
"Kenapa lo gak bilang kalau cafe ini punya lo?" tanya Hanna kesal setelah kembali dari kasir.
"Emang penting, ya?"
"Penting banget tauuu, kan gue bisa makan sepuasnya disini," ucap Hanna dengan kekehan diakhir.
"Enak aja, gue gak sekaya itu. Dan juga lo gak bersyukur banget sih, udah untung lo gak bayar makan tadi," kesal Fauzan.
"Ya-ya maaf dan makasih," ucap Hanna dengan tulus.
"Ya udah yuk pulang!" ajak Fauzan.
Lalu Fauzan pun mengantar Hanna pulang ke rumahnya.
🌈🌈🌈
Tapi di tengah perjalanan, Fauzan melesetkan perjalanannya menjadi bukan ke arah rumah Hanna.
"Eh eh eh! Ini mau kemana? Ini bukan arah rumah gue, harusnya tuh belok kanan bukan lurus. Lo mendadak amnesia apa gimana si?" kesal Hanna melihat Fauzan tidak menuju rumahnya.
"Lo kali yang amnesia," ucap Fauzan.
"Hah! Maksudnya?" heran Hanna tidak mengerti.
"Gak. Lo ikut aja, di daerah sini ada tempat yang bagus. Lo pasti bakal suka," ucap Fauzan lagi.
"Ya deh." Hanna menurut saja kemanapun Fauzan pergi.
"Eh! Kok gue jadi nurut gini ya?" batin Hanna.
Setelah 10 menit perjalanan ...
Akhirnya pun mereka tiba di sebuah gang yang sepi. Disisi nya terdapat hutan kecil dengan pohon yang tinggi-tinggi
"Heh! Lo gak ada niat mah nyulik gue kan? Rumornya disini kan banyak bayangan-bayangan hitam gitu," ucap Hanna curiga.
"Gak ada untungnya gue nyulik lo, dan itu hanya akal-akalan supaya gak ada orang yang kesini,"ucap Fauzan sambil terus berjalan menelusuri gang kecil itu. "Kalau gue mau nyulik lo. Gue bakal izin dulu kali sama orangtua lo," lanjutnya di dalam hati.
Sesampainya di ujung, terdapat sebuah rumah kecil dengan di pinggir rumah itu terdapat pagar yang tinggi.
"Dari luarnya aja nyeremin, pulang aja yuk!" ajak Hanna sambil memegang lengan kiri Fauzan.
"Jangan liat sesuatu dari covernya doang, kalaupun ada sesuatu, ada gue kok tenang aja, dan juga ini milik keluarga gue," jelas Fauzan.
"Ah! Bilang dong dari tadi kalau tempat ini milik keluarga lo," kesal Hanna sambil memukul lengan Fauzan.
"Lo gak nanya," ucap Fauzan lalu berlalu masuk rumah itu.
"Ya sih. Tapi seenggaknya lo beri tahu." Hanna hanya menatap punggung Fauzan yang sedang membuka pintu rumah itu. "Tungguin dong," lanjutnya setelah melihat Fauzan memasuki rumah itu.
Merekapun memasuki rumah itu yang isinya masih misterius.
"Kok gelap banget sih, Zan," ucap Hanna sambil memeluk lengan kiri Fauzan. Dan itumah Fauzannya yang menang banyak.
"Tenang aja ada gue disini." Fauzan menenangkan Hanna sambil mengelus punggung tangan Hanna yang berada di pundaknya.
Fauzan sedari tadi hanya menahan senyum, untung disini cahayanya minim banget. Jadi gak bakal kelihatan bahwa ia sedang menahan senyum.
__ADS_1
Seketika di ujung ada sedikit secercah cahaya yang menyilaukan mata mereka sehingga mengharuskan mereka menutup mata.
"Woah!" Hanna berdecak kagum setelah membuka matanya karena ia berada di sebuah jalan yang tergantung dan di bawahnya terdapat berbagai jenis bunga dengan aliran air yang sangat jernih di pinggirnya.
"Sejak kapan di daerah sini ada beginian?" tanya Hanna dengan mata berbinar.
"Tempat ini itu dibuat sejak sepuluh tahun lalu oleh orang tua gue," jawab Fauzan. "Dan gak ada yang tahu soal ini. Kecuali keluarga gue," lanjutnya.
Hanna tercengang mendengarnya. "Terus kenapa lo ngasih tahu gue, kenapa gak Nayla dan Angga juga kasih tahu?"
"Iya nanti gue kasih tahu. Ini juga tadi baru keinget, soalnya udah lama gue gak kesini. Terakhir itu pas kelas sambilan SMP, jadi mumpung keinget tadi, sekalian gue ajak lo," jelas Fauzan.
"Oh ...."
"Ya udah yuk kita ke rumah pohon!" ajak Fauzan.
"Yuk yuk." Hanna mengiyakan ajakan Fauzan dengan sangat antusias.
"Sebagai gantinya karena tadi gue gak jadi berduaan sama Hanna. Jadi mumpung inget, gue ajak aja dia kesini," batin Fauzan.
"Ini rumah pohonnya bukan yang kayak di film-film deh perasaan. Ini tuh desainnya beda, bagus banget," puji Hanna sambil melihat lihat rumah pohonnya.
"Iya. Rumah pohonnya itu ada tiga. Yang dua hanya bisa diisi oleh dua orang, dan yang di ujung bisa oleh sekeluarga. Nginep juga bisa disana," jelas Fauzan.
"Ihh! Ogah nginep disini. Ya walaupun bagus sih, kalau nginep aku gak mau," ucap Hanna bergidik ngeri.
"Tapi kalau malam lebih bagus. Diatas ada tempat bisa liat bintang, ada teropongnya juga," ucap Fauzan sambil menunjuk jalan menuju ke atas.
"Yang bener?"
"Ya udah deh kapan-kapan aja. Ajak juga Nayla sama Angga, bair ramean!" saran Hanna.
"Iya-iya," ucap Fauzan dengan nada malas.
"Zan, fotoin dong!" titah Hanna sambil menyodorkan handponenya.
"Iya."
Hanna pun mengambil tempat yang pas buat di foto.
Cekrek! Cekrek!
Hanna pun melihat hasilnya.
"Cocok gak gue jadi model?" tanya Hanna.
"Lumayanlah," jawab Fauzan.
Sebenarnya Fauzan gengsi untuk mengakui bahwa Hanna sangat cocok jadi model.
"Hah! Masa sih?"
"Iya."
"Biarin kita sendiri-sendiri dulu, ya. Gue mau menenangkan dan menata pikiran," pinta Hanna. Lalu ia pun pergi sedikit menjauh dari Fauzan.
Sedangkan Fauzan tidak beranjak dari sana. Ia tetap menatap Hanna yang sedang menutup mata menikmati udara segar sesekali memandang bunga-bunga yang sangat indah.
__ADS_1
"Lo banyak berubah, Han. Gue seneng bisa lihat lo lagi. Ya meskipun lo gak kenal sama gue sebagai teman kecil lo, dan gue harap lo segera mengingat gue tanpa di paksa," batin Fauzan sambil menatap sendu kearah Hanna.
Lalu Fauzan diam-diam memotret Hanna candid.
Cekrek!
Fauzan pun tersenyum melihat hasilnya.
Tak terasa hari semakin sore, dan sekarang jam sudah menunjukan pukul 15.00.
"Zan, pulang yuk!" ajak Hanna.
"Yuk."
Mereka pun pergi dari tempat yang indah itu.
🌈🌈🌈
Sesampainya di rumah Hanna.
"Mau mampir dulu," ajak Hanna.
"Mau sih. Tapi gue mau ke cafe lagi, mau ngontrol," tolak Fauzan halus.
"Ya udah deh yang punya bisnis sendiri mah beda ya, sibuk terus," ucap Hanna dengan nada sedikit menyindir.
"Haha iya. Tapi gue seneng kok ngelakuin ini, udah berpenghasilan walau di umur 17, tanpa minta ke orang tua," ucap Fauzan.
"Iya sih. Semoga lo sukses terus." Hanna mendoakan Fauzan dengan tulus.
"Aamiin. Ya udah gue duluan," pamit Fauzan.
"Iya. Makasih buat hari ini."
Fauzan hanya mengacungkan jempolnya lalu berlalu menuju cafe.
Hanna pun masuk ke dalam rumah yang tampak sepi.
Sesampainya di ruang keluarga ia melihat kedua orangtuanya sedang berpelukan sambil menonton film horor.
"Gak tahu tempat banget sih. Ck!" Hanna berdecak pelan.
"Ma, Pah, jadi bener ya aku mau punya adek?" tanya Hanna tiba-tiba dan mengejutkan orang tuanya yang sedang berpelukan.
"Maksud kamu apa sayang?" tanya heran Mama Hanna.
"Aku pernah mimpi, aku lagi bicara sama bocah kecil. Jadi aku ngira itu pertanda kalau aku bakal punya adek," jawab Hanna.
"Kamu gak akan punya adek," jelas Papah Hanna.
"Bener nih?"
"Iya," ucap Mama dan Papah Hanna.
"Ya udah kalau gitu aku ke kamar dulu," pamit Hanna lalu berlalu ke kamarnya.
TBC
__ADS_1