
Tatkala cinta merayapi hati. Merayap hingga kedalamannya, siapa yang mampu menolak?
Kala setitik perhatian mampu meluluhkan kerasnya hati, siapa yang mampu menolak? Pintu kebahagiaan itu ada di depan mata. Ingin ku buka, ingin ku gerakan tangan ini untuk melihat sesuatu di baliknya. Cahaya kebahagiaan itu... kamu.
Semakin lama bersama Noa, semakin jauh Tera menjaga jarak dengan Jati. Bila Jati selalu menghilang entah kemana dan datang di saat ia membutuhkan. Noa, ia berbeda. Ia selalu ada untuk Tera. Orang yang begitu Tera benci, kini yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga.
Tera tak pernah mengira akan terjadi seperti ini. Berdekatan dengan Noa, banyak menghabiskan waktu bersamanya. Sosok Noa menggeser posisi Jati di hatinya. Menyamankan hatinya.
"Bikin surat undangan yuk." ajak Noa.
Ia sedang mencoret-coret kertas, Tera tak tahu Noa sedang membuat apa. Yang Tera lihat semua yang Noa gambar itu berantakan.
"Lo ngaco. Ngarang bebas aja." kata Tera.
Mereka sedang duduk berdua di kosan Noa. Hanya ada Tera dan Noa disini. Penghuni kosan yang lain belum pulang kuliah. Dan Tera mendengar dari Noa, kalau Dimas dan Ahmad sedang mencari pasangan untuk Justin, monyet peliharaan Dimas.
"Gue gak lagi belajar mengarang, sayangku." kata Noa kalem.
Ia selalu bersikap kalem di hadapan Tera. Mengimbangi sikap Tera yang kurang baik. Hm, bagaikan obat penenang.
"Lo lagi gambar apa sih? Berantakan tau." kata Tera.
Lalu ia merebut kertas yang sedang di gambar Noa. Tak rela karena belum selesai menggambar, Noa merebut kembali kertas itu dari tangan Tera.
"Gue lagi nyoba gambar 'love'. Gagal terus." kata Noa mengeluh.
Tera menunjuk satu persatu gambar yang Noa buat.
"Ini jajar genjang. Ini trapesium. Aduh, ini kerucut."
"Ck, gimana sih. Ini 'love' tau."
Noa menunjuk gambar trapesium di kertasnya.
"Gara-gara kelamaan jomblo, lo jadi ****."
Tera bersender di kursi ruang tamu kosan Noa. Ia lelah sehabis pulang sekolah.
Noa yang duduk di lantai berpindah duduk di samping Tera.
"Bukan. Gue gak kelamaan jomblo. Gue single dari lahir. Lo nolak gue buat duet mulu. Jadi pacar gue, biar gue terhindar dari virus kebegoan ini."
Noa menampakan wajah seriusnya.
"Duet? Gue masih punya pacar. Inget?" kata Tera mengingatkan.
Tera menatap wajah itu, tak ada sedikit pun canda dari perkataan Noa barusan. Noa benar-benar serius.
Noa mengangguk dan setelah itu kembali duduk di lantai melanjutkan menggambar di selembar kertas tersebut.
"Acep pulang...." teriak seseorang di luar kosan.
Serempak Tera dan Noa menoleh ke arah pintu yang di biarkan terbuka lebar. Kang Acep pulang. Tak hanya sendiri, ia bersama Rima dan satu orang pria di sampingnya. Jati???
Noa spontan berdiri dari duduknya. Tera pun berdiri di samping Noa. Kang Acep terlihat gugup saat memasuki kosan, tak seperti awalnya yang ceria tadi.
Rima senyum ramah seperti biasanya, dan Jati berjalan ragu memasuki kosan di samping Rima yang setia menggenggam tangannya.
Tera sudah mengenal Rima beberapa hari yang lalu dan ia tahu Rima sudah mempunyai pacar. Tetapi ia tak menyangka pacarnya Rima adalah Jati.
Tera kira wajah Rima saat pertama kali bertemu itu hanya mirip dengan seseorang dalam foto bersama Jati yang tempo hari di kirim ke rumahnya.
"Eh, ada Tera. Kenalin nih, cowok gue. Namanya Jati." kata Rima yang mengenalkan pacarnya kepada Tera.
"----ayo dong, beb. Kenalan dulu sama temennya Noa."
Rima menyuruh Jati mengulurkan tangannya.
Jati mengulurkan tangannya, ia menatap tak lepas ke wajah Tera. Menjabat tangan kekasihnya, itulah yang Tera lakukan.
Ia senyum terpaksa untuk formalitas berkenalan dengan seseorang yang jelas sudah ia kenal bahkan masih berstatus pacarnya sampai saat ini.
Tera berpikir. 'Jadi ini jawaban atas sering menghilangnya dia? Gue gak menyesal berdekatan dengan Noa, karena dia yang selalu mengisi hati gue saat ini. Jati memang bukan suatu pengharapan.'
"Euh, Jati. Kenalin, ini Tera."
Noa angkat bicara, ia merangkul pinggang Tera dengan posesif.
"----pacar gue." lanjutnya.
Tiga orang di hadapan Tera melotot sempurna. Tera tak membantah ucapan Noa untuk mereka semua. Karena disini pun ia tak tahu harus berbuat apa. Terdiam, hanya itu yang ia lakukan sejak melihat Jati berjalan melewati pintu kosan barusan.
"Noa, lo udah resmi macarin Tera?" tanya Rima bingung.
"---gue kira kalian masih temenan."
Noa tersenyum menjawab ucapan Rima. Ia semakin mengeratkan rangkulan di pinggang Tera.
Noa menegaskan. "Tera pacar gue."
Nada suaranya begitu tegas. Seakan menegaskan pada semua orang tentang kebenaran yang bukan suatu kebenaran. Seakan mewakili kata hatinya, bahwa ia memang menginginkan hal ini dari Tera.
Kang Acep hanya diam tak berkata apa-apa. Ia duduk di kursi sembari membuka sepatunya. Berpura-pura santai seakan ia sudah tahu sebelumnya. Ia menutupi semua kebohongan ini.
Rima hanya tersenyum menanggapi ucapan Noa. Sedangkan Jati memandang sembunyi-sembunyi pada Tera, ingin bertanya tetapi tak bisa.
__ADS_1
Rima membawa Jati ke ruang makan. Tera kembali duduk dengan lesu. Seakan setengah nyawanya menghilang entah kemana. Ia melihat kang Jhon memasuki kosan. Dan kang Jhon membuka obrolan di antara mereka.
"Lo berdua pacaran?" bisik kang Jhon sembari sesekali melihat ke arah ruang makan.
Noa menggeleng. Tera pun menggeleng.
Kang acep bertanya. "Lo nguping?"
Kang Jhon menganggukan kepalanya.
"Yang sabar ya, Tera." kata kang Jhon yang memberikan senyuman untuk menguatkan.
Tera membalas senyuman itu dengan pikiran yang berantakan, ia pun sama saja. Berdekatan dengan pria lain saat ia masih memiliki seorang kekasih.
"Noa, gue mau pulang." kata Tera pelan menghadap ke tempat Noa duduk.
Noa mengangguk dan mengantar Tera pulang dengan mengendarai motornya. Di perjalanan, Noa hanya mengatakan satu kata.
"MAAF." kata Noa lirih.
Maaf untuk pengakuan bohongnya. Maaf untuk kesalahan Jati yang sempat ditutupinya. Ini semua Noa lakukan demi hati sang gadis manis yang begitu di pujanya.
Tera tak tahu harus membalas dengan jawaban seperti apa. Noa tak ada maksud untuk memperkeruh keadaan. Tera tahu niat Noa baik agar Tera tak tersudutkan. Namun Tera tak mengetahui Noa begitu menjaga hati Tera walaupun ia gagal pada akhirnya.
***
Setelah kejadian perselingkuhan Jati benar adanya, Tera masih bersikap biasa pada sang kekasih. Tera pun mempunyai kesalahan yang sama karena terlalu akrab dengan Noa.
Hubungan mereka masih berstatus berpacaran. Ia tak tahu apalagi yang harus ia tunggu. Harusnya ia mengakhiri hubungannya dengan Jati. Noa pun pasti tersiksa. Ia sadar, ia bukan orang yang baik.
Flashback on
"Kamu selingkuh?"
"Kamu juga kan."
Aku mencoba mengabaikan Jati yang mendatangiku ke rumah di hari yang sama setelah pertemuan kami di kosan Noa. Namun ia mencecarku dengan pertanyaan yang lainnya.
"Kamu jadian sama dia?"
"Bukan urusan kamu."
"Jelas aja masih urusan aku. Kamu masih pacar aku."
"Kita pacaran karena kamu selalu mengaku ke semua orang kayak gitu. Bukan cinta dari hati. Makanya kamu selalu datang hanya saat kamu butuh. Kamu selingkuh lebih dulu dari aku."
"Kamu udah ngelakuin apa sama cowok itu? Kamu jadi beda. Dia udah apain kamu? Dia udah mesumin kamu? Sampe kamu gak mau jauh dari dia."
"Stop. Jangan coba menghina dia."
"Kamu belain dia? Mau kamu apa?"
"Aku gak mau putus."
"Jati, kamu gak bahagia sama aku kan? Pergi dan cari yang bisa bahagiakan kamu. Aku juga pengen bahagia. Lepasin aku."
"Gak. Aku janji bakal jauhi Rima. Asal kamu juga jauhi Noa."
"Tapi..."
"Aku sayang kamu..."
"Tapi aku enggak..."
"Kasih aku kesempatan..."
"........................."
"Kasih aku kesempatan..."
"Iya.........."
Flashback off
Menjauh dari Noa, itu yang saat ini Tera lakukan. Hanya karena Jati dan janjinya. Ia tak tahu apa Jati menepati janjinya untuk menjauhi Rima atau ia masih berhubungan seperti biasanya. Tetapi foto yang di kirim seseorang ke rumahnya untuk kedua kalinya, membuat ia tahu kalau Jati tak bisa menepati janji.
Tera tak mau menjauhi Noa. Tetapi ia harus. Ia hanya tak mau mengulangi kesalahan lagi. Ia memutuskan menjauhi Noa meskipun ia tak ingin.
Noa adalah orang yang bisa membuat hati Tera menghangat, Noa yang bisa membuatnya tersenyum tulus bukan untuk formalitas keramahan. Noa yang membuat tawa yang menyenangkan untuk pertama kalinya setelah hidup penuh kesendirian. Kini ia kembali lagi pada kesepian. Tawa itu menghilang lagi seiring menjauhnya dirinya dari sosok Noa.
Tera kini menghabiskan banyak waktu di taman. Duduk termangu, Tera kembali pada kebiasaan yang sebelumnya. Sebelum ia benar-benar mengenal seorang Noa.
Tiba-tiba ada seseorang dengan topi merah dan berkumis tebal menghampirinya.
"Ini. Buat yang namanya Tera. Itu anda kan?"
Ia berbicara sembari menyerahkan beberapa buah balon gas untuk Tera genggam.
Dengan kebingungan, Tera mengangguk dan segera menerima balon-balon gas tersebut. Ia menggenggam talinya dengan erat lalu memperhatikan balon yang bertuliskan namanya disana.
Tertempel satu benda di salah satu balon gas. Ada satu kertas yang di gulung dengan pita biru muda tak luput dari penglihatannya. Ia mengambil dan membuka gulungan kertas tersebut. Beberapa kata menyambut indera penglihatan kala kertas itu telah terbuka lebar.
"Bocah kelas 6 SD." gumam Tera.
Ia melirik ke kanan dan ke kiri, seakan mencari-cari sesuatu. Apa ia harus mencari bocah kelas 6 SD di taman ini? Menanyai satu persatu orang-orang yang berada disini? Kembali, ia memandangi gulungan kertas tersebut dengan kebingungan.
__ADS_1
Di tengah kebingungan yang belum menghilang. Kembali datang kebingungan yang semakin mendera. Melanda pikirannya.
Seorang pemuda berambut gondrong dengan menggunakan masker memberikan sebotol parfum untuk Tera. Yang lalu Tera terima dan seseorang itu pergi tanpa mengucapkan apa-apa.
Ada gulungan kertas tertempel di botol parfumnya, gulungan kertas yang sama dengan pita biru muda. Ia membuka dan membaca isinya. Hanya ada satu kata.
"Parfum." gumam Tera saat membaca satu kata yang tertera jelas di atas kertas tersebut.
Sebelumnya pernah ada yang mengiriminya kertas gulung berpita biru muda juga. Tera masih menyimpan gulungan kertas pertama tersebut. Isi tulisan itu adalah 'minimarket', dan ia kini mempunyai dua kertas baru yang bertuliskan 'bocah kelas 6 SD' dan 'parfum'.
Tera bertanya-tanya. 'Apa seseorang ingin memberitahukan sesuatu ke gue. Mengingatkan suatu kejadian yang gue lupakan karena merasa itu bukan kenangan yang harus gue ingat.'
Menyimpan kertas tersebut dengan menggulungnya rapi, ia tinggalkan taman itu dengan membawa kebingungan dan teka teki yang masih berlanjut.
Ia membawa beberapa tali balon dalam genggaman tangannya dan sebotol parfum yang selalu ia cium aromanya. Wanginya menenangkan. Harumnya mengingatkan ia akan seseorang. Sosok yang ia jauhi akhir-akhir ini. Noa.
***
Sementara itu, Noa tengah terdiam ke satu titik. Memandang dari jarak yang masih terjaga dengan aman. Ia melihat Tera meninggalkan taman membawa balon dan sebotol parfum.
Ia harus mengucapkan terima kasih pada dua sahabat yang selalu membantunya.
"Makasih Dim..Mad..." kata Noa.
Mereka tersenyum, masih menggunakan penyamaran yang mereka lakukan saat memberikan dua benda tersebut untuk Tera.
Dimas membuka topi merahnya dan mencabut kumis tebal yang terpasang acak-acakan.
"uuh, ternyata gatel pake kumis palsu gini."
Dimas membuang sembarangan kumis tersebut.
"Gue berasa ketombean tau. Ini rambut gondrong gak pernah di keramasin apa ya."
Ahmad pun membuka wig dan maskernya.
"Balik yuk. Ke rumah gue, gimana?" ajak Dimas.
Noa dan Ahmad mengangguki tawaran Dimas. Mereka berlalu pergi dari taman menuju rumah Dimas yang berjarak tak jauh dari taman tersebut.
Di rumah Dimas yang selalu sepi itu, saat ini begitu ramai dengan adanya Ayah dan Ibu Dimas. Mereka hendak pergi ke kampung halaman menemui nenek Dimas yang sedang sakit. Mereka berpamitan pada anaknya yang sepertinya tak rela di tinggal sendirian di rumah.
"Haaahh...gue pusing. Masa gue di tinggal pergi mulu." keluh Dimas.
"Gue kipasin pake ini." kata Noa.
Ia mengipasi Dimas dengan uang kertas pecahan seratus ribu.
"----segala macam penyakit sembuh seketika. Pusing, panu, kudis, kadas, kurap, kutil, mata ikan, bisul, dan lain-lain. Mari kemari Bapak Ibu akang eneng di obati disini."
"iih, adem. Lagi dong." kata Ahmad yang ikutan meminta di kipasi uang.
"Lo berbakat jadi tukang obat."
Dimas akhirnya tertawa juga, melupakan kesepiannya dan lanjut bersenang-senang dengan Noa dan Ahmad.
"Lo gak mau panggil gue daddy lagi, Mad." kata Dimas mencandai Ahmad.
Sedangkan Ahmad yang sedang membalas chat dari seorang perempuan melirik Dimas sekilas.
"Baper lo. Pengen banget gue jadi baby lo." canda Ahmad.
Dimas tertawa mendengar ucapan Ahmad.
"Baper mah makan dong." canda Dimas.
"Itu laper."
Noa menoyor kepala Dimas. Ahmad ikutan sedekah dengan menoyor kepala Dimas.
"Lo masih mau deketin Tera yang jelas-jelas jauhin lo sekarang?" tanya Ahmad serius.
Noa mengangguk yakin. Dimas tersenyum untuk Noa dan menepuk pelan pundak seseorang yang membutuhkan dukungannya itu.
"Lo harus punya SIM kalo udah berhasil pacarin dia." kata Dimas.
Ahmad menggaruk kepalanya, mencoba berpikir yang biasanya dalam ulangan harian saja ia hanya menghitung kancing. Noa yang menceplos duluan menanggapi ucapan Dimas.
"Lo niat becandain yang jorok kan?" tanya Noa.
"Lo mesum. Surat ijin mencintai maksud gue." toyor Dimas di kepala Noa.
"Surat ijin menyayangi. Gue juga bakal buat itu." cengir Noa.
"Aih..aciieciie.." sahut Ahmad.
"Kemaren kan gue bodong. Gak punya SIM. Untung gak ada razia cinta." kata Noa kalem.
Ahmad ngakak nista. Dimas melempar mulut Ahmad menggunakan roti seribuan.
"Gue di lempar yang enak-enak empuk. Surat ijin melamar, Noa. Lo juga harus punya." kata Ahmad.
Dan ia kembali mendapat hadiah timpukan roti dari Noa dan Dimas secara bersamaan.
Setidaknya, masih ada tawa yang tercipta bukan tawa yang tersisa saat ini.
__ADS_1
***
Tbc