Kakak Gemes

Kakak Gemes
Lampion


__ADS_3

"Aku mau lampion..."


Langkah kaki terburu-buru memasuki kamar Noa. Suara teriakan itu mengejutkan sang pemilik kamar.


"Lampion?"


"Iya. Bikin sendiri."


Mereka baru pulang sekolah, saat badan masih merasa kegerahan, Tera meminta dibuatkan lampion.


"Buat sendiri?" tanya Noa.


Tera angguk mengiyakan. "Iya. Aku pengen ada lampion di dalem kamar tapi gak mau beli."


"Bentar, baby...aku masih cape nih."


Noa mencoba ngeles. Tetapi kekuatan ajaib Tera membuatnya menuruti permintaan itu.


Bila Tera sudah meminta sesuatu dan tak cepat di wujudkan, ia akan segera memberikan serangan mata berkaca-kaca. Noa tak akan tega, ia takut kilauan di mata Tera menghilang.


Seperti saat ini, Tera memberikan serangan mata berkaca-kaca andalannya. Noa bangun dan keluar kamar, ia pun mengambil peralatan seadanya di belakang kosan untuk membuatkan lampion dari bahan yang tak terpakai.


Beberapa lama Noa berkutat dengan pekerjaan dadakan ini, seragam yang belum sempat ia ganti kini mulai kotor. Peluh pun membasahi seragamnya.


"Keringet kamu itu, aduh. Ganti baju dulu." titah Tera.


Noa memandangi Tera sekilas dan lanjut menyelesaikan pekerjaan yang hampir selesai.


"Noa, ayo ganti baju dulu." kata Tera.


"Tanggung, bentar lagi beres. Seragamnya udah kotor." kata Noa yang membandel dan membuat Tera jengkel.


"Ganti dulu...aku udah bawain baju ganti." paksa Tera.


Ia membuka satu persatu kancing seragam Noa. Setelah terbuka semuanya, Tera menyingkirkan baju Noa dan hendak memakaikan kaus lengan pendek tetapi Noa malah lanjut menyelesaikan pekerjaannya. Pergerakan Tera tertahan, ia menarik Noa tetapi tak berhasil.


Akhirnya, Tera menyerah dan membiarkan Noa bertelanjang dada di halaman belakang kosan. Tera memasuki pintu belakang, ia mengabaikan kekasihnya.


Noa bisa berpuas diri kala melihat hasil karya yang ia buat. Tera akan senang sekali. Namun ini belum tuntas. Penyelesaian akhir adalah membuat aliran listrik pada lampion agar benda tersebut menyala. Karena memang itulah fungsinya.


Noa mengacak-acak penyimpanan barang tak terpakai di gudang. Ia menemukan kabel-kabel yang masih bisa berfungsi dengan baik. Kemudian ia membawa lampion tersebut ke dalam kamar dimana Tera sedang duduk cemberut.


"Ck, ngambek...cieeh ngambek." ledek Noa.


Tera memalingkan wajahnya. Ia mengabaikan Noa. Ia menggembungkan pipinya yang menggemaskan.


"----kayak ikan buntal tau pipi kamu itu."


Tera melempar bantal ke kepala Noa yang dengan mudahnya Noa tepis. Noa nyengir lebar melihat tampang lucu itu, Tera bersikap cuek dan melirik sinis kepada Noa. Ia menungging, kemudian menutup kepalanya dengan bantal. Yang dilakukannya membuat Noa mau tak mau tertawa terbahak. Menurut Noa, Tera itu unik.


Noa terus melanjutkan pekerjaannya, hasil karyanya tidak boleh gantung. Ia harus menyelesaikannya sekarang juga. Agar ngambeknya Tera cepat terobati dengan melihat keinginannya yang terwujud.


Noa mengecek hasil karyanya dengan sentuhan akhir yaitu menyalakan lampu dalam lampion. Lampu menyala menandakan ia berhasil membuat karya yang sempurna.


Tera mengintip dari bantal yang menutupi kepalanya. Ia masih membulatkan pipinya yang sudah bulat itu. Lucunya.


"Sini dong...ngambekan...udah jadi nih. Apa mau aku ancurin lagi?" kata Noa.


Ancaman tersebut berpengaruh besar untuk Tera yang kemudian menyingkirkan bantal yang menutupi kepalanya, ia terduduk dengan mata melotot memandangi Noa. Pemandangan yang lucu. Ia tetap menggemaskan bagi Noa.


"Jangaaaaannn..." teriak Tera.


"Gghahahaha..." tawa Noa akhirnya meledak juga.

__ADS_1


"Jangan di rusakin lagi." rengek Tera saat Noa berpura-pura mengangkat lampion dan bergerak akan membantingnya.


"Buahahaha...mau lampion ini?" tanya Noa.


"Mauuuu..." teriak Tera.


"Hehehe...tidak semudah itu permaisuriku."


Noa menggerakan jari telunjuk di depan wajah ke kiri dan ke kanan.


Tera memanyunkan bibirnya. Ia melipat tangan di depan dada.


"Siniin...itu punya aku."


"Dih, ngaku-ngaku...aku yang buat."


Noa memeletkan lidah pada Tera yang semakin manyun. Noa suka menggodanya.


"Kamu kan buatin itu buat aku." tunjuk Tera pada lampion di tangan Noa.


"Ck, ck, ck...ini tidak gratis nona." kata Noa menggelengkan kepala sok mendramatisir.


"iih, malesin..."


Tera kembali tiduran. Ia menelungkup tak ingin melihat ke arah kekasihnya.


'Aha, i have good idea. Pinter banget emang otak gue. Gak akan gue ganti walaupun ada diskonan di toko. Otak gue udah keren punya.' pikir Noa.


"Baby, mau lampion ini gak?" tanya Noa dengan nada sebiasa mungkin.


"Ogah..." jawab Tera judes.


"Yakin, hem?" tanya Noa.


Lampion tersebut ia simpan di atas meja mini. Dibiarkannya menyala, sinarnya menerangi kamar yang dalam keadaan lumayan gelap akibat mendung. Langitnya sedang cemberut karena mataharinya sedang dalam mode ngambek.


Tera yang masih menelungkup tak menyadari Noa yang mendekatinya. Noa bergerak sepelan mungkin untuk meminimalisir suara yang ia buat.


Ia menyergap Tera, Noa melingkarkan tangan melewati ketiak Tera. Ia memegangi bahu Tera kuat-kuat. Tera berontak, meminta lepas. Tetapi Noa lebih sigap, ia menahan pergerakan dengan sedikit menindih tubuh bagian bawah Tera.


"Berat iih, gak sadar body." gerutu Tera.


Noa tertawa. "Oh, aku baru tau ternyata aku berat."


Tera berusaha mencubit bagian tubuh Noa yang mana pun yang bisa ia capai. Namun Noa terlalu pintar berkelit. Mungkin Noa keturunan cacing kremi.


"Nanti aku gepeng." kata Tera.


Noa nyengir. "Tenang. Di gudang ada pompa genjot."


"Noaaaaaa..." jerit Tera.


"Bbahahaha..jangan cemberut dong. Kipsmail." kata Noa.


Tak pelak Tera tertawa kecil kala mendengar kata dalam bahasa asing yang Noa jadikan satu kata yang aneh dalam pengucapannya. Tera tak menyangka kekasihnya bisa norak juga.


Noa tak lagi menindih Tera kala suara tawa terdengar kembali. Ia mengelus punggung Tera yang ternyata merasa nyaman atas perlakuannya.


"Noa, lampionnya siniin." pinta Tera.


Noa bangun dan mengambil lampion di atas meja mini, ia membawa lampion yang menyala dengan kabel panjangnya yang ia rapikan di atas kasur. Tera tidur menyamping, ia sedikit menengadah melihat lampion yang Noa letakan di atas bantal.


Letaknya di tengah, di antara mereka yang berbaring. Lampion yang menyala pun menyinari wajah manis Tera. Memanglah wajar jika pelita ada di tengah dua insan yang membutuhkannya.

__ADS_1


Tera tersenyum, menyentuh lampion dengan ujung jari telunjuknya.


"Makasih..." ucap Tera.


Rona kemerahan itu muncul kembali.


"Tera, aku sayang kamu..." bisik Noa.


Ia mengelus pipi Tera dengan sayang. Tera memejamkan matanya untuk merasakan usapan yang berulang-ulang.


Bulu mata panjang dan lentiknya bergerak, kelopak mata yang terbuka kembali memperlihatkan mata indahnya.


"Waw..."


Ujar kekaguman dari Noa lolos begitu saja. Tera sungguh mengagumkan.


Tera mengisyaratkan Noa untuk mendekati wajahnya. Lampion tersebut Noa singkirkan sedikit, demi mendekati wajah yang membuatnya terkagum-kagum.


Tera berkedip, bulu mata panjang dan lentiknya menyapu sedikit bagian wajah Noa.


Hembusan nafasnya begitu terasa di wajah Noa. Sapuan bulu matanya beberapa kali terasa oleh Noa saat ia berkedip.


"Aku juga sayang kamu, Noa." bisik Tera.


Ia menggesek ujung hidungnya pada hidung Noa. Bibirnya menyentuh bibir Noa kala ia menggerakan bibirnya untuk berbicara.


"Sayangi aku terus ya. Jangan biarin orang ketiga hadir di antara kita." kata Tera.


"Hubungan ini milik kita berdua. Hati aku cuma milik kamu, gak bisa di bagi-bagi." ucap Noa lembut.


"Sekalipun dia lebih baik dari aku, jangan pernah memilih dia." lirih Tera.


"Aku gak punya pilihan. Cuma kamu. Dan akan begitu seterusnya." balas Noa.


Suara gedoran di pintu kamar menghentikan percakapan mereka. Terdengar suara seseorang di luar yang sudah Noa hapal. Suara Rima.


"Noa, lo di dalem? Ada Sandy nih." seru Rima.


Noa menautkan alis dan kembali menatap Tera. Ia hendak menyahuti tetapi Tera berucap agak keras menujukan pada Rima yang berada di luar pintu kamar.


"Noa gak ada di kamar gue, teh Rima. Maen di rumah Dimas." kata Tera.


"Oh, oke." jawab Rima.


Ia berbicara pada orang lain yang tentunya Sandy.


"---maen katanya ke rumah temennya."


"Oh, tumben Tera gak ikut." nada suara heran Sandy terdengar dari dalam kamar.


Tera tak membiarkan Noa mendengarkan percakapan di luar kamar tersebut. Ia mencium Noa dengan mesranya. Kegiatan romantis mereka pun berlanjut.


Suara berkecipak mengalahkan suara percakapan di luar sana. Sesekali Tera mendesah untuk menggoda Noa. Ia berucap lembut di sela keromantisan mereka.


"Abaikan yang lain, Noa." kata Tera.


Tentu. Itu permintaan bukan perintah. Noa dengan senang hati akan melakukannya.


"Selalu untukmu..." balas Noa.


Tera tersenyum dan suara berkecipak kembali terdengar, bertanda mereka sedang saling ******* satu sama lain. Mereka tengah menikmati kebersamaan. Hanya Noa dan Tera. Tanpa orang lain diantaranya.


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2