Kakak Gemes

Kakak Gemes
Danau cinta


__ADS_3

"Duh, baby. Udah mau berangkat nih. Bunda udah ngomel onlen."


Noa sedang membaca pesan masuk dari Bunda. Isi pesannya omelan panjang lebar karena janji untuk berangkat ke Lido adalah jam tujuh tepat.


Tetapi karena ada suatu hal yang tak terduga maka perjalanan pun tertunda. Akibatnya bunda mengomeli Noa dengan cara online.


"Bentar...."


Tera barusan menawarkan kepada Noa untuk membantu menaikan risleting celana Noa karena risleting itu susah di tarik.


"Ck, ayo dong baby. Udah kesiangan nih." kata Noa yang tak sabaran.


Ketika Tera akan melanjutkan kegiatannya tiba-tiba terdengar gedoran pintu kamar Noa dengan nada tak sabaran.


"Noaaaaaaaaaaa...." teriak Dimas.


Tera yang ingat untuk menaikan risleting celana Noa pun segera melaksanakan niatan awalnya.


Tetapi karena ia terburu-buru, yang seharusnya ia menarik kepala risleting dengan pelan saat ini ia menariknya dengan tanpa perasaan. Risleting celana Noa memang naik dan menutup rapat tetapi ada yang Tera lupakan.


"Waduuuuhhhh..."


Noa mengaduh, karena Tera lupa ada burung langka Noa di dalam penangkaran. Alhasil, burung langka Noa terluka baret di dalam sana.


Tera yang terkejut karena perbuatan kasarnya pun segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Aduh, maaf sayang. Sakit banget ya." ucap Tera dengan rasa bersalahnya.


"Gapapa, baby." bisik Noa.


Terdengar seruan dari balik pintu dimana Dimas sedang menunggu Noa membukakan pintu.


"Lur, lo kenapa?" seru Dimas.


Noa menyahuti seadanya. "Kejepit, lur."


"Kejepit apaan lo?" tanya Dimas yang bernada khawatir.


"Hem, gapapa." jawab Noa.


"Beneran. Sumpah lo gapapa?" tanya Dimas mengulangi kekhawatirannya.


"Hooh." jawab Noa sekenanya.


"Noa. Maaf, aku barusan udah bikin kamu sakit."


Tera mengembalikan fokus Noa padanya. Ia menunjukan rasa bersalah.


Noa memeluk Tera. "Hem, gapapa sayangku. Ini buktinya udah gak sakit lagi."


Dan Noa berbohong. Padahal ia masih merasakan cenat cenut yang tak berkurang. Agar Tera tak merasa bersalah lagi, Noa terpaksa berbohong.


"Beneran?" tanya Tera memastikan.


"Iya, baby..." jawab Noa.


"Masih sakit ya?" tanya Tera polos.


"Enggak kok." dusta Noa.


"Sakit ya?" Tera memastikan lagi.


"Iya. Sakit." jawab Noa seadanya.


"Maaf..." lirih Tera.


Noa mengangguk sebagai jawaban untuk permintaan maaf Tera. Di luar kamar, Dimas memperhatikan Noa dari atas ke bawah dengan mata di buat semelotot mungkin membuat Noa dan Tera menjadi risih diperhatikan sebegitunya.


"Lur, mana yang kejepit?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Gue. Kejepit cintanya Tera. Udah ayo berangkat keburu Bunda ngomel lagi lewat onlen." jawab Noa.


Dimas mengangguk. Noa sudah menyuruh Dimas untuk membawa mobil dari rumah Ahmad. Bunda untuk sementara tinggal disana sebelum rumah yang Bunda dan Abah beli selesai di renovasi.


Ahmad dengan gaya sudah laku pun menolak ajakan Noa hari ini. Ia lebih memilih jalan-jalan berdua bersama Imas yang sudah resmi menjadi pacarnya.


Sandy sudah menunggu di depan pagar rumahnya sembari memainkan ponsel. Noa dan Dimas mengecek barang bawaan untuk di berikan pada teman Bunda di Lido, tempat tujuan mereka hari ini.


"Ini udah semua di bawa, Dim?" tanya Noa.


"Udah. Bunda yang masukin ke dalem mobil. Udah di cek juga sih." jawab Dimas meyakinkan.


Noa menutup bagasi lalu membukakan pintu depan untuk Tera yang duduk di sampingnya. Kemudian Noa melambaikan tangan pada Sandy yang sedang memperhatikan mereka.


Sandy melihat lambaian tangan itu, ia mengangguk samar lalu menghampiri mobil. Tanpa perlu di suruh, ia membuka pintu belakang dan duduk manis disana. Dimas pun mengikuti seperti yang Sandy lakukan. Ia duduk di samping Sandy.


Perjalanan di mulai. Mobil membelah jalanan yang mulai ramai lancar. Sesekali Tera mengajak ngobrol. Dimas tak sekonyol biasanya bila tak ada Ahmad. Ia juga mungkin merasa canggung pada sosok Sandy yang diam saja.


Noa berusaha mengajak ngobrol Sandy bahkan Tera pun memasukan topik obrolan yang biasanya Sandy sukai. Dimas pun berusaha melibatkan diri untuk berbaur dalam obrolan itu tetapi hasilnya mereka tak bisa berbaur sama sekali.


Butuh waktu untuk mempunyai penyatuan hati. Bila Ahmad yang ada disini mungkin keadaannya berbeda. Kondisi canggung itu tak mungkin ada saat ini. Tera pun tak berusaha lagi membuka obrolan. Ia hanya diam selama perjalanan.


Tetapi keheningan itu berubah tatkala Tera berseru mengagetkan Noa. Ia menunjuk jajanan di pinggir jalan yang ramai dengan gerobak makanan.


"Noa, aku pengen itu." seru Tera.


"Kelewat, baby. Nanti kalo nemu di depan aku brenti deh." jawab Noa.


"Gak maoooooo. Aku pengen itu. Kamu tega sama aku. Tinggal muter balik aja susah banget." rengek Tera.


"Iya bentar aku puter balik dulu."


Noa pun memutar arah dan kembali ke tempat jajanan gerobak yang berderet rapi di sepanjang jalan.


Tera menunjuk ini dan itu. Ia membeli dan membawanya ke dalam mobil.


"Mau gak, Dim. Sandy makan bareng yuk." tawar Tera setelah memasuki mobil.


"Gak, Tera. Lo aja kelarin makannya."


Dan mereka menjawab bersamaan pula. Bahkan mereka sama-sama terkejut saat ini. Mereka saling memandang dan membelalakan mata. Mereka itu cocok bahkan bisa menjadi pasangan serasi. Noa merasakan bahwa Dimas bisa menjadi pasangan yang baik untuk Sandy dan begitu pula sebaliknya.


Tetapi dewi amor sedang jajan cilok dan lupa untuk meniupkan nafas cinta pada dua insan yang sedang duduk berpandangan di belakang Noa dan Tera. Yang sedang dalam mode lapar tak terdengar suaranya. Hanya suara mengunyah makanan yang Noa tangkap saat ini.


Ketika Noa mulai menjalankan mobil kembali, mereka di belakang sana masih di posisi yang sama. Saling berpandangan. Mobil melaju dalam kecepatan sedang. Jajanan itu sudah hampir ludes di makan Tera.


Ketika Tera melihat makanan yang jarang ia temukan, ia merengek kembali meminta Noa untuk berhenti. Dimas dan Sandy pun menepuk dahi bersamaan.


"Pengen ituuuuuuu...."


Tera kini di mode doyan jajan. Padahal jajanan itu masih lumayan menumpuk di atas pangkuannya.


"Atuh baby, abisin dulu yang ada. Nanti kalo tiap berapa meter sekali kita brenti, kapan sampe rumah temen Bunda?"


Noa meminta pengertian mengarah ke negosiasi kepada kekasihnya.


Tera cemberut sembari melipat tangan di depan dada. Ia menghembuskan nafas kasar sembari bersender di punggung jok mobil.


Tera terus menggembungkan pipinya sampai akhirnya Noa menyerah dan memutarbalikan mobil ke tempat dimana Tera merengek meminta jajan barusan.


"Yess...jajaaaaaann..."


Tera membuka pintu mobil saat Noa belum selesai meminggirkan mobil. Noa terkejut, tentu saja. Dimas pun berteriak ngeri.


"Gyaaaahhh...nyonya. Jangan keluar dulu. Jangan lari." teriak Dimas.


Tetapi Tera tak mendengarkan teriakan kekhawatiran Dimas. Tera berlari cepat.


Noa menggelengkan kepala melihat seseorang yang telah mencuri hatinya. Ia memaklumi Tera yang sedang doyan makan. Sesegera mungkin Noa berlari mengejar cintanya yang sudah mentok di gerobak es doger. Tera sedang memesan lima gelas plastik es doger. Dua di antaranya, Tera meminta es serut lebih banyak.

__ADS_1


"Mang, es serutnya banyakin. Gelasnya yang gede. Sirop Mijan nya juga banyakin. Susunya jangan pelit. Tape ketannya yang banyak. Jangan pake peuyeum singkong." pesan Tera.


"Siap, neng." kata mamang tukang es doger.


Ketika pesanannya jadi, Tera pun mengucapkan terima kasih kepada mamang tukang es doger. Iya, hanya ucapan terima kasih karena Noa yang menjadi dompet berjalannya.


"Sayang, ini dua yang gede punya aku. Tiga lagi buat kamu, Dimas sama Sandy. Aku pesenin yang kecil aja. Duitnya mau aku tabung." ujar Tera panjang lebar.


Noa mengangguk saja. Mengiyakan ucapan Tera agar ia senang. Padahal Noa yang mengeluarkan uang untuk jajannya bahkan Tera sekarang sudah mendapat jatah jajan bulanan darinya.


Hm, uang tabungan Noa menipis dan ia harus segera memutar otak untuk memutar roda kehidupan agar tetap terus sejahtera.


Karena tak akan selamanya ia di biayai oleh Bunda. Apalagi setelah Bunda menikah dengan Abah, beliau sudah tidak bekerja lagi. Hanya mengandalkan usaha barunya yang belum ramai pesanan.


Noa pun harus merintis usaha. Demi Tera dan masa depannya. Ia harus bisa membiayai dan membahagiakan Tera. Faktor ekonomi yang harus berkecukupan dan kasih sayang yang tak pernah berkurang.


Beberapa waktu yang lalu, Noa sudah membicarakan hal ini bersama Bunda dan Abah. Dan keputusannya saat itu ialah akan berusaha merintis usaha.


Hanya saja rencananya terbelit oleh kebingungan dalam modal usaha yang pas-pasan dan tak tahu akan membuka usaha dalam bentuk apa.


Setiap kali ada kesempatan untuk berpikir, dalam hal ini di toilet. Noa mencoba berpikir tentang rencana masa depan. Membuat langkah satu demi satu secara rinci tanpa satu pun terlewatkan.


Tera yang semakin doyan jajan pun sudah masuk dalam permasalahan yang Noa pikirkan.


Tera menyerahkan tiga gelas kecil es doger kepada Noa membuat lamunan Noa terpecah. Dengan tersenyum, Tera memakan es serut yang menumpuk di gelas besar.


Noa berjalan menuju mobil dan menyerahkan tiga gelas es doger kepada Dimas dan Sandy yang masih setia berada di dalam mobil.


Tera sudah duduk manis lagi di dalam mobil. Ia pun mempertanyakan gelas es doger Noa yang raib.


"Kamu kok gak megang gelas es dogernya? Gak suka?" tanya Tera.


"Aku mau lanjut nyetir. Biarin aja buat Dimas. Janji ya, jangan minta brenti mendadak buat jajan lagi. Nanti kalo udah sampe Lido terus udah beres kasih kiriman Bunda buat temennya, kamu boleh jajan lagi." ujar Noa.


Tera terlihat masa bodo, ia hanya mengangguk kecil sembari memakan jajanannya.


Noa memulai kembali perjalanan. Dimas dan Sandy hanya saling diam di belakang. Tak ada obrolan sama sekali selama sisa perjalanan. Tera pun damai dengan makanannya.


Ia ternyata menuruti perintah Noa. Tera tak rewel lagi meminta berhenti setiap melihat gerobak tukang dagang.


Beberapa jam di perjalanan yang macet itu pun sampailah mereka di rumah teman Bunda. Tera dan Sandy hanya berdiam diri di dekat mobil.


Noa melarang mereka untuk membantu menurunkan barang yang tenyata lumayan berat. Ia dan Dimas menurunkan titipan Bunda dan membawanya ke dalam ruang tamu teman Bunda.


Noa meminta maaf karena telat sampai disana. Teman Bunda memakluminya, bahwa ia sangat mengetahui kondisi jalanan menuju rumahnya sudah menjadi langganan macet.


Noa berpamitan pada teman Bunda dan segera mengajak Tera, Dimas dan Sandy menuju resort yang jaraknya tak jauh lagi dari sana.


Setelah mendapatkan tempat untuk menginap semalam di resort tersebut, Noa mengajak Tera menuju danau yang berbentuk seperti simbol cinta. Love.


Danau cinta itu tak terlalu besar. Bentuknya yang unik membuat Noa ingin membawa Tera kesana. Niatnya hanya berduaan. Tetapi kenyataan tak seindah yang dibayangkan.


Dimas dan Sandy pun ikut ke danau cinta tersebut. Dimas mengkode Noa untuk meminta masukan karena tahap awalnya mendekati Sandy sudah gagal total.


Noa menghampiri Dimas yang bergegas membawa Noa menjauhi Tera dan Sandy.


"Lur, gue mesti gimana nih?" tanya Dimas.


"Ajak ngobrol dulu. Cairkan suasana." jawab Noa.


"Cairkan gimana? Dia bukan es batu." kata Dimas.


"Ck, yang natural atuh. Kayak dulu pas balik liburan itu. Lo kan maen game online sama dia." ujar Noa.


Dimas menepuk dahinya. "Itu kan gak di rencanain. Lagian gue belum jadiin dia target gue."


"Ck, sama aja atuh. Uda-..."


JEBURRRRR !!!

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2