
"Kamu ajakin aku kesini mau ngapain sih?"
Sepulang sekolah, Noa mengajak Tera ke kosan. Ia membawa Tera masuk kamarnya.
"Ada yang mau aku kasih buat kamu."
Noa menuntun Tera yang...ehem...sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya.
Pacar pertama dan berharap yang terakhir. Ia menuntun Tera duduk di kasur yang sengaja tadi pagi ia rapikan, sprei yang ia ganti dan yakin bersih maksimal, ruang kamar yang ia buat sewangi mungkin. Itu semua untuk permaisurinya.
"Apa sih?" tanya Tera penasaran.
Noa mengambil sesuatu di dalam lemari sambil menengok pada sosok Tera yang penasaran. Ekspresinya lucu mengundang senyuman.
Kotak yang masih terbungkus rapi dengan pita itu Noa serahkan pada yang berhak memilikinya.
Iya. Kotak pemberian kang Tisna, kang Ajat dan kang Engkos yang lumayan lama Noa simpan dalam lemari itu akhirnya keluar juga dari penyimpanannya dan kini telah berada di tangan pemilik sahnya. Tera.
Dulu, kang Tisna menyerahkan kotak ini untuk seseorang yang Noa sukai yaitu Tera, saat Tera menerima Noa menjadi pacarnya, kotak ini boleh di buka.
Dan tentunya yang berhak membuka kotak tersebut adalah Tera, pemilik aslinya dan pemilik hati Noa saat ini.
"Aku buka ya." ucap Tera yang segera mendapat anggukan bersemangat dari Noa.
Tera merobek bungkusan kotak itu pelan-pelan dan penuh kehati-hatian. Ia membuka tutup kotaknya dan melihat isinya, Noa pun penasaran. Ia ikut menengok isi dari kotak tersebut.
Di dalamnya, ada kotak musik berbentuk love beserta kuncinya yang di letakan di sebelahnya. Kotak musik yang mempunyai desain klasik berwarna cokelat tua itu di cat dengan rapi seperti pahatan khas kayu.
Tera mengangkat kotak musik itu, ia mengambil kuncinya yang ternyata sengaja di buat kalung. Tera membuka kotak musik itu dengan memasukan kunci pada lubangnya, ia memutar pelan kunci tersebut.
Musik mengalun indah, dua benda kecil di tengahnya berdiri dan berputar dengan anggunnya. Benda mungil itu sepasang bocah lelaki yang lucu dengan senyuman mengembang. Bergerak mengelilingi porosnya mengundang tawa Tera.
Bocah kecil yang lebih pendek kelihatan manis, mungkin itu gambaran diri Tera. Dan bocah yang lebih tinggi tatanan rambutnya mirip seperti yang Noa punya.
Kang Tisna memang jago membuat figure, dan mungkin kang Ajat yang membuat kotak musik beserta kuncinya. Noa yakin yang membuat kotak musik ini sempurna dengan alunan musik yang indah tersebut adalah karena perbuatan kang Engkos.
"Lucunya...aku suka...makasih..."
Tera memandangi wajah Noa dan beralih kembali pada kotak musik yang masih mengalunkan lagu indahnya.
"Itu bukan dari aku. Kotak itu di kasih temen-temen kost aku. Mereka bilang, kotak itu boleh di buka saat kamu udah terima aku jadi pacar kamu. Karena aku ngerasa ini emang milik kamu, aku cuma menyerahkan kotak ini dan kamu berhak membuka dan memilikinya." ucap Noa menjelaskan.
"Kalo aja aku bisa bilang makasih sama mereka...hem..."
Tera memajukan bibirnya dengan kesan menggemaskan.
"Bisa. Mereka juga pasti merasakan ada rasa terima kasih yang terucap lewat hati."
Noa mengusap pipi Tera dengan lembut, Tera tersenyum kembali.
Tera menutup kotak musik itu, dan lagu yang mengalun indah itu pun menghilang dari indera pendengaran. Ia melepas kuncinya dan mengalungkan benda tersebut di leher Noa.
"Kalo gitu, kamu yang berhak memiliki kuncinya. Kamu juga yang buka hati aku, kamu ibarat kunci buat aku." bisik Tera penuh kelembutan.
"Kamu gak bisa buka kotak musik itu kalo gak ada kuncinya. Nanti di rumah kalo kamu pengen dengerin dan liat dua bocah lucu berputar itu, gimana?" kata Noa.
"Kuncinya juga gak akan jauh-jauh dari kotak musiknya. Kamu bakal selalu di deket aku kan?" ucap Tera dengan pandangan berharapnya.
"Tentu. Itu impian aku." bisik Noa di depan wajah Tera, ia menggesek pelan hidung mereka.
"----mau dengerin lagi musiknya?"
Tera mengangguk. "Mau...aku suka musiknya...."
"Aku malah suka sama bocah yang muternya...hehe..." kata Noa.
"Aku kira kamu mau bilang 'aku sukanya sama kamu'..." gumam Tera.
"Kalo itu udah pasti kan..."
Noa mencolek hidung Tera lalu ia memutar kunci pada lubang kotak musik tersebut.
Kembali mengalun lagu indah yang terdengar membuat perasaan menjadi tenang.
"Kamu disini aja ya. Tinggal sama aku." pinta Noa.
"Rumah aku?" tanya Tera.
"Sesekali kan kamu bisa urusin rumah kamu." ucap Noa pelan mendekati Tera yang masih duduk tenang sembari memperhatikan pergerakan memutar dua benda berbentuk bocah di atas kotak musik yang terbuka tersebut.
"Bibirnya iih..nyosor mulu..."
Tera memberontak kecil diselingi kekehan Noa.
Alunan musik yang berasal dari kotak musik tersebut mengiringi kegiatan romantis mereka saat ini.
***
"Pagi pacar..."
Pagi ini Noa menjemput sang kekasih di rumahnya. Ia duduk di jok motor menunggu Tera menghampirinya.
Tera menahan senyum, ia melihat Noa dengan tatapan aneh dan geli, tetapi Noa yakin Tera menyukai itu.
__ADS_1
Tera berdiri di samping Noa yang masih setia duduk di jok motor. Sekuntum bunga pun Noa serahkan pada Tera yang di terima masih dengan mengulum senyum. Tera tak segera naik ke boncengan Noa, ia masih berdiri memandangi kekasihnya.
"Jawab sapaan aku barusan dong." ucap Noa pelan.
Tera menutup mulutnya, memblokir kembali senyuman yang ingin ia ukir di hadapan Noa.
Senyuman Noa membuat senyuman Tera mengembang yang masih tertutupi telapak tangannya.
"Jangan di halangi tangan kamu dong. Senyumnya gak keliatan. Kayak matahari yang bersinar tapi tiba-tiba tertutup awan, mendung deh. Liatin sama aku." ucap Noa lembut.
Tera tersenyum lebar, ada tawa kecil saat Noa goda dengan mencolek pipinya pelan.
"Makasih bunganya..."
Suara Tera pelan dan lembut.
"Iya, baby..."
Noa mengangguk dan memegang tangan Tera, ia menuntunnya untuk segera naik ke boncengan motor.
"----udah siang. Pelan-pelan naeknya."
Saat Tera telah duduk nyaman di boncengan, motor kembali dihidupkan dan pergi mengarahkan ke tujuan, menuju sekolah tentunya. Bukan KUA. Belum saatnya, kawan.
Dimas dan Ahmad baru memasuki gerbang sekolah saat Noa selesai memarkirkan motor. Tera berpamitan pada Noa sebab ingin segera masuk kelasnya.
"Lur, pagi..."
Sapa Dimas sambil memarkirkan motornya.
"Pagi, boss..."
Ahmad pun menyapa Noa saat turun dari boncengan Dimas.
"Pagi, lur."
Sapa Noa ramah pada mereka.
Turun dari motor, mereka bertiga berjalan memasuki koridor kelas.
Dimas memulai percakapan selama mereka berjalan di koridor.
"Lo gak pernah pacaran tapi pengalaman banget gitu kesannya."
"Ck, itu kan udah bakat alami manusia, Dim. Ikuti naluri aja." kata Noa kalem.
"Kayak natural gitu?" tanya Ahmad.
Dimas nyengir lebar. "Efek gue liat lo sama Tera pagi ini. Kepikiran aja, pengen tanya."
"Lo bareng ke sekolahnya sama dia?" tanya Ahmad.
"Ck, lo emang gak liat?" tanya Dimas menggeplak kepala Ahmad menggunakan buku tebalnya.
"Yang gue liat punggung lo, Dim." elak Ahmad.
"Iya, masa gue gak anter jemput pacar sendiri sih." ucap Noa cuek.
"Ajakin aja tinggal di kosan lo." saran Ahmad.
"Udah, masih dia pikirin sih." jawab Noa apa adanya.
Dimas menggeplak kepala Ahmad menggunakan buku tebalnya lagi.
"Lo kasih saran buat si Noa. Ntar si Tera abis di jajah dia dong."
"Elah, masih aja lo belum move on dari jaman penjajahan." canda Noa yang mendapat acungan jempol dari Ahmad.
"Otak somplak lo berdua gak ada tandingannya." kata Dimas.
"Eh, ke kebon gue yuk." ajak Ahmad bersemangat.
Noa penasaran dan bertanya. "Kali ini panen apa lagi, Mad?"
"Di kebon gue yang satunya lagi. Macem-macem buah disana." kata Ahmad.
Dimas antusias mendengarkan ucapan Ahmad.
"Hayu lah kita kemon."
"Hayu kemonin." kata Noa kalem.
"Hayu pokemon." kata Ahmad bersemangat.
Noa dan Dimas berpandangan bingung, tetapi tetap mengacungkan jempol maklum untuk Ahmad. Biarkan otak Ahmad yang sudah kopyor kebanyakan di geplaki itu, biarkan Ahmad merasa dirinya terlanjur pintar.
"Kalo si Justin di ajak ke kebon lo pasti dia seneng liat banyak buah. Kasian Justin udah bosen sama pohon buah di rumah." curhat Dimas.
"Ajakin aja. Oh, atau lo bawain aja ke rumah buat Justin." kata Ahmad.
"Lagian lo mah aneh. Pohon bunga kemboja berbuah pir sama apel fuji. Lo kerajinan tempelin itu buah satu-satu di pohon." kata Noa.
Dimas nyengir lebar mengundang jitakan dari Ahmad.
__ADS_1
"Selera seni lo ketinggian." kata Ahmad.
***
Tragedi durian jatuh sudah biasa terjadi, kali ini ada tragedi jatuh yang lain.
Tera terjatuh di toilet rumah Ahmad yang jarang sekali dibersihkan. Ubin yang licin menjadi penyebab utama ciuman antara pantat dengan ubin.
Noa syok, aset kemontokan Tera terkena sentuhan kasar dari ubin toilet. Ia juga membayangkan andai Tera tengah mengandung, mungkin ia akan mendapati Tera yang keguguran.
Biarkan Noa bermimpi saat ini.
Ia meraih Tera ke dalam bopongannya dan beranjak dari toilet yang berbau khas.
Ahmad sedang duduk di tikar yang baru saja selesai ia gelar. Dimas membawa beragam buah dalam keranjang besar. Saat Noa menghampiri mereka dengan membawa Tera dalam gendongannya, tentunya mereka terkejut.
"Kenapa si Tera, lur?" tanya Ahmad dengan mata terbelalak saking kagetnya.
Dimas pun melotot di buatnya. "Jatoh di toilet?"
Tera mengangguk dalam gendongan Noa sebelum Noa berhasil menjawab, membuat Noa kembali membungkam mulutnya.
"Gapapa tuh? Ke dokter deh." kata Dimas khawatir.
Ahmad melihat dengan tampang prihatin.
"Hooh, Noa. Bawa ke dokter. Takut kenapa-napa."
Noa menunduk melihat wajah Tera, ekspresi Tera hanya menatap Noa dengan bibir yang bergetar dengan tangannya yang masih sedikit gemetaran menutupi sebagian bibirnya, kemudian ia hanya menggeleng pelan.
"Gak us-usah..." lirih Tera.
Noa mengangguk dan membawa Tera duduk bersama dua sahabatnya.
"Yakin?" tanya Ahmad meyakinkan.
"----beneran gapapa?"
Tera mengangguk lemah lalu menunduk. Noa duduk di belakang Tera, agar ia bisa nyaman bersender pada dada Noa saat duduk.
Noa memeluk Tera dari belakang, ia hanya diam menunduk. Kedua sahabat Noa pun prihatin melihatnya.
"Noa..." lirih Tera.
"Iya, baby..." bisik Noa di dekat telinga kirinya.
"Peluk lagi..."
Tera berbisik yang masih terdengar jelas oleh dua sahabat Noa.
Dimas dan Ahmad tersenyum mendengar ucapan Tera, Noa melirik sekilas pada mereka yang mengisyaratkan sesuatu lewat anggukan kepala dan senyuman.
Kedua tangan Noa yang memang masih memeluk tubuh Tera dari belakang semakin mengeratkan pelukan tersebut.
Dimas membukakan satu buah manggis untuk Tera yang kemudian Noa terima dan ia pun menyuapi Tera.
"Ratu buah untuk ratunya aku." bisik Noa membuat dua sahabatnya tersenyum kembali.
Tera pun tersenyum mendengar penuturan Noa. Ia memakan buah yang Noa suapi untuknya.
Ketika kedua sahabatnya kembali sibuk bercanda, Noa menyempatkan untuk berbisik di telinga Tera.
"Aku cinta. Bukan hanya untuk saat ini, Tera." bisik Noa.
Tera masih menunggu kelanjutan dari ucapan Noa.
"----tapi untuk selamanya."
Tera masih diam memandangi wajah Noa, ia masih berharap. Menunggu satu kalimat utuh yang meluncur dari mulut Noa.
"Aku cinta kamu, Tera." ungkap Noa.
Satu baris kalimat yang Tera tunggu kini telah terdengar jelas di indera pendengarannya, meresap langsung ke dalam hatinya.
"Hari ini dan seterusnya?" lirih Tera.
Noa mengangguk "Iya. Hari ini dan seterusnya. Selama rasa cinta masih Tuhan ciptakan pada semua hamba-Nya."
Tangan Tera mengisyaratkan untuk meminta pelukan lebih erat di tubuhnya. Noa mengikuti permintaan itu.
Ia peluk Tera, semakin erat. Semakin terasa hangat tubuhnya dalam dekapan.
"Noa..."
"Hem, baby..."
"Aku juga cinta kamu..."
"Semoga selamanya ya, baby Tera..."
***
Tbc
__ADS_1