama dirinya dan juga Nadin. Sedangkan Haris berada di depan bersama Haikal.
Dengan segera Haikal melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
🌈🌈🌈
Sudah hampir dua jam, tapi Hanna belum juga melahirkan.
“Yang kuat, Na!” pinta Fauzan sambil memegang tangan Hanna erat.
“Sakit, Zan,” lirih Hanna sambil memejamkan matanya.
“Iya, aku tahu. Sabar ya sebentar lagi.” Fauzan mengecup tangan dan kening Hanna bergantian.
“Ayo, Bu. Mulai mengejan!” intruksi seorang Dokter wanita.
“AAA!! Huh, Huh!” Hanna bernapas cepat.
“Sedikit lagi, Bu,” ucap Dokter.
“AAA!!” Hanna berteriak.
Suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan itu.
Senyuman terbit di wajah Fauzan begitu pula dengan Hanna.
“Selamat ya, bayinya laki-laki,” ujar Dokter itu.
“Alhamdulillah.”
Rasa sakitnya terbayarkan oleh anaknya yang sudah lahir ke dunia dengan selamat.
“Terima kasih sudah berjuang,” bisik Fauzan tepat di telinga Hanna.
“Itu udah tugas aku,” bisik Hanna kembali.
“Pak, bisa di adzani dulu!” ujar Dokter itu saat sudah membersihkan bayinya.
“Bismillahirrahmanirrahiim.” Fauzan pun mulai mengadzani anaknya dengan lembut.
Seusai di adzani, Fauzan membawa anaknya ke pangkuan Hanna.
“Mirip kamu, Zan,” ucap Hanna sambil mengelus pipi anaknya.
“Iya, tapi hidungnya mirip kamu deh kayaknya,” ujar Fauzan sambil menatap hidung anaknya dan Hanna bergantian.
“Masa sih?”
“Iya.”
“Kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?” tanya Hanna sambil menatap Fauzan.
“Sudah.”
“Apa?”
“Faizan Jazib Abqary,” jawab Fauzan lalu mengecup kening anaknya.
Kedua nya pun tersenyum bahagia karena akhirnya diantara mereka kehadiran malaikat kecil yang menjadi sumber kebahagian mereka nantinya.
...\~\~THE END\~\~...
🌈
Terima kasih kepada semua yang sudah berkenan mampir ke cerita aku. Akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita yang sudah aku mulai.
Mohon maaf juga atas semua kesalahan dan kekurangan dalam cerita ini. Karena memang cerita ini masih banyak kekurangannya.
Bila ada kesalahan mohon beritahukan.
Sekali lagi Terima kasih🙏🙏
__ADS_1
‘WASSALAM’