Kakak Gemes

Kakak Gemes
Malam minggu kelabu


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak Noa memutuskan untuk ngekost dan kembali ke kota ini.


Ibu kost yang baik, membuatnya merasa betah tinggal disini. Logat sundanya yang kental membuat beliau terlihat semakin ramah di mata Noa. Penghuni kost yang lain pun semua bersikap baik dan ramah.


Di kost ini, ia yang mempunyai usia paling muda. Penghuni kost ini ada enam orang termasuk Noa. Ada yang sudah bekerja dan ada juga yang masih kuliah.


Menurut Noa, mereka terlihat dewasa. Dan mereka menganggapnya sebagai adik sendiri.


Ada satu pengecualian, kang Joni yang maksa maksimal ingin di panggil kang Jhon. Merasa dirinya masih ABG, dan menganggap dirinya dan Noa seumuran.


Kang Jhon trouble maker di kost dan Noa mendengar kang Jhon juga pecicilan di kampusnya. Kamarnya bersebelahan dengan kamar Noa.


Kang Jhon suka mendengarkan lagu metal. Alunan yang di iringi suara alat musik tiup khas sunda yang bernama karinding pun sering di dengarkannya.


Tanpa tanggung dan canggung kang Jhon dengarkan musik favoritnya dengan volume yang gila-gilaan membuat telinga rasanya ingin di lepas dahulu.


Semua penghuni kost pun setiap hari protes bila kang Jhon sudah berulah, apalagi bila ia berteriak-teriak yang katanya di sebutnya scream. Mungkin kang Jhon itu berbakat dalam bidang meneriaki orang.


Kang Jhon juga seorang yang bersahabat, bahkan orang yang pertama kali menyapa Noa setelah ia resmi tinggal di kost ini adalah kang Jhon. Bisa di bilang, kang Jhon adalah teman pertama yang Noa dapatkan.


Selama seminggu Noa berdiam di kamar kang Jhon bila pria tersebut telah pulang kuliah.


Mereka berbagi cerita, kadang kala di sela obrolan biasa.


Dari sana kang Jhon mengetahui cinta kecilnya Noa. Walaupun anak kecil belum pantas untuk mencinta. Menurutnya, itu normal. Katanya, cinta datang dari Sang Pecinta. Semuanya berhak bahagia karena cinta.


Kang Jhon itu jomblo, sudah akut. Dokter cinta saja sampai angkat tangan. Agar tak menambahkan daftar jomblo, lebih baik suntik mati saja.


Ia adalah manusia dewasa yang merana bila malam minggu tiba. Seperti malam minggu pertama yang Noa lalui di kost ini.


"Malem minggu, euy. Jhon minta parfum dong." pinta kang Ajat yang sudah kerja tetapi masih minta-minta.


"Candak lah candak jeung dus na." kata kang Jhon.


(Ambil lah ambil sama dus nya).


"Asoy lah malem minggu. Jhon pinjem kemeja atuh lah." ucap kang Engkos yang sudah bekerja di kantoran namun kemeja masih sering meminjam.


"Candak lah candak jeung lomari na." kata kang Jhon lagi.


(Ambil lah ambil sama lemarinya).


"Adeuh malem minggu. Panggih jeung kadedeuh." kata kang Acep yang masih kuliah.


(Aduh malem minggu. Ketemu sama kesayangan).


"Maraneh mah ngan mamanas wae unggal malem minggu teh. Pan nyaho urang teh jomlo geus bulukan." kata kang Jhon bersungut-sungut.


(Kalian itu cuma manas-manasin aja tiap malem minggu. Kan tau gue tuh jomblo udah bulukan).


"iih titah saha barina ge jomlo wae. Mangkal atuh, Jhon. Sugan aya nu daekeun mulung maneh jadi kabogoh." ledek kang Tisna, sang penghuni kost yang paling tua.


(iih suruh siapa lagian jomblo mulu. Mangkal dong, Jhon. Kali aja ada yang mau mungut lo jadi pacar).


Kang Jhon manyun di ledek semua penghuni kost, kecuali Noa. Mungkin Noa masih menjaga sikap hingga detik ini.


Kang Jhon angkat bicara. "Ah, ada Noa sekarang mah. Noa, lo jomblo kan? Temenin akang jojombloan, oke?"


"Ogah ah, kang. Gue udah tercipta ganteng maksimal gini masa single mulu. Sayang kan gak di berdayakan. Harus serba berfaedah lah, kang." ucap Noa.


"Ggahahahahaha..." serempak semua penghuni kost ngakak berjamaah.


Kang Tisna berucap. "Meuni galakgak atuh ieu teh. Jhon, lamun teu payu tong ngajakan batur. Geus we merana sorangan."


(Kocak banget ini tuh. Jhon, kalo gak laku jangan ngajakin orang. Udah aja merana sendiri).


Kang Jhon pundung. Ia memakan cemilan kulit kacang dua tupai dan minum air soda merk semprit.

__ADS_1


Setelah semua orang puas meledek kang Jhon habis-habisan, dan kang Ajat juga kang Engkos selesai meminta dan meminjam parfum dan kemeja kang Jhon, mereka semua pergi bertemu pacar masing-masing.


Ibu kost tinggal di sebelah, mereka kesana hanya untuk makan saja. Kalau di antara mereka malas memasak dan malas membeli makanan di luar.


Beliau membebaskan anak kost nya pergi dan pulang jam berapa saja, karena di antara penghuni kost sudah ada yang bekerja dan jam pulang kerjanya tidak teratur. Jam malam sama sekali tak ada dalam peraturan.


Tinggalah Noa dan kang Jhon berduaan di kosan. Kang Jhon yang jomblo dan Noa yang single.


Noa memandangi kang Jhon yang masih pundung. Noa pun berusaha membujuk.


"Kang Jhon, jalan yuk. Gue pengen beli sekoteng." kata Noa.


Sebenarnya Noa tak sedang ingin memakan sekoteng. Sebenarnya membeli sekoteng tinggal keluar kosan saja, nanti juga tukang sekoteng lewat di jalan depan kosan.


Tempat ini strategis, yang berjualan banyak. Hilir mudik sampai tukang pisau saja ada. Kalau ada rencana mutilasi ayam dan pisau tumpul tinggal menunggu mamang tukang pisau lewat saja.


Kang Jhon menoleh dan menjawab. "Tukang sekoteng kan ada yang lewat sini, Noa."


"Sekalian jalan-jalan lah, Kang. Emang akang gak bosen diem di kosan? Padahal akang tau muda mudi lagi ngabisin waktu buat pacaran." bujuk Noa mengarah ke memanas-manasi.


Kang Jhon masih pundung. Cemberutnya susah luntur. Itu manyun terdahsyat.


Kang Jhon bisa di sebut pria jantan. Di ledek temennya biasanya ia santai. Tetapi bila masalah status kejombloannya di bahas dan di angkat ke permukaan, Noa baru tahu itu terlalu sensitif untuknya.


"Hayu atuh lah. Kemana atuh Noa?" tanya kang Jhon yang sudah luluh terkena bujukan Noa.


"Kemana aja, kang. Naek motor gue aja, kang." bales Noa yang melempar kunci motor kepada kang Jhon yang dengan sigapnya menangkap kunci motor Noa.


"Hayu lah. Caw kawan. Kita mamingan." ucap kang Jhon ceria sembari keluar kosan dan menaiki motor Noa.


"Kang, gak ganti baju dulu. Biar kece, kang."


Noa pandangi penampilan kang Jhon yang hanya memakai boxer dan kaos oblong.


"Alah si Noa, udah gini aja. Kalo ada yang mau sama kita harus terima apa adanya." jawab kang Jhon sotoy.


"Kang itu mah namanya nurunin pasaran. Yakali gue pake boxer doraemon gini keluarnya. Ntar kalah saing sama banci dong." bela Noa.


Akhirnya jalan-jalan mereka di malam minggu ini berkostum seadanya, menurut kang Jhon namanya gegembelan. Noa memang bodoh mengiyakan saja apa yang senior katakan.


Kang Jhon pun menggeber motor dengan Noa yang sudah berada di boncengannya. Noa yang hanya memakai boxer dan singlet saja jelas kedinginan.


Tak siang tak malam kota ini memang mengagumkan. Dan semakin mengagumkan ketika Noa ingat di kota ini ada dia, orang yang tinggal sehari semalam lagi akan di temuinya.


"Tuh, kang. Tukang sekoteng. Melipir, kang." perintah Noa sembari menepuk pundak kang Jhon.


"Akang pengen bandrek, Noa. Ada gak disana? Berasa keren pake motor lo, pada ngeliatin tuh." kata kang Jhon.


Noa tersenyum menanggapi kang Jhon yang kepedean. Siapa yang tahu semua orang memperhatikan karena mereka malam mingguan dengan salah kostum.


Noa memperhatikan semua penjual yang sedang mangkal disana dan ia menemukan tukang bandrek.


"Tuh, kang. Ada. Udah aja turun disini." kata Noa sembari turun dari boncengan dan kang Jhon langsung memarkirkan motornya.


Setelah parkir dengan benar, kang Jhon berjalan ke arah tukang bandrek dan Noa berjalan ke arah tukang sekoteng.


Tatkala jodoh datang tak terduga, tak perlu menunggu waktu yang kita tentukan sendiri. Tuhan tahu. DIA pertemukan lebih awal.


"Mang, sekotengnya dua."


Pesan seseorang ke penjual sekoteng.


Tukang sekoteng mengangguk dan membuatkan pesanan tersebut. Noa yang datang duluan saja baru mangap akan memesan. Ia sudah di serobot saja. Noa kalah cepat.


Ia melirik orang tersebut. Dan Noa terkejut.


Dia. Pemesan itu, Tera Ramadhani orang yang Noa cari di kota ini.

__ADS_1


Tera tak akan menyadari, di hadapannya ada seorang yang dahulu mengejarnya di depan minimarket. Banyak perubahan di diri Noa hingga Tera tak mengenali si bocah sinting.


Sadar ada yang memperhatikan, Tera balas melirik Noa. Ia hanya tersenyum sekilas dan Noa membalas senyuman yang manis itu.


Takjub. Satu kata itu yang menggambarkan suasana hati Noa saat ini. Pertemuan yang tak di sengaja, kali kedua. Semakin menguatkan keyakinannya jika Tera memang jodoh yang di takdirkan untuknya.


Noa yang sedang bengong di kagetkan oleh tepukan seseorang di pundaknya. Kang Jhon pelakunya.


Bertepatan dengan kang Jhon yang menghampirinya, pesanan Tera sudah jadi dan ia bawa ke bangku tak jauh dari penjual sekotengnya. Ia ternyata sedang bermalam minggu bersama seorang pria.


Tampan. Kesan pertama yang Noa lihat dari pria tersebut.


'Ini pacar Tera kah? Pacarnya yang dahulu itu? Ini tugas tambahan buat gue. Kalo gue keukeuh mendekati dia nantinya, apa gue ini bakal jadi pelakor sejati? Sebodo amat lah.' batinnya.


"Noa, sekoteng lo udah jadi tuh. Bengong mulu." ucap kang Jhon.


"Hah? Gue belum pesen, kang." kata Noa yang terjaga dari lamunannya lagi.


Ia memandang ke arah kang Jhon dan beralih menoleh kepada penjual sekoteng.


"Kalo akang diem di depan gerobak saya, artinya mau mesen sekoteng. Saya inisiatif buatin satu. Begitu, kang. Betul kan?" kata mamang penjual sekoteng.


"O-oh iya. . .makasih, mang."


Noa mengambil sekotengnya dan ia membayar sesuai harga. Ia pun mencari tempat untuk duduk bersama kang Jhon.


"Eh, Noa. Disini aja. Enak euy, agak sepi juga. Disana mah rame." jelas kang Jhon.


Kang Jhon cerdas, Noa malah lebih leluasa memperhatikan Tera dan pacarnya.


Seraya menyuap, ia terus memperhatikan Tera. Kang Jhon juga ikut-ikutan memandang ke arah yang sama.


"Siapa itu? Lo kenal?" tanya kang Jhon mengagetkan Noa lagi.


"Em...itu kang. Orang yang gue cari." jelas Noa.


Kang Jhon sudah mengetahui semuanya. Noa menceritakan semuanya. Hanya pada kang Jhon, Noa terbuka saat ini. Ia hanya belum siap menceritakan ini kepada Bunda.


"Udah punya pacar dianya. Deketin boleh, tapi jangan jadi pelakor loh." peringat kang Jhon yang menunjuk wajah Noa dengan kunci motor.


"----sekolah dimana dia?" tanyanya.


"Dia satu sekolah sama gue, kang." jawab Noa.


"Oh, sekolah baru lo itu. Pantesan lo keukeuh pengen masuk situ. Padahal kang Tisna udah rekomendasiin sekolah yang lebih mentereng." ucap kang Jhon.


Noa hanya mengangguk, ia masih ingin memperhatikan Tera dan pacarnya. Tera terlihat bahagia, bersenda gurau bersama pacarnya.


Bila melihat mereka bahagia, rasanya Noa ingin mundur dan menyerah saja. Tetapi perjuangan Noa akan gantung dan ia tak akan mengetahui hasilnya apabila ia pilih untuk menyerah.


Niatnya baik dengan mengajak kang Jhon agar betenya hilang, kini malah Noa yang bete maksimal.


Giliran kang Jhon yang menghibur Noa. Ia memanggil orang-orang yang sedang berkumpul di sebrang jalan. Mereka seniman-seniman, musisi jalanan.


Kang Jhon request salah satu lagu metal dan mereka menyanggupi itu, kemudian ia pun membayar mereka terlebih dahulu.


Mereka mulai menyanyi di depan Noa. Tak ketinggalan, kang Jhon pun beraksi. Noa pun terhibur. Sejenak ia lupa hampir patah hati dan patah semangat. Apalagi aksi mereka juga di nikmati semua orang yang ada di sekitarnya.


Noa suka suasana seperti ini. Ia baru menemukan perasaan seperti ini. Rasanya ia semakin betah hidup disini.


Ia menemukan satu persatu hal yang bisa menetap. Di awali dari persahabatan, dan mungkin kemudian di lanjutkan dengan percintaan.


Iya, cinta yang juga menetap.


Iya, menetap di satu hati.


Iya, hatinya dan pujaannya. Tanpa ada hati lain di antaranya.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2