
TOK TOK TOK
Mereka belum menjawab nada ancaman Rima, tiba-tiba pintu depan terdengar di ketuk kembali. Noa berjalan menuju pintu dan membukanya.
Entah mata Rima kerasukan apa, saat seseorang di balik pintu yang terbuka itu nampak, Rima merasa tertarik pada sosok itu. Mungkin mata Rima minta di rukiyah.
"Noa, lo di tunggu Bunda tuh. Katanya lo mau kasih daster." kata Ahmad.
Rima terus memandangi sosok Ahmad yang menurutnya mempesona. Mata Rima berbinar-binar. Ahmad belum menyadarinya sampai di detik selanjutnya saat Ahmad mengalihkan pandangan pada setiap orang di dalam, ia melihat Rima seperti berbahaya bagi dirinya. Bagaikan ingin menerkamnya.
"Eh, teh Rima kenapa? Kerasukan?" tanya Ahmad dengan polosnya.
"Mad, lo bokinan sama gue yuk."
Rima tanpa berbasa-basi mengutarakan isi hatinya.
"Oy, teh. Gue udah punya pacar."
Ahmad berjengit mendengar penuturan Rima.
Tera teringat atas kesombongan yang dahulu pernah ia umbar. Kata-kata kasar yang menyakiti Noa kecil. Kini Ahmad mengingatkan sedikit masa silam itu.
"Gue aja yang jadi pacar lo." kata Rima dengam senyum miringnya.
Ahmad bergidik ngeri dan berlari menuju motornya. Ia berteriak saat akan melajukan motornya.
Ahmad berteriak. "Buru, Noa. Bunda nungguin."
"Gue nyusul." teriak Noa.
Rima berlari sampai ambang pintu. Ia memandangi kepergian Ahmad dengan lesu.
"Ck, gagal punya pacar. Ajarin gue dong, Noa." pinta Rima yang kini menjadi wanita pejuang cinta.
"Lo mau berguru sama gue?" tanya Noa dengan herannya.
Noa melihat Rima mengangguk pasti dan yakin pada keputusannya mendapatkan hati Ahmad yang secara kilat mencuri perhatiannya.
"-----gue yakin lo bisa luluhin hati si Ahmad. Pelan-pelan. Gue bantu sebisanya." kata Noa.
"Ah, bentar lagi babay jomblo." ucap Rima sembari mengusap dada.
"Tapi gak secepet itu, teh. Butuh waktu. Apalagi Ahmad udah punya pacar." kata Tera.
"Gue sabar kok, Tera."
Rima tersenyum lebar. Ia duduk bersender di kursi kembali sembari melamunkan sesuatu. Ia nyengir lebar.
Noa dikirimi pesan singkat oleh Ahmad. Ia harus secepatnya ke rumah Bunda.
"Baby, kamu mau ikut gak?" tanya Noa.
"Aku disini aja." jawab Tera.
Noa menggusak rambut Tera sembari berjalan ke kamarnya. Ia membawa paper bag dan berjalan keluar kamar. Tera mengantarnya ke depan kosan. Noa melambaikan tangannya dan berlalu pergi menuju rumah Bunda dan Abah yang baru.
Seperginya Noa, Tera duduk santai di teras kosan sembari memainkan ponselnya.
Sementara itu, karena jarak yang tak terlalu jauh, Noa sudah sampai di rumah orangtuanya.
"Bunda, ini daster yang Bunda pengen." kata Noa.
"Loh, Tera mana?" tanya Bunda saat ia menerima paper bag.
Beliau melihat isinya dan tersenyum.
"Gak ikut, Bunda. Pengen di kosan aja." jawab Noa.
Dimas dan Ahmad sedang membantu Abah mengecat rumah baru renovasi yang akan di huni Bunda dan Abah.
Noa merasa tak enak hati. Ia teringat akan Tera yang berada di kosan. Ia meminta ijin pada Bunda untuk berpamitan pulang tanpa membantu pekerjaan Abah.
__ADS_1
"Bunda, Noa ke kosan lagi ya." kata Noa.
"Tunggu bentar. Bunda bikin puding cokelat. Kasih sama Tera ya."
Bunda pun berjalan cepat ke dalam dapur.
Noa menanti Bunda yang tengah menyiapkan puding ke dalam kotak makanan.
Sementara itu di kosan, Tera berbalik akan memasuki pintu kosan kembali, namun seseorang memanggilnya. Sandy berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"Tera, bantuin gue dong. Gue mau masak tapi lupa resepnya." kata Sandy.
Tera tanpa curiga sedikit pun tentunya mengiyakan permintaan tolong itu. Ia merasa Sandy akhir-akhir ini bersikap baik tak seperti kekasarannya sewaktu di danau cinta.
Mereka berjalan berdua ke rumah Sandy. Lalu langsung menuju dapurnya. Tempat itu masih bersih tak ada tanda-tanda Sandy gagal memasak.
"Mau masak apa?" tanya Tera.
Sandy menatap datar pada Tera. Ia berjalan mendekati Tera. Merasa tak enak hati, Tera pun berjalan mundur menjauhi Sandy yang kini semakin mendekat.
"Lo gak mau lepasin Noa?" tanya Sandy dengan nada datarnya.
Tera menggeleng kuat-kuat tetap berwaspada menatap wajah datar itu. Sandy semakin mendekat dan Tera tetap berusaha menjauh.
Sandy menyergap Tera dan mendorong tubuh Tera hingga jatuh dengan keras ke lantai. Tera mengaduh kesakitan bahkan perutnya seakan protes akan perlakuan kasar Sandy.
Di rumah yang tengah di renovasi, Noa berpamitan pada Bunda dan Abah. Dimas di suruh Abah untuk ke warung kopi yang posisinya tak jauh dari kosan Noa.
Dimas pun Noa boncengi sampai kosan. Karena warung kopi tinggal beberapa langkah lagi, ia membiarkan Dimas berjalan sedikit kesana. Ia pun memarkirkan motor dan berseru pada Tera.
"Baby...ada puding nih." seru Noa yang lanjut berjalan ke kamar Tera, ia mengintip ruangan itu. Di dalam kamar itu kosong. Noa heran, Teranya tak ada.
Ia mencari ke semua ruangan di kosan bahkan kamar kosong tak luput dari perhatiannya.
Noa panik dan berlari keluar kosan. Bahkan puding itu ia simpan sembarangan. Dimas berjalan sembari membawa gelas plastik berisi kopi. Ia belum menyadari kepanikan Noa.
"Lur, gue pinjem motor lo dong." kata Dimas yang tengah berdiri di hadapan Noa.
Dimas menelan ludah dengan susah payah. Ia melihat sekilas pada gerbang rumah Sandy yang terbuka sedikit.
"Lur, kayaknya gue tau Tera dimana. Buru ikut gue."
Dimas berlari ke arah rumah Sandy.
Di dapur, Tera tengah memegangi perutnya yang sakit hingga membuat air matanya ingin menetes.
Karena tak siap dengan sesuatu yang Sandy lakukan, Tera pasrah. Kini Sandy menampar pipi Tera berkali-kali.
Ia membentur-benturkan kepala Tera di dinding tempatnya bersandar. Sakit di perut Tera semakin menjadi-jadi. Sandy terus melakukan kekasarannya pada Tera. Seakan tak puas dengan rintihan yang ia dengarkan.
"Noa..."
Kembali, Tera berharap lirih. Takut akan sesuatu yang akan terjadi dan ia tak bisa lagi bersama Noa.
Yang di panggil lirih namanya tengah berusaha secepat mungkin menemukan sosok kekasihnya.
Noa pun mengikuti arah lari Dimas di depannya. Pintu depan rumah Sandy terkunci rapat. Mereka mengawalinya dengan mengetuk tetapi tak ada sahutan dari dalam rumah.
Dimas menggedor pintu tetapi tetap tak ada respon dari penghuni rumah.
Suara teriakan Sandy menyadarkan Noa bahwa benar Tera berada di dalam sana. Ia khawatir dengan sesuatu yang akan ia lihat di dalam sana.
"Lepasin Noa. Jauhi dia." teriak Sandy.
Tera menggelengkan kepala kuat-kuat. Air mata berderai semakin deras. Sakit itu terus menyiksanya. Sandy membenturkan kepala Tera sekali lagi dengan lebih kencang dari sebelumnya.
Ia kembali membenturkan kepala Tera ke dinding. Penglihatan Tera berkunang-kunang. Seakan kesadarannya semakin berkurang. Penglihatannya pun semakin mengabur.
"Noa..." lirih Tera.
Yang namanya di panggil selirih itu masih berusaha menaklukan pintu yang kokoh. Noa mendobrak pintu depan itu. Dimas pun membantu.
__ADS_1
"Noa, yang waktu itu jeburin Tera ke danau itu si Sandy." kata Dimas yang telah menguak fakta.
Semakin kacaulah perasaan Noa. Harapan agar Tera masih baik-baik saja Noa panjatkan dalam doa sembari terus mendobrak pintu yang kokoh itu.
Akhirnya, pintu itu terbuka.
Noa berlari ke dalam rumah di ikuti oleh Dimas. Suara teriakan itu berasal dari dapur. Noa yakin, Teranya berada disana.
Dan pemandangan yang mengejutkan Noa adalah kondisi Tera yang sudah tak berdaya dengan Sandy yang berada di hadapannya.
"Sandy..."
Noa berteriak. Ia menerjang tubuh Sandy di hadapan yang tak berdaya.
Teriakan seseorang yang suaranya selalu mengisi hari-harinya, tak membuat kesadaran Tera kembali seperti semula. Noa telah datang. Ia mendengar panggilan itu. Sosok Noa mengabur dalam penglihatan Tera yang kian menggelap. Suara Noa bagaikan gaung yang jauh bagi pendengaran Tera. Dan semua menghitam.
Hanya memeluk Tera yang Noa lakukan. Ia meminta maaf dalam hati pada Tera karena ia gagal menjaga sang kekasih.
Dimas dengan sigap menahan pergerakan Sandy. Dari belakang tubuh Sandy, Dimas mengunci ruang geraknya.
Noa memeluk Tera dan menangisi kebodohannya. Sandy terisak dalam kuncian Dimas. Ia memelankan suaranya hingga hampir tak terdengar. Tetapi suara itu masih tertangkap indera pendengaran Noa.
"Gue cinta sama lo, Noa. Ini bukan ingin gue. Gak ada yang pengen ini semua terjadi, termasuk gue." isak Sandy.
Noa murka mendengar ucapan Sandy setelah sebagian kecil perbuatan kasar yang ia saksikan sendiri. Sandy telah menyakiti seseorang yang begitu berarti dalam hidup Noa.
"Lo keterlaluan. Gue udah bilang dari awal. Gue gak pernah kasih harapan." teriak Noa.
Sandy terisak dan berkata lirih. "Maaf Noa. Maafin gue. Maaf."
"Gue gak akan maafin lo." teriak Noa yang bangkit berdiri, ia berjalan melewati Sandy dan Dimas.
Noa meninggalkan mereka berdua. Entahlah, apa yang akan di lakukan Dimas pada Sandy. Yang terpenting bagi Noa adalah keselamatan Tera.
Dengan Tera dalam gendongan, Noa membawanya ke rumah sakit terdekat. Tera belum sadarkan diri. Dan Noa semakin diliputi rasa khawatir, ia di rundung oleh kesedihan karena takut akan sesuatu yang buruk.
Saat dokter memberitahukan bahwa keadaan Tera baik-baik saja, Noa bisa merasa sedikit lega.
Tentunya Noa bersyukur kala Tera siuman, ia menggapai tangan Noa. Dengan gerakan pasti, Noa meraih tangan Tera dimana cincin yang melingkari jari manisnya berkilauan di terpa sinar lampu ruangan.
Ia menangis. Noa panik dan bertanya padanya.
"Mana yang sakit?" tanya Noa.
Tera menggelengkan kepala. "Aku takut gak bisa ketemu kamu lagi."
Noa memeluk sang kekasih, Dokter menyarankan untuk Tera beristirahat di rumah. Menurut dokter tersebut, Tera mengalami syok.
Noa membawa Tera pulang ke kosan, ia tak ada niatan untuk meninggalkan Tera.
Di dalam kamar, musik yang berasal dari kotak musik mengalun indah. Setidaknya, Tera sekarang sedikit lebih tenang karena mendengarkan lagu yang lembut.
"Noa. Rumahku. Rumah tempatku kembali." lirih Tera.
Noa mengangguk, ia menatap Tera yang kini sedang bersender di dadanya. Tera mendongak dan kembali berbicara.
"----dulu, aku gak punya rumah yang selalu aku kangenin. Sendiri. Kesepian. Sejak ada kamu, semuanya berubah. Jadi indah." bisik Tera.
Noa berkata. "Semenjak bertemu kamu, untuk pertama kalinya aku selalu bersemangat bangun di pagi hari. Karena aku merasa harus terus memperjuangkan kamu."
"Noa kecil yang dulu aku maki, di masa depan jadi kekasih impian. Sampe orang lain berusaha keras dapetin kamu." kata Tera.
"Tapi hati aku udah tertancap oleh panah berukirkan nama Tera. Sejak awal kita bertemu di minimarket sampe detik ini." ujar Noa.
Tera memutar sedikit tubuhnya. Noa ingin memeluk Tera dalam dekapan erat saat ini. Menyalurkan rasa maaf dan terima kasih. Maaf untuk kelalaiannya. Dan rasa terima kasih untuk cinta yang di balas dengan ketulusan.
Noa tersenyum. 'Sungguh rasa sayang dan cinta itu tak pernah berkurang sedikit pun. Detik ini rasa itu semakin tumbuh dan berkembang.'
***
Tbc
__ADS_1