Kakak Gemes

Kakak Gemes
Pasar malam


__ADS_3

Siang hari sepulang sekolah kala matahari berada di titik teriknya. Noa duduk sembari memandangi layar ponsel yang menyala.


Ia memandang dengan penuh 'love' di matanya. Tak bosan ia memandang satu foto yang berhasil mengabadikan momentnya dan Tera di gudang sekolah beberapa hari yang lalu.


Saat setelah beromantis ria, ia mengajak Tera foto bersama. Bahagianya ia dapat foto bersama Tera lebih berkali-kali lipat di bandingkan foto dengan selebriti.


Modal satu foto yang ia pandangi sambil nyengir lebar setiap harinya.


Foto dengan pose Tera duduk di depan dan ia berada di belakangnya.


Yang membuat foto itu semakin 'sedap' di pandang untuknya adalah terlihat jelasnya rona kemerahan di pipi gadis manisnya.


Oh, jangan lupakan bibirnya yang menyunggingkan senyuman yang langka, dan Noa punya senyuman yang sudah ia bekukan lewat jepretan kamera.


Dua sahabatnya sedang mendadak jadi tukang masak. Mereka hendak memasak seblak kerupuk. Ia tak ikut berkumpul untuk membantu mereka. Biarkan Dimas saja yang sibuk di bantu oleh Ahmad.


"Hehehe..."


"Eh, gila. Nyengir mulu lo. Silau nih." canda Ahmad.


"Bantuin, elah. Ngapain sih lo. Gak ada chat aja belagu lo." dumel Dimas.


Noa memeletkan lidah. Bodo amat.


Ahmad berjalan ke tempat Noa duduk, melirik ingin tahu ke layar ponsel Noa yang masih setia menyala. Noa menoleh kepada Ahmad ketika sudah duduk di sampingnya.


"Bocah yang kecepetan gede lo, Noa. Belum tujuh belas taun. Lo tercabul. Bokinan mulu." kata Ahmad yang menoyor kepala Noa.


Dimas yang penasaran menghampiri Noa juga, ia duduk di sisi yang satunya lagi dan melihat layar ponsel yang selalu mengundang cengiran Noa tanpa luntur sedikit pun. Bila sudah melihat foto ini, semangat Noa pantang merosot. Yang ada meluncur seperti roket.


"Bocah kelebihan hormon mah lo doang."


Dimas pun menoyor kepala Noa.


"Kok bisa sih, Tera lo gituin. Lo pelet?" tanya Ahmad heran.


"Pantes pelet gue abis, ikan gue protes." timpal Dimas.


Noa memandang datar kepada Dimas. "Ikan lo protes dimana? Gedung yang atapnya bulet itu?"


"Di wajan lah, waktu gue goreng." jawab Dimas enteng.


"Wuuh, garing."


Ahmad menoyor kepala Dimas dengan rusuh.


"Di goreng mah emang garing. Kalo di goreng dadakan namanya tahu bulat. Kalo di goreng 'enak dong' namanya bakso goreng." canda Dimas.


Noa tak menghiraukan candaan mereka, ia menyalakan layar ponsel lagi yang langsung menampilkan foto yang membuat cengirannya timbul kembali.


"Hehehe..."


"Si Noa udah sinting, Mad." kata Dimas dan Ahmad mengangguk setuju.


"----liat yang erotis dikit langsung ngiler."


"Oy, gue ngiler liat Tera doang. Lagian ini bukan erotis, ini tuh manis."


Noa menoyor dua makhluk di kanan kirinya.

__ADS_1


"Semerdeka lo." ucap Ahmad dan melanjutkan kegiatannya membuat seblak.


"Fotonya cuma satu?" tanya Dimas. Noa menganggukan kepala sebagai respon.


"---lo kok bisa gituin si Tera?"


"Gituin apaan? Gue giniin bukan gituin." ucap Noa kalem.


"Serius, lur." sewot Dimas.


Noa hanya mengedikan bahu sebagai jawaban.


"Pacaran sama dia?" tanya Ahmad di sela kegiatan memasaknya.


"Belum." jawab Noa singkat.


"*****, ternyata si Tera bisa nyabe juga. Mesra amat sama lo." ceplos Dimas yang mendapat jitakan dari Noa.


"uuh, pedes dong." teriak Ahmad sambil mengaduk seblaknya.


'Bodo amat lah apa kata mereka. Ada chat masuk. Tera dan. . .Sandy?' batin Noa.


Acara memandang foto pun Noa sudahi. Ia membalas chat Tera terlebih dahulu. Tera meminta bertemu di kosan Noa yang langsung Noa setujui tanpa berpikir panjang. Selesai chat dengan Tera, Noa membalas chat Sandy yang isinya mengajak Noa ke sebuah pasar malam bahkan Sandy memberi tahu dimana tempatnya.


'Hm, gue ajak Tera aja kesana. Pasti dia senang banget.' pikir Noa.


Ia membalas chat Sandy, menolak ajakan itu dengan halus. Ketika Sandy menanyakan alasannya, Noa berpikir keras. Ia menjawab dengan mengerjakan tugas sekolah yang sudah tertunda dan harus cepat diselesaikan. Sandy memaklumi itu, dan ia berharap lain waktu bisa jalan bersama Noa.


Tera mengirim pesan kembali beberapa lama kemudian, saat Noa masih menikmati seblak bersama dua sahabatnya. Tera berkata, ia sudah berada di kosan Noa dan Noa pun membalas untuk menunggu sebentar lagi.


"Eh, walkie talkie kita kok gak di pake lagi. Gue kangen nih jadi agen curut botak." kata Ahmad.


"Dim, gue balik ya. Mad, gue gak anter lo balik. Gapapa kan?" ucap Noa dan mendapatkan dua acungan jempol dari mereka. Kepedasan membuat mereka menjadi susah membalas ucapannya.


"Uhuk..uhuk..cepet amat baliknya. Haah pedes, Mad. Tadi seblaknya lo maki-maki jadi marah gini nampol bibir gue."


Dimas menunjukan bibirnya yang sudah merah jontor.


Ahmad tak membalas, ia hanya memukul mulut Dimas menggunakan sendok.


"Cepet amat lo baliknya, elah."


Dimas mengulangi sambil mengibas-ngibas tangan di depan mulutnya.


"Hm, Tera ada di kosan gue." jawab Noa apa adanya.


"Ehm, hati-hati lo baliknya. Ada istri menunggumu di rumah. Jangan ngebut." kata Ahmad.


Noa nyengir sendiri.


'Tera jadi bini gue. Bayanginnya aja lucu bener. Mau banget gue, seandainya itu terjadi.' batin Noa.


Ia keluar dari rumah Dimas dan membawa motor menuju kosan dimana istrinya sedang menunggu.


***


Tera ada di ruang tamu di temani kang Jhon. Mereka tak saling mengobrol, kang Jhon sedang serius mengerjakan tugas kuliahnya.


"Eh, Noa. Lo baru balik sih. Ada yang nunggu." kata kang Acep yang sengaja keluar dari arah dapur mungkin karena mendengar suara motor barusan. Setelah pemberitahuan singkat itu ia kembali ke dapur.

__ADS_1


Tera memandang datar kepada Noa. Tangan itu Noa tarik agar Tera berdiri mengikuti arahannya.


"Noa, si Rima mau ngekost disini, udah deal. Beberapa hari lagi mungkin." ucap kang Jhon yang matanya tetap fokus dengan tugasnya, tak beralih barang sedikit pun.


Kang Jhon memberikan pesan tersirat untuk Noa.


'Hm, bakal susah ke depannya nih. Kalau Tera main kesini kemungkinan besar pacar Tera juga sesekali bakal kesini nyamperin si Rima. Bentrok dong.' pikir Noa.


Ia mengangguk samar untuk jawaban yang pastinya tak di lihat oleh kang Jhon. Ia membawa masuk Tera ke kamarnya.


"Rima siapa?" tanya Tera pelan saat ia sudah duduk di kasur Noa.


"Temen kang Acep yang tempo hari kesini nyari kosan." jawab Noa.


Tak mungkin Noa jujur sekarang kalau Rima itu juga pacar dari pacarnya Tera.


"Bosen di rumah?" tanya Noa yang mendapatkan anggukan pelan dari Tera, ia pun mengusap rambut Tera dengan lembut.


"----ntar ke pasar malem yuk."


Tera mengangkat kepalanya yang selalu menunduk itu, ia memandang Noa dengan binar bahagia. Noa melihat mata yang berbinar-binar penuh pengharapan.


"Kapan?" tanya Tera antusias.


"Hm, malem dong. Namanya juga pasar malem." jawab Noa enteng.


"Mau." kata Tera.


"Senyumnya mana?"


Noa mengangkat dagu Tera ingin melihat wajah manis itu dengan jelas.


Tera tersenyum sangat sangat sangat manis. Mengundang siapa pun yang melihatnya akan ikut tersenyum, dalam hal ini Noa pun tak luput terbawa akan pesonanya.


Mereka bercakap-cakap, mereka mencoba saling mengenal satu sama lain. Nampak terbuka sekali Tera saat ini kala berbincang biasa namun terasa seperti perbincangan dari hati ke hati.


Di pasar malam, Noa mengajak Tera menaiki semua wahana. Tera terlihat bahagia, menurut Noa. Bukan hanya senyuman yang di tampilkannya tetapi juga tawa riang. Pertama kalinya, Tera tertawa ketika bersama Noa.


Dan ini kesempatan yang baik, Noa meminta pada Tera untuk mengabadikan kebahagiaan ini lewat jepretan kamera. Bukan hanya satu kali, berkali-kali untuk koleksi pribadinya.


"Mau maen yang itu." tunjuk Tera ke komidi putar saat Noa masih melihat hasil foto barusan.


'Oh, wahana yang itu harusnya gak masuk itungan, kebanyakan bocah yang naek. Hm, Tera masih lucu sih. Okelah ya.' batin Noa.


"Naek kuda-kudaan yang itu?" tanya Noa memastikan.


Tera mengangguk dengan bersemangat. Noa pun membawa Tera menuju wahana komidi putar. Ia membeli tiket dan menemani Tera berputar-putar di wahana permainan tersebut.


Hm, seperti perputaran dalam kehidupan. Yang benci menjadi suka. Yang sedih mendapatkan bahagia juga.


Sementara itu, di tempat yang sama Sandy melihat semua kemesraan yang tercipta di awali dari kedatangan mereka ke tempat tersebut hingga akhirnya mereka menaiki wahana permainan komidi putar.


Sandy melihat kedekatan mereka, senyum dan tawa yang menghiasi kebersamaan mereka membuat hatinya terasa di peras habis-habisan.


Ia merasakan sesak nafas dan sakit yang tak bisa di temukan obatnya dan tak ada pula resepnya. Terlebih, orang yang ia sukai berbohong padanya. Menolak permintaannya demi orang lain yang kini berada di dekatnya.


"Noa, kok lo bohong? Dia siapa?" lirihnya.


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2