Kakak Gemes

Kakak Gemes
Agen curut botak


__ADS_3

"Jagain, Dim..."


Untung Dimas habis minum mpocari sewot, minuman pengganti ion tubuh itu.


"Gyaaahhh...ngapain ngejar gue?" teriak Tera.


Dimas menyalip Tera dan menghadangnya. Ia pun menangkap Tera sesuai perintah Noa.


"Kena lo.." seru Dimas.


"Gyaaahhh...lepasin gue." ronta Tera.


Ahmad yang berlari sambil makan cilok menyusul menghampiri Dimas.


"Berisik lo ah...teriak mulu."


Ahmad menjejali satu cilok di mulut Tera.


"mmph....puh."


Tera memuntahkan cilok yang ada di mulutnya.


"----Lepasin."


"Udah. Lepas, lur." ucap Noa kalem dan di turuti dimas, ia melepas cekalan di lengan Tera.


"Lo...brenti ngejar gue." kata Tera datar.


"Hm, jangan dingin gitu. Nasi aja kalo dingin gak enak." ujar Noa lebih kalem.


Tera pergi begitu saja dari hadapan Noa. Dua sahabat Noa mencoba mengejarnya lagi, tetapi Noa mencegah mereka.


"Sebenernya gue gak suka dengan misi yang kita jalani sekarang. Tera gak pantes buat lo." kata Dimas dengan muka malasnya.


Noa diam saja, memandang kosong ke tempat dimana tadi Tera berdiri di hadapannya. Ahmad menepuk lengan Noa, menyadarkannya kembali pada kenyataan.


"Gue kira abis lo kasih hadiah, dia bakalan jinak. Eh, ternyata masih liar." ucap Ahmad.


Ya, Noa memang terlalu cepat ambil kesimpulan dan terlalu banyak berharap. Terlalu banyak berharap...


Satu lagi rasa yang ia rasakan. Rasa hampa. Entah kenapa, hampa yang terasa. Seakan hatinya di paksa kosong saat ini, saat dimana harapan itu bagai menghilang. Menguap entah kemana.


"Si Tera doyan makan rujak kali ya. Pedes banget."


Ahmad menceplos begitu saja.


"Hm, kalo dia ngomong pedes berarti cabenya kebanyakan." canda Noa.


Ia mencoba menghilangkan rasa yang ia tak suka. Rasa itu bisa menghilangkan daya juangnya.


"Yang karet dua ya." canda Dimas.


Noa nyengir, ia kira Dimas benar-benar membenci Tera. Ternyata rasa kesalnya hanya selewat saja.


Bel masuk berbunyi, tanda istirahat sudah selesai. Mereka memasuki habitat masing-masing, melakukan kegiatan yang menjadi kewajiban pelajar.


Disana Noa mulai berpikir, mungkin rencana yang sempat ia batalkan harus ia jalani sekarang. Hasil akhirnya nanti tak akan ia pikirkan sekarang.


Pulang sekolah seperti biasa dua sahabat itu menghampirinya. Mereka mengajak makan siang bersama. Noa tolak dengan halus, ia harus ke suatu tempat.


Disini, di salah satu pusat perbelanjaan. Ia menuju toko mainan. Membeli mobil remote control untuk rencana pertamanya.


Melewati banyak mainan canggih di rak yang terdisplay rapi, ia tertarik ketika melihat walkie talkie. Ia ambil tiga, masing-masing untuknya dan dua sahabatnya. Menuju kasir tujuan akhirnya, ia melakukan pembayaran dan kembali ke kosan.


***


"Tumben baru pulang?" tanya kang Jhon heran.


Noa duduk di kursi ruang tamu di samping kang Jhon.


"Abis mampir dulu, kang." jawab Noa lesu.


"Mampir ke rumah gebetan lo itu?" tanya kang Acep yang baru masuk kosan dan sempat-sempatnya mendengarkan obrolan di dalam kosan. Ia baru pulang kuliah.


Noa jawab dengan gelengan kepala.


"Dari mana?" kang Acep duduk di kursi sambil membuka sepatunya.


"Mall, kang." jawab Noa singkat.


Mereka mengangguk-angguk sebagai tanggapan dari jawaban singkat tersebut.


"Kalo dari mall harusnya happy dong. Ini malah lesu. Abis duit buat jajanin temen lo? Belum jadian udah traktir."


Cuap-cuap kang Jhon memakai ilmu sotoy.


"Gue masuk kamar dulu, kang."


Noa menghindar dari mereka, dan mereka heran dengan kelakuan Noa. Mereka hanya mencoba paham dengan anggukan kepala.


Noa masuk kamar dan mengunci pintunya, ia butuh waktu untuk sendiri. Ia mengeluarkan mobil remote control, ia memandang benda itu lama sembari mengingat Tera.


Ia simpan kembali benda itu. Ia pun mengambil kertas yang lalu ia gunting dengan ukuran kecil, ia tulis sesuatu disana dan ia gulung rapi dengan pita biru muda. Gulungan kertas itu ia simpan rapi di kotak kecil, menyisakan satu yang ia tempelkan di mobil remote control tersebut.


***


"Agen curut obesitas memanggil agen curut kerempeng, ganti."


Noa mengetes walkie talkie bersama dua sahabatnya sembari berhadapan di dalam gudang.


Dimas ngakak. "Agen curut kerempeng memanggil agen curut botak, ganti."


Agen curut botak...eh, apaan lo? Kok curut botak sih. Curut ganteng kek."


Ahmad tak terima. Ia menoyor kepala Dimas yang sedang terbahak-bahak.


"Gak ada curut ganteng, ntar cewek-cewek pada naksir." kata Noa datar.


"----curut itu selalu ada yang botak. Lo bagian yang botak, Mad."


Dimas semakin terbahak di buatnya. Ahmad manyun. Mencebikan bibirnya tanda tak terima.


"Ganti ah, jadi agen minyak aja." kata Ahmad.


Dimas menoyor Ahmad dan berucap. "Agen gas tiga kilo memanggil agen bensin eceran, ganti."


Noa menjawab. "Agen bensin eceran memanggil agen kentut, ganti."

__ADS_1


"Agen kentut...eh, kentut? *****, gak ada yang bener apa buat gue?"


Ahmad bersungut-sungut.


"----ganti lagi ah. Yang keren buat gue ada gak?"


"Wey, agen kentut tuh artinya gas alam, Mad." alibi Noa yang di pandang sinis oleh Ahmad.


Dimas menimpali. "Ganti aja, Noa. Agen lubang idung memanggil agen bulu idung, ganti."


"Agen bulu idung memanggil agen upil, ganti." jawab Noa.


"Agen upil...*****, kok gue upilnya?" Ahmad semakin cemberut.


"Ya udah, ganti aja jadi agen ingus." canda Noa.


Dimas ngakak lagi. "Noa, lo beli beginian malah jadi bahan buat bully si Ahmad."


"Udah lah, balik lagi aja ke agen curut botak. Mendingan itu aja gue mah." Ahmad pasrah. Tiduran di matras usang sambil memainkan walkie talkie nya.


"Cieeeh..yang pengen jadi curut botak. Gak nyesel lo? Awas lo di tangkep tukang bakso." canda Noa.


"Gue kebayang sama sosok curut botak mirip sama pantat Justin. Botak." kata Dimas.


"Botak? Lo apain dia semalem? Abis anuan lo sama monyet piaraan lo? Gemes amat lo sampe pantatnya botak gitu." ujar Noa.


Dimas menimpuk Noa menggunakan jaketnya. Ahmad ngakak, bangun dari tidurannya dan duduk lagi.


"Noa...monyet emang pantatnya botak." kata Ahmad di sela tawanya.


"Tawa lo biasa aja."


Dimas mengeteki Ahmad yang masih ngakak.


"Tawa lo tak terhingga, Mad. Justin jalannya ngangkang gak, Dim?" tanya Noa.


Dimas yang mendengar itu langsung memiting Noa juga. Noa dan Ahmad di keteki Dimas yang bete maksimal.


"Noa, si Justin mah emang jalannya ngangkang. Eh, gelayutan ding. Kayak majikannya. Nih, gelayutan sama kita." kata Ahmad.


***


"Agen curut obesitas, disini agen curut botak melihat target galak lagi jalan ke arah mamang tukang somay."


Ahmad laporan dari TKP. Ia sedang membuntuti Tera sepulang sekolah.


Sejauh ini, Tera hanya pulang ke rumahnya dan keluar pun hanya mencari makan di tempat jajanan pinggir jalan.


"Laporan di terima. Awasi terus. Agen curut obesitas menuju TKP." jawab Noa.


Dimas ada di sebelahnya, ia sedang makan cimol yang pedas. Tiba-tiba ada panggilan dari curut botak alias Ahmad.


"Agen curut botak melaporkan, target galak lagi makan somay. Agen curut kerempeng buruan menuju TKP. Dia udah mau beres makan."


Ahmad melaporkan kembali dari TKP.


"sshh..agen curut kerempeng..ssshh..pedes." jawab Dimas.


"Lo lagi ngapain. Seuhah gitu?" tanya Ahmad lewat walkie talkie nya.


"Jangan di abisin. Gue mau, buruan kesini. Gue minta." rengek Ahmad.


Noa berjalan bersama Dimas ke tempat Ahmad mengintai mangsa. Tadi mereka sempat men'setting mobil remote control di rumah Dimas dan membiarkan Ahmad yang membuntuti Tera seorang diri.


Akhirnya, mereka sampai tempat eksekusi. Tera sudah hampir selesai makan somay nya. Ahmad menadahkan tangannya kepada Dimas meminta cimol. Dimas memberikan bungkusan plastik cimolnya kepada Ahmad.


"Sue, cuma sebiji lo sisainnya."


Ahmad kesal tetapi ia tetap makan juga cimol itu.


"Tester itu mah. Kalo suka, beli sendiri dong." jawab Dimas enteng.


"Itu pelit terselubung namanya." kata Ahmad. Dimas tertawa tanpa suara.


Noa menyiapkan mobil remote control dengan gulungan kertas kecil terpasang di antenanya. Ia pun menjalankan mobil itu ke arah Tera yang masih duduk di pinggir jalan. Tera yang sadar ada mobil remote control menyenggol kakinya terus menerus pun melirik sana sini dengan kebingungan. Ia peka melihat gulungan kertas itu, tangan itu mengambilnya.


Setelah ia ambil gulungan kertas itu, Noa jalankan kembali mobil-mobilannya kembali ke tempatnya bersembunyi.


"Eh..ck, iseng amat."


Tera mendecak. Berdiri berkacak pinggang.


Noa melihat Tera memperhatikan gulungan kertas itu, di bolak baliknya gulungan kertas di tangannya. Ia buka pita biru muda itu dan membuka gulungan kertasnya.


Ia membaca satu kata yang ada di dalamnya. Karena Noa bersembunyi tak terlalu jauh, Noa bisa melihat ekspresinya.


Tera berkata. "minimarket?"


Tera kebingungan, celingukan mencoba mencari tahu sesuatu. Noa tersenyum tipis melihat ekspresi itu. Tera membayar somay nya dan pergi dari sana.


Noa tak bisa membiarkan Tera pergi begitu saja. Ia serahkan remote control kepada Dimas dan berlari mengejar Tera. Dengan jarak yang masih aman, ia mengekori Tera. Ternyata ia masuk minimarket terdekat. Apa ia menangkap pesan dari gulungan kertas itu agar dia ke minimarket? Ini di luar rencana Noa.


Dan rencana Tuhan, bukankah lebih baik di bandingkan rencana hamba-Nya. Dia tahu yang tidak kita ketahui. Dia tahu akan sesuatu yang terbaik bagi hamba-Nya. Entah rencana Tuhan itu sepertiĀ  yang kita inginkan atau yang akan kita sesali kemudian.


Tera memasuki minimarket tersebut, saat Noa membuka pintu, Noa melihat Tera celingukan mencari sesuatu.


Seorang pramuniaga menyapa.


"Sore, mbak. Ada yang bisa di bantu? Ada sesuatu yang sulit di cari mungkin?"


"O-oh..iya. Saya bisa sendiri, mas."


Tera senyum tipis dan semakin masuk ke dalam. Ia menuju rak paling belakang. Noa tahu Tera tak sedang mencari sesuatu, ia mencari seseorang.


Tera sudah di rak paling belakang, berpura-pura memilih sesuatu. Noa menepuk pundaknya pelan. Tera menoleh dan kaget. Matanya melotot.


"Lo? Lo lagi. Lo lagi. Ngapain lo disini?" sewot Tera.


Noa menjawab santai. "Nyari cemilan. Gue liat lo jadi gue samperin deh."


Itu hanya alasan, dan keranjang belanja yang ia isi asal-asalan dengan banyak cemilan hanya alasan klasik agar Tera percaya.


Tera memicingkan matanya, mencoba mencari kebohongan di wajah Noa.


"Boong.. lo buntutin gue kan?"


Tera menunjuk wajah Noa.

__ADS_1


"Gue bukan ekor, gue manusia. Lo juga bukan kucing." jawab Noa masih stay dengan kekaleman.


"Jangan nyari masalah lo. Jangan kambuh penyakit gila lo disini." ancam Tera.


"Nyari sesuatu?" tanya Noa mengabaikan ancaman tersebut.


"Bukan urusan lo." ketus Tera.


Noa senyum dan memegang pundak Tera yang langsung Tera tepis kasar.


"Kasih gue kesempatan buat deket sama lo. Entah kenapa, gue harus selalu ada di deket lo." ucap Noa pelan.


Dengan nada yang jelas dan penuh penekanan Tera menjawab. "Gak akan. Gue deket lo itu musibah. Lo cium gue sampe bibir dan lidah gue berdarah. Lutut gue juga berdarah gegara jatoh abis lo kejar-kejar. Apalagi yang bakal lo bikin berdarah? Lo mau bikin pertumpahan darah? Bisa gak sih lo normal sedikit aja."


Noa tersenyum. Lama, ia dan Tera berpandangan. Tera hendak berjalan pergi tetapi Noa cegah.


"iissshh...tunggu, gue ngerasa kalo ini gak asing."


Tera mengingat-ingat. Noa yakin Tera lemot dalam mengingat.


"----dulu ada yang cekal tangan gue, nyegah gue pergi dari minimarket juga. Iya, minimarket. Gue inget, tapi kapan?"


Ia masih berusaha mengingat.


"----ah, gak penting." ucapnya di akhir.


'Gak penting? Baginya gue gak penting? Bagaimana caranya agar gue bisa lo anggap penting?' batin Noa.


"Gue juga gak menginginkan lo terluka. Gue gak ngerti pertumpahan darah yang lo maksud. Lo tau, kalo kayak gini hati gue juga bisa bagaikan berdarah." ucap Noa.


Tera tertawa kecil. "Berdarah? Gue gak liat ini. Bodo amat."


Tera pergi meninggalkan Noa di minimarket. Noa yang sudah telanjur mengisi keranjang belanja pun kemudian menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Menenteng banyak camilan di kanan kiri, ia pergi menuju rumah Dimas.


Dua sahabatnya sedang memainkan mobil remote control. Ada monyet peliharaan Dimas yang sedang mengejar mobil itu kesana kemari.


"Ayo Justin. Kejar...anggep aja mobilnya itu si Noa. Lo kejar dia sampe dapet." ujar Dimas.


Ahmad bertepuk tangan menyemangati Justin.


Noa sadar akan suatu hal. Mengejar.


Ia lihat monyet itu semangat mengejar mobil-mobilan tanpa rasa lelah. Ia malah semakin semangat mengejarnya padahal Noa melihat Justin begitu kesusahan.


'Hm, monyet aja bisa ngajarin gue. Gue gak boleh menyerah, gue harus terus kejar Tera sampe dia kelelahan dan menyerah. Layaknya Justin ngejar mobil remote control itu sampai dapet. Gue yakin bisa mendapatkan dia. Sesulit apapun gue harus bisa mendapatkan hati Tera.' pikir Noa.


Oy, gue bawa cemilan nih." seru Noa.


Dimas dan Ahmad menoleh serempak.


"Asoy.." teriak mereka berbarengan.


"uu aa..uu..aa..uu..aaa..."


"Dim, artiin Dim..." perintah Noa.


Ia berjalan mendekati dua sahabatnya. Justin melompat naik ke gendongannya. Tangan Noa yang kanan kiri memegang plastik belanja spontan melepaskan tentengan itu.


"Si Justin bilang, love you Noa." kata Dimas.


Noa memandangi Justin dan berpindah ke majikannya.


"Beneran, Dim. Lo gak salah artiin?" tanya Noa yang langsung di angguki oleh Dimas.


"Ciacia..bisa baper tuh sama monyet. Daripada nunggu Tera, mending sama Justin."


Ahmad nyengir dengan sangat maksimal.


"----Tera sama Justin kan mirip. Tera kayak monyet beranak. Galak."


Ahmad pun mengangkat plastik isi cemilan.


"Oy, Teranya gue itu cakep." bela Noa.


"Ceilah, di belain Teranya. Justin juga cakep, kata monyet lagi." canda Ahmad.


"Nah, lo bilang Justin cakep kan tadi? Lo monyet juga berarti." tunjuk Noa kepada Ahmad.


Justin ikutan menunjuk Ahmad.


"uu..aa..uu..aaa..."


Dimas tak perlu di perintah langsung menterjemahkan. "Lo mirip gue kata Justin."


"Kalian terjahat."


Ahmad geleng-geleng kepala.


"----lur, tadi gimana, lo di apain dia?"


"Kayak biasa, di jutekin." gumam Noa.


"Lo mau sabar atau mau menghindar?" tanya Dimas serius.


Noa menjawab pasti dengan keyakinan.


"Sabar. Gue pilih itu."


"Ck...penuh keyakinan. Makin lama lo makin sakit." kata Ahmad sambil jalan memasuki rumah Dimas dengan membawa plastik belanjaan.


"Bener tuh kata Ahmad." ujar Dimas.


Justin berpindah ke gendongannya.


"Iya, bener. Gue tau, tapi gak tau kenapa gue gak bisa jauh dari dia. Gue ngerasa harus selalu ada di sekitar dia. Seakan dia butuh gue." ucap Noa kalem.


"Perasaan lo doang itu mah."


Dimas memandangi Noa. Ia tak lanjut bicara apa-apa lagi.


Noa dan Dimas dengan Justin di gendongannya memasuki rumah menyusul Ahmad yang sudah masuk terlebih dahulu.


Ini bukan hanya perasaan gue aja. Gue yakin dia butuh gue. Masih ada kejutan yang lain untuk Tera. Gue gak akan mempertanyakan hasil akhirnya. Yang gue tahu, perjuangan gue gak akan ada akhirnya. Kecuali, Tuhan berkata 'tidak'.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2