
Setelah mendapatkan tempat untuk menginap semalam di resort tersebut, Noa mengajak Tera menuju danau yang berbentuk seperti simbol cinta. Love.
Danau cinta itu tak terlalu besar. Bentuknya yang unik membuat Noa ingin membawa Tera kemari. Niatnya hanya berduaan. Tetapi kenyataan tak seindah yang dibayangkan.
Dimas dan Sandy pun ikut ke danau cinta tersebut. Dimas mengkode Noa untuk meminta masukan karena tahap awalnya mendekati Sandy sudah gagal total.
Ketika Noa menghampiri, Dimas bergegas membawa Noa menjauhi Tera dan Sandy.
Di tinggal berduaan oleh Noa dan Dimas, tak membuat Tera merasa curiga. Ia berdiri di tepian danau sembari memperhatikan riak air danau. Beriak dalam tenang.
Sandy mendekati Tera yang perhatiannya masih terfokus pada air danau cinta itu.
Sandy pun sempat melihat ke tempat Noa dan Dimas yang sedang mengobrol serius. Karena ia merasa keadaan aman, ia kembali fokus kepada Tera.
Sesekali ia mengalihkan pandangan pada dua orang yang tak memperhatikannya. Kondisi hatinya memaksa ia harus melakukan ini.
Dengan teganya Sandy mendorong Tera ke dalam danau.
JEBURRRRR !!!
Tempat yang indah berbentuk simbol cinta kini airnya telah memeluk Tera. Sandy melihat Noa dan Dimas terkejut dengan suara air danau yang kejatuhan sesuatu yang berat itu.
Ia melihat Tera masih tak berdaya. Sandy tersenyum melihat tak adanya perlawanan dalam pelukan air itu.
Tetapi memang takdir Tera bukan berakhir disini, ia mendapatkan kekuatan untuk memperjuangkan hidupnya.
Tera menggapai-gapai, berusaha dengan satu tangannya melawan pelukan air danau menuju tepiannya. Di sela syok yang tersisa Noa dan Dimas belum menghampiri sumber suara itu.
Sandy melihat Noa yang sedang mencari sosok kekasihnya. Dengan berpura-pura tak tahu apa-apa, Sandy berusaha melambaikan tangannya untuk isyarat memanggil Noa dan Dimas bahwa ada sesuatu yang harus segera mereka ketahui.
Noa berlari kencang di iringi Dimas. Di dalam sana, Noa melihat air danau bergerak melawan karena kejatuhan seseorang. Tera menggapai angin.
Dengan sigap Noa menceburkan diri dan segera menggapai tangan kekasihnya. Membiarkan kepala Tera tetap menghirup udara, kemudian Noa menyeret Tera dari dalam air menuju tepian danau.
Dimas sudah bersiap membantu di pinggir danau. Ia mengangkat tubuh Tera. Noa pun setelah berhasil naik, segera memeluk tubuh Tera yang menggigil.
"Kok bisa jatoh?" bisik Noa di telinga Tera.
Sandy melihat Noa berbisik tetapi tak bisa mendengarkan bisikan itu. Tera hanya menggelengkan kepalanya. Tubuhnya semakin menggigil entah rasa dingin akibat kuyupnya tubuh itu atau ada ketakutan yang tak bisa di ungkapkan.
Noa berlari membawa Tera dalam gendongan ke penginapan tanpa memperdulikan Dimas dan Sandy. Meninggalkan mereka demi kesayangannya yang terus menggigil sampai bibirnya bergetar dan membiru. Bahkan suara giginya yang bergemeletuk membenarkan perbuatan Noa untuk segera membawa Tera ke penginapan.
Noa bergegas membuka tas gendong dan mengambil baju ganti untuk Tera. Selama proses berganti pakaian, Noa berdiri di depan pintu kamar yang Tera tempati. Berpikir lebih tepatnya.
Tera diam menunduk kala Noa kembali memasuki kamar. Noa memeluknya erat-erat. Menyalurkan rasa hangat untuk tubuh kekasihnya yang masih kedinginan. Tera sedang dalam mode tak tersentuh. Karena setiap pertanyaan Noa tak ada satupun yang mendapatkan jawaban darinya.
Satu pertanyaan yang Noa utarakan berulang kali.
"Tadi jatoh sendiri apa di jatohin?"
Dan percuma saja. Pertanyaan itu sia-sia belaka untuk Tera yang tak ingin menjawabnya. Noa memaklumi itu, karena Noa pernah merasakan hal ini dua kali selama berhubungan dengan Tera.
Sementara itu, Dimas dan Sandy yang ditinggalkan Noa pun berada dalam kediaman yang bagaikan abadi. Sandy merosot di tepian danau. Wajahnya terpantulkan air danau yang jernih.
Ia melihat pantulan dirinya yang begitu tega, begitu jahat terhadap seseorang yang tak bersalah. Tera tak tahu apa-apa tentang perasaannya kepada Noa. Tera harusnya tak disalahkan tetapi Sandy tetap ingin menyalahkan Tera karena ia telah mengabadikan cinta Noa hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan Sandy tak mendapatkan kesempatan sama sekali untuk mendekati Noa.
Sandy pun ingin merasakan cinta dari seorang Noa. Ia yang merasa lebih pantas mendapatkan cinta Noa. Bukan Tera yang dahulu pernah menyakiti dan menyia-nyiakan cinta itu.
Sungguh, Sandy tak mengetahui apapun yang telah Noa dan Tera alami. Yang telah mereka hadapi. Karena Sandy telah buta mata dan hatinya. Bahwa perjuangan panjang menguras kesabaran itu Noa lakukan untuk Tera. Bukan Tera yang salah, ia memang berhak atas diri Noa. Tera hanya menjadi pihak menunggu dan menerima. Seharusnya Sandy tak melakukan ini.
Tetapi setiap kepala Sandy selintas memikirkan tentang ketidaksalahan Tera, ia akan berusaha menolak pemikiran itu. Ia hanya akan membuat pemikiran bahwa Tera lah yang bersalah disini.
"Lo kenapa? Tera kayaknya gapapa deh. Dia baik-baik aja kok." kata Dimas.
"Gak usah sok polos lo...emang gue suka liat dia baik-baik aja, hah?" bentak Sandy.
Dimas terkesiap akan bentakan tersebut.
"Maksudnya? Lo yang dorong dia barusan?"
"Iya. Mau ngadu ke Noa? Gue gak takut." tantang Sandy.
"Gue bukan orang yang pengaduan. Lo harusnya jangan kayak gitu." nasihat Dimas.
__ADS_1
Sandy sembari berjalan cepat ke arah penginapan tanpa menghiraukan nasihat Dimas. Kini tinggalah Dimas sendirian. Ia termangu.
Dimas bersender di pohon lalu merosot duduk. Kemudian ia mengusap kasar wajahnya.
"Apa gue salah pilih cinta?" monolog Dimas.
Ia menggeleng kuat-kuat. Mencoba menampik pemikiran buruk itu. Ia yakin. Sangat yakin. Bahwa keputusannya benar. Tentang hatinya yang tiba-tiba saja memilih Sandy. Mungkin inilah takdirnya, Sandy yang membutuhkan cintanya.
"Iya. Gue harus kayak Noa. Gak akan pesimis. Gue gak akan pernah pergi dan menghindar walaupun Sandy nolak gue berkali-kali. Dia butuh gue. Gak tau kenapa rasanya gue gak boleh jauh darinya. Gue yakin kayak gitu." monolog Dimas lagi.
Ia bangkit berdiri dan mengepalkan tangannya pasti. Kemudian kepalan tangan itu ia acungkan sejajar dadanya sembari menghembuskan nafas pendek.
"Semangat, Dim. Lo pasti bisa. Bukan cuma demi dapet pacar. Tapi demi kebaikan Sandy yang tenggelam itu. Gue harus selametin dia biar gak terpuruk lagi. Dan demi Noa juga Tera yang hubungannya terancam."
Kepalan tangan Dimas naik turun untuk memompa semangatnya.
Setelah semangat itu terpompa dan terpancing ke permukaan, Dimas pun kembali ke penginapan. Ia butuh mandi untuk membersihkan diri.
Sampai malam menjelang, Tera lebih memilih berdiam diri dalam kamar sembari memeluk Noa. Karena ada yang harus Noa berikan pada Dimas, Noa meminta Tera menunggu dalam kamar.
Noa menuju kamar Dimas, yang di hampiri baru saja selesai mandi.
"Dim, gue mau kasih ini." kata Noa.
"Apaan nih?" tanya Dimas sembari menautkan alis bingung.
"Ini, isinya tas rajut. Sandy kemaren bikin status lagi nyari tas rajut tapi gak nemu yang bagus. Lo kasih ini sama dia, kali aja lo bisa curi perhatian dia." jelas Noa.
"Hm, makasih ya lur. Lo beneran bantuin gue segininya. Tera gimana?" kata Dimas.
"Hem, gak usah di pikirin, Dim. Gue gak tau harus gimana sentuh hati Sandy. Salah langkah malah bikin dia baper sama gue. Lo harus lebih agresif, biarin dikatain sinting model Tera hina gue dulu." ucap Noa.
Menepuk pundak Dimas, Noa berusaha menyuntikan semangat dan keyakinan untuk sahabatnya.
"----Tera gapapa. Gue mau bawa dia lagi ke danau cinta. Lo bikin moment romantis buat Sandy juga."
Dimas mengangguk. Ia menyesali dirinya dan merutuki kesalahannya karena menutupi kesalahan Sandy. Ia mengutuk dirinya sendiri karena lebih memilih bungkam atas perbuatan jahat Sandy. Ia buta terpaksa karena niat kerasnya yang akan merubah Sandy.
Setelah anggukan itu Noa bergegas menuju kamar inap, membawa Tera ke tepi danau cinta. Mereka duduk berdua di tepian danau berbentuk love tersebut.
Air beriak pelan menandakan adanya udara di dalam air danau. Seperti hati Noa yang selalu membutuhkan Tera. Bagaikan hidung dengan oksigen yang tak bisa dipisahkan satu sama lain.
Riak air yang tenang pun menenangkan hati. Tenangnya setenang dan senyaman ketika bersama yang terkasih. Seperti saat ini. Tera bagaikan riak air bukan ombak yang indah dan bergulung mematikan.
Selalu ada kejutan manis darinya. Setiap hari dirinya tak pernah sedikit pun membuat Noa bosan. Tak pernah ada kesan membosankan untuknya.
Tera. Satu yang terkasih. Yang begitu Noa kasihi. Dengan kasih sayang tiada henti.
"Baby, aku sayang-..."
"Aku juga sayang-...."
Dalamnya lautan siapa yang tahu. Dalamnya hati tak bisa di tebak. Sulit diselami. Bilamana ingin merahasiakan apapun tak akan bisa diselami dengan mudahnya. Bila memaksa untuk menyelami kedalaman hati yang tak mengijinkan untuk diselami, maka ia akan merasakan sesak dan mati perlahan. Mati dalam kehidupan.
Sandy mengintip keromantisan Noa dan Tera. Tetesan air mata itu nyata adanya. Ia yang juga ingin berada disana. Ia ingin pula berada dalam pelukan hangat itu. Bahagia bersama lelaki itu. Sandy begitu mendambakan Noa.
Kini Sandy hanya di temani oleh lara hati.
Sedangkan Dimas yang tepat berada di belakang tubuh Sandy pun melihat kemesraan Noa dan Tera. Ia terharu melihat sahabatnya begitu menyayangi Tera. Dimas tahu seberapa keukeuhnya Noa mengejar Tera. Dimas tahu seberapa sungguhnya cinta itu ada. Dan Dimas tahu seseorang yang sedang membelakanginya saat ini sedang memimpikan berada di posisi Tera.
Tetapi bila bisa menggantikan posisi Tera dalam pelukan Noa pun, tidak pula dengan kedudukannya di hati Noa. Dimas tahu hanya Tera yang bisa bertahta dan berkuasa di dalam hati Noa. Tak akan berubah. Tak akan tergantikan. Bilamana Tera tak ada, mungkin Noa tak akan mencari tambatan hati yang lain. Cintanya layu dan mati, tak akan bisa tumbuh dan bersemi lagi.
Dimas memegang benda yang Noa berikan barusan. Tas rajut yang akan sangat manis untuk Sandy. Ia teringat akan perjuangan Noa di awal-awal, ketika Noa memberikan hadiah ulang tahun untuk Tera. Kejadiannya pun sama, kondisi hati Tera dan Sandy sama-sama belum mencintai sosok pengejarnya. Belum tumbuh benih cinta untuk pecintanya.
Bila Tera saat itu tak mempunyai kebencian dan dendam yang merusak hati kepada orang lain. Beda halnya dengan Sandy. Maka Dimas mempunyai kewajiban yang lebih berat untuk merubah pula hati yang dengki itu. Memang sulit tapi harus tetap dilakukan. Dimas akan mencobanya. Melakukan hal yang terbaik untuk mengembalikan hati yang baik.
"Sandy..."
Dimas memanggil Sandy yang belum menyadari kehadirannya.
Sandy menegang seketika mendengar namanya di panggil seseorang. Ia menengok ke asal suara panggilan itu. Jika Dimas bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata, maka ia akan bisa melihat aura kebencian ketika Sandy bertemu pandang dengannya.
"Mau apa lo?" tanya Sandy.
__ADS_1
"Lo ngapain disini? Mau ikut gue?" tanya Dimas yang mengabaikan pertanyaan Sandy yang memang tak membutuhkan jawabannya tersebut.
"Gak..." tolak Sandy tegas.
Ia bergegas pergi dari hadapan Dimas, tetapi Dimas tak membiarkan itu semua terjadi dengan mudah. Ia tak ingin Sandy menghindar lagi darinya. Dimas menarik pelan tangan Sandy. Tarikan lembut itu di tepis kasar oleh Sandy. Bahkan raihan yang kedua kalinya Sandy hentakan sehingga tangan mereka terlepas kembali.
"Gue cuma mau kasih ini." kata Dimas.
"Gak perlu. Buat apa lo pura-pura peduli?" cicit Sandy.
"Gue gak pura-pura. Gue serius sama lo. Kasih kesempatan buat gue. Buka hati lo buat gue. Lo tau, gue pengen jadi lelaki sempurna, gue juga pengen dapetin cinta yang sempurna. Gue pengen ngerasain cinta kayak orang-orang di luaran sana." jelas Dimas.
"Berarti lo salah orang. Gue gak akan bisa bahagiakan lo. Dan gue gak bisa kasih cinta kayak harapan lo." tanggap Sandy.
"Gue yakin, gue gak salah pilih cinta. Gak tau kenapa, gue gak boleh pergi dan menghindari lo. Gue gak boleh jauh dari lo. Karena jauh di lubuk hati, lo butuh gue." ucap Dimas dengan keyakinannya.
"Lo halusinasi? Lo gak perlu sok peduli." kata Sandy.
"-----lo cuma pengen maenin hati gue kan?" tudingnya.
Dimas menepis tudingan itu. "Gue serius sama lo."
Sandy mengibaskan tangannya. Ia pun bersikap angkuh.
"Halah, lo itu temen Noa. Lo gak suka gue kasarin Tera. Lo mau bales dendam dengan maenin perasaan gue. Biar impas kan?"
"Enggak. Buang pemikiran buruk itu Sandy. Iri dan dengki menutupi kebaikan hati lo. Asal lo tau, lo itu baik hati. Lo punya hati yang baik. Lo gak pantes jadi pemeran antagonis di kehidupan Tera. Peran lo lebih bagus sebagai pemilik hati gue. Janji, gue janji bakal bahagiakan lo. Gue bakalan buat lo bahagia kayak yang lo liat dari Tera saat ini." ujar Dimas.
Sandy kembali menolak cinta yang bersabar itu. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Enggak. Lo gak serius sama gue. Tiba-tiba lo hadir dan pengen masuk ke hati gue. Gak akan pernah gue percaya sama lo."
"Cinta yang merasuki hati gue emang mendadak tapi cuma tertuju buat lo. Buat lo, Sandy. Percaya sama gue. Yakinlah, gue bakal bikin lo bahagia. Gue gak bisa janji bisa bikin lo bahagia lebih dari kebahagiaan Tera yang di dapat dari Noa. Tapi gue akan berusaha sebaik mungkin. Sekeras apa hati lo? Gue bakal kikis sampe ke intinya. Kalo gue udah bisa sentuh hati lo, jangan pernah pergi. Karena gue gak akan biarin itu semua terjadi."
Dimas tersenyum dengan segala ketulusannya.
"Mimpi aja lo sana." lirih Sandy.
"Gue emang lagi pengen mimpiin lo. Jadiin lo cinta pertama dan terakhir." ucap Dimas dengan senyuman terbaiknya.
Sandy tak mampu berkata-kata. Ia tak bisa membalas ucapan tulus itu. Ia ingin menolak cinta yang kini sedang merasuki hati dan pikirannya. Tetapi ia tak mampu lagi menolaknya. Maka ia biarkan cinta itu menyebar di seluruh sendinya yang akan menyalurkan ke dalam otak dan detak jantungnya.
"Buktikan kalo lo emang punya kesungguhan." cicit Sandy.
Dimas tersenyum karena ia mendapatkan harapan walaupun masih samar.
"Gue bakal buktiin buat lo. Liat dan perhatikan, Sandy. Gue bakal bikin lo jatuh cinta ke gue. Tunggu dan bersabarlah biar cinta itu meresap sempurna di hati lo."
Sandy diam sembari menatap Dimas lekat-lekat. Begitu intens bagaikan membedah kesungguhan yang di persembahkan hanya untuknya.
"Terima ini ya. Gue gak tau lo bakal suka ini atau enggak. Tapi gue yakin ini berguna buat lo." ujar Dimas.
Sandy mengulurkan tangannya ke arah tangan Dimas yang juga terulur ingin memberikan tas rajut tersebut. Dimas bagaikan menyerahkan sepenuh hatinya yang telah terajut sempurna oleh cinta yang mendadak hadir dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, dan hal itu tak akan ia sia-siakan. Ia pun ingin menyelamatkan Sandy dari hidup yang sia-sia karena menghabiskan waktu untuk mencintai seseorang yang sudah menetap di hati yang lain.
Tas rajut itu kini telah berpindah tangan. Sandy memperhatikan benda itu lalu berpindah memandangi wajah Dimas. Ada senyum yang belum bisa Sandy balas saat ini. Setelah Dimas menyerahkan tas rajut tersebut, ia kemudian memberanikan diri untuk meraih jari-jari tangan yang lentik milik Sandy.
Di peganginya ujung jari lentik itu. Dimas pun melangitkan sebuah janji. Sebuah ikrar cinta.
"Gue bakal jadiin lo yang pertama dan terakhir. Jangan pernah lari. Jangan pergi. Jangan menghindar. Karena gue bakal miliki hati lo. Bila saat itu tiba, lo gak boleh sedetik pun jauh dari gue. Gak akan pernah gue biarin lo jauh dari gue. Lo udah tepat disini. Di hati gue. Hati gue pas buat lo. Sandy, bikin harapan gue jadi kenyataan. Karena kalo gue aja yang berharap, bahagia itu gak bisa lo rasain sampe kapanpun."
Dimas sudah mengakhiri ucapannya untuk Sandy.
Kini giliran Sandy yang harus menanggapi ucapan itu.
"Lo cuma omong kosong. Panjang lebar. Kayak bualan."
"Mungkin sekarang lo belum bisa percaya. Tapi gue bakal berusaha buat lo. Untuk bahagianya lo. Kayak yang lo liat di depan sana. Noa dan Tera. Mereka pas. Mereka serasi. Begitu pun dengan kita. Asalkan lo kasih sedikit aja kesempatan dan harapan buat gue. Jangan kasih harapan berlebih. Karena gue takut terlena dan lo akan terbuai tanpa kenyataan dari bahagia itu. Biarin gue pas di hati lo. Biarin kita jadi pasangan serasi kayak mereka." mohon Dimas.
Sandy masih terdiam, ia mencerna seluruh ucapan itu. Permintaan yang akan membawanya ke kebahagiaan.
"-----bentar lagi jadi pacar gue ya." pinta Dimas.
Sandy yang belum bisa membalas dengan janji yang indah pun tak kuasa untuk tidak pergi dari hadapan Dimas. Lalu dengan rasa terharu yang tak dirasakan sepenuhnya itu pun, Sandy pergi meninggalkan bahagia dan harapannya. Dimas.
__ADS_1
***
Tbc