Kakak Gemes

Kakak Gemes
Jogging


__ADS_3

"Weh, itu si Palentino Rossi keren nikungnya euy." seru Ahmad


'Masih kerenan juga gue nikungin Tera.'


"Bentar juga kesalip." protes Dimas yang penggemar berat si baby alien.


'Kalo gue gak akan ngebiarin ada yang nyalip buat dapetin Tera.'


"Ck, Mad. Valen bukan Palen." ucap Noa membenarkan.


"Orang sunda susah bilang 'V' bisanya 'P'..." elak Ahmad.


"Itu bisa. Jangan bilang itu contoh." toyor Dimas.


Ahmad nyengir lebar sampai matanya tinggal segaris.


"Valen mah penyanyi dangdut." canda Ahmad.


"Semerdeka lo." kata Noa dan Dimas berbarengan.


Ahmad ngakak tanpa suara.


"Lo sama si Tera udah sampe mana?" tanya Dimas. Matanya masih fokus tertuju pada layar televisi.


"Privasi." jawab Noa singkat.


"Udah jadian?" tanya Ahmad penasaran.


"Belum." jawab Noa apa adanya.


"Rencana kapan mau jadian?" tanya Dimas yang menoleh ke samping dimana Noa berada.


Noa pun menoleh kepada Dimas dan nyengir lebar.


"Secepetnya." jawab Noa.


"Gila sekali lo." kata Dimas.


"Gila dua kali juga boleh." cengir Noa.


"Dim..Dim.."


Ahmad menyuruh Dimas menoleh ke kanan, ke tempat dimana Ahmad duduk.


"----**** me daddy..."


Ahmad berpose sensual. Kausnya di turunkan sebelah dari bahunya. Bibir bawahnya ia gigit menggoda, telunjuknya menyentuh bibir yang ia gigit. Satu tangannya ia gunakan untuk meraba pahanya yang bebas bulu dan hanya mengenakan celana pendek setengah paha.


Dimas bengong maksimal memandangi Ahmad dengan pose berani 'tusuk aku, bang'.


Noa ngakak melihat adegan sensual namun horor itu. Dimas sama sekali tak berkedip, mulutnya menganga lebar.


"Mata gue perih." kata Dimas pelan.


"Kedip.."


Noa menoyor kepala Dimas dari belakang.


"Bukan perih gak kedip. Perih mata gue liat si Ahmad. Gak seksi. Sumpah." ceplos Dimas.


Noa ngakak nista dan Ahmad manyun sambil merapikan bajunya yang berantakan.


"Brengsek lo. Udah liat aurat gue bukannya bersyukur malah ngatain gue." sewot Ahmad.


"Gue ogah nusuk lo. Mending gue maen sama donat atau kue sus yang ada lumernya." kata Dimas enteng dan fokus kembali pada layar televisi.


"Noa, gue seksi kan?" tanya Ahmad meminta dukungan penuh pengharapan.


"Seksi. Cuma sayang, seksi Tera kemana-mana. Gue doyan sama dia doang, Mad." jawab Noa penuh pembenaran sembari menepuk pundak Ahmad.


"Ah, yang penting seksi." ucap Ahmad bangga.


Dimas geleng kepala. Ia tetap fokus menonton balapan tanpa berkedip dan mulut mangap maksimal.


Tiba-tiba, Ahmad rusuh kembali.


"Dim, gue gak seksi apa? Liat gue." Ahmad menangkup pipi Dimas yang masih mangap bekas menonton balapan motor.


"----gue seksi kan?"


"Lo mau gue apain? Mau gue usir gara-gara gangguin acara nonton gue?"


Dimas mulai tebar ancaman.


"Hehe...bilang kalo gue seksi." kata Ahmad yang cengengesan. Ia pun menggodai Dimas.


"----**** me daddy."


"Ck, daddy mau nonton balapan dulu ya baby."


Dimas mencoba menatap layar televisi kembali tetapi tangan Ahmad yang menangkup pipinya membuat Dimas susah bergerak.


"Lo, ah. Gue pengen kayak si Tera." Ahmad berteriak di depan muka Dimas.


"Eeeeehhhh..."


Noa dan Dimas jelas kaget.


"Lo mau gue apain tadi? Mau sekarang apa nanti? Pake gagang sapu?" kata Dimas.

__ADS_1


"Jahat lo." kata Ahmad pundung.


"Cup cup cup, Mad. Yang sabar ya." kata Noa yang menepuk pelan kepala Ahmad.


Dimas yang sebodo amatan menonton balapan motor lagi. Ahmad yang diabaikan pun memainkan ponselnya dengan membuat status galau. Noa tak mengerti mengapa Ahmad bisa menjadi seperti ini. Jawaban yang pasti ada di kepala Noa adalah bahwa Ahmad butuh cinta hingga buta bahwa yang digodanya adalah pria.


"Ayo, Mad. Balapannya udah selesai. Katanya mau daddy tusuk." kata Dimas.


Ahmad sudah menghapus status galaunya di sosial media. Gara-gara ada satu perempuan yang mengajaknya chat'an.


Ahmad berkata. "Apaan. Orang gue becanda. Baper lo."


"Duh, pundung mojok gue mah. Gue bakal nyari pengganti lo, baby. Gue bakal cari tembok yang bolong buat gantiin lo." canda Dimas.


"Yakali, gue tergantikan. Tembok bolong apa enaknya." ledek Ahmad.


Noa dan Dimas terbahak mendengarkan Ahmad yang tak sengaja melawak. Lelucon itu hanya Ahmad yang punya. Noa kira Ahmad sudah berubah haluan. Ternyata, masih normal maksimal.


"Mad, tadi lo bilang pengen kayak Tera? Apa tuh maksudnya?" tanya Noa penasaran.


"Gue pengen di cintai aja kayak si Tera..haha." jawab Ahmad enteng.


"ooh..."


Noa dan Dimas ber'oh'ria.


Noa sedang menginap di rumah Dimas, ia pun tengah mencari tahu kegiatan Tera.


'Hm, dia gak mamingan sama cowoknya.'


Orang tua Dimas ada urusan ke luar kota. Mumpung besok libur, Noa setuju menginap di rumah Dimas. Di kosan, sudah ada Rima yang sejak tadi pagi menempati kamar bekas kang Tisna.


Kang Jhon ada acara bareng komunitasnya. Dan kang Acep 'mojok mania' bersama pacarnya. Noa mati gaya bila harus berdua saja bersama Rima. Ia belum pernah benar-benar bertegur sapa dengan Rima, itu yang membuat Noa canggung sendiri pada sosok Rima.


Sejak saat Noa menolak permintaan Sandy untuk ke pasar malam, Sandy menjadi lebih sering mengirim chat kepadanya. Chat dari Sandy jarang Noa balas, berhubung ia sering menghabiskan waktu dengan dua sahabatnya yang bila diabaikan sebentar saja sudah sewot lebih dari sewotnya seorang pacar.


Tera masih sering menghubungi Noa. Ia selalu meminta di temani di rumahnya atau minta di ajak jalan.


Noa tengah bahagia.


Saat ini ia sedang berbalasan emoticon dengan Tera. Apapun emot yang Tera kirim, yang terakhir emot hidung ****. Noa selalu balas dengan emot cium.


'Biarin dia najis sama gue, yang penting guenya sayang dia.'


Tidur ala-ala ikan cue besek di ruang televisi rumah Dimas, tak sadar sudah subuh saja. Ponsel Noa bergetar manja. Ada chat dari Tera, ia mengajak jogging. Noa pun mengiyakan dan pergi meninggalkan dua sahabatnya yang masih ngiler dengan derasnya.


Noa menggeber motor menuju rumah Tera. Ternyata Tera sudah menunggu Noa di depan rumahnya dengan pakaian siap untuk jogging. Noa tak ada persiapan untuk jogging, dan itu semua membuat Tera heran.


"Kok pake celana kutung sama sendal jepit?" kata Tera heran sambil menunjuk kaki Noa.


Ya, motor boleh keren tetapi tetap alas kaki selalu sendal jepit sellow warna biru tua.


"Hehe...abis nginep di rumah Dimas. Gak sempet ganti baju." cengir Noa.


"Gak jadi jogging nya dong."


"Jadi. Ayo jogging. Gini aja ya." kata Noa yang menunjuk sendal jepit sellow nya.


Tera mengangguk sembari tertawa geli. Noa pun menggandeng tangan Tera menuju ke motornya.


"iiih, jogging bukan momotoran." kata Tera.


"Ke tempat jogging nya naek motor." ujar Noa.


"Lari..."


Tera mendorong Noa agar berlari.


Belum sampai tempat yang biasa di pakai jogging, sendal Noa putus.


"Yah, putus." kata Tera.


Noa nyengir sambil mengangkat sendal itu.


"Asal kita gak putus, gue udah bahagia kok."


Tera geleng kepala tetapi sekilas senyuman itu ada.


"Tera, jadi bini gue yuk."


Noa mengejar Tera yang berada beberapa meter di depan tanpa menggunakan alas kaki alias 'nyeker men'.


"----oy, Tera. Jadi bini gue yuk."


Noa ulang untuk kedua kalinya. Tera masih tak menoleh.


"Tera..Tera..Tera..jadi bini gue yuk." seru Noa untuk ketiga kalinya.


Tera menoleh dan berhenti lari. Ia berdiri dan berkacak pinggang sembari menanti Noa menghampirinya.


"Berisik."


Tera menjewer telinga Noa dengan sebalnya.


Noa bukannya mengaduh malah nyengir kesenangan.


"Yuk..yuk..yuk..." goda Noa.


"Gila lo kumat. Gila." teriak Tera di akhir ucapan.

__ADS_1


"Ggahaha..kakak gemes." panggil Noa saat Tera kembali berlari di depannya.


Tera melepas sepatunya bersiap aksi menimpuk Noa. Tetapi Noa sudah melihat pergerakan Tera dari belakang. Ia menghindari timpukan itu dengan bersembunyi di balik tong sampah.


"Beri-...eh, dimana dia."


Tera mencari Noa sembari celingukan. Ia berjalan kembali melewati tong sampah tempat Noa tengah bersembunyi di pinggirnya. Posisi Tera tepat membelakangi Noa.


Dengan perlahan Noa berdiri tanpa suara, ia merangkul Tera yang menegang seketika. Ia pun membisikan sesuatu pada Tera.


"Jadi bini gue yuk." kata Noa.


Tera memandang tepat ke wajah Noa. Menatap begitu intens tanpa ingat bila ia butuh bernafas.


"Gimana caranya gue bisa jadi bini lo?" tanya Tera polos.


"Iya'in aja sih. Ntar juga tau." jawab Noa cuek.


"Kalo gue iya'in, terus Jati gimana?" tanya Tera lagi.


Noa bertanya. "Jati siapa?"


"Pacar gue." jawab Tera.


'Oh, pacar Tera itu namanya Jati. Gue baru tau.'


Tera masih setia memandang wajah Noa untuk menunggu tanggapan Noa yang hanya menggaruk kepala yang tak gatal.


"Iya juga. Ya udah, gak jadi." cengir Noa seraya melepas rangkulan di bahu Tera.


Namun di luar dugaan, Tera mencekal pergelangan tangan Noa.


"Kalo gue mau, gimana?" kata Tera.


"Yakin?" tanya Noa bersemangat.


Tera menganggukan kepalanya tanpa keraguan.


"---pacar lo, gimana?"


Tera menggeleng samar. Noa mengusap kepalanya sekilas.


"----ya udah, lo baik-baik sama dia. Gue kan setia nunggu second lo." kata Noa.


"Second?"


Tera mencebikan bibirnya.


"----gue masih segel sampe saat ini."


"Statusnya maksud gue. Yang itu mah jangan di bahas. Ntar aja di bahasnya." ucap Noa.


"Kapan bahasnya?" tanya Tera.


"Kalo kita di tempat tertutup kayak kamar kost gue gitu."


Noa menaikturunkan alis mengundang senyuman dari bibir Tera.


"Lo...mesum."


***


Acara jogging mereka selesai, Noa kembali ke kosan tanpa alas kaki. Di depan kosan ada kang Jhon sedang duduk-duduk santai.


"Mana sendal lo?" tanya kang Jhon.


"Putus." jawab Noa.


"Hey, pagi." sapa Rima yang baru keluar dari kosan dengan rambut yang di potong sangat pendek menggantikan rambut hitam lurus yang selalu tergerai sebelumnya.


"Pagi." sapa Noa singkat.


Ponsel Noa bergetar, ada pesan masuk dari Dimas. Mungkin ia baru bangun tidur dan bingung tak menemukan Noa sebagai pembatas antara dirinya dan Ahmad.


Gue kira lo di gondol maling.


Itu pesan terakhir dari Dimas yang tak Noa balas. Yang penting Dimas sudah tahu Noa pergi dari rumahnya tanpa pamit gara-gara ia masih ngiler barusan.


"Kang, gak mamingan semalem?" tanya Noa ke kang Jhon.


"Gak. Nonton acara metal." cengir kang Jhon.


Rima yang kini terlihat seperti gadis tomboy pun duduk di samping kang Jhon.


"Hm, Noa kan ya?" kata Rima dengan nada bertanya dan Noa pun mengangguk.


"Lo semalem kemana?" tanya Rima.


"Nginep di rumah temen, teh" kata Noa.


"Eh, itu temen lo?" tanya Rima lagi.


Noa menoleh ke arah yang di tunjuk Rima. Sandy berada di depan pagar kosan. Noa melambaikan tangan menyuruh Sandy menghampirinya ke dalam teras. Sandy pun berjalan mendekat dan duduk di sebelah Noa.


"Jalan yuk." ajak Sandy.


"Kemana?" tanya Noa.


Sandy hanya tersenyum dan Noa bingung.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2