Kakak Gemes

Kakak Gemes
Terungkap


__ADS_3

"Kamu percaya gak, kalo aku nanti bisa lulus kuliah lebih cepet daripada kamu?"


Noa berbicara dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tetapi memang begitulah seorang Noa. Ucapannya bisa di pegang bagaikan janji yang harus ditepati.


Tera tersenyum. Ia yakin Noa bisa menjadi orang yang hebat. Keyakinan atas dirinya sangat besar. Noa mempunyai masa depan yang cerah.


"Aku percaya." jawab Tera.


Tentunya Tera percaya, Noa bisa lulus lebih cepat. Di samping karena Noa mempunyai kecerdasan di atas rata-rata.


Tangan Tera secara spontan memeluk Noa seperti tak ingin melepasnya.


"Noa..." bisik Tera.


Yang disebutkan namanya sedang memandangi Tera tanpa menjawab panggilan itu. Bahkan mengangguk pun tidak dilakukannya. Tera berkedip beberapa kali saat tatapan mata Noa masih setia tertuju ke wajahnya.


"Waaw..." ujar kekaguman Noa.


Noa begitu mengagumi sosok manis yang kini menjadi miliknya. Hanya kedipan mata pun sudah membuatnya takluk.


"Indahmu itu memukau. Cuma kedipan aja membuat kekaguman aku timbul begitu saja." ucap Noa.


"Ngomongnya formal ya." kata Tera.


Noa mengubah posisi, ia hanya ingin memandangi wajah Tera dengan lebih intens.


Tatapan lekat itu tak mampu membuat Tea berpaling. Tatapan itu mengunci pergerakan. Mereka terdiam dengan saling berpandangan.


"Noa..." gumam Tera.


Namun Noa tak menjawab. Ia masih menatap. Ia diam tanpa senyuman. Usapan lembut pun menuju rambut Tera.


"Aku jatuh terus ke dalam pesona kamu."


Bisikan itu, tak bisa Tera balas. Tak ada kalimat yang tepat untuk mengungkapkan rasa yang sama terhadapnya.

__ADS_1


"Aku terjatuh lagi dan lagi. Meskipun jatuh, tapi cinta aku gak merosot. Gak terluka. Aku suka dengan jatuh yang ini. Jatuh cinta pada Tera Ramadhani." bisik Noa.


Tera terharu kala mendengar ucapan itu. Bahkan ia pun merasakan jatuh cinta di setiap detiknya. Hanya pada Noa.


"Aku pengen jatuh terus ke dalam sana. Ke kedalaman hati kamu." bisik Noa.


Tera memang tak pernah terbuka. Noa begitu kesulitan menyelami kedalaman hati Tera. Tak disadari sama sekali, air mata menetes begitu saja. Seakan pelupuk mata sudah tak mampu lagi membendungnya.


"Noa..."


Isakan tangis itu terekam jelas oleh pendengaran Noa. Ia mengusap air mata yang sedang menderas. Air mata itu ambil bagian membanjiri jari-jari tangan Noa yang sedang berusaha menghapus air mata Tera.


Ada rasa sesak tatkala memendam perasaan seorang diri. Karena Tera pun menyadari kini ia tak sendirian lagi.


"Kenapa?" tanya Noa.


Di sela isakan pun Tera ungkapkan rasa yang terpendam. Rasa sesak.


"Sandy suka sama kamu. Aku gak mau dia deketin kamu." lirihnya.


"Aku gak ngeliat rasa suka dari Sandy. Itu bukan cinta. Dan aku yakin akan hal itu. Bukan seperti perasaan aku untuk kamu. Sandy gak cinta aku." jelas Noa.


"Bukan. Aku yakin bukan rasa cinta. Aku gak semata-mata buta tentang perasaan orang lain." kata Noa.


"Dia cinta kamu. Dia cinta kamu. Dia cinta kamu. Aku takut..." cicit Tera.


Noa meraih tangan Tera dan mendekatkannya ke tempat dimana jantungnya berada. Debaran itu terasa di telapak tangan Tera yang sedang menempel di dadanya.


"Ini baru cinta. Cuma buat kamu." bisik Noa.


Ia memindahkan telapak tangan itu ke dada Tera. Telapak tangannya bertumpukan dengan telapak tangan Tera. Begitu terasa debaran yang sama.


"Ini baru perasaan yang sama. Cinta." bisik Noa.


Tera berurai air mata kembali saat mendengar bisikan itu. Noa sedang berusaha meyakinkan Tera tentang sebuah perasaan cinta yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Itu alasan kenapa aku harus tetap berada di dekat kamu. Aku gak akan jauh dari kamu. Pertanyaan kamu waktu dulu udah terjawab." bisik Noa lagi.


'Itukah jawabannya. Dia rumah yang sesungguhnya. Bukan tempat singgah karena hatinya bukan hanya sekedar untuk tempat persinggahan. Ia rumah yang akan membuat gue tinggal dengan betah dan terus menetap disana.' batin Tera.


"Tapi Sandy gimana?" tanya Tera.


"Akan ada saat dimana dia mendapatkan tambatan hati yang sesungguhnya. Dan itu bukan aku." jawab Noa.


"Dia pengen pisahin kita."


Ucapan Tera terpotong oleh isakan tangis.


Noa seperti membedah sebuah kebenaran dari ucapan. Tak ada pertanyaan atau permintaan untuk menjelaskan.


"Kita bakal sama-sama terus."kata Noa menenangkan.


Ia terus memandangi Tera. Pandangan mata itu, pandangan yang memantulkan diri Tera sendiri di mata Noa. Tera menjadi lupa diri dengan ciuman di antara mereka, kemudian ia menggigit keras bibir bawah Noa. Rasa asin itu pun menyapu bibirnya.


Noa meringis saat gigitan Tera terlepas. Ada darah yang keluar dari sobekan di bibir bawahnya yang sedikit menetes hampir menuju dagunya. Noa seakan teringatkan kenangan di ruang UKS.


Saat itu mungkin yang di rasakan oleh Noa ialah kesakitan akan sebuah penolakan. Tetapi saat ini Tera bahkan Noa pun merasakan kebahagiaan dari sebuah rasa cinta. Bentuk yang indah dalam simbol yang manis.


Lidah Tera terus memaksa lidah Noa menari-nari, mereka saling menggoda satu sama lain setelah mempertemukan ujung lidah masing-masing.


Ketika ciuman itu berakhir karena mereka teringat untuk menghirup udara, Tera memperhatikan bibir bawah Noa yang di penuhi luka bekas gigitan.


Tera mengecup satu kali bibir bawah Noa lalu mengusap sedikit noda darah yang tersisa disana. Noa tersenyum melihat wajah Tera.


"Sakit gak?" tanya Tera.


"Jangan polos gitu, baby. Ini sakit tapi yang penting aku gak sakit karena hubungan yang gak baik. Atau liat kamu di sakiti orang lain. Kalo itu aku gak akan kuat." jawab Noa.


"Aku sayang kamu." lirih Tera.


"Aku juga." bisik Noa.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2