
"Lo sama dia kan udah pacaran, udah di restuin lagi. Buat apa jalanin misi itu lagi?" tanya Dimas.
"Gue cuma pengen ingetin dia tentang masa lalu yang terlupakan." keukeuh Noa.
"Terus kita ngapain sekarang?" tanya Ahmad.
"Jongkok lah, lo gak nyadar dari tadi kita jongkok?" ucap Noa kalem.
Mereka bertiga sedang berada di belakang gedung sekolah. Tempat yang sepi dan dijauhi para siswa setelah gudang sekolah tentunya. Mereka memilih untuk berkumpul disini, karena apabila di gudang ditakutkan Tera akan mencuri dengar. Ia bisa dengan tiba-tiba muncul tanpa disangka-sangka atau tak bisa di perkirakan sebelumnya.
"Idih, bukan itu. Misi lo itu, bukan masalah kita lagi jongkok. Ngomong-ngomong pegel juga jongkok gini lama-lama mah ya." kata Ahmad yang kemudian mengeluh.
"Lah, suruh siapa jongkok. Duduk lah."
Noa duduk setelah selesai berbicara. Dua sahabatnya pun mengikuti, mereka duduk melingkar masih membahas tentang misi rahasia.
"Eh, gue udah siapin ini." kata Noa yang menunjukan cokelat yang di tempeli gulungan kertas rapi dengan pita biru muda.
Ahmad mengambil cokelat tersebut dan memindahkannya ke tangan Dimas.
"Siapa yang kasih ini ke dia?" tanya Dimas.
Ia mengacungkan cokelat kesukaan Tera.
"Nyuruh orang aja, murid yang laen." kata Noa.
Ahmad mengangguk setuju. Saat mereka akan beranjak pergi, tiba-tiba seseorang menghampiri setelah berlari dengan nafas ngos-ngosan.
"Lo...disini. Gue cariin kemana-mana. Huh, cape." kata Baron sedikit bersender pada tembok.
"Kenapa lo, Ron?" tanya Noa.
Dimas dan Ahmad tak begitu mengenal Baron.
"Si Kakak kelas yang suka lo boncengin itu, ada di depan gudang sekolah." kata Baron masih dengan mengatur nafasnya.
"Terus apaan?" tanya Ahmad bingung.
"Aduh, bentar...huh, cape." kata Baron yang menunggu nafasnya kembali normal, Noa dan dua sahabatnya berdiri tak sabaran.
"-----dia sakit deh. Kayaknya gitu."
Setelah mendengar penuturan Baron, Noa berlari sekencang yang ia bisa agar sesegera mungkin mencapai gudang sekolah.
Disana. Di depan pintu gudang yang sedikit terbuka, sosok Tera terduduk memeluk lutut. Wajahnya ditenggelamkan dalam lipatan tangannya.
Gudang sekolah, tempat yang sangat dijauhi penghuni sekolah. Hanya beberapa yang berani mendekatinya bahkan masuk ke dalam gudang tersebut.
Desas desus keangkeran membuat gudang ini semakin dijauhi bahkan terlarang untuk didekati. Teman-teman sekelas Noa pun yang seperti para penyamun malas untuk berkunjung kemari. Hanya Baron, yang biasanya duduk-duduk di depan gudang sembari menghitung laba dari usaha laundry nya akhir-akhir ini.
Hanya Noa, Dimas dan Ahmad yang terbiasa menghampiri gudang ini, dan Tera yang sejak berdekatan dengan Noa mulai terbiasa berada di gudang sekolah. Karena Tera akan menghampiri Noa kesini seperti kebiasaannya semenjak menjadi kekasihnya, Noa berpikir untuk berbincang di belakang gedung sekolah saja.
Dan benar, Tera kemari. Pastinya, ia berniat untuk menemui Noa.
"Tera..."
Panggilan Noa mengubah posisi Tera. Ia mengangkat wajahnya. Noa berjongkok di hadapannya. Memperhatikan Tera lebih dekat.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Noa pelan.
"Aku cari kamu." bisik Tera tak menjawab pertanyaan Noa.
"Di belakang sekolah. Aku disana." kata Noa yang melihat wajah pucat Tera.
"Ke UKS ya. Aku gendong." bisik Noa.
Tera kembali menggeleng. Wajahnya datar tetapi tak mengurangi pesonanya. Ia tetap terlihat manis. Kedua sahabat Noa berdiri tak jauh dari sana. Mereka memperhatikan dalam diam.
Tera mendongak dengan paksaan halus. Dicubitnya dagu itu oleh Noa. Tera terlihat pucat, mungkin tertular sakitnya Noa tempo hari.
Dimas dan Ahmad bergegas meminta izin pada pihak sekolah dan Tera akhirnya diizinkan pulang.
Tentunya, di kosan pun heboh dengan kedatangan mereka, semua melihat kondisi Tera dalam rangkulan Noa. Ada Jati di kosan yang sedang mengunjungi Rima, ia pun melihat kondisi Tera. Ia terkejut saat Tera dan Noa memasuki kamar yang sama.
Biasanya ia tak pernah melihat pemandangan ini, seringkali ia mengunjungi Rima tapi tak pernah melihat mereka memasuki kamar yang sama. Ia bertanya pada Rima, dan Noa mendengarkan dari dalam kamar.
"Mereka sekamar?" tanya Jati.
"Enggak." jawab Rima terdengar cuek.
Perhatian Noa kembali terfokus pada Tera yang duduk menunduk di atas kasur.
"Makan dulu ya. Mau beli apa?" tawar Noa.
"Pengen bobo." lirih Tera.
Noa menuruti permintaan itu. Ia membaringkan Tera dengan posisi senyaman mungkin. Tera mengusel-nguselkan kepalanya di dada Noa. Tera merasa nyaman dan terjatuh ke alam mimpi.
Sesekali Noa mengecup kening Tera sepelan mungkin agar tidurnya tak terusik. Tera tidur dengan damainya. Melupakan sejenak rasa sakitnya.
***
Bunga mawar biru dari Noa yang di berikan pagi tadi masih setia dalam genggaman tangannya. Sesekali ia menghirup aromanya.
Cemasnya Noa masih berlanjut, ia terus mengirimi chat menanyakan kabar kekasihnya. Tera yang bosan berdiam di kamarnya pun berpindah ke kamar kekasihnya yang tak pernah ditinggalkan dalam keadaan terkunci.
Mata Tera menangkap sesuatu yang di tumpuk rapi di atas meja. Buku tulis Noa. Ia penasaran seakan tertarik untuk mendekat dan melihat-lihat. Sebelumnya tak pernah seperti ini.
Salah satu buku tulis Noa dari sekian banyak yang ia tumpuk di atas meja mendapat perhatian lebih dari Tera.
"Gue penasaran, Noa kan cerdas. Dia rajin nulis gak ya." monolognya.
Ia melihat-lihat isi buku tulis tersebut, dan dapat di tebak memang Noa jarang menulis. Sekian banyak pelajaran yang diajarkan dan dijelaskan guru hanya beberapa lembar buku itu yang bernoda tinta. Itu pun tak penuh, Noa lebih banyak menggambar.
"Dasar cowok...kumpul sama geng penyamun jadi penuh sama gambaran. Untung cerdas." monolognya lagi.
Tetapi yang lebih menarik perhatiannya yaitu tulisan tangan Noa yang tak asing untuknya. Serasa pernah melihat tulisan yang mirip dengan yang ada di buku ini.
"Kayak pernah liat tulisan kayak gini. Dimana ya?"
Tera mencoba berpikir dan mengingat-ingat. Yang sebelumnya ia masa bodo dengan hal-hal sepele, kini ia pikirkan hingga kepalanya pusing sendiri.
Lama berpikir, akhirnya ia ingat juga.
"Oh, kertas gulung itu. Iya, itu. Hm, dimana ya gue simpen tiga gulungan kertas itu."
__ADS_1
Tera kembali ke kamarnya, ia mulai mengacak-acak isi lemari mencari kotak penyimpanan khusus kertas-kertas hasil ulangan.
"Ah, ini. Coba gue liat. Hm, bukan mirip lagi. Ini mah sama."
Ia memperhatikan dengan benar, perhatiannya berpindah dari buku Noa ke kertas gulung yang pernah ia terima. Satu per satu gulungan kertas itu dibukanya, semua tulisannya sama dengan yang ada di buku.
"Maksudnya apa ya. Kalo bener kertas-kertas ini dari Noa. Tujuan dia apa?"
Tera berpikir kembali, mencari alasannya. Tetapi percuma saja, alasannya ada pada Noa. Hanya Noa yang tahu.
"Hm, mending gue tanyain langsung." ucap Tera yang mengedikan bahu, lalu memasukan kembali kertas-kertas tersebut ke dalam kotak dan menyimpan buku tulis Noa pada tempatnya semula.
Akan tetapi Tera berubah pikiran dengan cepat.
"----eh, gak usah deh. Gue tanya nanti-nanti aja."
Apapun alasan Noa melakukan itu pasti untuk hal yang baik. Ia tak perlu khawatir. Noa adalah kekasih yang baik bahkan hingga detik ini. Chat dari Noa menumpuk dan Tera belum membalas satu pun chat dari kekasihnya itu. Ia yakin Noa sedang dilanda cemas berat.
"Ck, Noa...Noa...belajar gak sih? Masa kirim chat mulu." monolog Tera sembari membalas chat.
Noa terus mengirimi pesan selama proses Tera mengetik balasan. Sebegitu cemasnya Noa, hingga Tera merasa senang di beri perhatian penuh oleh kekasihnya.
"Muah...."
Tera mencium layar ponsel setelah selesai mengirim pesan balasan untuk Noa yang juga segera membalas, dan hal itu membuat Tera curiga.
"Deuh, ini orang cepet amat balesnya. Belajar gak sih?"
Tera terus membalas chat dari Noa. Sesekali ia tersenyum sembari mengetik pesan. Seringkali tertawa kala membaca isi pesan Noa.
"Hoho...lucu. Hm, ini orang kok lama balesnya. Oh, gue yakin hapenya disita guru nih."
Noa kembali membalas chat setelah sepuluh menit Tera menunggu kelanjutannya. Noa berkata, ponselnya sempat disita guru. Tetapi, guru tersebut diancam Noa dan anggota geng penyamunnya.
"Hahaha...apaan nih. Hm, 'kalo bapak sita hape saya, nanti bapak gak akan kami ijinkan masuk ke kelas ini lagi. Bapak gak bisa ngajar disini.' Dih, anceman macem apa nih. Gurunya malah nurut lagi. Noa emang preman abis. Pantes aja dia jadi kesayangan geng penyamun. Kirain gara-gara suka ngasih contekan. Padahal....aduh, untung gue sayang dia sekarang. Kalo enggak mah udah gue ceraikan liat kelakuannya kayak gini."
Tera terus membaca dan segera membalas chat dari Noa.
"Deudeuh pisan ka anjen. (Sayang banget sama kamu)." kata Tera yang berbicara pada layar ponsel yang menyala.
Noa memberi warna lain di kehidupan Tera. Noa memberi pelangi. Indahnya. Kini, bukan lagi hitam atau abu-abu. Kini penuh warna, dan Tera bisa memilih warna apapun karena semuanya indah.
Tera memandangi layar ponsel, yang terlihat adalah pesan dari Noa yang belum sempat dibalasnya. Wallpaper ponsel pun menampilkan kebersamaan mereka. Foto-foto yang membekukan moment berharga memenuhi folder. Banyak, bahkan sepertinya akan lelah untuk menghitung.
Dan satu foto favoritnya pun menjadi favorit Noa. Begitu digemari hingga Noa memuji bak berfoto dengan selebriti.
Noa pun selalu memasang foto tersebut menjadi wallpaper ponselnya. Seringkali terlontar pujian kala ia melihat foto tersebut.
Dan Tera mulai mengeja kata per kata menjadi kalimat-kalimat di dalam hatinya.
'Ia unik...ia istimewa. Ia sang kekasih. Sumber utama kebahagiaan gue. Yang terbaik yang didapatkan dalam hidup. Yang bisa diraih oleh seseorang seperti gue. Ia bagai penghargaan atas kesabaran gue menantikan doa-doa dikabulkan. Menjalani proses yang menyakitkan tetapi hasilnya sungguh sangat memuaskan.
Noa. Tetaplah menjadi kekasih yang terbaik. Rasa sayang yang besar akan di balas dengan sama besarnya. Rindu yang memuncak akan di daki hingga ke atasnya. Di atas sana ada cinta yang agung, cinta yang Tuhan ciptakan untuk semua hamba-Nya.
Dia kini milik gue. Jangan sekalipun ada yang mengusik hubungan kami. Jangan hancurkan. Jangan jauhkan. Jangan rusak. Janganlah mendekat.
Semoga pesan lewat hati ini akan tersampaikan. Pada seseorang yang kini begitu menginginkan sang kekasih hati, sang kekasih pujaan....Noa.'
__ADS_1
***
Tbc