Kakak Gemes

Kakak Gemes
Sakit ini...


__ADS_3

Sudah beberapa hari, Dimas dan Ahmad tak masuk sekolah. Sejak insiden ciuman di gudang itu mereka tak masuk.


Noa bertanya kepada teman sekelas Dimas, mereka bilang Dimas tidak masuk sekolah dengan keterangan sakit.


Ahmad dan Tera pun tak masuk dengan keterangan yang berbeda.


Mungkin Dimas dan Ahmad syok berat melihat kejadian itu. Hm, Tera korban kemesuman Noa pasti lebih parah syoknya.


Noa merasa bersalah, niatnya ia mau menjenguk mereka pulang sekolah ini. Namun Noa melihat Ahmad, ternyata ia sudah masuk sekolah kembali. Ia berada di warung tenda sebrang sekolah, tempat pertama kali Noa dan dua kakak kelas itu berkenalan.


"Mad..oy..Mad."


Noa memanggil Ahmad yang sedang melamun.


"Eh, lur..." Ahmad terkejut. "----Dimas mana?"


"Dia masih sakit?" tanya balik Noa


Yang melihat Ahmad mengernyitkan dahi, lalu menggelengkan kepala.


"----Lo sakit beberapa hari ini?"


"Hooh... " spontan Ahmad menjawab.


"----gue syok liat adegan ciuman itu. Kampret emang lo mah. Demam gue baru turun semalem. Awas kalo lo berulah lagi." jawab Ahmad panjang lebar menebar ancamannya.


Baru saja Noa akan menjawab ucapan Ahmad, tiba-tiba ada seseorang yang merangkul pundaknya.


"Pagi ce'es kuh...kangen sama aa Dimas?" tanya Dimas kepedean asli tanpa campuran boraks.


"Hm..."


Noa dan Ahmad hanya ber'hm'ria.


"Dim, sembuh lo?" tanya Noa sembari memperhatikannya dari atas ke bawah.


"Sehat..sehat..tapi kalo penyakit gila si Ahmad sih udah menahun. Susah sembuh." jawab Dimas.


Ahmad menggeplak dada Dimas memakai bukunya yang ia pegang sedari tadi. Dimas ngakak nista.


"Oy...liat sono...noleh buruan."


Ahmad memaksa Noa untuk menengok ke belakang.


Oh, ada Tera...


"Hah? Tera nya gue tuh..." ceplos Noa.


Sudah beberapa hari ini ia juga tak masuk dan Noa sakit. Iya, Noa sakit cinta menahan rindu. Noa sereceh ini bila sudah terkena malarindu.


Tera tak masuk dengan keterangan ijin. Bukan jawaban darinya, tetapi dari salah satu teman sekelasnya.


Yakali Noa bisa ngobrol normal dengan Tera. Tamatlah cerita ini.


Namun Noa memperhatikan wajah Tera yang pucat sekali. Ia menghampiri Tera, Dimas dan Ahmad berusaha mencegahnya. Mereka yang baru bangun dari sakit bisa apa, tak akan bisa menang melawan yang sehat.


Noa berlari ke arah Tera jauh sebelum Tera mencapai gerbang sekolah. Ia menghadang hingga membuat Tera terkejut.


"Lo? Lo lagi? Siapa sih lo?" omel Tera.


Uuh, galaknya. Tera menunjuk-nunjuk wajah Noa. Sedangkan Noa dengan jahilnya memegang jari telunjuk itu, Tera berusaha untuk melepaskan pegangan tersebut.


"Nanti lo tau gue siapa...hm, ngomong-ngomong kemarenan itu first kiss gue. Itu buat lo, terima dengan baik ya."


Noa melepas jari telunjuk Tera.


"----lo sakit? Pucet gitu. Ijin apa sakit kemarenan, hm?"


Ia hendak menyentuh dahi Tera, namun ia mendapatkan tepisan kasar.


"Jangan sentuh gue, gila...lo gila." maki Tera.


"Hm...makasih, gue udah sadar dari lama kalo masalah itu." ucap Noa kalem.


"----gue gila gara-gara lo."


Tera berusaha menghindar dari Noa. Tetapi Noa tetap menghadang jalan tersebut.


"Brengsek...minggir lo !!!"


Tera mengamuk, ia memukul Noa dengan menggunakan tasnya.


Dimas dan Ahmad merebut tas yang di pakai Tera untuk memukul Noa. Mereka nyengir, berdiri di samping Noa. Tera semakin kesal di buatnya. Ia bicara dengan nada kesalnya.


"Boleh gue bilang 'najis' sama lo?" kata Tera.


Noa tersenyum dan menjawab. "Boleh, yang banyak. Sebanyak itu pula gue bilang 'sayang' sama lo."


Dimas dan Ahmad nyengir semakin lebar.


Ahmad berkata. "Good, bos."

__ADS_1


Sedangkan Dimas hanya mengacungkan jempolnya untuk Noa.


"Cih.." suara Tera mendecih.


Tera menunjuk Dimas dan Ahmad bergantian dan berakhir menunjuk Noa dengan raut bencinya.


"----lo berdua jadi antek dia?"


Dimas berpura-pura berpikir "Hm, antek? Barang antek maksud lo? Kalo boleh jujur kita..."


Dimas menunjuk dirinya beralih ke Noa dan Ahmad.


"-----Sa-ha-bat."


"Nah itu. Denger kan?"


Ahmad mengiyakan perkataan Dimas.


Tera menunjuk Noa."Lo...---"


Ia menarik kerah baju Noa dengan kasarnya.


"-----gue najis sama lo."


"Hem...gue juga sayang sama lo." ucap Noa sejelas-jelasnya.


Ahmad melepaskan cengkraman tangan Tera dari kerah baju Noa. Dimas berlagak membersihkan seragam atas Noa dan berpura-pura merapikan bekas cengkraman tersebut.


Tera yang sudah merasa eneg, merebut tasnya dari tangan Ahmad. Noa tak mencoba menghalanginya lagi.


Noa berikan jalan untuk Tera pergi. Hanya sementara, karena nanti ia akan ada di tempat semestinya. Di sisinya. Tanpa pernah bisa pergi lagi dan tidak ada pilihan lain atau tawar menawar untuk ini.


Noa memperhatikan Tera yang berjalan menjauh, ia memasuki gerbang sekolah. Noa masih terpaku ke arah pagar gerbang. Suara Dimas mengejutkannya.


"Kuat juga lo. Hati lo setebel apa? Belum sampe sobek kan?" canda Dimas.


"Jleb..Jleb..jleb.."


Ahmad meniru gerakan menusuk di dadanya.


Dan ketika takdir Tuhan berbicara, yang terjadi maka terjadilah.


Tak akan terlewat barang setitik debu pun.


Noa berjalan ke arah gerbang bersama dua sahabatnya. Tera memasuki UKS. Ia melihat itu, tak terlewat barang sekerjap kedipan. Tera tak akan pernah lepas dari jangkauan pandangnya.


"Tera masuk UKS. Jagain di depan pintu, oke." perintah Noa kepada Dimas dan Ahmad yang mendapat anggukan dari mereka.


Noa memasuki UKS, hanya ada Tera yang sedang berbaring. Noa yakin Tera benar-benar sakit. Tera kaget mendengar derap langkah kaki. Ia sadar bahwa ada orang lain di ruangan ini selain dirinya.


Ia terkejut, dan Noa tetap lanjut berjalan ke tempat Tera berbaring. Tera bangun dan duduk hingga punggungnya bersentuhan dengan tembok ruangan. Tersudut, itu keadaannya saat ini.


"Gue bakal selalu ada di sekitar lo." bisik Noa tepat di telinga Tera.


"Mati aja lo sana." teriak Tera.


Noa membekap mulut Tera dengan telapak tangannya. Dimas dan Ahmad yang kaget mendengar suara teriakan itu, spontan membuka pintu.


"Aman terkendali kan?" tanya Dimas.


"Hm..." gumam Noa.


Dimas dan Ahmad menutup pintunya kembali dan melanjutkan tugas mereka.


"----lo sakit?" tanya Noa.


Telapak tangannya masih setia menutup mulut Tera.


Mencoba berontak, Tera mencoba melepaskan bekapan tangan Noa di mulutnya. Noa tetap bertahan dengan posisi ini.


"----jangan teriak, atau gue bakal cium lo lagi." bisik Noa tepat di depan wajah Tera.


Noa menunduk semakin memperpendek jarak di antara mereka. Tera melotot mendengar ucapan Noa.


Melepas perlahan tangannya yang membekap mulut Tera, Noa mencoba mengelus lembut pipi Tera.


Tera tak berteriak, ia hanya berontak kecil. Kedua tangannya bergerak, mencengkram, menjauhkan, meminta Noa melepaskannya.


"Gue bakal lepasin."


Noa tetap mengelus pipi Tera seakan takut rona wajah itu menghilang. Mendekat ke wajahnya, hidung Noa dan hidung Tera bersentuhan, bergesekan halus. Ia mengecup bibir Tera sekilas. Tera pun menangis sesenggukan.


Takutkah ia?


Suara tangis itu semakin keras. Ia tak mau ada yang mendengar itu, Tera tak boleh menangis di depannya.


Noa mengangkat dagu Tera perlahan hingga wajahnya kembali sejajar dengan wajahnya. Ia mengecup bibir Tera dengan sangat lama, Tera tak coba melawan.


Noa pun menjilat bibirnya meminta akses masuk ke mulutnya. Tera tak membiarkan semua itu terjadi, Noa terpaksa mencubit dagu Tera agak keras. Sedikit mulutnya terbuka dan Noa mulai ambil alih lidah itu.


Hm...lidahnya berdarah. Noa bisa merasakan asin di dalam mulutnya akibat gigitan tak sengaja barusan. Tera masih sesenggukan di tengah ciuman mereka.

__ADS_1


Sesekali Noa melepas ciuman itu untuk memperhatikan Tera. ia meraih kembali bibir Tera, ia hanya tak suka Tera menangis terlebih di hadapannya.


Setiap tangannya berontak kecil di dada Noa dan menggeleng pelan, Noa melepas ciuman itu. Tak berlangsung lama, Noa meraih kembali bibir Tera. *******, menggigit, menghisap disana.


Itu miliknya Air mata yang menetes itu juga miliknya. Itu yang Noa katakan dalam hati.


Setiap tetesan air matanya yang jatuh Noa tampung di mulutnya. Ia menjilat bulir air mata yang keluar dari pelupuk mata itu. Terdengar aneh tetapi Noa mencintainya. Cinta seluruhnya yang ada di diri Tera. Termasuk air matanya.


Noa menyudahi aksi ciuman itu. Tera masih sesenggukan. Ia menunduk dalam. Noa menengadahkan kembali wajah Tera. Ia mengecup ujung bibir Tera. Akhirnya, Tera berhenti menangis. Matanya berkaca-kaca kala menatap Noa.


"Udah puas?" lirih Tera.


Noa menggelengkan kepala sebagai jawaban. Ia tak akan pernah puas, tak pernah ada puasnya.


"----lakuin lagi kalo gitu." bisik Tera lemah.


"----tapi setelah ini jangan ganggu gue lagi."


Tera memberikan penekanan di ujung kalimatnya.


"Gue bakal jadiin lo, milik gue..." ucap Noa tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Bahkan untuk berkedip pun tak akan pernah ia lakukan saat ia menyatakan isi hatinya. Fokusnya hanya untuk Tera.


"Jangan gue...gue mohon. Gue gak kenal lo...gue udah punya pacar."


Tera memohon. Nadanya memelas.


Wajahnya...Noa suka wajah itu. Seakan Noa menantang, mana Tera yang galak barusan. Kepribadian Tera yang tadi menghilang begitu saja.


"Coba inget-inget lagi. Kita udah saling kenal." gumam Noa.


Tera geleng kepala. "Gue gak tau...apa salah gue?"


"Gak ada. Lo gak salah. Lo...kebenaran buat gue." jelas Noa sembari mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Tera.


"----lo selalu benar buat hati gue."


"Gak...gak...lo gila. Pergi." lirih Tera.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seakan menolak kehadiran Noa di hadapannya saat ini. Ia menunduk seakan tak mau melihat Noa lagi.


"Gak akan pernah gue pergi dari lo. Meskipun lo nolak...lo benci...lo usir... Gue bakal selalu ada di sekitar lo."


Noa mengangkat kembali wajah Tera bahkan mengecup dagu Tera.


"Lo harus mengganggap gue ada. Lo harus selalu sadar akan kehadiran gue."


Air mata itu menetes lagi. Noa lakukan apa yang harusnya ia lakukan. Mengusap lagi air mata itu di mulai dari dagunya ke pipi dan berakhir di matanya.


Tera menghela nafas di sela tangisnya.


"----jangan...jangan kayak gini...lo gila."


Noa berbisik. "Gue cinta lo, Tera Ramadhani. Dan gue bakal buat lo cinta gue juga. Gue gak peduli dengan status berpacaran lo. Gue gak akan pacaran kalo itu bukan sama lo."


Tera menggelengkan kepalanya, menolak pernyataan itu. Noa tak bisa menerima penolakan itu. Noa menciumnya lagi, menggigit lebih kencang bibir bawahnya hingga berdarah. Noa sakit, hatinya sakit dengan penolakan itu. Ia pun menggigit lagi bibir Tera saat ia merasakan sakit di bagian dadanya.


Apa ini? Perasaan apa ini? Inikah yang di namakan sakit hati? Beginikah rasanya? Baru di awal tetapi sakitnya tak terkira. Inikah alasan orang di luar sana bunuh diri karena cinta?


Tera merintih kesakitan, saat ketiga kalinya Noa menggigit bibirnya tanpa belas kasihan, saat ketiga kalinya dada Noa berdenyut merasakan sakit.


Lidah Noa menelusup masuk ke mulutnya, darah di bibir Tera menetes ke dagunya. Terasa sakit...hatinya sakit lagi. Ia kembali menggigit lidah itu. Tera menangis, entah karena apa.


Karena perbuatan kasar Noa? Penyesalan atas ciuman ini? Karena sakit yang sama di hatinya? Karena dia benci Noa? Karena dia berkhianat secara tak langsung pada pacarnya?


Entahlah. Noa masih egois untuk mendengar jawaban atas pertanyaan di atas.


Rintihannya semakin jelas terdengar, saat Noa menggigit bibir bawah Tera untuk yang terakhir kali. Noa sudahi ciuman itu. Ciuman yang menyakitkan. Darah itu menetes seiring air mata yang jatuh dari pelupuk mata Tera.


Noa hapus keduanya. Sumber kesakitan baginya. Ia meninggalkan Tera yang masih duduk terpaku di ruang UKS. Di luar, Dimas dan Ahmad memandanginya.


Ahmad angkat bicara. "Lo ngapain di dalem?"


"Nembak." jawab Noa singkat.


Dimas memperhatikan Noa yang lesu. Ia bertanya. "Di terima atau di tolak?"


"Di liat dari tampangnya sih, di tolak. Bener?"


Ahmad meminta pembenaran dari seseorang yang berwajah lesu.


Noa mengangguk samar. Mereka menepuk halus pundak Noa.


Dimas merangkul Noa. "Masih banyak kesempatan. Lo jangan nyerah, oke."


Ahmad mengacungkan jempolnya. Noa pun mengangguk dan tersenyum.


'Ya, gue akan tetap berusaha.'


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2