Kakak Gemes

Kakak Gemes
Puncak terakhir


__ADS_3

Pagi hari, satu makhluk jahil sedang menjalankan aksinya. Ia memasuki salah satu kamar yang penghuninya masih tidur dengan pulas.


Si jahil mencolek pipi yang dijahilinya. Namun ada pergerakan spontan dari yang dijahilinya. Si jahil kecolongan.


"Ssshhh...halah..."


"Enak gak di gigit?"


"Kamu gigit aku, laper ya." canda Noa.


Tera memeletkan lidahnya. Noa tersenyum semakin lebar hingga matanya tinggal segaris.


Hari ini hari terakhir liburan mereka. Setelah berjalan-jalan di Gunung Mas, Taman Safari, Suaka Elang dan Kebun Raya Bogor. Akhirnya, hari ini mereka bisa pulang ke kosan.


Perjalanan pulang ke Bandung di lakukan malam hari Atas permintaan Ahmad yang ingin wisata kuliner terlebih dahulu.


***


"Makan...makan...makan..." teriak Ahmad.


"Lo kayak lagi demo." seru Dimas.


"Ck, pada berisik. Duduk tertib dong. Gue pengen nonton Doraemon." dumel Sandy.


Tera dan Noa yang baru bergabung dengan mereka hanya duduk memperhatikan. Ahmad yang rusuh kini memfokuskan perhatiannya pada televisi.


Tera berjalan ke dapur dan kembali duduk di samping Noa dengan membawakan susu tawar. Ahmad menyerobot, ia meraih gelas yang masih berada di tangan Tera hingga Dimas menjitak kepalanya.


Ahmad meminum susu itu hingga habis. Membuat Tera menggelengkan kepala pelan. Dimas pun mendengus geli melihat kelakuan sahabatnya.


"Haus lo."


Dimas menoyor kepala Ahmad.


Yang di toyor tak menjawab, ia bersendawa dan nyengir membuat Dimas memberikan hadiah jitakan padanya.


"Mulut apa pompa?" tanya Noa kalem.


"iih, geli. Malu-maluin lo, Mad." kata Dimas. Ahmad hanya menanggapi dengan acungan jempol.


"----Noa, jangan bawa ini makhluk makan-makan hari ini. Kalo bisa tinggalin aja di kebon teh. Jangan bawa pulang."


"Enak aja lo, kan gue yang minta wisata kuliner hari ini. Kalo gue diniatin ditinggal disini, mulai dari detik ini gue masuk ke dalem mobil dan gak akan keluar sebelum sampe Bandung." ucap Ahmad dengan cueknya.


Sandy menengok dan mengacungkan jempol pada Ahmad.


"Lo emang makhluk paling bodoh. Selamat ya, Mad. Gak ada yang ngalahin otak encer lo yang beleberan itu."


Dimas tertawa dan Ahmad hanya mengacungkan jari tengahnya kepada Sandy.


"Mad, karena lo bodohnya menang banget, gue kasih ini. Anggep aja penghargaan buat lo." kata Sandy yang menyerahkan sesuatu ke telapak tangan Ahmad.


Benda itu adalah tusuk gigi. Ahmad menerimanya dengan senang hati.


"Makasih loh. Ini berfaedah buat gue. Ntar bisa di pake kalo abis wisata kulineran kita. Yah, walaupun ini bekas jigong lo."


Sandy tertawa kecil, bahunya bergerak-gerak menandakan ia tertawa saat dirinya menghadap televisi kembali dan memunggungi semua orang.


***


Noa yang menyetir saat mereka berkeliling kota untuk berwisata kuliner sesuai keinginan Ahmad dan melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang kembali ke kota Bandung. Ahmad yang kekenyangan pun tidur dengan bersender pada bahu Dimas.


Sandy bermain game, tak seperti biasanya yang akan mengajak Noa mengobrol selama perjalanan. Dimas memperhatikan layar ponsel Sandy, memberikan instruksi sesekali agar Sandy tak salah mengambil langkah dalam permainannya. Sandy pun sesekali meminta bantuan pada Dimas. Mereka asyik tanpa memperhatikan seseorang di belakang kemudi dengan wajah pucat menahan sakitnya.


Noa hanya diam, berfokus pada jalanan di depan yang akan mobilnya lewati. Tera terus menatap Noa, padahal lehernya pegal bukan main karena tak bergerak ke arah lain. Sesekali saat tangan Noa yang sedang mengoper gigi persneling pun terkena sentuhan tangan Tera.


Bila ia mendapat perlakuan seperti itu dari Tera, Noa hanya tersenyum dengan pandangan tetap ke depan, ke jalanan yang sangat ramai.


***


Satu persatu sampai di tempat tujuan, di rumahnya. Di awali oleh Ahmad yang berpamitan sembari menguap lebar.

__ADS_1


"Dadah, lur..."


Ahmad berlalu meninggalkan mobil yang belum berjalan.


Perjalanan berlanjut ke kompleks perumahan yang tak asing bagi Tera.


Dimas yang turun dari mobil masih saling meledek dengan Sandy di sebabkan game yang mereka mainkan.


"Menang terus kan kalo di kasih tau sama gue." kata Dimas berpuas diri.


"Belagu lo. Gue jijik sama lo." kata Sandy bersungut-sungut.


"Kalo jijik, siram dong." canda Dimas.


Sandy menutup pintu mobil di depan Dimas dengan jengkelnya.


Dimas yang masih berdiri di samping mobil tetap melempar candaan pada Sandy.


"Geehhh...lo mirip kayak Tera deh. Awas lo ntar klepek-klepek sama gue." kata Dimas.


"Najis..." teriak Sandy di kaca mobil yang sengaja ia buka.


"Tuh kan persis kayak Tera."


Dimas tertawa terbahak membuat Tera dan Noa mau tak mau tertawa di buatnya.


Selintas Tera teringat dengan aksi pengejaran Noa. Ya, sedikit mirip dengannya. Mungkin Sandy bisa saja jatuh cinta sungguhan pada Dimas. Suatu hari nanti.


Sampailah mereka di depan pagar kosan. Sandy turun dari mobil berbarengan dengan Tera. Ia masuk gerbang rumahnya setelah berpamitan pada Noa. Di perintahkannya Tera oleh Noa untuk masuk kosan. Ia hendak mengembalikan mobil sewaan mereka.


Tempat penyewaan mobilnya tak jauh dari kompleks perumahan. Noa pergi kesana dan menolak untuk di temani.


Ia pulang berjalan kaki dengan langkah yang tak bertenaga. Ia memasuki kamar dengan menunduk, tak menyadari adanya sosok lain di dalam kamarnya, ia duduk di kasur tanpa melirik sedikit pun pada Tera yang masih setia berdiri di hadapannya.


Tera pun mengambilkan pakaian ganti untuk Noa.


"Ganti baju dulu ya."


Tera menyuapi Noa makan dan memaksanya minum obat. Noa tak banyak bicara. Ketukan di pintu kamar pun menghentikan sementara proses merawat sang kekasih.


"Noa. Ada yang nyariin tuh." seru kang Jhon dari balik pintu kamar.


Noa bangkit berdiri dan menyuruh Tera untuk tetap di kamar.


Ia keluar dan lama kembali, satu jam Tera menunggu di dalam kamar. Ponsel Noa tak di bawa membuat Tera tak bisa menghubunginya.


Noa masuk kamar saat kantuk menyerang. Tera yang ketiduran di kamar Noa pun mengembalikan kesadaran dan membuang kantuk jauh-jauh kala Noa berbicara.


"A welcome home kiss? Don't i have one?"


Tera hanya menatapnya penuh rasa sayang. Ia menarik pelan kalung berliontin kunci yang masih setia berada di leher Noa. Dan satu ciuman di hadirkan oleh Tera untuk Noa.


"Tera..." bisik Noa.


Tera menantikan penuturan yang bukan sekedar seruan.


Noa berujar. "I would still have fallen in love with you."


Hm, mungkin itu salah satu kalimat pengantar tidur menuju mimpi paling indah. Ia selalu membiarkan Tera terjatuh semakin dalam di kedalaman hatinya yang tak berdasar.


***


Saat membuka mata di pagi hari ini, masih sangat pagi karena matahari pun belum memulai tugasnya. Sepasang mata Tera di sambut bunga mawar biru, tiga kuntum yang kembali ia terima setelah seminggu liburan mereka di puncak.


"Kunjungan pagi, Nona..."


"Ini subuh wahai pacar..."


Tera terbangun dengan posisi telungkup, bukan hanya bunga itu yang menyambut indera penglihatannya tetapi wajah tampan sang kekasih pun memberikan rasa hangat di dada.


Noa menatap dengan bibir yang melengkung, ia semangat untuk memulai hari ini. Dan ada satu perbedaan kala Tera melirik pada jari tangannya saat mengangkatnya hendak mencapai tujuannya untuk menyentuh tangan Noa yang memegangi tangkai bunga.

__ADS_1


Tangan kanan Tera tepatnya di jari manis melingkar sesuatu yang berkilauan. Tera menatap beberapa detik, bahwa yang melingkar berkilauan di jari manis tangan kanannya adalah cincin. Emas putih bukan lagi batang rumput menyerupai cincin yang di buatkan Noa saat mereka berada di puncak.


"Ini..."


Tera memandang tak percaya pada cincin yang cantik itu, ia pun berpindah menatap Noa.


"Janji aku." ucap Noa.


"Makasih." bisik Tera.


Noa tersenyum, ia menyerahkan bunga tersebut pada Tera. Aroma yang wangi membuat suasana semakin romantis.


Ia meletakan bunga tersebut di atas kepala mereka yang masih setia berbaring berhadapan dan saling menatap intens.


Noa tak banyak memberikan ekspresinya. Ia hanya diam, Tera berinsiatif mendekati. Tera meraih Noa agar bisa memeluknya dengan erat. Tera tengah menyalurkan rasa sayang dan terima kasih pada Noa.


"Kapan kamu beli cincinnya." kata Tera setelah melepas pelukannya.


"Semalem, Koko Chan samperin aku." kata Noa.


Belum mengerti jalan ceritanya, Tera pun menautkan alis.


Noa kembali menjelaskan. "Aku chat ke Koko Chan di puncak terakhir kita. Beli cincin yang dia kirim gambar contohnya. Ada banyak, tapi aku cuma tertarik sama cincin yang sekarang kamu pake. Hm, kayak perasaan aku. Yang cuma terpikat oleh satu pesona. Kamu."


"Jadi semalem kang Jhon teriakin kamu, ternyata si Koko itu yang nyariin kamu?" tanya Tera memastikan.


"Hm, iya. Aku ke toko emasnya. Udah tutup dari sore sih. Cuma dia lupa bawain pesenan aku. Mau gak mau, aku sama Koko Chan ke toko emasnya." jawab Noa kalem.


"Pantesan lama. Tapi, makasih ya. Aku gak nyangka kamu tepatin janji secepet ini." ucap Tera penuh ketulusan.


Noa menjawab dengan santainya.


"Aku udah nabung khusus buat kamu. Uang aku selalu berlebih kalo buat biaya idup disini. Jadi aku tabung, nominalnya lumayan."


Tak bisa berkata-kata, Tera hanya menatapnya terharu. Noa kembali melanjutkan ucapannya.


"---kalo kamu nunggu aku lulus kuliah dan kerja pasti lama banget buat beliin kamu cincin itu. Aku pengen tepatin janji aku, karena aku yakin kamu gak akan mau nagih janji. Bisa jadi aku lupa sama janji yang aku buat sendiri dan kamu pun lama kelamaan akan lupa atau terpaksa melupakannya."


Noa terdiam sejenak dan kembali berbicara yang masih setia Tera dengarkan.


"----inget gak, waktu ulang tahun aku. Kamu pernah membahas tentang jam dan waktu. Janji. Kamu pernah berkata itu. Janji yang tak boleh di ingkari. Masa kini untuk membuat janji. Dan masa depan untuk menepati janji, mewujudkan impian. Masa kininya udah aku dan kamu lewati di puncak. Dan puncak terakhir adalah saksi bahwa aku menepati janji dan akan mewujudkan impian. Masa depan yang kini berusaha aku wujudkan, lingkaran di jari kamu."


Noa mengakhiri ucapannya dengan sangat manis. Membuat senyuman Tera terukir kembali dengan hembusan nafas yang melegakan dada.


"Masa depan?" bisik Tera.


"Pernah gak, selintas terpikir hubungan kita akan di bawa kemana?" tanya Noa.


Tera menggeleng. "Apa akan ada ujungnya?"


"Ada." jawab Noa tegas. "Aku gak akan biarin hubungan ini hanya sekedar berpacaran. Kamu juga gitu kan?"


Anggukan pelan yang meragukan tertangkap penglihatan Noa.


"Aku gak yakin." lirih Tera.


"Aku yakin. Kamu juga harus begitu. Akan ada saatnya pernikahan juga menjadi impian kamu. Pasti ada saatnya berharap untuk dinikahi. Bila ada pengharapan pasti ada jalan untuk meraih impian."


Noa begitu dewasa. Tera takjub akan kedewasaan dalam pemikiran Noa yang jauh ke depan. Ia tak hanya cerdas tetapi pemikirannya dalam hidup sangat luas.


Tera membatin. 'Hm, dia adalah kekasih gue saat ini. Tuan muda Noa yang dewasa di usia yang masih belia. Seseorang yang berusaha membahagiakan gue dengan kesungguhannya.'


Noa berkata. "Tera...aku..."


Menghentikan apa yang ingin Noa ucapkan dengan jari telunjuk yang memblokir bibirnya, kini Tera yang akan melanjutkan ucapannya itu.


"Aku sayang kamu..." ucap Tera.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2