
"Oh, jadi gitu." kata kang Jhon.
"Hm, gitu deh." tanggap Noa.
Kang Jhon manggut-manggut paham. Ia yang selalu memahami dan memberikan saran terbaik.
"Kasih peringatan aja kalo lo ada kesempatan ngobrol berdua sama dia."
Noa menghela nafas dan mengangguk mengiyakan saran kang Jhon. Tera telah bicara jujur tentang ancaman-ancaman yang mengoyak batinnya, Noa baru tahu itu ulah Sandy.
Tentunya sebelum bertindak, Noa meminta saran kang Jhon yang sudah ia anggap Kakaknya sendiri. Setidaknya ia tak akan salah langkah. Tak akan salah mengambil keputusan.
Sandy mungkin memang harus di berikan peringatan. Kang Jhon menepuk pundak Noa. Pikiran mengawang-awang jauh kini mengembalikannya kepada kenyataan.
Mereka sedang berada di salah satu pusat kebugaran. Kang Jhon mengajak Noa untuk membentuk tubuh ideal pria. Noa dan kang Jhon rutin berolahraga. Hasilnya sudah terlihat.
Kang Jhon bahkan terlihat semakin jantan. Tera pun mendukung kegiatan Noa dan kang Jhon. Setiap Noa pulang bersama kang Jhon, Tera selalu membuka sedikit baju Noa untuk melihat hasil olahraga tersebut. Setiap ada otot baru yang muncul, Tera selalu berdecak kagum.
Noa dan kang Jhon memang serius untuk pembentukan otot mereka. Noa ingin ABS itu muncul alias roti sobek favorit Tera. Semakin lama semakin terlihat hasil nyatanya. Pola makan yang berubah drastis membuat hasil yang diharapkan cepat terealisasi. Noa punya otot yang tak akan memalukan bila ingin di pamerkan saat ini.
"Noa..."
"Oy..."
Seruan seseorang membuat Noa menghentikan acara 'mari berolahraga'. Ia menengok ke asal seruan itu sembari menyahuti panggilan tersebut tanpa ia tahu siapa sang penyeru.
Ketika Noa memfokuskan penglihatan, ternyata yang menyerukan namanya adalah Sandy. Ia membawa tas dan handuk putih yang tersampir di lehernya.
Sandy menghampiri Noa dengan tanpa beban. Ia sumringah dengan langkah ringan dan pasti. Kang Jhon mengisyaratkan Noa untuk bertindak.
Noa berdiri setelah yakin ingin menghentikan kegiatan berolahraga ini. Sandy kini sudah berada di hadapannya.
"Lo udah lama disini?" tanya Sandy.
"Baru beres." jawab Noa sekenanya.
Sandy manggut-manggut. "Kalo gitu, gue mau traktir lo makan. Mau ya?"
"Loh, bukannya lo baru dateng. Lo mau olahraga kan makanya kesini?" tanya Noa.
"Iya, sih. Tapi liat lo kecapean, gue jadinya pengen ngajak lo makan bareng deh. Ajakin kang Jhon aja sekalian." jawab Sandy.
Kang Jhon yang memang sudah mendengarkan percakapan Noa dan Sandy dari awal pun segera menjawab tawaran Sandy.
"Gak usah, Sandy. Gue udah ada janji sama temen kampus mau cari tempat buat usaha."
Kang Jhon menolak ajakan Sandy.
"Oh, gitu. Beneran nih, kang?" tanya Sandy memastikan.
Kang Jhon mengangguk. Noa pun meraih tas dan handuk hello kitty yang di berikan Tera untuk mengganti handuk putihnya yang Tera gunakan untuk lap kompor di kosan yang sudah buluk.
Tera salah mengira. Ia menyangka handuk putih Noa yang sudah berubah warna menjadi abu-abu itu ialah lap kompor yang sudah terkena kotoran gosong. Ia menggunakannya langsung tanpa basa basi.
Saat melihat kejadian tak terduga itu, Noa berkata bahwa yang Tera gunakan untuk lap kompor ialah handuknya yang belum sempat di cuci setelah pulang berolahraga bersama kang Jhon.
Tera merasa bersalah yang terlalu berlebihan. Ia terkejut setelah Noa menjelaskan yang sebenarnya, lalu ia melempar handuk kotor bekas gosong itu ke wajah Noa.
Tera yang memang menggemaskan tak bisa membuat Noa marah. Ia kemudian berniat mengganti handuk Noa. Tera membawa Noa ke pasar setelah menarik uang tunai dari kartu ATM milik Noa.
Hm, ia memang niat sekali mengganti handuk Noa. Tetapi tetap saja menggunakan uang pribadi milik Noa. Memang Tera itu calon Bunda yang sudah mendalami perannya.
Uangku ya uangku, uangmu itu milikku. Seperti itulah prinsip Tera.
Ia membawa Noa ke toko yang menyediakan saputangan hingga handuk kecil dan besar. Tera melihat satu yang menarik perhatiannya pertama kali. Ia mengambil benda itu, handuk hello kitty berwarna merah muda.
Saat Noa protes karena warnanya yang terlalu mencolok dam feminin juga coraknya yang hello kitty, Tera menggunakan kekuatan binaran sepasang mata yang indah. Oh, tentu saja Noa tak akan bisa menahan binar mata anak kucingnya.
Akhirnya, Noa setuju untuk membeli handuk tersebut. Bahkan Noa pernah mengganti handuk yang lain, tetapi Tera memasukan handuk hello kitty tersebut untuk menggantikan handuk yang sudah Noa lipat rapi di dalam tas.
Sandy mencolek Noa untuk segera mengikutinya. Noa mengangguk untuk mengikuti langkah kaki Sandy. Kang Jhon menaikan alisnya sembari mengangguk mengisyaratkan sebuah tindakan. Noa tersenyum tipis untuk mengiyakan isyarat tersebut.
Setelah meninggalkan kang Jhon, Noa dan Sandy berjalan menuju rumah makan yang tak jauh dari tempat mereka berolahraga. Mereka duduk di salah satu meja yang agak menyudut. Kemudian Sandy memesan makanan yang tak terlalu berat.
"Lo mau apa, Noa?" tanya Sandy sembari memperhatikan buku menu.
"Samain aja." jawab Noa sekenanya.
Ia tak ada niatan untuk makan saat ini. Nafsu makannya masih melayang dan belum hinggap di perutnya. Sandy memesankan makanan yang sama untuk Noa.
Pelayan menyebutkan pesanan untuk memastikan tak adanya kesalahan. Lalu pelayan itu pun pergi, meninggalkan Noa dan Sandy berduaan lagi.
Noa menghela nafas panjang. Bahkan hembusannya tak bisa melegakan hati sama sekali. Masih ada yang tertahan di dada dan itu menghalangi perasaan lainnya yang ingin muncul ke permukaan. Dan gundukan rasa yang mengganggu itu ingin segera ia keluarkan.
"Sandy, gue boleh ngomong sesuatu? Ada yang mau gue bahas sama lo." ujar Noa saat memulai obrolan ini.
Sandy mengangguk dan segera menyimpan ponsel yang baru saja ia mainkan.
"Boleh. Ngomong aja." tanggap Sandy.
"Gue pengen lo jawab jujur. Gimana, hem?" tanya Noa.
__ADS_1
Sandy pun mengangguk pasti. "Oke. Gue jawab sebisanya. Sejujur yang lo mau."
Noa pun memulai satu pertanyaan tanpa berbasa basi.
"Lo pernah ngancem Tera, bener?"
"Maksud lo?" tanya Sandy berpura-pura tak mengerti.
Karena Tera itu terlalu polos, Noa yakin Tera tak akan mampu berbohong. Maka, Noa akan terus bertanya untuk mendapatkan jawaban yang jujur dari Sandy. Jawaban yang sebenarnya yang akan cocok dengan pengaduan Tera.
"Jawab yang jujur." ujar Noa sepelan mungkin agar hanya mereka yang mendengarkan di rumah makan yang ramai ini.
Sandy menggeleng pelan. Ia tak jujur dan berusaha menolak kejujuran dalam hatinya.
"Gue enggak-..."
"Jujur, Sandy." sela Noa.
Sandy menyatukan alisnya sembari menatap Noa. Mereka saling bertatapan tepat di manik mata. Ia hanya diam. Tak ingin mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Sandy..."
Noa mencoba menitahkan Sandy untuk segera menjawab dengan kejujuran.
"Dia ngadu sama lo?" tanya Sandy.
"Berarti Tera bener kan?" tanya Noa yang mengabaikan pertanyaan Sandy.
"Enggak..." elak Sandy.
"Jujurlah..." pinta Noa.
Sandy menggelengkan kepalanya kuat-kuat semakin ingin menolak kejujuran yang akan segera terkuak. Noa berdiri dan ingin bergegas pergi dari hadapan Sandy karena gelengan kepala itu sudah membuktikan sebuah kejujuran yang di tolak.
Sandy menarik ujung baju Noa untuk mengisyaratkannya duduk kembali. Dengan di awali helaan nafas panjang, Sandy menganggukan kepalanya sembari menunduk. Takut akan kenyataan dan kemurkaan Noa.
"Apa yang bikin lo benci Tera? Dia pernah bikin ulah sampe lo kesel kayak gini?" tanya Noa.
Sandy menggeleng. "Enggak. Tapi gue tetep benci dia."
"Apa alasannya?" tanya Noa lagi.
"Cinta gak pake alesan. Benci juga begitu, menurut gue." alibi Sandy.
"Apa, Sandy. Biar kita bisa perbaiki semuanya. Biar kita bisa baik-baik lagi."
Noa mencoba bernegosiasi dengan seseorang yang berada di hadapannya.
"Gak ada yang baik-baik dari awal, Noa. Dia bikin lo sakit hati tapi lo malah tetep bertahan. Gue yang selalu sabar tapi lo abaikan. Ini gak bisa diperbaiki karena dari awal mulanya gak pernah ada kebaikan buat gue."
"Begitukah? Tapi asal lo tau, Tera itu sangat penting buat gue. Dari dulu sampe detik ini. Dan saat gue bisa dapetin hatinya berarti impian gue udah tercapai. Dan dari awal mula gue gak pernah kasih lo harapan. Gak ada harapan berlebih bahkan sebesar butiran beras pun." jelas Noa.
"Tapi gue selalu berharap. Kalo lo berharap ke dia, apa gue gak berhak kayak gitu? Kalo lo sabar buat dia, apa gue gak boleh punya hak yang sama kayak lo?"
Sandy memelankan suaranya semakin tak terdengar. Bagaikan berbisik untuk dirinya sendiri.
Noa pun memberikannya pengertian.
"Sandy, lo boleh berharap. Lo boleh bersabar. Itu hak lo. Tapi gue cuma pengen ingetin lo, kalo gue gak pernah kasih harapan sekecil apapun."
Sandy menunduk dalam. Bahkan pesanan Noa dan Sandy yang sedang di tata oleh pelayan pun mereka abaikan.
"Silakan mas..."
"Makasih, mbak."
Noa tersenyum tipis dan ketika pelayan pergi meninggalkan mereka berduaan kembali, Noa mengembalikan perhatian pada Sandy yang masih menunduk.
"Sandy, gue yakin lo bisa dapetin cowok yang baik. Dia orang yang beruntung karena bisa miliki hati lo. Yang sabar dan baik hati. Lo ramah, pasti banyak yang bakal jatuh hati. Lo percaya kan?" ujar Noa.
Sandy menatap Noa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi gue pengen lo yang beruntung, Noa. Cowok yang bisa membuat gue beruntung juga dapetin cinta yang di idamkan. Gue juga punya impian. Itu lo."
"Impian gue udah tercapai. Dia. Tera. Dan gue gak bisa jadi impian buat lo." tolak Noa.
"Kasih gue kesempatan. Gue bisa lebih baik dari Tera." mohon Sandy.
"Maaf, Sandy. Cuma Tera yang ada di hati gue. Jangan paksa cinta yang bukan milik lo. Hati gue gak bisa berpindah lagi." bisik Noa.
Sandy meraih tangan Noa. Ia meletakannya di pipinya lalu menggerakan tangan Noa seperti mengusap pipinya itu. Sandy memejamkan matanya ingin merasakan sebuah rasa yang ia idamkan.
"Lo gak akan bisa nemuin rasa cinta itu dari gue. Sandy, ini bukan rasa cinta. Gue yakin itu. Lo hanya peduli dengan di awali berbasa basi." kata Noa.
"Gue cinta..."
"Bukan..."
"Gue cinta..."
"Gue gak ngerasain itu bahkan dari sentuhan kita saat ini." kata Noa.
__ADS_1
Sandy berbisik. "Gue..."
"Bahkan sentuhan kita kayak ampas. Gak ada rasa. Lo jangan ngeles lagi, lo juga ngerasain gak adanya cinta kayak yang lo umbar barusan." sela Noa yang kemudian pergi meninggalkan Sandy.
Ia tak ingin berlama-lama lagi di hadapan Sandy. Tetapi Sandy mengejar Noa keluar rumah makan tanpa membawa tasnya.
"Noa...." seru Sandy.
Noa menoleh dan menjawab. "Gue lupa sesuatu. Jangan ancam Tera lagi. Tera penting buat gue. Jangan pernah sakiti dia lagi. Meskipun sakit di batin."
Sudah. Peringatan itu sudah tersampaikan. Dan seharusnya peringatan itu bisa membuat Sandy jera dan melupakan niatan buruknya.
"Gue cinta lo." seru Sandy.
Dan seruan itu tak mau Noa dengarkan. Tak akan mau ia hiraukan.
Ia tetap melanjutkan langkah kaki menuju pinggir jalan raya. Ia terus berjalan ke rumah Ahmad yang tak jauh dari rumah makan barusan. Karena Noa harus menjemput Tera yang sedang bersama Bunda saat ini.
Lima belas menit berjalan santai, akhirnya ia sampai di rumah Ahmad. Sesampainya disana, rumah itu terlihat sepi. Mungkin Ahmad ada di kebun atau di rumah Kakeknya. Sepertinya Abah belum pulang bekerja.
Noa masuk ke dalam rumah, kemudian ia menghampiri dua sosok manis yang sedang duduk sembari menonton televisi. Tera dan Bunda mengomentari tayangan televisi sembari mengecek pesanan catering.
"Baby...bunda..."
Serempak mereka menoleh dan serentak mereka tersenyum dan menjawab sapaan Noa.
"Sayang..." ucap Tera dan Bunda berbarengan.
Noa menghampiri Tera dan Bunda. Ia menyalami tangan Bunda dan mencium pipi Tera sekilas.
Mereka melanjutkan lagi kegiatan yang sempat tertunda beberapa detik itu. Noa pun membiarkan mereka menyelesaikan pekerjaan itu terlebih dahulu.
Sembari memainkan ponsel sesekali ia melirik Tera yang masih mengecek pesanan. Sedangkan Bunda masih mencorat coret kertas selembarnya.
Akhirnya setelah penantian yang rasanya panjang, Tera dan Bunda selesai dengan pekerjaannya berbarengan dengan pulangnya Abah.
Melihat mereka duduk di lantai, Abah pun mengikuti sembari membuka jaketnya. Bunda mengambilkan minum untuk Abah. Usai dahaga itu terpuaskan, Abah membuka topik pembicaraan yang tak biasa.
Beliau membuka percakapan. "Tera, kamu tolong ambilin kacamata baca punya Abah ya."
"Iya Abah."
Tera berjalan menjauhi Noa, Abah dan Bunda.
Abah pun lalu menatap Noa dengan serius.
"Noa, kamu gak mau nyoba usaha? Di mulai dari sekarang."
"Iya, apa kamu gak pengen punya usaha sendiri buat biayai Tera nantinya?" kata bunda.
Noa pun menjawab. "Noa udah kepikiran kok, Abah. Malah Noa pengen biayai Tera bukan sekedar biaya hidup sehari-hari aja. Tapi pengen biayai dia kuliah nanti dan pastinya nikahan itu Noa yang biayai sendiri. Tapi Noa masih kepikiran mau usaha apa dengan duit yang gak banyak itu."
"Coba pikirkan dulu. Jangan salah ambil keputusan. Nanti kamu gak bisa jalani dengan benar." nasihat Abah.
"Bunda yakin meskipun kamu masih sekolah, kamu mampu bangun usaha sendiri dan hidup mandiri." ujar bunda.
"Noa bakal usahain Bunda. Noa bakal bikin Bunda selalu bangga." kata Noa sembari tersenyum.
"Kalo kamu butuh modal tambahan, nanti Bunda sama Abah yang bantuin." ujar Abah.
"Iya Abah. Kalo nanti Noa udah pasti mau bikin usaha apa, dan modalnya kurang. Noa pasti bilang ke Bunda dan Abah." kata Noa.
"Hem, Abah bangga loh. Kamu mau berusaha mandiri gitu. Semangat terus belajarnya sambil pikirkan tentang usahamu itu ya." ujar Abah.
"Iya Abah."
Noa mengangguk bertepatan dengan Tera yang kembali sembari membawakan kacamata baca milik Abah.
"Ini kacamatanya, Abah."
Tera menyerahkan kacamata itu dan Abah menerimanya sembari mengucapkan terima kasih.
Karena Noa dan Tera tak ingin mengganggu moment kebersamaan Bunda dan Abah akhirnya mereka pun pamit untuk pulang ke kosan. Noa pun sudah tak tahan dengan bekas keringat yang lengket menempel di badannya.
Ia dan Tera tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di kosan. Tera bergegas menyiapkan baju ganti untuk Noa. Dengan sebelumnya menerima handuk bersih dari tangan Tera, Noa bergegas menuju kamar mandi.
Usai badan Noa wangi, Tera pun bergantian memasuki kamar mandi dan segera membersihkan diri. Di dalam kamar setelah berpakaian santai, Noa duduk di tepian kasur sembari memainkan ponsel. Ada pesan yang baru saja masuk dari Sandy dan ketika ia hendak melihat isi pesan tersebut, Tera membuka pintu kamar dan memasukinya.
"Mau makan apa? Aku yang masakin." tawar Tera yang membuat Noa tersenyum dan terkagum.
Tera selalu berhasil membangunkan banyak rasa yang sepertinya sudah lama tertidur bahkan ada rasa yang baru lahir saat ia mengumbar pesonanya.
Tanpa di sadari, Noa terjatuh semakin dalam dan tak ingin di tolong untuk keluar dari dalam sana. Tak ingin ada tangan lain meraih dan membawanya ke kedalaman hati yang lainnya.
Karena Noa sudah merasa benar ada di kedalaman hati Tera. Ia bahagia terjatuh semakin dalam disana.
Tera selalu benar untuk Noa. Untuk hatinya. Bahwa Tera yang membalas perasaan Noa memang benar menurut kata hatinya. Tera memang seharusnya berada disana bahkan sudah sejak lama Noa menantikan kehadirannya.
Tera yang tak akan tergantikan.
'Selamanya.'
__ADS_1
***
Tbc