Kakak Gemes

Kakak Gemes
Penyemangat


__ADS_3

"Test..test..test..."


Ahmad sedang mengetes walkie talkie yang berjumlah tiga buah itu.


"Test? Kayak ngetes mikrofon musolla lo." kata Dimas.


Dua sahabat itu memandang ke arah Noa yang sedang memeluk lutut.


"Noa. Jangan gini terus dong. Gue miris liatnya."


Dimas mengguncang bahu Noa.


"Jangan di goyang, Dim. Dia bukan es goyang." canda Ahmad.


"----si Noa mual tuh, kayak naek bis ekonomi."


"Ck, lo mah. Nongkrong sana di lampu merah." kata Dimas.


"Nongkrong di lampu merah mah gue di kolongin tronton. Mangkal kali ah." Ahmad membalas ucapan Dimas.


"Lo mangkal? Banci pada miris liat lo gak ada seksi-seksinya." kata Dimas.


"Lagian lo ngarang bebas. Nongkrong mah dari jaman belanda juga di wc." Ahmad menoyor kepala Dimas berulang kali.


Noa sama sekali tak menanggapi ucapan mereka. Pergi ke dapur kosan menjadi pilihannya. Dari dapur ia masih bisa mendengar suara gedebukan tanda dua orang itu berlari memasuki dapur.


"Noa..jangan.." teriak Dimas.


Ahmad pun berteriak histeris. "Noa, gak usah bunuh diri. Si Sandy suka lo. Justin juga pengen jadi pacar lo. Tenang aja, masih ada kemungkinan untuk laku. Lo laris kalo lo mau. Biar lo bisa ngerasain mamingan juga."


Noa yang sedang memegang pisau, terbengong maksimal mendengar teriakan dua sahabatnya di pintu dapur. 'Mendadak tarzan' judul yang tepat untuk film mereka.


"Turunin pisaunya. Simpen, Noa." teriak Dimas lagi.


Ahmad berlari ke tempat Noa berdiri. Pisau di tangan Noa di rebut dan ia simpan di meja dapur. Ia mengguncang-guncang kedua lengan Noa.


"Lo gila ya. Masa mau bunuh diri sih." gerutu Ahmad yang sebal.


"Mad, gue mau motong cireng." kata Noa pelan.


Dimas buru-buru menghampiri Noa dan Ahmad.


"Lo mau goreng cireng stik?"


Noa mengangguk dan dua sahabatnya mengelus dada. Mereka nyengir sambil menggaruk-garuk kepala.


"Gue kira lo dangkal mau bunuh diri kayak di drama-drama gitu."


Ahmad memberikan kembali pisau yang sempat ia simpan di meja dapur.


Noa mengambil pisaunya dan mulai memotong-motong cireng memanjang. Selama proses menggoreng cireng stik, dua orang super rusuh mendadak diam. Duduk mematung di kursi yang mereka bawa dari ruang makan. Tak ada obrolan, candaan atau ejekan.


Mereka duduk memperhatikan Noa, memandang fokus. Sesekali Noa melirik ke arah mereka yang setia duduk memandanginya. Risih. Satu kata itu yang ia rasakan.


Mereka peduli, karena kepedulian mereka takut Noa menjadi orang bodoh yang nekad.


Selesai proses menggoreng, sepiring cireng itu Noa simpan di meja dapur di depan dua sahabatnya yang masih setia duduk disana.


"Nih, di makan."


Noa serahkan sepiring cireng yang masih panas itu.


Ahmad yang doyan makan langsung menyantap panganan itu, panasnya cireng tak ia pedulikan. Dimas hanya menatap Noa, ia tak menyentuh cireng di piring.


"Dim, di makan. Keburu dingin." kata Noa.


Dimas tetap diam menatap Noa. Sama sekali tak berkedip.


"----Dim, cirengnya kebu-..."


"Lo gapapa?" tanya Dimas memotong ucapan Noa.


Gelengan kepala pun hadir sebagai jawaban. Ahmad pun berhenti makan, memperhatikan Noa dan Dimas.


"Lo mau ngobrol sama Tera?" tanya Dimas lagi.


"----gue bawa lo ketemu dia sekarang."


"Di sekolah juga udah ketemu, Dim." jawab Noa kalem.


"Ck, ngobrol berdua. Bukan berpapasan doang kayak di sekolah maksud gue." kata Dimas.


Noa memandangi Dimas dan Ahmad.


"Gak usah." gumam Noa.


Ia berjalan keluar dapur di ikuti Dimas dan Ahmad. Piring cireng sudah kosong, makanan itu ludes tak bersisa dan berganti tempat di tampung perut karet milik Ahmad.

__ADS_1


TOK TOK TOK


Noa yang hendak membuka pintu kamar, tertahan oleh suara ketukan di pintu utama kosan.


Ia membukanya dan di balik pintu tersebut menampilkan sosok yang masih setia mengacak-acak hatinya.


Tera memandang ragu. "Gue pengen ngomong sama lo."


Noa diam terpaku. Tak ada kalimat yang bisa ia keluarkan lewat mulutnya. Sepatah kata pun sulit. Tera memandang Noa yang tanpa respon padanya.


Ia mengulurkan tangan untuk meraih tangan Noa yang berada di sisi tubuhnya dan menggenggamnya. Ia menarik pelan dan membawa Noa memasuki kamar. Tera mengunci pintu kamar itu. Ia tak menghiraukan dua sahabat Noa yang memperhatikan mereka sedari tadi.


Di dalam kamar, Tera memeluk Noa dengan erat. Sangat erat. Sayangnya, tangan Noa kaku untuk membalas pelukannya.


"Maaf. Maafin gue." bisik Tera.


Noa tak bisa membalas ucapannya. Tak ada sepatah kata pun yang ingin ia keluarkan untuk mengutarakan isi hati.


"Maaf."


Lagi dan lagi Tera berbisik. Suara yang Noa rindukan.


"----gue nyesel. Maafin gue."


Lagi dan lagi bisikan itu sama sekali tak mengundang respon dari Noa.


Tidak mungkin Noa tak mencintai Tera lagi. Akan selalu ada cinta untuknya. Akan ada kasih sayang penuh untuknya. Tak berkurang barang sedikit pun.


Lama, mereka berpelukan. Ah, bukan. Tera yang memeluk Noa dengan erat. Pelukan permintaan maafnya terasa hangat di tubuh Noa. Bahkan pelukan sayang Sandy untuk Noa sama sekali tak menghangatkan.


"Tera...gue sayang lo." lirih Noa.


Tera menegang mendengar ucapan Noa. Ia kembali mengeratkan pelukannya. Menghangatkan hingga ke hati yang hampir membeku.


Melepaskan pelukan di tubuh Noa, Tera menangkupkan kedua tangannya di pipi Noa. Ia memandang penuh rasa ingin tahu.


"Lalu apa yang harus gue lakukan?" bisik Tera di depan wajah Noa.


Tera berjinjit agar mensejajarkan wajahnya dengan wajah Noa.


Kembali Noa terdiam. Tak ada lagi suara yang keluar untuk menyampaikan keinginan hati di depan seseorang yang ia sayangi.


Lama, Tera menunggu respon dari pertanyaannya. Noa kembali berbicara, memohon padanya.


"Tera...gue sayang lo."


Tera tak membalas nada memohon Noa. Ia mengecup sekilas bibir Noa.


"Senyumnya mana?" bisik Tera.


Saat berbicara, bibirnya beradu dengan bibir Noa.


Ketika mencoba tersenyum, Noa kesulitan. Tetapi ia berusaha tersenyum, melakukannya di depan sumber kebahagiaannya.


Senyum kembali terukir di bibir Noa. Tera mengelus pipi Noa pelan. Tangan Noa mulai bergerak menuju bibir Tera. Mengelus perlahan dengan satu jari.


"Tera...gue sayang lo." ungkap Noa.


Kali ketiga bukan permohonan lagi, tapi pernyataan isi hati yang sesungguhnya. Kesungguhan hati dengan jelas terucap dan Tera menjawab dengan sangat jelas.


"Buat gue jadi sayang sama lo." kata Tera.


Dengan mudahnya senyuman kembali terukir, tersungging di bibir Noa. Kala mendengar satu kalimat yang menimbulkan satu harapan baru. Membangkitkan kembali semangat yang telah hilang.


Noa keluar kamar dengan senyuman lebar dan tangan yang mengait posesif di pinggang Tera. Kedua sahabatnya melongo melihat perubahan drastis yang terjadi pada diri Noa.


"Gue ngeri liat senyum lo. Lebar amat. Awas mulut lo sobek." canda Dimas.


Pintu utama kosan yang masih terbuka lebar memperlihatkan sosok Sandy berdiri di tengah pintu. Semua mata menoleh padanya. Sandy menatap ke arah tangan Noa yang masih setia mengait di pinggang ramping Tera. Noa melihat Sandy tersenyum sekilas dan pergi tanpa berkata-kata.


"Itu siapa?" tanya Tera menunjuk pintu yang terbuka tanpa sosok Sandy lagi berada disana.


"Sandy, rumahnya di depan kosan." jawab Noa.


Tera kembali memandang ke arah pintu utama kosan.


"Mungkin dia ada perlu sama lo. Samperin gih."


Dua sahabat Noa berebutan bicara yang kesannya menjadi rusuh dadakan.


"Gak..gak ada perlu. Dia bukan nyari Noa. Iya kan?"


Dimas meminta dukungan Noa.


"Bukan..bukan..nyari yang laen." kata Ahmad yang memandang Noa dengan senyum terpaksa.


Tera berpindah memandang wajah Noa.

__ADS_1


"Yakin dia gak nyari lo?" tanya Tera lembut.


Noa mengangguk mengiyakan dan Tera tersenyum lega.


"Dim, goreng cireng stik lagi yuk." ajak Ahmad.


Dimas yang tak mau mengganggu moment Noa dan Tera pun beranjak pergi menuju dapur bersama Ahmad.


Noa membawa Tera duduk di kursi tamu. Mereka duduk berdempetan dengan tangan Noa yang masih berada di pinggang ramping Tera.


"Mau jalan-jalan?" tawar Noa pada Tera yang tersenyum manis dan mengangguk.


"Gue ikut lo." kata Tera lembut.


"Gue ganti baju dulu ya. Lo mau ikut ke kamar gue?" tanya Noa dan Tera mengangguk pelan.


Noa membawa Tera memasuki kamar lagi dan menguncinya. Tera duduk di kasur menunggu Noa berganti pakaian.


Setelah selesai berganti pakaian dengan rapi dan wangi tentunya. Noa mengambil jaket untuk Tera kenakan. Tera hanya memakai kaos lengan pendek dan celana jeans.


"Pake ini. Biar gak kedinginan." ucap Noa yang memakaikan Tera jaketnya. Tera tersenyum atas perlakuan Noa padanya.


"----gue ada sesuatu buat lo."


Noa mengambil sesuatu dari dalam tas dan menyerahkannya pada Tera.


"Cokelat?" tanya Tera.


Noa mengangguk. Tera membuka bungkus cokelatnya dan menggigitnya. Ia mengulurkan cokelat yang berada di tangannya ke mulut Noa.


"Gue mau yang itu." tunjuk Noa ke potongan cokelat yang ada dalam mulutnya.


"Udah lumer." kata Tera sambil mengemut cokelat di mulutnya.


Mendekati wajah Tera, Noa pun berbisik. "Gue minta dikit."


"emph..."


"Makasih ya. Manis banget. Sumpah."


Tera mengangguk lucu dan tersenyum. Ia kembali menggigit cokelat untuk kedua kalinya bahkan ia mengulurkan kembali cokelat di tangannya ke arah Noa.


"Makan aja. Abisin."


Noa mengusap rambut Tera dengan gerakan halus.


"Nih. Mau lagi."


Tera menggoda Noa. Potongan kecil cokelat di gigitnya dan ditunjukannya pada Noa.


"Hm, lo godain gue?"


Noa meraih pinggang Tera agar membatasi pergerakannya. Mereka saling mengemut cokelat di mulut Tera hingga habis. Terakhir ia menggigit pelan bibir bawah Tera.


"Lo laper gigit-gigit gue mulu."


Tera menggerutu yang semakin terlihat lucu. Mengundang tawa kecil. Tawa tanpa beban.


"Ayo jalan. Keburu malem nih."


Noa melihat jam di pergelangan tangan kiri.


Tera mengangguk-angguk sambil memakan cokelatnya. Mereka keluar kamar, ada Dimas dan Ahmad yang sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Mau kemana, oy." kata Ahmad sambil memegang piring isi cireng stik yang menumpuk.


"Gue pergi dulu ya. Gapapa kan gue tinggal." kata Noa.


Dua sahabatnya mengacungkan jempol. Mereka lanjut memakan cireng stik yang masih setumpuk di piring itu.


"Kalem, lur."


Dimas berbicara sambil tetap mengunyah.


Noa membawa Tera keluar menuju motor yang terparkir. Tera pun naik ke boncengan Noa.


Perjalanan hari ini tanpa tujuan. Karena Noa ingat kalau Tera doyan makan, ia membawa Tera keliling kota Bandung untuk wisata kuliner.


Tera senang bisa menclok sana sini untuk jajan. Noa tersenyum puas melihat Tera kekenyangan dan mengeluh susah bergerak di atas motornya saat ia boncengi Tera pulang ke rumah.


"Noa, makasih buat semuanya ya." ucap Tera saat memasuki pintu depan rumahnya.


"Oke." jawab Noa singkat.


Dan satu senyuman berbalas mengakhiri pertemuan mereka hari ini. Pertemuan yang berawal dari permintaan maaf dan diakhiri dengan harapan. Entahlah, apa Noa masih dipermainkan oleh nasib percintaannya? Hari esok akan menjelaskan semuanya.


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2