
"Sumber cinta su dekat."
Itu respon yang keluar dari mulut kang Jhon ketika Noa curhat tentang Tera.
"Itu beneran di terima?" tanya kang Acep heran yang di angguki Noa sembari nyengir lebar.
"*****, berasa hoax yah." kata kang Acep dan Noa mendengus mendengar perkataan itu.
"Mukjizat ini tuh. Kalo mustahil itu kayak lo ngarep bisa ciuman onlen." canda kang Jhon.
"Ciuman onlen mah pake emot emot emot aja." kata Noa.
"----ups, keceplosan. Kan kang Jhon gak bisa kirim emot cium ke orang lewat chat ya." ledek Noa yang bicara sembari pura-pura berpikir.
"----kasian yah, yang bikin emot cium gak bisa di manfaatkan kang Jhon."
"Bbuahahaha...Ngakak aing."
Kang Acep terngakak-ngakak.
"Kampret lo, dua makhluk jahanam."
Kang Jhon bersungut-sungut.
"Ck...bentar deh. Bentar...bentar."
Noa mengambil kertas dan mulai menggambar emoticon cium dengan di bawahnya ia menambahi hashtag beri aku cinta.
"#beriakucinta"
Kang Jhon memiting Noa yang ngakak gaya bebas. Kang Acep ngakak gaya punggung, ia berlari ke kamarnya, kemudian kembali ke ruang tamu dengan membawa lem esbonbon.
Kertas itu di lem di pintu kamar kang Jhon dan Noa semakin terbahak di buatnya. Gantian kang Jhon mengeteki kang Acep yang sekarang ngakak gaya kupu-kupu.
"Duh, kalo kayak gini jadi pengen minum minuman keras deh." kata Noa.
Dan ucapan Noa membuat dua orang di depan pintu kamar itu menjadi patung sementara. Kang Jhon masih mengeteki kang Acep yang tercengang.
"Astagfirullah." kang Acep menggoyang-goyang bahu Noa.
"----sadar, Noa. Nyebut."
"Nyebut...but..but..but..."
Noa pun menjawab dengan candaan.
"Sue, Noa parah lo." kang Jhon menoyor kepala Noa.
"----lo kebentur tutup kloset pasti kan."
"Beneran, kang. Gue pengen minum minuman keras. Es lilin mang Ojo enak kayaknya."
Noa melihat ekspresi mereka berubah dan ngakak dengan kebodohan mereka.
"----es batu di gulain aja apa, kang?" ucap Noa sembari berpikir.
"Kampret, gue kira beneran minuman haram." ujar kang Acep.
"Gue halalin, gue tulis pake spidol ntar." canda Noa.
"----atau gue nikahin biar halal. Biar jadi muhrim."
"Ah, bisa aja lo."
Kang Acep memukul lengan Noa.
"Jangan es batu, masih mentah. Buktinya itu es keras. Pilih yang empuk aja, udah mateng." kata kang Jhon.
"Es lilin mang Ojo di kukus aja, kang. Ntar empuk." ucap Noa.
"Jangan, di karbit aja dalem karung. Pasti empuk." kata kang Acep.
Akhirnya, mereka bertiga mangkal di depan pagar kosan, menunggu mang Ojo tukang es lilin lewat.
***
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Noa yang sudah bete terburu-buru keluar kelas. Angin sepoi-sepoi memang adem. Dimas dan Ahmad dari kejauhan melambai tangan ke arahnya. Ia senyum menanggapi mereka, menunggu mereka menghampirinya.
Tera ada disana, turun dari tangga menuju gerbang koridor utama. Melirik sekilas ke arah Noa, wajahnya datar. Noa tersenyum kepadanya, tanpa membalas senyuman ia pun pergi.
"Ke rumah gue yuk."
Dimas mengagetkan Noa yang tak sadar mereka sudah berada di depannya.
"Hah?"
Noa seakan tuli karena terlalu fokus memperhatikan Tera barusan.
"Iya'in aja. Ayo."
Ahmad menyeret Noa yang terlihat pasrah.
Perjalanan ke rumah Dimas lumayan lama. Halte penuh dengan siswa yang berebut ingin pulang, kendaraan terlalu penuh untuk mereka bertiga.
Akhirnya setelah berlama-lama kemudian, mereka sampai di rumah Dimas. Rumahnya sederhana tetapi terkesan asri. Banyak tanaman di halaman depannya yang luas. Pohon buah-buahan pun ikut merindangkan halaman rumahnya.
Disana, di atas pohon yang sedang berbuah itu ada seekor monyet yang kala melihat Dimas pulang langsung melompat ke pelukan Dimas.
Noa yang baru pertama kali main ke rumah Dimas jelas kaget. Beda halnya dengan Ahmad, ia terlihat santai karena sudah terbiasa.
"Hallo, Justin. Tadi gak nakal kan?"
Dimas bertanya kepada monyetnya dan hewan itu geleng kepala seakan mengerti ucapan majikannya.
"Waw, Justin..."
__ADS_1
Noa bengong memperhatikan Justin, monyet peliharaan Dimas.
Kenapa nama hewan peliharaan selalu lebih bagus dari nama majikannya?
"Justin, kenalan dulu sama temen gue. Ini Noa."
Monyet itu mengerti, ia mengulurkan tangannya meminta Noa jabat.
Noa pun menjabat tangan monyet tersebut. "Justin namanya gak kebagusan tuh, Dim?"
"Ck, lo mah gak ngerti seni. Udah ah, ayo masuk." ajak Dimas namun terhambat oleh Justin yang menarik-narik baju seragamnya.
"uu aa..uu..aa..."
Justin menunjuk Noa, ia berkedip-kedip manja.
Dimas nyengir. "Lur, si Justin bilang dia suka sama lo."
Dimas memandang Noa yang merasa ia berteman dengan tukang tafsir.
"Sotoy lo. Sok ngerti bahasa monyet." toyor Noa ke kepala Dimas.
"Lo ah. Dia kan majikannya si Justin jelas aja ngerti. Iya kan, Dim. Lo bisa terjemahin bahasa monyet." kata Ahmad memberikan dukungan.
"uu..aa..uuu..aa..uu..aaaaa."
"Kata Justin, dia mau operasi transgender biar bisa jodoh sama lo."
Dimas bicara di iringi suara tawa Ahmad.
Noa merasa ada dua suara monyet jadinya. Si Ahmad menjiwai sekali, sumpah.
Noa menepuk kening kala mendengar terjemahan Dimas.
"Gue gak doyan batangan. Gue suka sama satu makhluk garang yang namanya Tera."
Justin patah hati di tolak Noa, ia pegangi dadanya lalu melompat kembali ke pohon dan bicara dengan bahasa monyetnya.
"uuu..aaa..uu aa..uu..aaaaaa.."
"Apa tuh, Dim. Artiin." tanya Ahmad penasaran.
"Katanya, gue bakal bunuh diri udah ini. Gue bakal makan pisang yang banyak biar overdosis." ucap Dimas.
"----monyet gue mau bunuh diri, Noa. Lo mesti tanggung jawab. Terima dia jadi pacar lo. Daripada lo nungguin Tera mulu, sampe keriput lo jomblo."
"Gue gak jomblo, gue single." bela Noa.
"----bodo amat. Gue mending nunggu Tera terima gue. Yakali gue pacarin monyet. Si Noa dari goa Dimas dong."
"Ngakak aing. Si Dimas hantu dong. Kudunya goa hantu kan."
Ahmad ngakak terjahanam.
"Sue atuhlah..."
Di rumah Dimas sangat sepi. Kedua orang tua Dimas bekerja sebagai pegawai negeri. Jam segini belum waktunya mereka untuk pulang.
"Dim, lapar euy. Nyari makan yuk." ajak Ahmad.
Noa mengangguk setuju, perutnya sudah ajeb-ajeb.
"Ayo deh.." kata Dimas setuju.
Bertiga, mereka berjalan beriringan sepanjang jalan kenangan saling bergandengan tangan. Jalan ke arah warung tenda pinggir jalan.
Tak sengaja Noa melihat ke satu arah dan ia melihat Tera disana. Secara refleks, ia berlari ke arah punggung yang menjauh. Dimas yang memesan mie ayam membatalkan pesanannya, ia ikut berlari mengejar Noa yang di buntuti Ahmad.
"Tera.." teriak Noa.
Tera menengok dan terkejut melihat Noa berlari kencang ke arahnya. Tera yang tadinya jalan santai mendadak lari.
"Jangan kejar gue, ******. Cari tulang sana." maki Tera.
Noa berlari mengejar Tera yang larinya tak kalah cepat. Dimas dan Ahmad berada di belakangnya.
Dimas teriak. "Tewak, Noa. Tewak."
(Tangkep, Noa. Tangkep).
"Lo mau kemana, oy?"
Noa meneriaki Tera yang masih berlari di depan sana.
"Gue mau nebus obat." jawab Tera.
'Kok dia jawabnya normal? Jawabannya bener. Gak pake acara marah-marah.' batin Noa.
"Loh, emang obat lo di culik? Make di tebus segala."
Noa bertanya sambil ngos-ngosan.
"Itu buat lo, ******. Lo rabies." kata Tera.
Noa tertohok. Ia tetap mengejar Tera. Harus sampai dapat, begitu inginnya. Dimas masih semangat lari di belakang Noa. Ia pun di tanyai orang-orang di jalanan.
"Aa, kunaon lumpat? Ngudag copet?" tanya salah seorang di pinggir jalan.
(Aa, kenapa lari? Ngejar copet?).
"Oh, sanes kang. Babaturan abdi eta mah nu di payun. Ngan mere beja tadi make calana jero na tibalik." kata Dimas ngos-ngosan.
(Oh, bukan kang. Temen saya itu yang di depan. Cuma mau ngasih tau tadi pake celana dalemnya kebalik).
"uuuhh, gue haus."
__ADS_1
Itu suara Ahmad yang lari di belakang Noa. Ia menyempatkan diri mampir ke mamang tukang cendol.
"----mang, cendolnya empat mang."
"----lari yang jauh sana, ntar gue ngejar bawa cendol. Kalo haus brenti dulu, istirahat sejenak di bawah pohon rindang."
Ahmad meneriaki Noa dan Dimas.
Beberapa meter di belakang Noa, Dimas duduk di trotoar.
"Ah, aing ngaso heula." ucapnya.
(Ah, gue istirahat dulu).
Noa terus mengejar Tera. Ia tak menyangka Tera itu kuat juga lari kencang seperti itu.
Tiba-tiba. . . BRUAKKK !!!
Tera jatuh, tersandung kaki kucing. Noa harus berterima kasih pada si kucing yang telah menjegal kaki Tera. Ingatkan itu pada Noa. Kucing itu lari takut di amuk Tera, takut di mintai tanggung jawab.
Noa buru-buru menghampiri Tera, ia membangunkan Tera dari posisi jatuh. Lututnya berdarah. Noa mendudukan Tera di trotoar. Dimas dan Ahmad menyusul Noa sambil 'nyendol mania'.
"Lur, cendol lo sama Tera."
Ahmad menyerahkan dua plastik cendol yang menggiurkan dan seakan berbisik 'cepat, sedot aku !!!'.
Noa pun menerimanya dan satunya ia berikan pada Tera yang langsung di tolak mentah-mentah.
"Ogah. Gara-gara lo, gue jadi berdarah gini. Tanggung jawab lo." maki Tera.
"Elah, terima aja sih cendolnya. Gue yakin lo cape terus haus."
Dimas bicara dengan nada sensi seperti perempuan yang sedang PMS. Sedangkan Ahmad mengangguk kalem sambil menyedot cendolnya.
"Gue bakal tanggung jawab." ucap Noa.
"---lur, lo berdua balik aja. Biar gue yang bawa Tera ke klinik."
Ia menyerahkan kembali dua plastik cendol kepada Ahmad.
"Oke deh." jawab Dimas dan mengajak Ahmad pergi.
Setelah dua sahabatnya menjauh, Noa fokus lagi kepada Tera.
"Sini, gue bantu berdiri."
Tera menepis tangan Noa dengan kasar.
"Gue bisa sendiri." ketus Tera.
Noa bangkit berdiri. Memperhatikan Tera yang berusaha bangun sendiri. Lama, Tera tak bangun dari posisi duduknya. Noa pun gemas melihat kelakuan Tera. Ketusnya itu tak ada saingannya.
Noa menggendong Tera dengan gaya ala pengantin. Tera memberontak meminta lepas. Ia berteriak dan Noa hanya bisa menulikan telinganya yang hampir tuli.
"Lepasin. Turunin gue, gila." teriak Tera.
"Lo mau gue jatohin, hm?" kata Noa datar.
Tera diam, Noa membawanya ke klinik terdekat untuk mengobati luka di lututnya.
"Dimana rumah lo?" tanya Noa setelah keluar klinik. Ia menggendong Tera di belakang. Suara itu tak kunjung terdengar.
"----molor lo?" tanya Noa lagi.
"Gue gak punya rumah." gumam Tera.
Noa mengernyit bingung. "Yakin? Lo selama ini tinggal dimana? Di lobang tikus?"
"Gue punya rumah, tapi gue gak mau kembali kesana."
Masih dengan bergumam, Tera menjawab pertanyaan itu.
Noa tak tahu maksud dari ucapan Tera. Yang jelas ia menangkap ucapan kalau Tera mempunyai rumah. Dan tugas Noa mengantarnya dimana pun ia tinggal.
"Gue gak tau maksud lo apaan. Gue anter ke tempat lo sekarang. Tunjukin jalannya. Naek kendaraan gak?" kata Noa.
Tera hanya menggeleng. Ia tunjukan jalan ke arah rumahnya. Ternyata rumahnya tak jauh dari rumah Dimas. Noa sempatkan ke rumah Dimas untuk mengambil tasnya, Dimas sudah menunggu di depan pagar rumahnya setelah Noa meneleponnya selama perjalanan.
Rumah Tera masih beberapa puluh meter setelah melewati rumah Dimas.
"Disini." ucap Tera tegas.
"Ini rumah lo?" tanya Noa.
Ini rumah yang Noa tanya alamatnya dulu ke karyawan tata usaha. Ternyata tak ada gunanya menanyakan hal itu, ia tahu alamatnya saja tetapi wujud rumah Tera baru Noa ketahui sekarang.
Rumah ini sama asrinya dengan rumah Dimas. Mungkin penghuni rumah di sekitar sini orang-orang yang memang menerapkan penghijauan di rumahnya.
"Gue anter ke dalem?" tawar Noa dan Tera geleng kepala.
"Turunin gue disini aja. Gue bisa masuk sendiri." ucap Tera.
Noa pun menurunkan Tera dari gendongannya dan tak lupa menyerahkan obat untuk lukanya. Tera yang sudah membuka pagar rumahnya pun Noa cekal pergelangan tangannya.
Tera terkejut. "Dulu, pernah ada yang giniin gue. Pegang tangan gue kayak gini. Tapi dimana ya?"
Wajahnya menampakan kebingungan. Ia ingat kejadian itu, tetapi tak ingat pasti dimana dan dengan siapa.
"Biarin gue ngerasain cinta kayak orang di luaran sana." gumam Noa masih mencekal tangan pujaan hatinya.
Tera terdiam mendengar ucapan Noa, ia lepas cekalan di tangannya. Tera masuk ke rumahnya tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Meninggalkan Noa sendirian dengan sejuta harapan.
Bila Tuhan mempunyai surga, yaitu taman merindang kepuasan untuk hamba-Nya yang taat di akhirat nanti. Noa pun ingin mempunyai taman merindang kepuasan di hatinya, dengan satu bidadari pelipur hati.
__ADS_1
***
Tbc