Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-50


__ADS_3

Hanna meregangkan tubuhnya yang terasa lemas. Dia mulai membuka matanya perlahan-lahan. Saat matanya sudah terbuka, dia tidak bisa melihat apa-apa. Disekitarnya sangat gelap, sepertinya saat ini sudah hampir tengah malam, dia hanya melihat sedikit pantulan cahaya dari luar yang masuk ke gorden.


Tapi kenapa ada gorden, dan Hanna merasa sekarang ia berada di atas kasur. Dan juga kasur itu tidak asing.


Ia pun mengendus-endus bau bantalnya.


Ya, tidak salah lagi. Dia sekarang ada di kamarnya sendiri, tapi kenapa semuanya gelap. Apakah mati lampu?


Tidak biasanya mati lampu begini. Apa Papa nya lupa buat bayar listrik?


Itu tidak mungkin. Mereka tidak pernah telat untuk bayar listrik.


“Tadi gue ngerasa di bius oleh seseorang yang memakai masker dan hodie hitam, deh. Gue kira gue bakal di culik ke tempat yang jauh gitu. Tapi kenapa gue malah ada di kamar, apa jangan-jangan gue berhasil di selamatin sebelum penculiknya pergi? Terus kenapa pada gelap gini sih?” heran Hanna.


“MAMA!! PAPAH!!” teriak Hanna memanggil orang tuanya.


Tapi tidak ada seorang pun yang menjawab.


“Apa mereka sudah tidur? Ish! Sekarang pukul berapa sih?” kesal Hanna.


“Handpone mana lagi?” Hanna meraba-raba kasur dan laci untuk mencari handpone nya.


“Kok, gak ada?”


Hanna merasa frustrasi karena tidak menemukan handponenya.


Dan akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar.


Dia perlahan-perlahan menuju pintu dengan cara ngesot di lantai.


Alasan dia memilih ngesot, karena ia tidak mau kakinya kejedot oleh sesuatu yang membuat kakinya sakit.


Untungnya dia tahu arah pintu kamarnya kemana.


Saat sudah sampai di samping pintu, ia segera berdiri dan memegang gagang pintu.


HAP! Ia berhasil membuka pintunya.


Dan keadaan di luar kamar masih sama, semuanya tampak gelap.


“Hah! Kenapa harus mati, sih?” kesal Hanna.


Dengan segera ia menuju ke lantai bawah dengan cara ngesot pula karena takut kejedot sesuatu.


Saat sudah dekat dengan ujung tangga.


Dia menurunkan kakinya ke tangga yang pertama, dan begitu seterusnya dia menuruni tangga dengan memakai p*nt** nya dan juga kakinya.


Saat sudah di tengah-tengah tangga, dia terkejut karena lampunya tiba-tiba menyala.


“HAPPY BIRTHDAY!!”


Suara tiupan terompet menggema di seluruh ruangan.


Di bawah sana ia melihat, Haikal, Fauzan, Nayla, Angga, Dilfa, Firza, Lea, Leo, dan kedua orang tuanya yang sedang memegang bolu.


“Nak, ayo turun!” titah Nadin.

__ADS_1


Hanna yang masih duduk di tengah-tengah tangga hanya terdiam.


“Apa semua ini?” gumam Hanna.


Dari raut wajah Hanna, ia tampak kurang suka dengan semua ini.


“Kenapa, Dek? Kamu gak suka, yah?” tanya Haikal sambil berjalan mendekati Hanna.


Saat sudah sampai di dekat Hanna, Haikal berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya.


“Ayo, tuan putri!” ajaknya.


Hanna hanya terdiam sambil menatap tangan kanan Haikal yang mengambang di udara.


Tapi tak lama kemudian Hanna menyambutnya.


Haikal tersenyum lebar melihatnya. Mereka berdua pun berdiri dan berjalan menuju ruang keluarga dimana teman-teman dan orang tuanya ada disana.


Sesampainya Hanna di tengah-tengah ruangan, dia hanya terdiam karena terkejut dengan apa yang terjadi.


“Hanna, selamat ulang tahun, sayang! Maaf ya tadi Mama tidak jadi buat kue bareng kamu. Ini semua kejutan pertama kali buat kamu, dan kamu tahu gak siapa yang ngerancanain ini semua?” tanya Nadin setelah menyimpan kuenya di atas meja.


“Siapa?” tanya Hanna.


“Tentu saja Haikal dan teman-teman mu itu, Mama dan Papah hanya ikut-ikutan aja,” jawab Nadin.


“Bukannya tadi aku hampir di culik? Apa aku berhasil di selamatin sebelum penculik itu membawa aku?” tanya Hanna menggebu-gebu.


Semua orang terkekeh mendengar itu.


“Kenapa?” tanya Hanna bingung.


“Maksud lo?”


“Jadi gini ....” Fauzan pun mulai menceritakan rencananya.


“Gue gak mau jadi penculiknya,” tolak Leo.


“Udah lo mau aja, ya! Lo kan pinter tuh ngatur strategi, dan lo juga mirip psikopat,” ucap Lea dengan nada mengejek.


“Gue gak mau!” tugas Leo.


“Leo, plis! Kali ini aja, soalnya ini yang pertama dan yang terakhir juga buat Hanna!” pinta Fauzan.


“Kenapa?” tanya semuanya.


“Karena kita bakal kuliah di luar negeri yang berbeda negara, bahkan berbeda benua,” jelas Fauzan.


“Hmm.” Leo menimang-nimang permintaan itu.


“Baiklah,” putus Leo.


“Nah, gitu dong!” Lea menepuk pundak Leo dua kali.


“Makasih! Nah ... jadi nanti waktu sore hari kita semua datang ke rumah Hanna, tapi yang masuk duluan tentu Leo dulu untuk melancarkan aksinya buat menculik Hanna. Dan kita semua tunggu sedikit jauh dari rumah Hanna,” jelas Fauzan.


“Lalu, gue harus bawa Hanna kemana?” tanya Leo.

__ADS_1


“Lo gak harus bawa Hanna kemana-mana. Kita kurung Hanna di kamarnya aja, dan kita buat pesta di rumahnya juga. Tapi sebelumnya kita juga harus kerja sama orang tuanya. Dan selama Hanna pingsan kita dekor ruang keluarga dan ruang tamu secara sederhana, karena kata Bang Haikal, Hanna tidak terlalu suka acara mewah.”


“Dan untuk masalah kue itu urusannya Bang Haikal dan orang tuanya. Kita hanya perlu menyiapkan peralatan buat ngedekor,” lanjutnya.


“Begitu, ceritanya,” ucap Fauzan.


“Jadi kalian semua ngerjain gue?” tanya Hanna dengan meninggi.


Tiba-tiba suasana di ruangan itu sedikit canggung.


“Kenapa, Han? Kamu tidak suka ya, sama kejutan ini?” tanya Nadin.


“Bukan, gitu. Tapi gak harus pakai acara nyulik aku, kan?”


“Maaf, Han. Gue gak tahu kalau lo gak suka dengan cara seperti itu!” ucap Fauzan dengan nada bersalah.


“Ya udahlah, terlanjur terjadi juga,” ucap Hanna sambil berjalan menuju tangga.


“Han.”


“Han.”


Panggil semua orang merasa bersalah, mereka tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini.


Sebelum Hanna menginjakkan kakinya ke tangga, tangannya lebih dulu di cekal oleh Fauzan.


“Hanna, tunggu!”


“Apa?”


“Setidaknya lo harus ngehargain kue yang sudah di buat oleh Mama lo dan Bang Haikal!” pinta Fauzan.


Hanna hanya membuang muka ke arah berlawanan dengan Fauzan. Karena sedari tadi ia berusaha untuk menahan tawanya supaya tidak pecah.


“Han, tolong!”


“Pttff!” Tawa Hanna hampir pecah karena sedari tadi ia tahan.


Semua orang hanya mengernyit heran mendengar itu.


Dan sekarang hanya Haikal yang menyadari bahwa Hanna malah mengerjai mereka balik. Dengan segera ia menghampiri Hanna dan menyimpan kepala Hanna dengan ketiaknya.


“Aaa!! Ahh!!” teriak Hanna sambil memukul tangan Haikal.


“Dasar ya kamu malah ngerjain kami balik!” ucap Haikal.


“Bang! Bang! Lepas!” pinta Hanna yang sudah kecekik.


“Haikal, lepasin! Kasihan adik kamu!” tegur Haris.


Haikal yang mendengar teguran dari Papahnya pun langsung melepaskan tangannya dari kepala Hanna.


“Ketiak Kakak bau, ih!” canda Hanna.


“Eh! Kamu tuh ya!” Haikal mencubit pipi Hanna.


“Aaa!! Sakit tahu!” Hanna memukul tangan Haikal.

__ADS_1


“Jadi, kamu mengerjai kami dengan cara pura-pura marah?” tanya Haris tegas.


🌈🌈🌈


__ADS_2