Kakak Gemes

Kakak Gemes
Maaf


__ADS_3

"Kasian banget si Tera."


Kang Acep dengan gaya bebek nekad karena bisulan berjalan mendekati kang Jhon yang sedang duduk berdua bersama Rima.


Noa dan Tera sedang menghabiskan waktu berdua di dalam kamar setelah pulang dari rumah sakit. Mereka bertiga sontak terkejut melihat kondisi Tera yang sangat lemah.


Ketika Noa tinggalkan, Tera masih dalam keadaan mulus jaya. Tetapi saat Noa kembali, kondisinya memilukan. Mereka bertiga pun merasa kasihan kepada Tera. Apalagi saat ini mereka sudah mengetahui dari jawaban singkat Noa bahwa seseorang yang rumahnya di sebrang kosanlah pelaku kriminal itu.


Sebenarnya, Noa tak menceritakan kepada semua orang. Ia hanya meminta saran kepada kang Jhon tentang tindakan selanjutnya. Tetapi kang Acep dan Rima berada disana ketika Noa bercerita. Ahmad pun sudah mengetahuinya, ia bergegas memberitahukan kondisi Tera kepada Bunda dan Abah.


Tentunya Bunda dan Abah sudah menjenguk Tera. Setelah semua puas memberikan perhatian, kini Noa meminta waktu untuk berdua saja bersama Tera.


Ahmad bersama Bunda dan Abah kembali pulang ke rumah untuk melanjutkan renovasi rumah. Tiga orang penghuni kosan memilih untuk duduk di teras kosan macam penjaga rumah elit.


Sementara itu di rumah Sandy setelah penerimaan atas pernyataan cinta alias mereka sudah resmi jadian, dan Dimas telah dinyatakan sebagai lelaki romantis, Dimas dan Sandy lalu membicarakan tentang sebuah permintaan maaf kepada Noa dan terlebih kepada Tera. Si penderita yang dikorbankan atas nama cinta yang tak berbalas.


"Gue deg-degan. Minta maafnya harus kayak gimana?" tanya Sandy.


"Gue ada di deket lo, gak usah takut. Kita minta maaf sama-sama." ujar Dimas.


"Lo mau nemenin gue? Apa mereka bakal maafin gue?" tanya Sandy meminta pendapat.


Dimas mengangguk yakin. "Gue selalu ada buat lo. Di samping, buat nemenin lo. Di belakang, buat dorong lo ke arah kebaikan. Gue menjaga dan mengawasi lo. Dan gue yakin, Noa sama Tera pasti mau maafin lo."


Sandy tersenyum manis. "Makasih. Tapi kalo gue gak dapet maaf dari mereka gimana? Lo masih mau deket sama gue sedangkan lo harus dengan terpaksa jauhan bahkan musuhan sama mereka. Kalo kayak gitu mendingan lo yang jauhin gue."


"Mana tega si Noa kayak gitu ke gue. Lagian baru aja gue menyandang status merdeka masa udah jadi fakir asmara lagi sih." kata Dimas.


"Lo yakin banget sih. Gue pesimis. Deg-degan nih."


Sandy memegangi dadanya yang berdetak keras.


"Kalo satu kali minta maaf mereka gak maafin, masih ada minta maaf season dua. Gak terbatas." ujar Dimas.


"Gue pengen minta maaf sekarang juga. Temenin gue ya." pinta Sandy.


"Iya. Gue bakal temenin lo. Ayo, kita otewe buat minta maaf."


Dimas mengulurkan tangannya dan Sandy dengan senang hati menyambut uluran tangan yang tulus itu.


Sembari bergandengan tangan, Dimas dan Sandy berjalan ke sebrang menuju kosan Noa.


"Dim, jangan nyesel sama keputusan lo ya. Gue pengen lo tetep disini aja. Temenin gue. Biar gue gak iri lagi." mohon Sandy.


"Gue tetep disini. Di hati lo juga. Lo gak perlu iri terselubung kayak dulu, ada gue yang lagi berusaha jadi lelaki pembawa kebahagiaan buat lo." bisik Dimas.


"Janji ya." gumam Sandy.


Dimas mengangguk. "Janji. Pegang janji gue dan ingetin kalo gue khilaf."


Sandy tersenyum sembari terus melanjutkan perjalanan ke kosan Noa. Ada tiga orang yang langsung menyambut kehadiran mereka. Kang Jhon sontak berdiri dengan tegang.


"Ngapain bawa dia, Dim?" sewot kang Jhon.


Dimas berusaha menenangkan. "Sabar, kang. Gue mau bawa Sandy ketemu Noa. Dia mau minta maaf."


Kang Jhon mendecakan lidahnya dengan kesal.


"Ck, nanti kalo si Tera kenapa-napa lagi gimana? Gue gak mau ambil resiko ya."


"Sabar atuh, Jhon." kata kang Acep.


Rima menimpali. "Iya, Jhon. Atuh biarin aja mereka beresin masalah ini. Lagian gue ngerti lo kayak gini karena merasa sehati sama si Noa. Tapi permohonan maaf itu gak boleh di tolak."


Ahmad datang ke kosan Noa pula sembari membawakan jajanan untuk Tera. Ia membawa gembolan di kanan dan kiri tangannya. Lalu dengan rasa tak suka, ia memasuki kosan tanpa ikut campur dalam percakapan di teras kosan. Padahal ada Dimas disana.

__ADS_1


Sandy merasa tak enak karena saat ini pun Dimas sudah mendapatkan dampak ketidaksukaan dari semua orang. Harusnya Dimas tak perlu berkorban. Dia tak semestinya mengorbankan dirinya untuk di benci pula.


Kang Jhon kemudian memandangi Sandy yang menunduk karena berat menanggung rasa bersalah.


"Masuk atuh kalo mau minta maaf mah. Jangan cuma nunduk disini." kata kang Jhon yang luluh.


Kang Acep dan Rima pun mengangguki ucapan kang Jhon. Dimas masih menggandeng tangan Sandy membuat hati Sandy menghangat. Ia bisa tegar untuk menghadapi semua ini. Bilamana hal terburuk terjadi seperti ditolaknya permohonan maaf itu, ia pasrah tetapi tak akan menyerah.


Dimas menarik pelan tangan Sandy mengisyaratkan untuk melanjutkan langkah kaki menuju pintu kamar Noa.


Sandy merasakan dadanya semakin penuh oleh rasa yang tak menentu, jantungnya bertabuh sangat keras bahkan sampai terdengar oleh telinganya sendiri saat ini.


Sandy menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan rasa yang masih menggumpal karena belum ada kelegaan yang pasti. Dimas mengeratkan genggaman tangannya untuk menguatkan.


Diberikan semangat seperti itu, Sandy merasa dirinya mampu menghadapi Noa dan Tera. Dimas menyuntikan kembali semangat untuk Sandy lewat senyuman yang menenangkan.


Ketika Sandy membalas senyuman itu, Dimas mulai mengetuk pintu kamar Noa. Dimas yakin Sandy telah siap menghadapi tanggapan Noa dan Tera nantinya.


"Noa, gue mau ngomong nih." kata Dimas.


Pintu di ketuk kembali untuk kedua kalinya oleh Dimas.


Ia memanggil Noa kembali. "Noa, bukain pintunya."


Derap langkah kaki seseorang dari dalam kamar dan bergeraknya kenop pintu menandakan Noa menanggapi seruan Dimas. Sandy semakin berdebar-debar, ia menghembuskan nafas pendek-pendek lewat mulutnya untuk menetralkan hatinya.


Pintu kamar terbuka lebar, memperlihatkan sosok Noa yang berdiri tegak memperhatikan dua orang yang tengah berdiri berhadapan dengannya.


Noa memandangi Dimas kemudian beralih ke sosok Sandy di samping sahabatnya. Ia pun sempat melihat mereka bergandengan tangan dengan genggaman yang erat. Bahkan Noa merasa sahabatnya tidak ada niatan untuk melepaskan genggaman tangan itu. Noa penasaran tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk mempertanyakan hal tersebut. Akan ia ketahui nanti bila saatnya tiba.


"Noa, ada yang mau Sandy sampein ke lo sama Tera."


Dimas melirik sekilas ke dalam kamar dimana ada Tera disana sedang duduk di tepian kasur sembari melihat sosok Sandy yang juga memandang Tera.


Dimas mengisyaratkan kepada Sandy untuk memulai berbicara. Menyampaikan permohonan maafnya. Dan semoga Noa juga Tera menyambut dengan ikhlas sebuah kata maaf itu.


"Dim, kayaknya gue harus temenin Tera."


Noa mengucapkan satu kalimat yang menandakan dirinya belum bisa membukakan pintu maaf selebar-lebarnya.


Lalu dengan tanpa berbasa basi, Noa menutup pintu kamarnya kembali. Membiarkan dua orang yang masih terpaku di depan pintu kamar yang tertutup rapat kembali tersebut.


Sandy menoleh ke sampingnya dimana Dimas pun melakukan hal yang sama. Dimas memberikan senyuman yang bisa membuat keadaan Sandy senyaman tanpa beban.


"Nanti kita usaha lagi. Lo pasti bisa dapetin maaf dari mereka. Butuh waktu dan lo harus sabar nunggu waktunya tiba." ujar Dimas.


"Tapi mereka bakal jauhin lo kalo kita sama-sama kayak gini." lirih Sandy yang hampir putus asa.


"Jangan menyerah. Gue lagi perjuangin lo biar di terima di sekitar mereka lagi. Kalo mereka gak suka sama lo, biarin gue aja yang suka sama lo. Satu orang aja cukup kan?" kata Dimas dengan senyuman menguatkan.


Sandy mengangguk. "Terus kita sekarang ngapain? Ketuk pintunya lagi?"


"Pulang aja. Besok kita coba lagi ya." ucap Dimas yang kembali mendapatkan tanggapan sebuah anggukan kepala Sandy.


Mereka berjalan menuju rumah Sandy lagi. Dimas tak sekali pun melepaskan genggaman tangannya. Ia sungguh tak akan membiarkan Sandy sendirian lagi.


Bahkan Ahmad pun mengintip dan menguping pembicaraan tersebut. Ia melihat sahabatnya begitu bijaksana. Dan ia menyadari bahwa dirinya mempunyai kesadaran untuk tidak sedikit pun menjauhi Dimas.


Kang Jhon sedang berdiri memperhatikan pintu kamar Noa yang tertutup rapat kembali bahkan sebelum Dimas dan Sandy menyampaikan niatnya. Kang Acep memecahkan lamunan teman adu mulutnya.


"Jhon, lo harus nginep di kamar gue malem ini." kata kang Acep.


"Laga lo, elah. Pake sebut nginep segala. Eh, kamar gue sama kamar lo itu cuma kehalangin kamar si Noa." ujar kang Jhon sembari menoyor kepala kang Acep.


Yang di toyor menampilkan cengiran lebarnya.

__ADS_1


"Buru lah. Masuk kamar gue. Kita mulai acara nginepnya. Kita nyari cewek biar babay jomblo."


"Belagu lo." gerutu kang Jhon.


"Ck, ayolah cepet. Gue pengen rutin malem mingguan lagi."


Lalu kang Acep menarik kang Jhon dengan tak sabaran setelah ucapannya barusan.


Rima yang hanya duduk santai di teras kosan pun mendengar dengan jelas ucapan binal kang Acep yang ingin terlepas dari belenggu kejombloan. Ia menggelengkan kepalanya ketika mengingat dirinya pun masih mengidap penyakit lara hati.


Rima berjalan ke arah dapur sepulangnya Dimas dan Sandy. Tetapi perjalanannya menuju dapur terhambat oleh sosok penguping. Ahmad masih setia di posisi mengupingnya padahal Dimas dan Sandy telah pulang. Ahmad melamun panjang sampai lupa untuk memberikan makanan untuk Tera.


"Hayoloh. Nguping lo. Tertangkap basah lo." kata Rima sembari menunjuk wajah sok polos Ahmad.


Tetapi sayangnya Ahmad memang lolos sebagai makhluk polos tukang makan pilus. Ia pun mengelak telah mengintip dan menguping barusan.


"Gue gak basah kuyup. Gue bukan kucing kecebur got juga. Gak ada yang siram gue karena gue bukan ampas makanan dari dalem perut. Gak ada yang tangkap gue karena gue bukan maling ayam." Ahmad memulai aksi super ngeles.


"Adeuh...Ngeles mulu lo. Eh, kapan lo jomblo? Gue daftar dapetin second lo deh." kata Rima.


"Ck, gue udah punya pacar. Cantik pula." balas Ahmad dengan sombongnya.


"Udah deh. Mendingan lo sama gue aja. Lo lama-lama di cuekin cewek lo. Apalagi kalo bosen. Mendingan sama gue aja. Gue gak akan bosen sama lo." rayu Rima.


"Ogah. Ngimpi aja lo sana. Gue anti sama yang lebih tua." sewot Ahmad.


Ia hendak beranjak pergi tetapi Rima mencekal longgar pergelangan tangannya.


"Gue tipe setia. Lo bakal suka dan ketagihan. Gue punya cinta yang terlantar nih. Adopsi cinta gue." kata Rima si wanita pejuang cinta.


"Najis. Cuih. Gue mau balik."


Ahmad melepaskan cekalan Rima dan bergegas pergi meninggalkan kosan.


Tetapi Rima kemudian mengejar Ahmad hingga motornya berlalu meninggalkan kosan. Lalu dengan kekuatan tarzan ngebet kawin, Rima berteriak sekencang yang ia mampu.


"Gue bisa bikin lo jatuh cinta loh. Noa udah siap bantuin gue." teriak Rima sembari memanjat pagar kosan.


Ahmad membawa motor sembari meleng. Ia berpikir bila Noa memang benar telah setuju untuk membantu Rima, maka habislah dirinya. Akal bulus Noa itu berbahaya.


"Gue bakal tusuk-tusuk hati lo pake panah asmara." lanjut Rima dengan suara tarzannya.


"TIDAAAAAAKKK..Gue bukan sate.... BUKAAAANNNN...jangan tusuk gue..."


Ahmad berteriak kencang sembari membawa motornya menjauhi kosan. Teriakannya itu sungguh membahana dan membuat Rima tertawa puas.


"Liat aja. Lo bakal jadi milik gue. Mad, kutunggu secondmu." monolog Rima dengan senyuman miringnya.


Tentu saja janji Noa akan di tagih oleh Rima demi tercapainya berganti status berpacaran kembali.


Sementara itu di dalam kamar, Noa sedang memeluk Tera.


"Maafin Sandy. Aku gapapa kok." lirih Tera.


Noa memperhatikan wajah sang kekasih yang hampir tenggelam di dada bidangnya. Ia ingin melihat kebenaran dari yang ia dengar barusan.


"Kamu beneran udah maafin dia?" tanya Noa memastikan.


"Iya. Lagian aku tadi liat ada yang beda sama Dimas. Mungkin aja mereka udah pacaran. Emang kamu mau jauhin Dimas juga? Aku gak pengen kamu jauhan bahkan musuhan sama sahabat kamu sendiri." ucap Tera.


Noa mengangguki ucapan kekasihnya. "Ternyata aku emang gak salah pilih pasangan. Kamu selalu benar buat aku. Kamu pacar yang baik hatinya dan punya maaf yang tak terhingga."


Noa berbisik tepat di telinga Tera. Dan yang sedang dibisiki pun hanya tersenyum manis dengan rona merah yang begitu kentara di kedua belah pipinya. Ia manis.


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2