
"Gue punya kasih sayang. Mubazir nya sampe saat ini belum bisa gue bagi ke dia." monolog Noa.
Ia sedang membuat status di salah satu akun sosial media. Sambil menenteng dua plastik tutut pedas pesanan dua akangnya.
"Wow...dapet banyak like. Wih, komentarnya ajib semua. Eh, siapa nih? Sandy." katanya.
Perjalanan ke kosan masih lumayan jauh. Motornya, di pinjam bapak kost untuk ngedate dengan ibu kost.
Untuk membunuh kejenuhan, ia pun bermain di dunia maya. Ada satu komentar dari seorang remaja bernama Sandy.
'Kalo gue perhatiin fotonya sih, masih seumuran gue. Itu juga kalau fotonya asli.' batin Noa.
"Aslina geulis pisan (asli cantik banget)." pujinya.
Ia baca berulang kali satu komentar dari akun bernama Sandy itu. Niatnya Noa hendak membalas komentar tersebut, namun Sandy keburu mengirim pesan pribadi kepadanya.
Sandy
Gue sering liat lo. Noa yang ngekost di kosan bu Nengsih. Bener?
'Hm, ini siapa sih? Kok tahu nama gue, akun gue kan bukan nama asli. Tahu juga gue tinggal di kosan. Dia orang kompleks sini juga?' batin Noa.
Satu pesan baru masuk lagi.
Sandy
Boleh gue minta nomor ponsel lo?
'Minta nomor ponsel gue buat apa ya. Dia bukan sales kan?' pikirnya.
Akhirnya setelah berpikir sejenak Noa memberitahukan nomor ponselnya kepada Sandy. Noa membalas pesan pribadi itu sekedar memberikan nomor ponsel saja, tak lama ada pesan masuk dari nomor tak di kenal.
'Cepat amat langsung chat gue. Hm, gue save nomor ponselnya dulu, baru gue bales.' pikir Noa.
Sandy
Ini nomor gue, Sandy.
Noa
Oh, oke.
Sandy
Gue ganggu lo gak?
Noa
Hm, gak kok.
Sandy
Lagi apa?
Noa
Lagi pengen tau lo siapa. Kok tau gue.
Sandy
Tau, lo ngekost di sebrang rumah gue.
'Hm, sebrang kosan ya. Rumah bercat putih itu, yang gak keliatan penghuninya tapi mobil keluar masuk terus.' pikir Noa.
Belum sempat ia membalas, Sandy mengirim pesan lagi.
Sandy
Boleh ketemu lo?
Noa
Gue lagi di jalan balik ke kosan.
Sandy
Oke. Gue tunggu di depan gerbang rumah gue.
'Eh? Emang gue bilang setuju mau ketemu dia gitu? Ah, ya udahlah terserah dia aja.' batinnya.
Noa lanjut membaca komentar dari status yang ia post barusan. Ada dua komentar baru dari dua sahabatnya. Isinya selalu ledekan dan hinaan yang berfaedah sekali dan membuat hatinya tergores.
Di tambah dua komentar protes dari dua akangnya yang katanya mereka menunggu lama tutut pedasnya.
'Elah, harus banget apa. Yang gitu aja pake ngasih tau di kolom komentar. Mereka terlalu pengen eksis.' batin Noa menggerutu.
Dan satu lagi komentar dari akun Tera.
'HAH? ah, beneran Tera. Dia kirim emot senyum doang sebiji. Gue bales emot cium seratus biji.' batin Noa pamer.
Sedang asyik-asyiknya berbalas komentar, ada seorang remaja perempuan yang berjalan dari arah berlawanan menepuk dahi dan mendumel sendiri, ia membawa kotak yang sudah di buka di depan dadanya.
__ADS_1
"Waduh, kumaha ieu. Ah, nyaah acis na." monolog si remaja perempuan.
(aduh, gimana ini. Ah, sayang uangnya).
Ketika ia hampir berpapasan dengan Noa, spontan Noa pun bertanya.
"Maaf, teh. Kalo boleh tau, teteh kenapa?"
"Oh, ini loh. Saya pesan barang lewat online. Salah kirim, barangnya bukan yang ini yang saya pesan. Kurir bilang ini pesanan saya udah bener. Saya hubungi penjualnya, nomornya gak aktif. Ini saya tertipu apa emang salah kirim sih." dumel si remaja perempuan panjang lebar.
"Oh, gitu." jawab Noa sekenanya yang bingung harus menanggapi dengan kalimat apa.
"Ck, tau gitu duitnya saya beliin yang laen." dumelnya lagi.
Noa kasihan pada perempuan tersebut. Ia bisa membantu karena Bunda masih mengirim uang yang berlebih untuk biaya hidupnya disini. Walaupun ia tak tahu isi dari kotak itu, apa salahnya membantu orang yang membutuhkan.
"Saya beli aja barang yang ada di dalem kotak itu, teh." ucap Noa.
"Yakin. Kamu gak mau tau dulu isinya apa? Bisa jadi ini gak manfaat juga buat kamu loh." kata perempuan itu.
"Asal bukan bom, saya yakin mau beli." ucap Noa sembari tersenyum.
Perempuan itu tersenyum lega. "Makasih loh."
"Teteh mau jual berapa?" tanya Noa.
"Segini aja." katanya.
Remaja perempuan itu mengetik nominal di ponselnya untuk memberitahukan harga yang ia inginkan. Tanpa proses tawar menawar, Noa membeli sesuai harga yang remaja perempuan itu inginkan.
Ia mengeluarkan sejumlah uang yang langsung di terima dengan senang hati oleh remaja perempuan itu. Ketika senyumnya masih merekah, remaja perempuan itu pun menyerahkan kotak yang sudah terbuka ke tangan Noa dan berlalu pergi dari hadapannya.
Noa lanjut berjalan ke kosan. Ia penasaran dengan kotak yang sudah berpindah ke tangannya. Ia melihat isi dari kotak itu. Ia angkat sedikit isi dari kotak tersebut. Hm, baju tidur terusan setengah paha yang terlihat imut dengan gambar wanita berkepang dan tirai kerang.
Menurut remaja tadi, ini tak berguna untuk Noa. Menurut Noa, mungkin akan berguna suatu hari nanti.
Kotak itu ia tutup kembali agar tak terlihat isinya oleh orang-orang yang berlalu lalang di jalanan.
Sampailah ia di depan rumah ibu kost, ia sempatkan menoleh ke sebrang. Ada seseorang yang diam berdiri di depan gerbang rumahnya. Di lihat dari wajahnya, orang itu yang tadi mampir komentar di statusnya. Sandy.
Seseorang yang ia duga Sandy itu melambaikan tangan, Noa tak ragu menghampirinya. Ia yakin, Sandy melambaikan tangan memberi isyarat untuk Noa mendekat bukan memanggil tukang cireng yang lewat.
"Sandy?" kata Noa dengan telunjuk mengarah singkat pada sosok Sandy.
Seseorang yang bernama Sandy itu tersenyum dan mengangguk. Noa pun membalas senyumannya. Noa memperhatikan wajah yang beda dengan di foto profil barusan. Aslinya, ia tak bisa di nilai cantik saja.
Sandy terlalu manis untuk manusia berjenis kelamin perempuan. Hm, iya manis parasnya. Senyumannya pun tak kalah manis. Hanya saja Sandy tak seperti wanita pada umumnya, ia terlihat tomboy.
"Hey, Noa." sapa Sandy ramah dengan senyuman yang khas.
"Tutut gue mana, Noa? Sini lo." teriak ibu tiri yang drama alias kang Acep.
Noa menoleh ke asal teriakan itu, kang Acep mengacungkan sapu lidi. Noa pun mengacungkan jempolnya.
"Gue udah di tungguin tuh. Laen kali ngobrol lagi." pamit Noa dan Sandy mengangguk.
Baru berjalan dua langkah, Sandy memanggil kembali.
"Noa." panggil Sandy.
Noa pun menoleh dan Sandy lanjut bicara.
"----Hm, kapan-kapan gue boleh maen ke kosan lo gak? Atau lo mau gak nemenin gue ke pasar malem."
Noa hanya mengangguk sebagai tanggapan, Sandy tersenyum lega.
"Noa, lo kemana aja? Mulut gue udah monyong menantikan tutut yang mau gue sedot." sewot kang Acep.
Ia merebut dua plastik isi tutut pedas itu.
"Kang, lo beralih profesi jadi tukang sedot wc." canda Noa sembari masuk kosan membawa kotak beserta isinya yang ia beli barusan.
"Durhaka lo." kata kang Acep.
Kang Jhon sedang mendengarkan musik lewat headsetnya sembari manggut-manggut. Ia melepas headset saat kang Acep masuk kosan dan menuju dapur.
"Apa tuh, Noa?" tunjuk kang Jhon ke kotak yang Noa bawa di depan dada.
"Hm, kostum buat drama, kang." jawab Noa asal.
"Oh, ada tugas drama dari sekolah?" tanya kang Jhon lagi.
Noa mengiyakan apa yang di tebak kang Jhon. Ia masuk ke kamar dan menyimpan kotak itu di atas meja mini yang ia buat sendiri.
"Hohoho...kapan ya Tera pake ini?"
Noa mengusap-usap dagu sambil menengadahkan sedikit wajahnya, ia berpikir sambil nyengir lebar.
***
Jam olahraga giliran untuk kelas Noa hari ini. Mereka bermain bola sembari menunggu jam pelajaran olahraga selesai, karena guru yang mengajar berhalangan hadir.
__ADS_1
"Giring yang bener." seru salah satu temen sekelas Noa.
"Gue bukan Giring Nidji." kata Noa yang di sambut tawa anak-anak yang lain.
"Noa, gol'in...yeayy." teriak semua siswi teman sekelasnya.
Noa nyengir mendapat sambutan tepuk tangan dari mereka, kaum wanita yang sayangnya tak bisa membuatnya tertarik. Mereka sudah berseru seperti itu padahal Noa belum meng'gol'kan bola tersebut.
'Kalo gue gol'in bola ini, ramenya seperti apa, gue gak bisa bayangin.' batin Noa.
Bel istirahat berbunyi bertepatan dengan berakhirnya jam pelajaran olahraga kali ini. Noa yang masih mandi keringat berlari ke kelas Ahmad. Inginnya sih, menemui Tera. Kalau ia sedang dalam mode galak, Noa bisa beralasan menemui Ahmad.
Ah, Tera ada disana, ia duduk masih dengan menulis sisa-sisa penjelasan guru barusan. Noa memasuki kelas tersebut, Ahmadlah yang sadar akan kehadirannya.
"Oy, tumben lo nyamperin gue." seru Ahmad.
Noa nyengir lebar. "Pengen aja, lur."
"Jorok, belum ganti baju lo. Keringet lo, elah." kata Ahmad yang menghindari Noa yang sengaja memeperkan keringat bahkan merangkul Ahmad sampai seragamnya basah akibat keringat Noa yang menempel disana.
"Jorok."
Ahmad menoyor Noa yang nyengir.
Noa sempatkan melirik ke tempat Tera duduk. Tera mencuri-curi pandang ke arah Noa. Sesekali ia menggigit bibirnya saat menoleh. Noa memergoki kegiatan curi pandang tersebut, Tera kembali memandang datar kepada Noa.
Melepas rangkulan di bahu Ahmad, Noa menghampiri Tera. Bertepatan dengan Dimas yang memasuki kelas yang sama.
"Lur, ngantin lur. Udah pada ngantin belum?"
Dimas menghadang jalan Noa menuju ke tempat Tera berada.
"Lur, jangan blokir jalan gue." protes Noa.
"eeehh...sorry dulur."
Dimas melipir dan menghampiri Ahmad. Mereka duduk berdua disana, memperhatikan sesuatu yang akan Noa lakukan.
Noa lanjut berjalan ke tempat dimana Tera masih duduk. Tera menunduk sambil memasukan bukunya ke dalam tas. Ketika Noa duduk di sampingnya, Tera masih cuek.
"Mau ke kosan gue gak pulang sekolah ini?" bisik Noa.
Tera menoleh lucu, matanya membulat dan mulutnya sedikit menganga.
'Hm, dia manis. Bahkan lebih manis dari sosok Sandy kemarin.' batin Noa.
Ia menaikturunkan alis menunggu jawaban dari Tera. Akhirnya, Tera mengangguk juga.
"Mau ngantin?" tanya Noa yang di tanggapi gelengan kepala dari Tera.
"----jawab iya atau enggak. Jangan angguk sama geleng aja."
"Enggak.." kata Tera pelan.
"Oke. Gue balik ke kelas dulu. Nanti pulang sekolah lo tunggu di kelas aja. Gue kesini lagi." ucap Noa.
Ia pun meninggalkan Tera tanpa menunggu jawaban. Ia tak pergi ke kantin bersama dua sahabatnya.
'Mendingan ganti baju, pake parfum sebotol biar wangi pas jemput Tera di kelasnya pulang sekolah nanti.' pikir Noa yang sedang di landa jatuh cinta hingga tak peduli pada perutnya.
***
Pulang sekolah, Tera duduk manis di bangkunya. Ternyata ia tak beranjak dari sana sebelum Noa datang menghampirinya. Noa sudah mengirim pesan kepada Dimas dan Ahmad agar mereka pulang duluan.
Selama perjalanan Tera hanya diam. Ia menunduk, sesekali melihat sekeliling dengan tatapan kosongnya. Noa memberanikan diri menggandeng tangan Tera, dan Noa merasakan Tera tak menolak.
Noa membawa Tera masuk ke dalam kamarnya namun tak menutup pintunya. Dua akangnya belum pulang kuliah.
"Gue udah beli minuman. Ambil aja ya." tunjuk Noa ke sudut ruangan kamar.
Disana terdapat beberapa plastik berisi cemilan dan minuman. Tera mengangguk kecil, ia duduk di kasur dan menyimpan tasnya di sebelahnya. Noa pun mengambil tas itu dan menggantungnya di belakang pintu.
Duduk di samping Tera, Noa berusaha membuka percakapan lagi.
"Kenapa diem aja? Lo gak nyaman sama gue?"
Tera menggeleng. Hanya itu responnya.
"Gue pengen denger jawaban iya atau enggak." bisik Noa tepat di depan telinga Tera yang bergidik kegelian.
"Gak." lirih Tera.
Tanpa berbasa-basi, Noa mengungkapkan keinginan di dasar hatinya.
"Hm, ijinin gue buat deket sama lo." kata Noa.
Tera menoleh. "Ini udah. Kita udah dempetan."
Noa menepuk dahi. "Bukan itu, jangan lari-larian lagi, jangan kabur-kaburan lagi, nanti gue lelah ngejar lo terus. Kaki gue encokan."
Tera hanya diam. Hm, sepertinya Noa harus bersabar lebih lama lagi.
__ADS_1
***
Tbc