Kakak Gemes

Kakak Gemes
Temu kangen


__ADS_3

Subuh ini Noa merasa aneh, badannya lemas-lemas tak jelas. Bangkit dari posisi berbaring saja susah payah. Dengan posisi yang sudah duduk, ia mencoba berdiri namun gagal. Akhirnya, ia terpaksa ngesot keluar kamar.


Kang Jhon yang memang menempati kamar yang bersebelahan dengan kamar yang Noa tempati hendak memasuki kamarnya, namun ia kaget melihat Noa ngesot keluar kamar.


"Maneh kunaon, Noa?" (Lo kenapa, Noa?).


Kang Jhon bicara sambil membenarkan celananya, mungkin ia habis dari toilet.


"----nangtung atuh. Arek maen pelem Noa ngesot, make acuk suster tea."


(Berdiri dong. Mau maen film Noa ngesot, pake baju suster itu).


Kang Jhon mencoba membangunkan Noa. Berdiri itu susah, lebih susah dari ulangan matematika untuk kondisi Noa saat ini.


"Kang, kurang minum akui mungkin ini tuh." ucap Noa sedikit berbisik.


"Dehidrasi?" tanya kang Jhon.


Noa pun mengangguk. Kang Jhon berlari ke dapur, dan kembali membawakan galon air mineral akui untuk Noa.


"Ini minum, Noa."


Kang Jhon menyodorkan mulut galon ke arah Noa.


"Kang, pake gelas aja. Kegedean."


Noa mendorong mulut galon menjauh, tenaganya habis.


Kang Jhon semakin panik, ia berlari lagi ke dapur dan mengambilkan gelas. Ia tuang air mineral dalam galon ke gelas kemudian kang Jhon menyerahkan gelas itu kepada Noa.


Sementara itu, Noa hanya bisa menggapai-gapai kosong tanpa bisa mencapai gelasnya sebab kang Jhon berada tiga meter di depan Noa.


"Kang, kejauhan. Buruan, kang."


Noa benar-benar sudah tak kuat. Posisinya sudah seperti orang bersujud, ia megap-megap dengan keringat dingin membasahi tubuh.


"Noa jangan pingsan dulu." teriak kang Jhon yang buru-buru memberikan minum untuk Noa.


Ia minum segelas, setelah ia teguk habis segelas air mineral itu, kondisinya berangsur-angsur membaik. Noa minum lagi dan lagi sampai perutnya kembung.


Kang Jhon menjitak Noa. Ia merasa Noa terlalu banyak minum.


"Sadar, Noa sadar. Cai galon beak engke. Maenya arek nyiuk cai bak." kata kang Jhon yang teriak-teriak membangunkan semua penghuni kost.


(Sadar, Noa sadar. Air galon abis nanti. Masa mau ciduk air bak).


Semua melihat kelakuan Noa dan kang Jhon pagi buta ini dengan bermacam ekspresi.


Kang Acep geleng-geleng kepala, kang Ajat duduk di sebelah Noa, kang Engkos merebut gelas Noa dan minum air yang Noa tuang dan belum sempat ia minum.


Kang Tisna angkat bicara. "Noa kenapa? Sakit? Si Jhon ngapain lo sih subuh gini?"


"Kang Jhon nolongin gue, kang. Gue dehidrasi." ucap Noa pelan.


"Oooooh.." koor hampir semua orang kecuali kang Jhon.


"Tapi anjeun teu kumaha onam kan?" tanya kang Ajat.


(Tapi lo gak kenapa-napa kan?).


Noa geleng-geleng kepala untuk menjawab pertanyaan kang Ajat.


"Aing mah reuwas da. Waas sumpah. Untung teu kunanaon." kata kang Jhon sembari mengelus dadanya.


(Gue kaget. Cemas sumpah. Untung gak kenapa-napa).


"Makasih kang Jhon." gumam Noa yang tersenyum ke arah kang Jhon.


Respon kang Jhon hanya mengangguk-angguk dengan senyum lega. Yang lain pun terlihat khawatir melihat keadaan Noa. Mereka membantu Noa berdiri, dan mendudukannya di kursi ruang tamu.


Mereka terlihat peduli. Satu lagi, perasaan bahagia karena kepedulian.


Bunda menyayangi Noa, ia peduli. Namun kepedulian dari orang lain baru Noa dapatkan saat ini. Atau ia saja yang tak peka dengan sekitar.


Kang Engkos menepuk pelan kepala Noa.

__ADS_1


"Mau sekolah?" tanyanya.


"Mending istirahat aja." kata kang Acep.


Noa teringat obrolannya dengan Ahmad di telepon semalam. Ia harus menjalani misi temu kangen itu. Ia sudah menunggu lama dan ia tak mau itu semua gagal hanya gara-gara kondisinya saat ini. Lagipula, ia juga siswa baru, ia tak mau membolos.


"Sekolah aja, kang. Noa ada ulangan." dusta Noa.


"Yakin?" tanya kang Ajat singkat.


Ia memperhatikan Noa seakan mencari kepastian kalau keadaan Noa baik-baik saja.


Sedangkan yang di perhatikan hanya merespon dengan anggukan kepala sebagai jawabannya.


"Ya udah kalo mau tetep sekolah. Kalo ada apa-apa telpon akang ya." ucap kang Tisna.


Kang Jhon yang duduk di sebelah kiri Noa sambil membawa gelas isi air mineral, menyodor-nyodorkan gelasnya ke arah Noa. Ia menggeleng, menolak halus. Kang Jhon paham dan menyimpan gelas tersebut di meja.


"Akang beli sarapan ya, buat kita semua." kata kang Engkos memecah keheningan yang tercipta sejenak. Ia pun bangkit berdiri dan berjalan keluar kosan di temani kang Ajat.


Kang Acep bebenah rumah di bantu kang Jhon. Noa berdiri hendak membantu mereka namun pergerakannya di tahan oleh kang Tisna. Ia menyuruh Noa duduk dan Noa hanya bisa menurut.


*


*


*


Untungnya, kondisi Noa membaik. Ia mandi dan siap-siap berangkat sekolah, bahkan menyempatkan sarapan yang di beli kang Engkos dan kang Ajat barusan.


Kang Jhon masih ingin meminjam motor Noa, ia mengantarkan Noa ke sekolah hari ini. Menurut kang Jhon, motor Noa keren. Ia bisa ngeceng di kampus sekaligus mencari kecengan yang kece-kece. Sambil menyelam tahan nafas. Kalau tak salah begitu pribahasanya.


Di depan gerbang, dua kroni Noa sudah menunggu. Noa menghampiri mereka setelah turun dari motor. Kang Jhon tak pakai lama langsung tancap gas, ia menggeber motor Noa dengan ngebutnya.


"Pucet amat lo?" tanya Dimas sebagai sapaan pagi ini.


"Hm..pagi..."


Noa mengabaikan pertanyaan Dimas.


"Sakit?" tanya Ahmad singkat.


"Rencana kita?" tanya Dimas kepada Noa.


Ahmad menyerahkan kotak kecil yang Noa yakini isinya adalah kecoa. Ia buka kotaknya, dan benar isinya kecoa. Bahan untuk rencana bodoh mereka hari ini.


Noa hanya ingin tahu Tera benar-benar takut kecoa atau tidak. Ia akan memperhatikan Tera dari jarak tertentu selagi dua sahabatnya menakut-nakuti Tera.


"Lo yakin mau deketin Tera. Gak berubah pikiran gitu?" tanya Dimas lagi.


"Yakin. Udah lama gue ngarepin dia." jawab Noa pasti.


"Si Tera galak gitu. Gak mau cari yang laen?" tanya Dimas lagi.


Noa tak akan pernah mempertimbangkan satu hal ini, menyangkut perasaannya.


"Kalo orangnya gak welkam, maklumin aja dia bukan keset." jawab Noa seenaknya.


"----posisiin di tangga. Lo, Mad di atas...Dim, lo di bawah. Kalo dia kaget dan beneran takut kecoa terus pingsan gak bakal gelinding langsung."


Noa pun sempat mengatur dan mengarahkan mereka.


"Lo dimana? Jangan bilang 'di hatimu', sumpah itu basi banget." tanya Ahmad.


"Gue di bawah, ntar kalo ada apa-apa gue yang tanggung jawab. Ya udah, sekarang kita mending langsung ke TKP." atur Noa lagi.


Mereka mengangguk kemudian bersama-sama berjalan ke arah tangga yang biasa di naiki siswa kelas sebelas menuju kelasnya.


Noa bersandar di pilar menghadap ke arah tangga. Dimas yang so cool, berdiri pura-pura memainkan ponselnya. Dan Ahmad duduk manis di anak tangga lebih tinggi dari Dimas.


Satu tangan mereka di sembunyikan, yaitu tangan yang di gunakan untuk memegang kecoa.


Tidak menunggu lama, Tera datang dari koridor utama. Noa sudah mencari tahu kebiasaan Tera sampai di sekolah jam berapa dan tepat sekali Tera sampai di jam segini, disiplin sekali.


Noa mengkode Dimas dan Ahmad sewaktu melihat Tera berjalan mendekat ke arah tangga.

__ADS_1


Sekolah masih sepi, ini masih terlalu pagi. Tera itu memang kerajinan, pikir Noa.


Dimas dan Ahmad siap-siap di posisi masing-masing. Tera sudah mulai menaiki anak tangga satu persatu. Ia melewati Dimas, dan ia sekarang sudah berada di tengah-tengah posisi mereka. Noa pun mengkode untuk kedua kalinya.


Ahmad menunjukan tangannya yang memegang kecoa ke arah wajah Tera.


Ia kaget dan berteriak kecil. "aaaa...kecoa."


Ia berbalik untuk turun kembali, Dimas pun tak kalah jahil, di lemparnya kecoa tersebut ke wajah Tera.


"----aaaah... Kecoanya ada dua."


Tera yang semakin kaget karena ulah sahabat Noa pun semaput. Dimas dan Ahmad hanya melotot melihat hasil kekonyolan rencana ini. Sebelum tubuh Tera menyentuh lantai, Noa telah berlari dan menahan beban tubuh Tera.


Hm..lumayan Noa dapat adegan romantis.


Ia takut tertangkap basah, sebelum siswa lain melihat kejadian ini, ia menggendong Tera dan membawanya ke gudang. Dimas dan Ahmad refleks berlari-lari mengejar Noa dengan jarak agak jauh di depan mereka.


Sesampainya di gudang, Noa masuk dan membaringkan Tera di matras usang. Dimas dan Ahmad sampai di gudang juga, dengan nafas yang terengah-engah Ahmad mengunci gudang dari dalam.


Noa memperhatikan Tera dari jarak dekat. Dimas berusaha mengatur nafasnya. Setelah itu ia mulai bicara.


"Hey..tergoda lo ntar liatin dia mulu." ucap Dimas memecah keheningan.


Ahmad mendekat, ia menepuk-nepuk pipi Tera. Noa menepis tangan Ahmad.


"Duileh..takut amat si dia tersentuh." Dimas meledek dan Ahmad nyengir mendengar nada ledekan untuk Noa.


"Kalian kan sejenis najis, oy."


Noa asal ceplos dan mendapat jitakan dari Dimas.


Noa kemudian terdiam. Fokusnya pada sosok manis itu. Ia hanya ingin puas melihat wajah Tera. Temu kangen yang sudah lama ia tunggu. Tidak boleh ia sia-siakan.


Mata Tera berkedut samar, menandakan ia mulai tersadar dari pingsannya. Padahal Noa belum puas memandanginya. Mungkin tak akan pernah ada puasnya bila berhubungan dengannya.


Tera membuka matanya perlahan. Setelah terbuka sempurna, ia melihat ke arah Noa yang posisinya berada di atasnya, dan duduk menunduk di sampingnya yang sedang dibaringkan. Kemudian ia memperhatikan sekitar dan terkejut melihat dua sahabat Noa.


"Haaaaah..Kecoa yang tadi." tunjuk Tera.


"Sue, yang di sebut kecoa itu kita. Ternyata dia takut sama kita." ujar Dimas yang tersadar di katai oleh Tera.


"Buset, muka ganteng gini di bilang mirip kecoa." kata Ahmad bersungut-sungut.


Gara-gara mereka yang bicara setengah berteriak, keadaan jadi tak terkendali. Mereka malah ribut mirip-miripan kecoa.


Noa pusing mendengarnya. Akhirnya ia meraih dagu Tera. Ia mengecup bibir Tera, sedangkan yang di kecup tengah terdiam sembari melotot.


Mungkin ia terkejut. Noa saja tak kepikiran akan memperlakukannya seperti ini. Dan ini rencana di luar rencana. Noa memberikan lumatan-lumatan, Tera tak membalas namun juga tak menolak. Sampai akhirnya, lidah Noa sukses mendapat akses memasuki mulutnya, bermain disana, dan....


PLAK. . .!!!


Tera menampar Noa. Ia bangkit berdiri dan pergi dari hadapan Noa. Ia berusaha membuka kunci pintu gudang. Sambil membuka pintu sebelum keluar gudang, Tera menyempatkan diri melirik ke arah Noa.


"Lo gila." desis Tera.


Noa tersenyum mendengar desisan yang manis nyelekit itu.


"Gue suka cewek hardcore." kata Noa yang menunjukan senyum miring ke arah sang pujaan hati.


Tera pergi, dan Noa masih memandang ke arah pintu dimana Tera berlalu keluar gudang.


Dua sahabat Noa melongo, Noa pun menjentikan jari di depan wajah mereka.


"Haaaaah..."


Mereka ber'hah' serempak.


"Kenapa?" tanya Noa sekenanya.


Mereka geleng-geleng kepala. Mungkin mereka syok melihat adegan tadi. Ya sudah lah.


Noa meninggalkan mereka yang masih dalam keadaan syok berat di dalam gudang, ia berjalan santai menuju kelasnya.


Hm, ini baru permulaan kan.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2