
"Aku ke toilet dulu ya. Kamu ke kantin duluan aja."
Jam istirahat telah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Tera meminta ijin untuk ke toilet dan membiarkan Noa ke kantin sendirian. Kedua sahabatnya mungkin sudah duduk disana bahkan bisa jadi mereka telah memesan makanan.
"Mau aku temenin?" tawar Noa.
Tera menggeleng pelan. "Kamu duluan aja. Aku nyusul."
"Aku tungguin. Ntar kalo kenapa-napa gimana?"
Tentu Noa sangat mengkhawatirkannya.
Dalam keadaan seperti sekarang ini, saat hubungan mereka dengan Sandy sedang tak baik, Noa takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan.
"Gak mau ah. Buruan ke kantin aja." usir Tera.
Ia mendorong lengan Noa agar sesegera mungkin menuju kantin. Noa mendekati Tera kembali hingga punggung Tera menyentuh dinding.
"Noa, mendingan kamu pesen makan aja. Aku cuma pengen ke toilet sebentar. Nanti aku nyusul." pinta Tera.
Dengan sangat terpaksa Noa menuruti permintaan itu. Ia anggukan kepala untuk mengiyakan permintaan Tera. Sebelum beranjak pergi, Noa sempatkan mengecup kening Tera. Hanya sebentar karena penghuni sekolah sedang berbaur di luar ruangan. Dan ia tak ingin mengundang cibiran dari banyak orang.
Tera tersenyum kemudian memasuki toilet. Noa pun bergegas menuju kantin. Sebelum bergabung bersama Dimas dan Ahmad, Noa memesankan makan siang untuk Tera.
Di atas nampan kini sudah tersedia dua piring siomay dan jus mangga kesukaan Tera. Noa membawa nampan itu menuju meja dimana Dimas dan Ahmad sedang menikmati makan siangnya.
"Lur, mana bini lo?" tanya Dimas.
"Di toilet." jawab Noa sekenanya.
Ia menyimpan nampan di atas meja. Tinggal menunggu Tera kemari. Tetapi Tera lama sekali. Pikirannya semakin kacau kala kegelisahan melanda. Tera mengatakan hanya sebentar tetapi setelah Noa mengantri siomay yang antriannya panjang itu pun Tera belum juga sampai di kantin.
"Gak khawatir lo? Abis waktu di toilet juga kan. Gak sempet istirahat." kata Ahmad.
"Hm, gue bakal susulin dia." kata Noa.
"Bibir lo kenapa, lur?" tanya Dimas.
Ahmad mengalihkan perhatian pada bibir bawah Noa yang luka.
"Iya, kenapa tuh?" tunjuk Ahmad.
"Cerita sama lo berdua ntar kalian syok lagi." jawab Noa kalem sembari menunjuk wajah kedua sahabatnya secara bergantian.
Dimas antusias sampai melupakan nasi kuningnya.
"Coba ceritain. Gue penasaran nih."
Ahmad pun bersemangat. "Iya, bos. Cerita buruan."
Noa heran dengan ketertarikan mereka. Tetapi ia menyadari akan sesuatu yang masih berbayang itu.
"Di gigit Tera." jelas Noa.
"Udah...itu doang?" tanya mereka berjamaah.
Noa mengangguk. Mereka merasa menyesal sudah seantusias itu. Penjelasan Noa tak sesuai dengan keinginan mereka yang mungkin mereka berharap Noa menceritakan sesuatu dengan panjang lebar.
Noa menatap Ahmad. Yang di tatap malah merona malu. Ahmad memalingkan wajahnya ke arah lain dengan tanpa di sadari tangannya mengaduk kuah bakso.
"Mad, lo kenapa? Aduk kuahnya pake sendok bukan pake jari lo." ujar Noa.
"Eh, salah. Ck, ah...."
Ahmad salah tingkah dan ia canggung di perhatikan Noa dan Dimas.
"Lo aneh, Mad." celetuk Dimas.
Mengabaikan mereka, Ahmad kembali mengaduk kuah baksonya, tetapi kali ini ia menggunakan sendok. Ponselnya bergetar singkat menandakan adanya pesan masuk. Ahmad membaca pesan tersebut lalu membalasnya dengan senyum yang tersungging.
"Kenapa lo, tadi canggung sekarang cengar cengir."
Dimas heran dengan perubahan drastis Ahmad.
"Hah? Oh, gue lagi chat sama dua orang nih." kata Ahmad.
__ADS_1
Noa pun bertanya. "Siapa?"
"Ehm, Imas sama....euh, ya udahlah jangan di bahas." jawab Ahmad.
Ia mengibaskan tangannya saat akan menjawab lebih lengkap.
Dimas memandang Noa dengan keheranan, Noa mengedikan bahu bukan karena tak peduli tetapi memang Ahmad tak mengijinkan mereka untuk mengetahui privasinya.
Karena Tera lama tak menghampiri Noa ke kantin, akhirnya ia memutuskan untuk menuju toilet kembali. Sejujurnya ia merasa resah hati.
Dimas tanpa diberitahukan pun sudah mengetahui bahwa Noa akan menuju ke toilet. Sedangkan Ahmad masih menunduk sembari membalas chat yang tak berhenti berdatangan itu.
Noa berjalan secepat yang ia bisa, ketika sampai di depan pintu toilet yang tak tertutup sempurna, sayup-sayup ia mendengar suara seseorang sedang berbicara.
Dari celah pintu yang tersedia, ia mengintip ke dalam sana. Indera penglihatannya di sambut dengan adegan berpandangan antara Sandy dan Tera. Sandy sedang berbicara dan Tera yang setia mendengarkan.
"Gue cinta dia." kata Sandy dengan nada penuh penekanan.
Tera hanya diam. Ia terdiam. Tak mengatakan apapun untuk membalas pernyataan Sandy. Kemudian adegan selanjutnya, Sandy menggoyang-goyangkan lengan Tera.
"Gue sayang dia. Lo denger gak sih." kata Sandy.
"Dia milik gue. Lo bisa cari hati yang belum punya kepemilikan." balas Tera.
"Tapi gue pengennya dia."
Sandy mengatakan itu dengan sedikit berteriak.
"Lo gak boleh rebut yang udah jadi milik orang lain." ujar Tera dengan lembut.
Ucapan penuh kelembutan itu mendapatkan perhatian dari Noa. Sungguh, Noa semakin kagum atas cara Tera menghadapi Sandy, seorang diri tanpa meminta perlindungannya. Bahkan Tera sebelumnya tak menceritakan hal-hal yang selalu mengganggunya. Ia risau seorang diri tanpa melibatkan Noa.
"Gue pengen Noa."
Sandy terus menggoyangkan lengan Tera.
Noa melihat Tera melepaskan cekalan di lengannya.
"Lo sama kayak gue. Lo semacam cermin. Gue bisa liat diri lo seperti diri gue sebelum memiliki Noa. Lo pengen dapetin pasangan seperti Noa tapi itu bukan cinta, Sandy. Lo hanya iri. Lo pengen dapetin yang sama seperti milik gue tanpa mau bersusah payah mencari cinta yang serupa."
Tera tak membalas ucapan Sandy. Ia hanya diam menatap wajah yang di liputi emosi itu. Sandy membuang nafas kasar lalu pergi meninggalkan Tera.
Noa menghindari pintu yang akan terbuka. Ia berpindah tempat dengan bersembunyi di samping tembok pembatas toilet.
Sandy berjalan terburu-buru dengan nafas yang memburu. Saat ia berjalan ke arah Noa yang masih bersembunyi, Noa pun menarik dan menyeret Sandy menjauhi toilet.
Sandy memberontak meminta Noa melepaskan cekalan kuat di tangannya. Noa terus menarik tangan itu menuju gedung belakang sekolah. Sesampainya disana, ia menghempaskan tangan Sandy lalu menatap tegas tepat di manik matanya.
"Apa gue pernah kasih harapan buat lo?" tanya Noa di permulaan percakapan mereka.
"Gue gak peduli harapan." elak Sandy.
"Kalo gitu lo gak pantes mendapatkan kebahagiaan. Karena doa itu harapan. Dan lo gak peduli berharap. Makanya lo sulit merasa bahagia." celetuk Noa.
"------gue gak pernah merasakan cinta dari lo, Sandy. Gak ada perasaan cinta yang tersalur dari hati lo buat gue. Bener kata Tera, lo hanya iri dengan kebahagiaan Tera. Lo merasa senasib dengannya tapi gak punya takdir yang sama pula." lanjutnya.
"Tapi gue..." kata Sandy.
Ia kesulitan meneruskan ucapannya. Noa pun tak menyela ucapan Sandy. Ia menunggu tetapi tak ada kelanjutan dari ucapan itu.
"------kalo lo pengen bahagia, cari kebahagiaan lo sendiri. Ada jalan yang berbeda untuk setiap manusia menuju bahagianya. Lo gak bisa menyamai jalan yang dilalui Tera. Lo gak bisa cari kebahagiaan dari gue. Gak akan pernah sama seperti yang Tera rasakan, Sandy. Itu cuma cara instan untuk dapetin bahagia tanpa bersusah payah untuk berjuang dalam pencarian. Sekalipun kita bersama, lo gak akan bisa dapetin bahagianya Tera. Gak akan pernah sama. Lo hanya iri. Ini bukan rasa cinta, Sandy."
Noa mengucapkan seluruhnya dengan nada selembut mungkin agar tak menyakiti lagi hati Sandy yang telah terluka. Sandy memelas, ia meminta perhatian Noa.
"Sandy, suatu saat nanti lo bisa seperti Tera. Tapi bukan dengan gue. Karena sampe kapan pun, hati gue hanya untuk dia. Lo pasti bisa dapetin yang lebih baik. Lo itu baik. Seorang yang baik hati yang tertutupi rasa iri. Buang rasa iri itu." kata Noa.
"Tapi, Noa...gue suka sama lo." ucap Sandy lirih.
Noa menggeleng sembari tersenyum maklum.
"Bukan. Gak ada perasaan itu, Sandy. Gue gak pernah merasakan sedikit pun rasa cinta yang lo umbar itu. Gak ada. Lo hadir saat gue gundah. Lo selalu perhatian lewat komentar lo di sosmed gue semenjak gue terbuka tentang perasaan gue untuk Tera, orang yang gue tuju saat itu. Lo hadir cuma untuk menghibur kayak yang laen."
"Gak, Noa. Gue suka sam-..."
"Sandy...gue gak bi-..."
__ADS_1
Mereka saling menyela.
Sandy berkata. "Tapi gue..."
"Tapi seiring berjalannya waktu lo merindukan sosok yang bisa mencintai lo. Seiring basa basi itu, lo coba untuk mengungkapkan yang bukan sebuah rasa cinta yang tulus. Lo hanya rindu kasih sayang. Dan lo liat kesungguhan gue untuk Tera. Lo pengen kayak dia. Lo merasa senasib dan ingin bertakdir sama pula. Gak bisa, Sandy. Gue gak bisa jadi cowok instan lo untuk menuju bahagianya lo itu. Ada seseorang yang pasti bisa bahagiakan lo. Biarkan gue bersama Tera. Karena kalo kita bersama pun, lo dan gue gak akan punya bahagia seperti yang Tera dan gue rasakan. Cinta gak se'instan itu. Lo gak bisa seduh cepat dengan rasa yang lo mau. Cinta lo masih dalam proses, masih dalam perjalanan. Lo harus sabar menanti." sela Noa.
Menurut Noa, Sandy hanya iri dengan pencapaian Tera karena kesabaran dan pengharapan tiada akhir. Mereka yang sama-sama mempunyai kesendirian. Merasakan kesepian yang sama.
Mereka bagaikan cerminan, sehingga bila salah satunya merasakan bahagia yang tak terkira maka pantulannya pun menginginkan hal yang sama. Ingin senasib dalam takdir yang sungguh berbeda. Jalan hidup tak harus dilalui sama persis oleh setiap insan di dunia yang fana ini.
Ada kalanya jalan itu begitu sulit dilalui oleh banyak orang yang merasakan kesulitan hidup yang sama. Bila satu telah melewati kesulitan itu dan mendapatkan penghargaan atas kesabarannya, tak berlaku sama dengan yang lainnya. Mungkin proses itu berbeda dan membutuhkan waktu yang lebih membutuhkan kesabaran.
Tatkala jalan yang sama tak bisa di lalui dengan bahagia yang sama, bukankah harusnya mencari jalan yang lain untuk meraih bahagia di ujung perjalanan yang menyakitkan itu.
Karena memilih jalan yang sama dan ingin berakhir sama dengan bahagia yang sama tak akan bisa menjadi kenyataan. Bahagia di ujung sana hanya menantikan seseorang yang menjadi takdirnya.
Dan Sandy telah salah langkah. Maka menyadarkannya adalah hal terbaik. Ia tak bisa meraih ujung yang sama seperti Tera. Bila itu sudah menjadi milik Tera tak akan bisa di tukar atau di berikan untuk Sandy.
Mungkin ujung bahagia Sandy masih menunggu di jalan yang lain, dan di ujung sana kebahagiaan Sandy masih sabar menanti untuk di jemput pemiliknya.
"Noa, gue cinta sama lo...cinta..Noa." cicit Sandy.
"Bukan, Sandy. Perasaan cinta itu membahagiakan bukan menyiksa lo. Gue akhirnya sadar setelah Tera membalas cinta gue. Dan lo cuma peduli bukan sungguh-sungguh cinta." bisik Noa.
Sandy hendak meraih tangan Noa tetapi perlakuan itu Noa hindari. Pergi adalah sesuatu yang harus dilakukan Noa saat ini. Tak ada cara lain yang tepat selain menghindari cinta yang bukan kesungguhan.
Cinta tumbuh karena rasa peduli mungkin masih bisa bertahan tetapi ketika kepedulian kian tergerus seiring berjalannya waktu maka cinta itu pun terkikis hingga menipis.
Dalam heningnya tak ada hembusan angin melegakan. Isakan tangis itu terdengar sangat jelas. Membuat kepedulian Noa bangkit dan tergerak untuk kembali mendekatinya.
"Sandy..."
Noa ulurkan tangan untuk meraih tubuh yang telah roboh karena kesakitan mendalam. Sandy menengadahkan kepalanya tak ingin air mata terus menerus menetes. Mungkin ini salah, tetapi Noa pun tak tega melihat pemandangan menyakitkan di depan matanya sendiri.
Suara yang selalu mengisi hari-hari Noa menginterupsi pergerakan tangannya untuk meraih Sandy.
"Noa..."
Menengok ke asal suara itu, Noa menahan pergerakan tersebut. Tera memandangi Noa dan Sandy bergantian. Ia datang menghampiri mereka. Ia meraih tangan Noa agar menjauhi sosok Sandy.
"Sini bangun. Gue bantuin."
Sebagai gantinya, Tera yang kemudian meraih lengan Sandy. Sayangnya, Sandy menolak pertolongan Tera. Ia menepis dengan kasar kedua tangan mungil Tera.
Sandy berdiri berbarengan dengan tangan Tera yang terulur kembali untuk meraihnya. Tetapi ia menyentakan tangan Tera. Tak ingin di sentuh oleh kelembutan itu.
Noa pun menjauhkan Tera dari sosok Sandy. Amarah menutupi kebaikan hatinya. Amarah menutupi mata hatinya bahwa kebaikan itu ada. Hanya dengan mendekap Tera yang bisa Noa lakukan untuk memproteksi Tera dari amukan Sandy.
Tera menoleh kepada Noa, sungguh pemandangan indah di situasi yang sedang diliputi amarah. Tera bagaikan pohon meneduhkan. Tera bagaikan air penghilang dahaga. Tera bagaikan angin sejuk yang berhembus melegakan.
Sandy berlari menjauhi mereka. Noa semakin mendekap erat kekasihnya. Tetapi bukan berarti tak mempedulikan sosok Sandy yang sedang merapuh.
Bukan tugasnya untuk menguatkan Sandy. Karena bila ia melakukan itu, Sandy akan merasa dilambungkan dan ia bukan seorang pemberi harapan palsu. Harapan yang samar tak bisa di gapai bahkan di sentuh, itu hanya akan menyakiti lebih dari yang terasa saat ini.
Tera memeluk Noa erat-erat. "Jangan cintai yang lain. Aku udah berusaha jadi yang terbaik."
"Bahkan kamu selalu jadi yang terbaik sampai kapanpun." bisik Noa.
Tera bertahan memeluk Noa dengan eratnya. Hembusan nafasnya terasa di dada Noa. Telinganya begitu menempel di dada Noa dimana jantung itu masih berdetak dengan bersemangat karena sang jodoh selalu menyemangatinya untuk terus mendebarkan rasa cinta yang rasanya abadi. Dan itu hal yang paling Noa sukai. Karena Tera akan mendengarkan debaran hanya untuknya.
"Jodoh kita gak mustahil ya, sayangku." bisik Noa.
Tera mendongak. Ia tersenyum.
"Iya. Aku percaya cinta dan jodoh setelah kamu tunjukin kesungguhan rasa itu."
"Gak ada yang mustahil, sayangku. Harapan itu ada. Sebuah senandung harap yang kita kenal adalah doa. Gak akan meninggalkan kita dalam keterpurukan. Akan ada yang terpuruk berganti bangkit dengan sempurna. Bicara tentang sempurna. Aku udah ngerasain cinta yang sempurna. Sama kamu." ujar Noa.
"Sayang iih sama kamu. Cinta..." ungkap Tera dengan genitnya.
"Hem, aku juga selalu...."
***
Tbc
__ADS_1