
Setibanya Hanna dan Fauzan di ruang guru. Mereka langsung menghampiri Pak Aril.
“Permisi, Pak! Bapak menganggil kita?” tanya Fauzan.
“Oh, ya. Kalian sudah datang ternyata. Silahkan duduk!” titah Pak Aril, ia termasuk guru yang diincar oleh para guru perempuan dan siswi di sekolah itu. Karena umurnya yang masih muda dan juga paling tampan.
“Ada apa ya, Pak, memanggil kita kesini?” tanya Fauzan mewakilkan.
“Gini, sekolah kita mendapat brosur dari salah satu universitas bagus di luar negeri. Mereka memberi kesempatan ke sekolah kita supaya salah satu murid di sini bisa masuk ke universitas disana. Dan bapak mau kalian mempertimbangkan supaya masuk ke sana!” jelas Pak Aril.
“Universitas yang ada dimana ya, Pak?” tanya Hanna.
“Di Jerman dan Amerika, tapi sayangnya hanya bisa satu orang ke Jerman dan satu orang ke Amerika. Jadi salah satu di antara kalian berdua harus memilih di antara kedua tersebut!”
Deg!
Jantung Hanna dan Fauzan berpacu cepat mendengar penjelasan dari Pak Aril. Jika mereka memilih salah satu dari Jerman dan Amerika pasti mereka bakal terpisah sangat jauh.
“Apa gak ada siswa lain yang Bapak rekomendasiin?” tanya Fauzan.
“Em ... bukannya Bapak gak percaya sama siswa lain. Tapi Bapak melihat kemampuan dalam berbicara bahasa inggrisnya, dan hanya kalian berdualah yang mahir. Terutama Hanna, kamu kan sebelumnya tinggal di luar negeri.”
“Dan juga akan ada beberapa tes untuk bisa masuk ke sana. Tentu tesnya pasti akan berbahasa inggris. Dan pada ulangan-ulangan sebelumnya, nilai bahasa inggris kalian sempurna!”
“Jadi Bapak harap kalian mempertimbangkan ini baik-baik. Berdiskusilah sama orang tua kalian, dan kalian tentukan akan pergi kemana. Karena hanya bisa satu orang saja yang bisa masuk ke Amerika dan Jerman!”
🌈🌈🌈
Saat ini Hanna sedang dalam perjalanan pulang dan dijemput oleh Haikal.
Selama perjalanan, Hanna hanya bisa diam memikirkan perkataan Pak Aril. Sebenarnya ia ingin kuliah di luar negeri, tapi disisi lain ia tidak ingin jauh-jauh dari keluarga, termasuk Fauzan.
Entah kenapa dia akhir-akhir ini sering kepikiran tentang Fauzan. Sebenarnya siapa Fauzan itu di dalam hidupnya? Ia rasa Fauzan pernah ada di hidup sebelumnya.
Haikal yang sedang menyetir pun merasa heran dengan sikap Hanna. Dari saat Hanna memasuki mobil, dia terus terdiam melamun. Ia tahu betul sikap orang yang sedang melamun atau orang yang sedang memperhatikan jalanan.
“Dek, kamu kenapa? Ada masalah?” tanya Haikal.
Pertanyaan dari Haikal pun Hanna hiraukan.
“Hey!” Haikal memegang pundak Hanna dan itu membuatnya tersentak kaget.
“Astaghfirullah!”
__ADS_1
“Kamu kenapa sih?”
“Em ... nanti aku ceritain saat di rumah ya, Kak!” ujar Hanna dengan nada lesu.
“Baiklah,” putus Haikal.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah.
“Assalamu’alaikum,” salam Hanna dan Haikal sambil membuka pintu.
“Waalaikumussalam,” jawab salam Nadin yang tengah menonton film di ruang keluarga.
“Aku ke kamar dulu!” pamit Hanna setelah mencium tangan Nadin.
Sedangkan Haikal memilih duduk di samping Nadin.
“Hanna kenapa?” tanya Nadin yang heran melihat sikap Hanna.
“Aku gak tahu, Ma. Tapi katanya nanti dia akan berbicara dengan kita,” jawab Haikal.
“Oh, begitu. Baiklah.”
🌈🌈🌈
Sebenarnya dari dulu impiannya yaitu bisa kuliah di luar negeri, terutama di Amerika. Makanya dari SMP dia sudah belajar bahasa inggris.
“Gue ingin sekali kuliah disana. Tapi di sisi lain gue gak mau jauh lagi sama Hanna. Sekarang aja Hanna belum ingat sama gue. Apalagi nanti kalau gue pergi jauh, bisa-bisa Hanna gak akan ingat-ingat siapa gue,” batin Fauzan.
“Gue harus ngomong sama Mama, Papa,” gumam Fauzan.
Lalu iapun berlalu menuju ruang keluarga yang dimana disana ada orang tuanya.
Sesampainya di ruang keluarga.
“Ma, Pah,” sapa Fauzan sambil duduk di dekat mereka.
“Ada apa, Zan?” tanya Alex sambil mematikan televisinya. Karena ia rasa, Fauzan akan berbicara hal yang serius. Mengingat dia melihat Fauzan membawa sebuah brosur.
“Ada yang mau aku bicarain sama Mama dan Papah,” ucap Fauzan.
“Apa, Zan?” tanya Istia.
“Menurut Papah dan Mama, apa aku harus kuliah ke Amerika?” tanya Fauzan sambil menatap Istia dan Alex.
__ADS_1
Alex dan Istia jadi paham sekarang alasan Fauzan terlihat murung semenjak pulang sekolah tadi.
“Bukannya kamu ingin sekali bisa kuliah di Amerika, terus sekarang apa yang membuat kamu terlihat murung?” tanya Alex.
“Aku gak ingin jauh lagi dari Hanna, Pah. Aku baru aja ketemu sama Hanna beberapa bulan. Ini saja Hanna masih belum ingat sama aku, dan sekarang harus berpisah lagi,” keluh Fauzan.
“Gini, Zan. Kami tahu kamu itu sangat sayang sama Hanna. Tapi jangan sampai Hanna jadi alasan kamu tidak jadi untuk mengejar cita-cita kamu. Jodoh, rejeki, dan kematian, semuanya sudah ada yang ngatur. Kamu tinggal ngejalanin aja. Dan jika Hanna tahu kamu tidak pergi ke luar negeri gara-gara dia, kamu bayangkan betapa sedih nya dia!” nasihat Istia.
“Kalau Hanna, dia kuliah kemana?” tanya Alex.
“Dia di rekomendasiin ke Jerman,” jawab Fauzan.
“Kenapa kamu tidak ke Jerman aja bareng Hanna?” tanya Alex heran.
“Karena sekarang teknisnya begitu. Hanya bisa seorang yang kuliah ke Jerman dan ke Amerika. Jadi aku gak bisa ke Jerman, tapi memang pada awalnya aku hanya ingin kuliah ke Amerika,” jelas Fauzan.
“Oh begitu ....” Alex menjeda ucapannya lalu menatap Istia meminta persetujuan.
“Keputusannya kami serahkan semuanya sama kamu. Apapun yang kamu putuskan, kami pasti setuju. Karena akhirnya kamu yang akan menjalani semuanya. Asal kamu nanti jangan sampai menyesal,” lanjutnya.
🌈🌈🌈
Sekarang jam menunjukkan pukul 8 malam. Setelah Hanna dan keluarganya selesai makan, mereka beralih ke ruang keluarga karena ada yang mau Hanna bicarakan.
“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Nadin.
“Gini, Hanna dapat brosur universitas X dari sekolah. Dan mereka merekomendasiin Hanna untuk masuk kesana ....” Hanna menjeda ucapannya.
“Jadi, pendapat kalian bagaimana?” tanya Hanna.
“Bagus, dong. Itukan universitas yang ada di Jerman. Kalau kamu kuliah disana, bisa tinggal di rumah Nenek dan Kakek. Jadi kamu gak perlu khawatir,” ujar Haris.
“Iya. Tapi tetep saja semua keputusan ada di tangan Hanna. Kalau dia ingin kuliah disana, ya bagus karena dekat dengan Nenek dan Kakek, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Kami tidak ingin memaksa kamu,” ucap Nadin.
“Aku juga inginnya begitu, tapi ....” Hanna menggantungkan ucapannya.
“Aku kan baru tinggal di Indonesia beberapa bulan, masa ke Jerman lagi. Sekalian aja dulu gak usah pindah kesini,” lanjutnya.
Sebenarnya, alasannya bukan hanya itu saja.
“Alasannya cuma itu, atau karena gak mau jauh dari ... Fauzan.” Haikal mencoba untuk menggoda Hanna.
🌈🌈🌈
__ADS_1