Kakak Gemes

Kakak Gemes
Bocah sinting vs KaGem


__ADS_3

"Selamat datang di Indomerit, selamat belanja."


Anak yang di sapa ramah pelayan toko hanya menoleh dan tersenyum.


Dia Noa Ramadhan.


Bocah kelas 6 SD yang sedang di suruh sang bunda membeli minyak angin.


Anak itu baru saja pulang sekolah. Masih mengenakan seragam sekolahnya lengkap dengan tas penuh buku.


Sang bunda mengiriminya pesan singkat, memintanya membelikan minyak angin untuk kucing peliharaannya yang sedang kembung.


Dia berjalan di deretan rak obat-obatan. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Noa berjalan hendak ke meja kasir.


Belum lima langkah ia berjalan, matanya menangkap objek yang menarik. Matanya fokus memandang. Terkesima? Terpana? Apa yang sebenarnya ia lihat?


A. melihat cewek super keceh nan seksih


B. melihat diskonan di rak sewa toko


C. melihat jodohnya


Dan jawabannya adalah. . .


Jeng jeng jeng. . . .


Betul sekali sodara Parmin dari tegal. Anda mendapatkan panci bekas pakai Selena Gembos masak mie instan rasa yang pernah ada. Hadiah akan di kirimkan via tol dan di potong pajak. Pegangan panci akan di bawa kembali oleh pihak kurir.


Noa terbengong-bengong melihat sosok di hadapannya. Tampaknya dia sedang mencari-cari sesuatu di rak parfum.


Dan ilmu sotoy Noa keluar juga. Ia menghampiri seseorang yang sedang kebingungan di depan rak tersebut.


"Kak, lagi cari apa? Parfum?" tanya Noa pertama kali dengan berbasa-basi.


Seorang yang di tanya pun menoleh dan menjawab.


"Iya, lagi cari merk Kucelle sama Presh."


Mata Noa mencari-cari parfum yang di sebutkan barusan.


"Ini kak. Di bawah sini." ucap Noa menunjuk rak di bawah.


"Oh, iya. Makasih ya, dek." ucap seorang remaja tersebut.


"Iya kak. Boleh tau nama kakak siapa?" tanya Noa.


"Tera. Tera Ramadhani." jawabnya.


"Wiih...nama belakang kita miripan. Aku Noa, kak. Noa ramadhan. Kakak sekolah dimana, kelas berapa?" tanya Noa lagi.


Dia. Tera juga masih memakai seragam sekolahnya.


Ia menjawab. "SMP Nusa. Baru kelas tujuh kok."


"Oh, aku kelas 6 SD, kak. Ntar lulus sekolah aku masuk sekolah yang sama dengan kakak, ah." Noa bicara padahal tak ada yang bertanya.


"Oh, oke. Aku mesti buru-buru pulang nih. Makasih ya udah bantu nyariin parfumnya." pamit Tera.

__ADS_1


Tapi pergerakannya di cegah oleh Noa. Dia cekal erat pergelangan tangan kiri Tera.


"Kak, kayaknya kita jodoh deh. Nama belakang kita aja miripan. Kita gak kembar juga, lain ibu. Aku yakin kita jodoh." ucap Noa terdengar terlalu kepedean.


Noa itu titisan dewa pede. Tingkat kepedeannya sudah akut. Stadium empat plus plus.


Tera yang bingung bisa bertemu dengan bocah yang ternyata sinting ini pun mencoba melepaskan cekalan Noa.


"Ck...lo mah ngaco aja. Kita gak mungkin jodoh. Ngaco lo, bocah."


Tera berbicara kasar. Keluar lah sifat aslinya.


"Emang ngaco gak bakal berujung jodoh, kak?" tanya Noa.


"Gak. Menurut gue enggak. Lagian gue udah punya pacar. Dan pacar gue guanteng parah. Gue beli parfum ini buat hari istimewa kami."


Tera menunjukan parfum tersebut ke depan wajah Noa.


Ia berlalu pergi menuju meja kasir dan melakukan pembayaran. Selesai transaksi, Tera bergegas keluar dari minimarket.


Tapi Noa tak tinggal diam, ia pun bergegas mengikuti Tera setelah sebelumnya melakukan pembayaran atas barang yang ia beli.


"Kak...oy, tunggu kak...Tera." panggil Noa.


Tera yang di teriaki bocah yang sudah di anggapnya sinting itu pun tak menoleh.


Tera berjalan cepat, terburu-buru.


Akan tetapi Noa tak menyerah.


Ia tetap mengejar seseorang yang menurutnya pujaan hatinya, yang ia klaim sebagai jodohnya.


Hanya ini yang bisa Noa lakukan untuk menandai seorang Tera untuknya.


"Kak...ku tunggu second mu."


***


Tit tit. . .tit tit. . .tit tit. . .


"Gyaaaaaahhhhh...alarm sialan. Ganggu aja lo !!!"


Noa yang sedang beranjak remaja, mengomel di pagi hari ini. Mimpinya bersambung entah ada episode berikutnya atau tidak saat ia kembali tidur di malam harinya.


"Walah...apa ini???? Gue ngompol? Kok beda warna? Apaan sih ini?" teriaknya lagi.


Noa berpikir sejenak. Namun pikirannya buntu.


"Bundaaaaa...ini apa yang lengket di celana Noa??? Bunda kasih lem semalem????"


Noa sudah duduk di kelas sembilan. Tampaknya Noa sudah akil balig sekarang. akil balig yang terlambat.


Setelah hari dimana Noa berteriak dan membangunkan semua tetangga komplek perumahannya, dia menjalani hari-harinya dengan normal.


Noa selalu membanggakan sang bunda dengan prestasinya. Hingga ia lulus SMP dengan nilai dan peringkat terbaik.


Satu yang sang bunda pertanyakan, bahkan beliau tak sungkan bertanya langsung pada sang anak. Mengapa anak tunggalnya tak pernah mau dan tak tertarik melihat wanita selain sang bunda.

__ADS_1


Apa karena Noa yang masih belum mengerti ketertarikan dengan lawan jenis?


Atau Noa yang pandai berahasia?


***


Waktu berlalu dengan cepatnya. Noa tak masuk SMP Nusa seperti yang ia ucapkan ke seseorang yang dulu ia anggap jodohnya.


Dimana ia sekarang? Masih imutkah? Masih galak kah?


Noa tak tahu.


Hidup Noa berpindah-pindah. Ia hanya tinggal berdua dengan bundanya. Hanya bunda yang ia miliki di dunia ini.


Itu mungkin salah satu alasan bunda membawa Noa kemana pun ia pergi dan berpindah-pindah padahal Noa sudah menyatakan ia bosan dan ingin menetap.


Bunda menjadi single parent sejak Noa berusia satu tahun. Sang Ayah pergi entah kemana.


Noa lelah berpindah-pindah kota, mempunyai temen baru lagi, beradaptasi lagi. Setelah berkeliling dan berpindah kota dengan bunda, ia memutuskan untuk tinggal sendiri. Ngekost lebih tepatnya.


Meninggalkan bunda dengan kesibukannya di kota lain, ia baru mendapat ijin untuk ngekost setelah membujuk bunda selama enam bulan ia bersekolah di kelas sepuluh.


Selama enam bulan itu ia sudah pindah sekolah hingga tiga kali di kota yang berbeda. Bunda memang bekerja yang di haruskan dinas berpindah-pindah.


Setelah bujukan Noa yang menguras energi dan memeras otak mencari banyak alasan, dan karena bunda juga merasa kasihan pada anaknya yang tak mempunyai teman tetap, dengan terpaksa beliau mengijinkan anaknya untuk menjalani kehidupan sebagai anak kost.


Dan beruntungnya, ia kembali ke kota ini. Kota dimana ia bertemu dengan seseorang yang membuat hatinya bergetar-getar gemas.


Di kota ini ia kembali, kota ini yang ia pilih saat pembicaraan dengan bunda beberapa hari yang lalu saat hampir berlalu liburan semester ganjil.


Noa kembali, alasan terkuatnya untuk mencari pujaan hatinya. Entah ia ada dimana. Masih disini atau sudah pindah. Noa tak tahu. Dan Noa akan mencari tahu. Ia berharap, semoga ia bisa bertemu dengan pujaan hatinya lagi.


Seharusnya, pujaan hatinya saat ini sudah duduk di kelas sebelas.


Yang Noa lakukan pertama kali setelah sampai di kota ini adalah mencari tempat kost. Kemudian ia mencari sekolah baru. Tetapi ia tak sekedar mendaftar saja. Ia harus ingat terus tujuan utamanya kembali.


Noa mendatangi sekolah-sekolah di kota ini dengan alibi ingin mendaftar tetapi ia melihat dahulu fasilitas yang tersedia di sekolah tersebut. Dan tak lupa ia menanyakan siswa yang bernama Tera Ramadhani.


Setelah beberapa hari ia mencari, dan sudah beberapa sekolah ia datangi, akhirnya ia menemukan juga nama Tera Ramadhani. Untungnya, dahulu ia sempat menanyakan nama pujaan hatinya. Tak terlalu sulit mencarinya sekarang ini.


Ia lihat fotonya di daftar siswa. Iya dia. Orang yang Noa cari. Tak salah lagi.


Tak ada perubahan dari dirinya di foto tersebut. Wajahnya masih wajah yang Noa ingat selalu saat bertemu di minimarket tersebut.


Hanya bertambah tinggi mungkin perubahannya? Noa penasaran, ia harus secepatnya mencari tahu tentang Tera sekarang. Noa tak sabar ingin bertemu dengannya.


Noa bercermin di layar ponselnya, ia merasa mempunyai banyak perubahan fisik sekarang. Kecuali tampang ganteng maksimalnya yang tak berubah, malah kian bertambah.


Sampai saat ini ia masih betah single. Ia tak akan berpacaran bila bukan dengan pujaan hatinya.


"Hm...Tera Ramadhani, apa lo bakal kenal gue?" gumam Noa.


Ia tersenyum penuh arti, ia begitu percaya diri ada cinta setelah ini.


"----tunggu...gue bakal beri kejutan buat lo. Gue bakal buktikan sama lo, jodoh "kita" gak mustahil."


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2