
"Haah..gerah."
Pulang sekolah matahari begitu terik. Bawaannya selain haus inginnya berbaring di lantai.
Kang Jhon menendang paha Noa. "Kayak ikan asin terdampar lo."
"Ck, gue kan keren, kang. Body juga keren. Ikan julung-julung aja minder." ucap Noa penuh dengan kekaleman.
"Pede gila."
Kang Jhon menendang kaki Noa berkali-kali.
"Siang semua. Acep balik nih." seru kang Acep dari pintu depan.
"Lo balik gak usah berseru gitu kalo gak bawa makanan." kata kang Jhon.
"Apa sih si jomblo. Mau lo itu mah. Acep gak bawain makanan, tapi bawa cecan. Masuk sini, Rim." ajak kang Acep ke seseorang yang sedang melepas sepatunya.
Sewaktu orang itu menunduk, Noa tak begitu sadar sosok itu siapa. Setelah ia selesai melepas sepatunya, ia berjalan ke dalam rumah. Spontan Noa berdiri mengagetkan kang Jhon.
Noa menunjuk orang itu dan memandang tersirat kepada kang Jhon. Sebelum orang itu sadar, kang Jhon menepis jari Noa yang menunjuk kepada orang asing itu.
"Ini Rima. Dia lagi cari kosan."
Kang Acep mengenalkan wanita itu kepada Noa dan kang Jhon.
Ia mengajak berjabat tangan, kang Jhon pun menjabat tangan Rima. Kini gantian Noa yang hendak di jabat tangannya, Namun Noa hanya bengong. Kang Jhon pun meraih tangan Noa dan menjabatkan tangan itu dengan tangan Rima. Wanita bernama Rima tengah tersenyum tipis.
"Rima ini temen kampus gue beda fakultas. Gimana Rim, lo tertarik gak ngekost disini? Mau liat-liat ke ruangan laen dulu." kata kang Acep.
"Gue mau ke ibu kost nya aja." ucap Rima.
Kang Acep membawa Rima ke rumah sebelah dimana ibu kost berada. Noa memandang kang Jhon lagi. Kang Jhon menepuk pundak Noa menyuruhnya duduk di kursi dan mereka berdiam diri sampai akhirnya kang Acep kembali ke kosan.
Noa membuka percakapan. "Kang. Itu temen akang?"
"Hooh..." jawab kang Acep sekenanya.
"Ada apaan sih. Coba cerita dari awal." perintah kang Jhon.
Noa mulai bercerita. "Cewek itu deket sama satu cowok..."
"Tunggu. Lo gak suka cowok kan. Masalahnya apa?" sela kang Acep.
"Ck, biarin dia selesain ngomongnya dulu." omel kang Jhon.
Noa yang masih mangap lanjut bicara. "Jadi cowok yang jalan sama cewek tadi itu, cowoknya Tera."
"Oh, gebetan lo itu." kata kang Acep yang manggut-manggut.
"Lo bisa gak sih, dengerin dulu sampe beres, Cep." kata kang Jhon semakin kesal.
Kang Acep nyengir. "Sorry. Lanjut, Noa."
"Awas kalo lo nyela lagi. Gue ambil persediaan mie instan lo." ancam kang Jhon.
Kang Acep mengacungkan dua jari membentuk 'v' kepada kang Jhon.
__ADS_1
"Gue lanjut ya. Si Rima itu jalan sama cowoknya Tera, gue gak tau namanya siapa. Gue ada bukti foto mereka lagi jalan."
Noa menunjukan foto itu kepada mereka. Dan mereka mengangguk sambil mengelus dagu.
"---si Dimas temen gue, intai cowoknya Tera pas dia jemput cewek tadi dari kampus sampe jalan bareng. Nah, dia fotoin juga buat bukti, yang ini." Noa menunjukan folder foto yang lain. Mereka masih menyimak dengan serius.
"---tapi si Dimas bilang lewat chat kalo cowok itu abis nganter pulang Rima, dia ngejemput cewek laen lagi dan Dimas sempet fotoin juga moment itu." Noa pun menunjukan foto terakhir dan ia mengakhiri penjelasannya.
"Kalo gitu cowoknya yang gak bener dong." tanggap kang Acep.
"Si Rima kayaknya gak tau tentang perselingkuhan ini deh." tebak kang Jhon.
"Hm, gue cuma kasian sama Tera. Gue sempet kirim foto ini yang udah gue cetak ke rumahnya." gumam Noa.
"Gebetan lo miris banget. Sumpah." kata kang Acep.
"Terus si Rima jadi ngekost disini?" tanya kang Jhon.
Kang AcepĀ geleng kepala. "Gak tau deh. Ntar dia ngabarin ibu kost beberapa hari lagi."
TOK TOK TOK
Ada yang mengetuk pintu. Semua mata tertuju kesana. Karena pintu utama kosan di biarkan terbuka lebar, Noa bisa melihat dari dalam ruangan ada seseorang di luar sana. Noa memicingkan mata untuk memastikan bahwa ia tak salah melihat.
"Tera?" gumam Noa.
Dua akang yang menoleh ke arah pintu pun mendorong Noa untuk segera menghampiri Tera. Berjalan ke arah pintu yang terbuka itu, Noa tersenyum. Tera hanya memandang datar.
"Gue ganggu lo?" kata Tera yang masih memakai seragamnya juga tas yang masih setia ia gendong di punggungnya.
"Masuk." ajak Noa.
"Siang, kang."
"Siang, Tera." ucap kang Acep ceria. Kang Jhon hanya tersenyum ramah.
"Masuk kamar gue aja."
Noa mengajak Tera ke kamar. Tera pun duduk di atas kasur.
"Tumben kemari. Ada perlu atau nganter pesenan jam di daerah sini? Mau gue bikinin minum?" tanya Noa.
"Pengen aja. Gak usah, makasih." ucap Tera lesu.
"Ada masalah?" tanya Noa lagi.
Tera hanya menggeleng. Noa mengangguk saja, sok paham. Noa melihat Tera kegerahan, keringat bercucuran di pelipis dan lehernya.
Noa pun mendekat ke tempat Tera berada. Mereka berhadapan dengan jarak yang begitu dekatnya.
"Lo kegerahan. Ada tisu tuh." ucap Noa.
"Hem..." gumam Tera.
Karena siang ini begitu panasnya, Noa hendak mengganti pakaian yang sudah basah oleh keringat. Awalnya, semua terasa biasa saja hingga pakaian atasan itu terlepas dari tubuhnya yang agak berbau masam. Namun suara sesenggukan mengejutkan Noa hingga ia menengok sekilas. Ia menghentikan perbuatan yang ia lakukan kala menyadari Tera menangis.
"Lo takut?" bisik Noa yang menunda acara ganti bajunya.
__ADS_1
Tera menggeleng samar. "Lo mau apain gue?"
Tera hanya memejamkan matanya. Noa ingin tertawa terbahak namun ia takut dosanya bertambah. Noa duduk dengan kedua lutut mencium lantai kamar masih dengan Tera yang memejamkan mata. Ketika Noa hendak menjelaskan bahwa ia hanya ingin berganti pakaian, tiba-tiba...
BRAKK !!!
"Noa, mau nitip makanan gak?"
Noa dan Tera terkejut dengan gebrakan di pintu kamarnya yang sudah dalam keadaan terbuka lebar.
"Gyaaaahhhh...gue liat yang enggak-enggak." teriak kang Acep.
"Ganggu aja lo. Kayak lo gak pernah ngelakuin yang enggak-enggak aja." kata kang Jhon menarik kang Acep pergi dari hadapan Noa yang masih dalam posisi berhadapan dengan Tera, Noa menengok dengan ekspresi tercengang.
"Udah buka-bukaan baju mereka." heboh kang Acep. Ia menunjuk dengan satu tangan dan berpura-pura menutup mata.
Noa refleks berbalik memandang Tera lalu ke tubuh bagian atasnya sendiri, baju yang sudah berbau masam di atas lantai pun diraihnya untuk menutupi dada telanjangnya. Tera hanya diam, menunduk menahan malu. Ini salah paham. Namun kang Acep sudah mencapnya bagaikan lelaki mesum.
"Kang Jhon, tutupin pintunya kang?" pinta Noa.
Kang Jhon mengerti, ia segera menutup pintu kamar Noa rapat-rapat. Noa masih bisa mendengar kang Acep berteriak-teriak.
"Gue gak kuat. Cobaan macam apa ini." teriak kang Acep.
"Ieu saha?" (Ini siapa?). kata kang Jhon.
"Aing maung."
Kang Acep mencari ponselnya. "---Hape mana hape. Ah, ini dia. Telpon pacar..telpon pacar."
"Berisik Acep. Lo ribut telpon pacar, gue ribut telpon siapa? Operator?" maki kang Jhon.
"Hallo, cintaku. Aa, ke kosan kamu yah. Hah, iya ada urusan penting banget. Maen yuk cinta."
Kang Acep nyengir kala mendengarkan suara sang kekasih di sebrang sambungan telepon.
"----yes, gue pergi dulu, Jhon. Babay." suara kang Acep masih jelas terdengar.
"******, lo mau ke kosan cewek lo pake celana boxer gitu?" seru kang Jhon.
"Biar seksi aja ini tuh." suara kang Acep menjauh.
"Gini nih, nasib jomblo." kata kang Jhon yang merutuki nasibnya.
Setelah itu tak ada suara lagi. Noa bisa fokus kembali kepada Tera. Memperhatikannya, mengangkat dagunya. Tera menutup mulut seolah memblokir perbuatan yang mungkin saja akan Noa lakukan terhadapnya.
Noa meraih tangan itu agar menjauhi bibir Tera. Ia mengecup singkat punggung tangan yang mulus itu. Tera melihat Noa dengan wajah memelasnya.
"Anterin gue pulang." lirih Tera.
Noa mengangguki permintaan Tera. Lalu membantunya bangkit berdiri, Noa pun mengusap sekilas bibir Tera yang imut.
Tera terus menunduk. Akhirnya Noa membawanya keluar kamar dan sesegera mungkin mengantarnya pulang menuju rumahnya.
Tera hanya menundukan kepalanya hingga dahinya beradu dengan punggung Noa dan begitu posisinya hingga Noa menepikan motor di depan rumah yang kini seringkali Noa sambangi.
Seperti biasa, Tera pergi tanpa berkata-kata dan Noa hanya memandang kepergian Tera dengan sejuta harapan yang hilang timbul akibat perbuatan kecil dari Tera.
__ADS_1
***
Tbc