
"Jamaah."
"Oooyy."
"Oo..jamaah."
"Ooyyyy."
Ini kang Acep, bukan ustad di layar televisi itu.
Satu bulan setelah insiden terluka di ruang UKS terlewati, Tera masih jauh dari jangkauan Noa.
Hari ini, hari dimana kosan akan sepi, dan kamar kost akan kosong separuhnya.
Hari minggu, hari dimana mereka selalu berbahagia berkumpul di rumah sederhana ini, bermain 'olahraga' rutin di kala libur, kini di gantikan perkumpulan akan perpisahan yang sebentar lagi akan terjadi.
Ya, perpisahan. Entahlah, apa definisi perpisahan sebenarnya. Apa ini bentuk perpisahan sementara, di kala yang terpisah bisa bertemu kembali. Atau perpisahan selamanya, di kala insan yang pergi masih hidup di dunia tapi tak di takdirkan untuk bertemu lagi.
Di antara kebahagiaan selalu terselip kesedihan. Duka, itu yang terasa. Pedih, kesedihan selalu mengundang kepedihan. Perpisahan itu duka.
Ada kalanya bahagia tak akan terasa lengkap bila belum merasakan kesedihan. Pertemuan tak akan begitu berarti kala perpisahan tak mengajarkannya dalam kehidupan. Hanya harapan dalam satu kata 'kembali' yang bisa menguatkan, bahwa hidup tetap harus berjalan, datang dan pergi silih berganti, dan 'kembali' bukan berarti kepulangan sesuatu yang sama atas yang telah pergi.
Bilamana Tuhan menggantinya dengan kemiripan untuk mengajarkan arti perpisahan. Kesempatan kedua itulah namanya. Kesempatan kedua tak selalu harus sama persis. Itu adalah ujian setelah pembelajaran yang begitu menyakitkan.
"Seperti yang kita ketahui bersama."
Kang acep berpidato di hadapan hadirin geng penyamun.
"----bahwasanya tetua adat kita, kang Tisna." tunjuk kang Acep pada kang Tisna "----dan wakilnya, kang Ajat." tunjuknya ke arah kang Ajat.
"------akan membelah diri dari kosan ini alias pindah. Dan memulai usahanya di Madiun, bukan sebagai karyawan lagi tapi merintis menjadi bos-bosan."
Kang Acep melanjutkan pidatonya.
"Dan kang Engkos juga akan memulai hidup baru dua minggu lagi dengan si pacar di Lombok dan mulai menetap disana. Bukan begitu, sodara Engkos?" tanya kang Acep yang langsung di angguki oleh kang Engkos.
"-----kabar bahagianya lagi, kang Engkos udah dapet kerja disana. Tepuk tangan untuk para tetua kita."
Noa dan kang Jhon bertepuk tangan dengan meriah. Tetapi tidak sembari menyanyi lagu 'selamat ulang tahun'.
Ngomong-ngomong tentang ulang tahun, Noa baru ingat. Hari ini, hari ulang tahun Tera. Ia mengirim pesan sekedar mengucapkan selamat atas pertambahan usia. Tak lupa kado untuk Tera, hadiah itu sudah terbungkus rapi di dalam tasnya. Sehari sebelumnya ia di temani kang Jhon membeli sesuatu untuk Tera. Noa berharap, semoga Tera suka.
Hm, setelah kirim pesan kepada Tera, Noa tak akan menunggu balasannya. Tak akan di balas, ia pun telah yakin. Setidaknya Tera membaca pesan tersebut, itu sudah cukup. Noa pandangi tiga orang yang akan pergi dari kosan hari ini.
Kang Tisna dan kang Ajat akan mengadu nasib menjadi pengusaha jajanan asal Bandung di Madiun. Kenapa disana, karena di kota itu belum banyak saingan kuliner seperti di kota ini.
Dan mereka memulai peruntungan baru ini di karenakan perusahaan tempat mereka bekerja mengalami kebangkrutan. Uang pesangon itu mereka manfaatkan sesegera mungkin untuk modal usaha bersama. Mereka akan menjadi pengusaha kuliner dadakan.
Kang Engkos akan memulai hidup baru dengan status baru pula, menjadi suami dan status di KTP berubah menjadi kawin. Ia akan menetap di Lombok, dan bekerja disana. Baru dua hari yang lalu ia mendapatkan panggilan kerja dan harus secepatnya berangkat kesana.
Tempat ia bekerja sebelumnya tak pernah memberikan upah yang sesuai untuk pengabdiannya. Ia pun memutuskan untuk menikah di Lombok atas permintaan sang pacar yang ingin menikah sederhana di rumah neneknya. Bukan karena alasan takut sate di parasmanan di habiskan kang Jhon dan kang Acep.
Yang datang dan pergi silih berganti. Pasti akan ada masanya kosan ini di sambangi orang baru. Noa tak tahu akan sama rasanya seperti ini atau tidak. Kekeluargaan itu yang utama. Setiap orang mempunyai watak yang berbeda-beda dan Noa yakin semua ini tak akan pernah sama lagi.
Singkat ia mengenal mereka tetapi kekeluargaan merekatkannya. Kali pertama ia hidup di bawah atap yang di sebut 'rumah' yang sebenarnya, dan ia mendapatkan kehangatan layaknya keluarga. Hal yang hilang di masa lalu, yang terlewat begitu lama begitu banyaknya. Disini, di tempat ini awal terbitnya senyuman. Awal dimana ia sadar akan adanya suara tawa.
__ADS_1
Menangis di sudut ruangan yang gelap untuk menghabiskan waktu selalu ia lakukan. Hanya tangis yang tercipta, hanya sedu sedan yang mengiringinya. Berharap bahagia akan menjemput secepatnya.
"Jadi jadwalnya, kita ke bandara dulu hari ini?" tanya kang Jhon menyadarkan Noa dari lamunan.
"Betul." jawab kang Acep.
"Udah dari bandara kita langsung ke stasiun?" tanya Noa.
"Betul betul." jawab kang Acep lagi.
"Naek kereta malem mah lama atuh nungguin di stasiunnya." kang Jhon merasa keberatan.
"Betul betul betul." jawab kang Acep menirukan bocah malaysia yang botak itu.
"----daripada pulang lagi, ngabisin waktu dan bensin. Belum kalo macet kan."
Koper di susun rapi di dekat pintu utama kosan. Kang Engkos mengecek semua barang bawaannya.
"Hayu berangkat." ajak kang Engkos.
"Bentar bentar."
Kang Ajat berlari ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Mereka menyewa mobil untuk sehari perjalanan mengantar para tetua. Noa yang mendapat tugas menyetir. Semua barang bawaan sudah tertata rapi di bagasi mobil. Para tetua berpamitan dengan ibu kost.
"Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya kang Tisna memastikan.
Hanya mengangkat jempol, yang mereka lakukan untuk menjawab pertanyaan itu. Semua masuk mobil dan duduk tertib. Noa tancap gas meninggalkan kosan. Melakukan perjalanan awal dari perpisahan.
Satu orang pergi. Berkurangnya sumber yang bisa membawa kebahagiaan.
Di perjalanan menuju stasiun, kang Jhon bicara.
"Sayang yah, si Engkos nikahnya di Lombok. Jadi gak bisa ngerasain sate di parasmanan nikahan dia."
"Kalo gitu akang ke Lombok aja, makan sate disana." timpal Noa.
"Noa, cing eling atuh (sadar dong). Beli tiket pesawat doang ke Lombok lebih mahal daripada beli sepuluh tusuk sate disini." ucap kang Jhon.
Noa nyengir, ia tetap fokus dengan jalanan yang akan di lewati.
Stasiun di sore hari, ternyata perjalanan tak mulus. Kemacetan menghambat sampainya mereka disana. Mereka masih menantikan kereta yang akan membawa dua orang lagi berpisah dari mereka yang masih menetap.
Dua jam berlalu, saatnya memulai perjalanan. Kang Tisna dan kang Ajat pamit. Sebelum mereka menaiki keretanya, kang Ajat menyerahkan bingkisan kepada Noa.
"Ini buat orang yang lo suka itu loh..." kata kang Ajat yang nyengir kuda.
"Kita tau, lo lagi jatuh cinta. Ketertarikan lo berbeda. Ini dari gue, Ajat, dan Engkos. Jhon sama Acep cuma tugas bungkusin doang." ujar kang Tisna.
"-----maaf yah, kita suka nguping curhatan lo sama Jhon di kamarnya."
"Jangan salahin Jhon, kita yang salah. Jhon gak tau apa-apa." ucap kang Ajat.
"Apa ini, kang?" tanya Noa.
__ADS_1
"Jangan di buka sebelum dia terima lo jadi pacarnya. Kalo di tolak berarti nasib lo jelek. Bukan jodoh." kata kang Ajat.
"Suatu saat kalo Tuhan mengijinkan, kita semua bakalan kumpul lagi. Termasuk Engkos yang mungkin bakal ngenalin orang yang bakal dia sebut istrinya." ucap kang Tisna sembari tersenyum.
Dan perpisahan itu tiba juga. Membawa dua raga yang bernyawa pergi dari hadapan mereka yang tersisa disini.
Perjalanan ke kosan terasa sepi, berkurangnya orang di kosan saat mereka pulang membuat semua terlihat lesu.
Perjalanan juga menguras tenaga, untuk itu mungkin Noa maklumi kediaman ini. Kebisuan itu berlalu, di pecahkan oleh gumaman yang tertangkap indera pendengarannya.
"Berpikir dalam keadaan lapar itu berat." gumam kang Acep.
"Oh, lo kode minta beli makan?" tanya kang Jhon.
"Melipir dong, Noa." pinta kang Acep.
Noa mengangguk, perutnya juga sudah ingin di isi. Mobil pun parkir rapi di warung lesehan. Suasananya enak.
"Personil berkurang, bakal sepi kosan." keluh kang Jhon.
Noa dan kang Acep mengiyakan dengan anggukan kepala.
"Gue juga udah bakal misah. Kita bercerai gak lama lagi. Kalo gue udah wisuda nanti, gue mau buka usaha di kota laen juga." kata kang Acep mantap.
"Yakinlah Cep, bisa ketemu lagi." ucap kang Jhon.
"Jangan kuliah mulu, Jhon. Udah S2 ini lo mau ngapain?" tanya kang Acep.
"Dagang. Bikin warung yang bertema metal. Atau gue usaha bikin tato." kang Jhon angkat tangan dengan jarinya yang di simbolkan 'm'.
Hanya Noa disini yang belum mempunyai rencana masa depan. Orang yang ia jadikan masa depannya saja masa bodoan. Masih jauh dan tak terjangkau.
Tera terlalu mahal untuk Noa, sedangkan Noa terlalu murahan. Banyak mengejar tetapi tak bisa menggapai.
Sepulang dari warung lesehan, Noa masuk kamar. Ia menyimpan kotak pemberian itu di samping kasur. Bahkan tiduran sembari memandangi kotak itu.
'Hm, kapan Tera terima gue? Kapan gue tahu isi dari kotak ini?' batin Noa.
Pertanyaan itu masih menunggu jawaban yang pasti. Ia putuskan untuk tidur. Menyelami alam mimpi, menyebrangi khayalan yang menjadi sumber impian.
Entahlah. Sampai kapan hatinya kosong. Kapan akan terisi. Membawa hati 'nya' untuk mengisi kekosongan ini.
'Aku lelah sendiri, temani aku. Disini, di sisiku. Dan aku pun tak akan membiarkanmu sendirian. Bersama akan lebih baik bukan?
Jangan ada perpisahan lagi. Cukup kali ini. Cukup hari ini saja. Aku tak kuasa bilamana kita berpisah pula. Perihnya lebih menyakitkan di bandingkan saat ini kala hati belum sempat di miliki.
Aku merasakan perihnya perpisahan. Perpisahan di masa lalu itu...berpisahnya kedua orang tuaku. Perpisahan yang merenggut tawa seorang Noa kecil. Dan untuk kali ini, hari ini perpisahan itu pembelajaran untuk masa depan.
Teruntuk kamu, jangan pernah memutuskan untuk berpisah di kala hati kita suatu saat nanti di persatukan.
Tera, dengarkah engkau disana???'
***
Tbc
__ADS_1