
"Bagaimana? Sah?"
"Sah......"
"Alhamdulillah...."
Hari ini, hari yang di nantikan. Pernikahan Bunda. Abahnya Ahmad terlihat sumringah telah memperistri wanita yang anggun.
Bunda tersenyum malu-malu saat Abah menyematkan cincin pernikahan mereka. Ijab kabul sudah dilaksanakan dengan khidmat. Prosesi pernikahan pun terlaksana dengan lancar.
Acara setelah ijab kabul hanya selamatan saja. Tak ada resepsi besar-besaran. Bunda tak menyukai keriaan. Beberapa tamu undangan Bunda adalah teman sekantornya dahulu. Teman ojek online Abah, ada beberapa yang di undang pula.
Tentunya, Noa dan Ahmad kini telah resmi menjadi saudara tiri. Dimas pun ikut bersuka cita. Dan Sandy yang juga menghadiri acara pernikahan Bunda pun ikut bahagia.
Kang Acep berburu makanan berlomba dengan kang Jhon. Rima menjadi wasitnya.
Ada tiga orang yang sebelum acara ijab kabul tadi di perkenalkan Noa pada Tera.
Teman kosannya yang terdahulu.
Orang-orang yang mempunyai andil mendukung hubungan mereka. Orang-orang yang ambil bagian membuatkan kotak musik yang indah itu.
Ternyata benar, ada pertemuan juga ada perpisahan. Seimbang. Dan Tuhan akan mempertemukan kembali seseorang dengan yang lainnya apabila menurut-Nya layak untuk bertemu kembali.
Dan akhirnya, karena Noa dan teman-temannya adalah orang-orang yang termasuk dalam layaknya dipertemukan maka mereka dipertemukan dengan cara yang baik.
Kang Tisna yang paling tua di antara mereka, di dampingi oleh kang Ajat yang baru Noa ketahui bahwa mereka sekarang telah menjadi duo sukses di kota orang. Kang Engkos pun tak ketinggalan membawa serta istrinya yang sedang hamil besar.
Tera membayangkan perutnya pun bisa membesar. Membuncit seperti istri kang Engkos.
Tera takut di ledek Noa, ia pun takut dirinya menjadi bulat-bulat namun bukan tahu bulat dan akhirnya diabaikan oleh Noa. Ia takut menjadi bundar-bundar bola sepak. Ia takut Noa berpaling terutamanya kepada Sandy.
Tera betah berfoto bersama Noa dalam berbagai gaya. Segala pose itu telah di abadikan lewat bekuan kamera. Ada satu foto favorit Tera. Foto saat Noa berposisi di belakangnya dengan tangannya yang melingkari perutnya.
"Cieehh...mesra euy calon penganten." ledek Ahmad.
"Mad, lo mau gue pecat dari sodara tirian kita?" canda Noa.
"Ggahaha...jangan dong bosku." kata Ahmad.
"Cieeh si Ahmad iparan sama Tera." Dimas mencolek-colek lengan Ahmad.
"Oy, gue bukan sambel colek. Gue bentar lagi punya ade baru. Iya gak, Noa?"
Ahmad berbangga diri di iringi acungan jempol Noa.
"Moga gak mirip lo, Noa." kata Dimas yang berkomat kamit.
Tera menautkan alis. "Loh, kenapa? Noa kan tampan. Bagus lah. Kalo mirip si Ahmad, gue yang gak setuju."
"Ya, jangan mirip si Ahmad juga. Ntar dia otaknya bodong kayak si Ahmad. Dede bayi jangan sampe idiot kayak Ahmad."
Dimas menengadahkan tangannya. Ia mendapatkan geplakan di kepalanya. Pelakunya tentu saja Ahmad.
"Lagian lo, Dim. Punya dendam apa lo. Calon adek gue di doain gak mirip gue? Gue tampan poenya gini." kata Noa.
"Maksud si Dimas yang jangan mirip mah cabulnya. Mau lo, dede bayi lo itu mesum kayak lo?"
Ahmad menjabarkan sejelas-jelasnya.
Noa tertawa terbahak-bahak. "Lah, kenapa emang? Biarkan dia kayak gue. Berkreasi."
__ADS_1
"Mesum lo bilang kreasi."
Dimas menimpuk Noa dengan tisu bekas.
"-----mending mirip Tera lah."
Tera bingung. Ia membatin. 'Lah kok mirip gue? Gimana caranya? Dicetak gitu? Gue ikutan bikin dede bayi juga enggak, termasuk dalam keluarga pun belum.'
"Oh, gue setuju sebagai calon Kakak. Mendingan mirip Tera aja." ujar Ahmad.
"Ck, sebagian lah. Ada mirip gue. Ada mirip Tera. Perpaduan yang pas." kata Noa.
"Maksud lo, mukanya sebelah mirip lo sebelahnya lagi mirip Tera gitu?" tanya Ahmad.
Dimas menggeplak kepala Ahmad. Yang di geplak tak merasa teraniaya. Ia malah memberikan cengiran idiotnya.
"Mad, idiot lo. Perpaduan itu campuran bukan separoan. ****** lo mau di bawa kemana?" sewot Dimas.
"Kayak lagu."
Ahmad memberikan cengirannya lagi.
Sandy merasa tak bisa berbaur bersama mereka. Ia mulai membuat gestur tak betah.
"Deuh, Sandy diem mulu lo. Mau kayak Tera? Nih, gue mau jadi sukarelawan buat lo." canda Dimas.
"Ehem, gue balik dulu ya." pamit Sandy tiba-tiba.
"Mendadak amat. Kenapa? Mau buang hajat?" tanya Ahmad.
"Ck, itu mah di rumah si Ahmad juga ada toilet atuh, Sandy. Jangan di bawa pulang. Itu bukan sebagian dari oleh-oleh." canda dimas yang kemudian mengejek sahabatnya sendiri.
"----jangan kayak si Ahmad. Abis kulineran males buang hajat. Katanya sayang kalo di keluarin. Buncit deh kayak celengan semar. Ahmad bunting. Si idiot yang suka jongkok di kloset duduk."
"Duduk, baby. Cape kan berdiri terus." kata Noa.
Tera duduk bersebelahan dengan Noa. Ia memperhatikan tamu Bunda dan Abah yang masih asyik mengobrol sambil makan.
"Mau aku beliin daster gak? Oh, atau kemeja yang seksi-seksi itu loh." ujar Noa.
Tera menggeleng tegas. "Gak mau. Lagian kamu masih aja ngayal aku lagi hamil."
"Saran aja atuh sayangku."
Noa berlalu pergi mengambilkan minum untuk Tera.
Karena Noa cukup lama mengambil minum, Tera iseng membuka folder foto Noa. Folder foto-foto lama yang tak pernah mendapatkan perhatiannya.
Satu folder foto berisikan foto Jati dan Rima.
'Jadi yang selama ini ngirim foto-foto perselingkuhan itu Noa. Abaikan ajalah. Toh, Noa melakukan hal yang baik untuk gue.' batin Tera.
Lalu ada folder lain yang membuatnya penasaran. Ia membuka folder itu. Tampilan foto-foto satu per satu muncul. Menampilkan foto Noa dari remajanya saat ini hingga ke foto lama. Foto masa kecil Noa. Mungkin masih duduk di bangku sekolah dasar.
'Anak ini. Rasanya gue pernah liat. Gak asing. Gue inget anak ini. Tapi dimana. Gue yakin udah kenal anak ini. Noa. Ternyata di masa kecilnya sudah pernah berkenalan dengan gue.' batin Tera.
"Baby, ini minumnya. Lama ya. Aku tadi di ajakin ngobrol dulu sama kang Tisna." kata Noa.
Sejenak Tera berpikir. Tetapi tak bisa dengan tenang mengingat-ingat kejadian masa lalu. Melupakan pun tak mungkin. Berpikir dan mengingat di situasi ramai seperti ini sungguh sulit.
Acara selamatan pun selesai. Semua tamu Bunda dan Abah sudah pulang. Kang Acep mengajak semua orang berkumpul di kosan. Menyisakan Noa, Dimas dan Ahmad yang masih berkutat dengan berserakannya sampah di tambah cucian peralatan makan yang menumpuk.
__ADS_1
Mereka melarang Tera untuk membantu. Ia hanya duduk memperhatikan mereka, dan hal itu membuatnya bosan.
Tentunya, pasangan pengantin tak boleh di ganggu. Dengan alibi istirahat, Bunda dan Abah memasuki kamar mereka. Sudah bisa dipastikan mereka sedang melakukan apa.
***
Beberapa hari setelah Bunda dan Abah resmi menjadi pasangan suami istri. Tera duduk di taman kota tanpa Noa.
Kabur dari pengawasan Noa, sepulang sekolah Tera duduk di taman tanpa alasan yang jelas, ia hanya termangu. Terkadang, kenangan yang belum bisa di ingat sungguh mengganggu pikirannya.
Seorang bocah berumur sekitar tujuh tahun menghampirinya dengan baju yang lusuh sembari membawa ukulele. Ia menyerahkan bouquet bunga lily putih untuknya. Tanpa mengucapkan apapun anak itu berlari pergi entah kemana setelah bunganya berada di tangan Tera.
Ada gulungan kertas seperti yang biasanya ia dapatkan. Bedanya, ia sudah mengetahui bahwa ini dari Noa. Tera membuka gulungan kertas dengan pita biru muda itu. Terpampang tulisan tangan milik Noa. Satu kata 'jodoh' tertulis di kertas itu.
"Jodoh?"
Tera tersenyum. Iya. Tersenyum. Dahulu, ia tak mempercayai tentang jodoh dan cinta.
Menurutnya itu hanya mitos belaka. Sebelum ia mendapatkan sentuhan kasih sayang dari Noa. Setelah Noa mengajarkan ketulusan, ia menyadari jodoh itu bukan kemustahilan. Tak ada yang mustahil di dunia ini. Bila ada harapan atau doa, pasti akan terkabulkan segala keinginan.
Begitupula dengan cinta. Yang juga ia anggap cerita dari negeri dongeng. Ah, tetapi akhirnya ia menyerah. Noa bisa membuat hatinya berbalik. Dengan segala kesungguhan dan ketulusan. Noa menyayangi dirinya dengan sangat.
Ia tahu makna bunga lily. Bunga yang di sebut sebagai ratu taman karena keindahan dan aroma semerbaknya. Bunga lily putih yang Noa berikan ini sebagai simbol kesucian, kemurnian, dan juga ketulusan. Bunga lily juga lambang keindahan. Sesuatu yang menawan.
Bunga ini sengaja Noa berikan bersama gulungan kertas bertuliskan kata jodoh itu untuk mengutarakan sesuatu yang belum bisa ia sampaikan. Noa melamar Tera dalam bentuk bunga lily putih. Simbol cintanya yang murni dan tulus. Cinta suci.
Tera pulang ke kosan. Ia tahu Noa tak akan membiarkannya berjalan sendiri. Sejak ia berusaha kabur dari pengawasan Noa, Tera tahu Noa mengikutinya dengan bukti gulungan kertas ini. Tentunya, dua sahabatnya pun setia mengekorinya.
Di kosan, ia membuka kotak tempat penyimpanan kertas-kertas ulangan miliknya. Disana masih tersimpan beberapa gulungan kertas.
"Minimarket. Bocah kelas 6 SD. Parfum. Ramadhan(i). Jodoh. Apa ya, hem?" monolognya.
"----iish, itu anak di foto kayak kenal. Hm, dimana gue ketemunya. Ada hubungannya sama ini semua. Noa apa-apaan sih? Bikin teka-teki banget."
Ia memasukan kembali kertas-kertas itu dengan rapi bertepatan dengan Noa yang memasuki kamarnya.
"Heii, baby..."
Noa mengecup pipi Tera berkali-kali.
Noa menggusak kepala Tera dengan sayangnya.
"---Sini, cantik."
Noa membuka kalung berliontin kunci itu. Kotak musik itu ia bawa serta dari kamar Tera ketika memasuki kamarnya. Ia memutar kuncinya dan terdengarlah alunan musik yang merdu itu. Manis.
"Noa, aku kepikiran pengen ngerasain ngidam deh. Ya ngayal dulu aja gitu." ujar Tera polos.
Noa nyengir. "Wadaw...aku gak enak hati. Bakalan tersiksa akunya."
Tera menampilkan cengiran sok imutnya. Noa hanya menadahkan tangan, ia berdoa agar dirinya masih utuh hingga aksi ngidam bohongan itu selesai.
Hem, Tera memulai aksi ngidam. Ia ingin yang asam-asam. Belimbing wuluh sepertinya enak. Ahmad pasti mau memetik buah itu.
Tera membatin jahat. 'Kalo dia gak mau gue babuin, Ahmad bakal di blacklist dari daftar om nantinya.'
Dimas harus mau buatin rujak belimbing wuluh. Kalo dia nolak gue suruh-suruh, gue doain si Justin campakin dia. Biarin si Justin minggat dari rumah. Biarin Dimas nanti stres.'
Sepertinya Tera yang mulai stress, kawan.
***
__ADS_1
Tbc