
"Wabah Jomblo..."
Tera sedang membaca judul sebuah artikel di majalah. Ia begitu serius untuk membaca lanjutannya. Lebih banyak lagi yang membuatnya penasaran karena judul yang menarik tersebut. Hm, unik.
"Jomblo sedang mewabah ke seantero negeri tercinta bahkan hingga seluruh dunia. Makhluk jomblo selalu dikaitkan dengan rasa galau yang ternyata masih belum disediakan obatnya di apotek terdekat kesayangan anda. Wabah jomblo sangatlah menular. Maka bila anda merasa mengetahui keberadaan jomblo sebaiknya tumpas habis saja. Wabah jomblo juga sering dikaitkan dengan bibit-bibit baru pelakor. Penyakit pelakor bagaikan parasit. Mereka membunuh inangnya secara perlahan. Jika di lingkungan anda terdapat bibit unggul pelakor tentunya anda harus menumpasnya pula. Caranya, siapkan golok yang sudah di asah. Carilah pohon kelapa yang berbuah banyak lalu panjatlah. Kemudian anda tebas tangkai buah kelapa. Bila di rasa sudah cukup banyak anda mendapatkan buah kelapa, buka kulit kelapa dengan menggunakan golok dan minum habis airnya. Hal itu sangat baik untuk pengganti ion tubuh anda di kala emosi. Dan berguna pula untuk memaki atau menjambak bibit unggul pelakor. Tentunya pohon seribu manfaat ini buahnya mempunyai banyak manfaat pula. Bilamana anda sudah meminum habis air kelapanya, maka anda bisa menimpuk makhluk seperti pelakor menggunakan batok kelapa tersebut. Lakukan berulang-ulang hingga pelakor menjadi kalis dan dapat di bentuk sesuai keinginan anda. Masukan ke dalam tungku panas dengan suhu seratus derajat celcius dan tunggu selama lima tahun. Dan...taraa...pelakor musnah seketika. Anda bisa menirunya di rumah agar pelakor segera punah dan hidup anda damai sentosa."
Noa mencibir, artikel macam apa itu. Seperti cara membuat aneka kue.
Tera kembali melanjutkan bacaannya yang belum selesai.
"----kembali ke topik kejombloan yang sedang mewabah bahkan yang sudah mempunyai pasangan pun selalu mengaku jomblo. Pihak jomblo asli dan jomblo sejati semakin terdesak. Mereka semakin tak mempunyai kesempatan untuk unjuk gigi. Karena unjuk gigi hanya bisa dilakukan di puskesmas. Mereka tak bisa melakukan unjuk rasa. Karena tak ada dewan perwakilan rakyat kejomblo-jombloan. Presiden jomblo pun masih berusaha mengubah nasib. Ia ingin mencari jodoh. Sedangkan rakyat jomblo jelata tak mendapatkan keadilan untuk mendapatkan pasangan. Karena para player dengan tampang terkampret selalu bisa merebut para cowok dan cewek yang keceh poenya. Jomblo akut pun tak mendapatkan pengobatan yang layak dari dokter cinta di rumah sakit patah hati. Surat rujukan tak bisa mereka dapatkan. Pengobatan untuk jomblo jelata yang miskin cinta tetap saja mencekik pengeluaran. Para fakir asmara semakin banyak dan pemerintahan negara jomblo tak bisa mengatasi kemacetan jomblo ini. Kerajaan jomblo sedunia sedang membuat wacana untuk memindahkan para jomblo ke planet TIBLO. Planet yang akan merubah nasib para jomblo. Planet TIBLO atau planet anTI jomBLO ini akan memberikan pasangan yang adil untuk para jomblo terutama untuk jomblo akut. Para alien atau penghuni asli planet TIBLO sangat antusias untuk menunggu kehadiran para jomblo disana. Mereka bersemangat sekali karena sudah menanti kesempatan beranak pinak dengan para jomblo. Demikian artikel ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Bila ada kesalahan kata saya ucapkan mohon maaf lahir dan hamil."
Tera menutup majalahnya lalu menatap Noa sembari cemberut. Noa heran dengan ekspresi semacam itu. Tera kemudian mengusel-uselkan kepalanya di dada Noa.
"Kamu kenapa? Bikin aku bingung." kata Noa.
"Ck, artikelnya pendek banget. Padahal aku pengen tau lebih banyak tentang pemusnahan pelakor. Terus kapan acara keberangkatan jomblo ke planet TIBLO. Kan si Dimas butuh itu, sayang. Dia mendingan di usung aja kesana. Sekalian Rima juga boyong aja. Oh, Sandy juga deh." ujar Tera.
Noa menepuk dahi. 'Tera emang polos dan menggemaskan.'
"Atuh baby. Itu artikel aneh kok di baca." kata Noa.
"iih, aku suka tau." ujar Tera.
"-----tuh, liat pake penerawangan Ki Kojo Dobo. Para jomblo juga kecewa berat gara-gara artikelnya bersambung." lanjut Tera.
"Kalo bersambung biasanya pindah halaman sama kolom." balas Noa.
"Ck, itu mah koran. Aku pengen liat sambungan artikelnya." rengek Tera.
"Atuh sayangku, kamu aja yang jadi penulis artikelnya. Biar gak usah nunggu lagi." ujar Noa.
Tera menjentikan jarinya. "Ah, aku suruh aja si Dimas yang bikin lanjutan artikelnya. Kalo gak mau, awas aja nanti aku kirim langsung ke planet TIBLO pake pesawat kertas."
Noa mengusap dada lega. Pasalnya, Tera tak menitahkan Noa. Ia akan menyiksa Dimas.
'Sial banget lo, Dim. Gue turut ayah ke kota. Ehm, turut berduka cita.' batin Noa.
Tera hendak mengirim pesan kepada Dimas perihal permintaan uniknya. Noa yang ingin menyelamatkan Dimas untuk sementara waktu pun segera meraih ponsel milik Tera. Setidaknya, Dimas masih bisa menghirup udara bebas selama beberapa menit ini.
"Tapi sebelum nyonya babuin Dimas, gimana kalo aku peluk dulu." rayu Noa.
"Pengen babuin Dimas sekarang." cicit manja Tera.
"Nanti aja, babuin yang puas. Sekarang aku pengen peluk kamu." bisik Noa.
Tera mengalungkan tangannya di leher Noa. Ia memeluk Noa erat-erat. Dan Noa pun akan selalu membalas hal yang sama hanya untuk kekasihnya.
Noa mensejajarkan wajahnya dengan wajah Tera. Tetapi Tera menunduk untuk menolak tatapan Noa. Dengan selembut mungkin, Noa mengangkat dagu Tera dan mensejajarkan wajah mereka.
Noa semakin mendekatkan wajah hingga hampir menempelkan ujung hidung mereka. Beradunya nafas begitu terasa saat ini.
"Jangan godain aku. Nanti aku gigit nih." cicit Tera.
"Ngancem, hem? Aku gak takut. Coba gigit yang kenceng."
Noa menampilkan senyuman yang menurut Tera sangat menyebalkan seakan ancaman Tera itu tak bisa membuatnya gentar.
"Nantangin, hem?" tanya Tera.
Wajah mereka semakin mendekat. Nafas mereka semakin terasa panas karena saling beradu dengan jarak yang lebih dekat.
"Iya, hem. Jangan ngancem aja. Buktiin." tantang Noa.
"Awas kalo kamu berdarah, aku gak tanggung jawab." ancam Tera.
"Aku suka diancam kayak gitu. Mana gigitan mematikannya." bisik Noa.
Mata mereka semakin dekat sehingga rasanya tatapan itu membuat mata mereka menjadi juling saking terfokusnya pada satu sama lain.
"Aku kasih gigitan menghidupkan. Aku gak mau buat gigitan mematikan." bisik Tera.
Noa kagum memandangi Kakak gemesnya itu. Seseorang yang kini telah menjadi kekasihnya.
"Kakak gemes, aku sayang kamu." bisik Noa.
"Sayang, hem? Aku juga sayang banget sama Adek mesum ini. Yang tercabul sepanjang masa dengan segala akal bulusnya."
Tera pun menjilat permukaan bibir Noa.
Ini yang Noa tunggu. Yang sejak beberapa menit yang lalu ia nantikan dari Kakak gemes yang kini telah berstatus menjadi kekasihnya.
Gigitan awalnya begitu lembut. Ia hanya bermain-main saja. Tetapi lama kelamaan ia terbawa suasana. Tera semakin menjadi nyonya ganas yang bagaikan kelaparan. Ia menjadikan bibir Noa sebagai cemilan.
Setidaknya, Tera melupakan niatnya yang unik barusan untuk menjadikan Dimas babu ketik dan di paksa kerja rodi membuat artikel.
Jangan menyebut ini sebuah pengorbanan. Karena Noa tak sedang mengorbankan diri untuk Dimas tetapi ia sedang bersenang hati memberikan sentuhan kasih sayang untuk kesayangannya. Miliknya.
"Yah, bener kan. Berdarah..."
"Hem, baby. Gapapa. Coba lanjutin lagi."
__ADS_1
***
"Gyaaaahhhh...si jomblo. Singkirkan dia." teriak Tera ketika melihat Dimas menghampiri mereka.
Saat itu Dimas belum menyadari bahwa dirinyalah yang diteriaki oleh Tera. Dimas celingukan mencari sosok jomblo di taman itu. Tetapi ketika ia melihat arah telunjuk Tera yang sedang menunjuk kepada dirinya, Dimas mendengus lalu cemberut total.
"Apaan tadi? Jomblo? Bentar lagi gue jadi mantan jomblo nih." gerutu Dimas yang tak terima diteriaki statusnya di khalayak ramai.
"----bibir si Noa kenapa tuh?" tanyanya yang lebih kepada dirinya sendiri.
Noa pun menjawab sesuka hati. "Ini pertanda gue bukan jomblo. Ada yang mau gigitin bibir gue. Kurang enak apa coba gue ini, hem? Artinya Tera doyan ke gue."
"Sok enak lo, anak kampret. Gue gak doyan sama lo." balas Dimas.
"Gue juga ogah sama lo. Ini yang gue doyan. Cuma satu dan gak ada abisnya."
Noa merangkul pundak Tera yang sedang memeletkan lidahnya kepada Dimas.
"Nyonya, lo beneran cantik ya. Gemesin."
Dimas tertawa tanpa beban. Ia menggusak rambut Tera dengan gemasnya.
"iih, jangan puji gue. Pasti lo pengen minta di beliin cimol mang Brandon kan?" tuding Tera.
Ya. Ucapan Dimas menjadi salah satu yang bisa mengukuhkan diri Tera sebagai Kakak gemes. Hm, selain Kakak gemes, ia juga anak kucing yang manis.
"Dih, yang jomblo mah dicurigain mulu." kata Dimas.
Ia duduk di samping Noa sembari menghembuskan nafas kasar. Noa menaikan sebelah alis ketika melirik Dimas. Sedangkan Tera mengelus perutnya dan menunjukan wajah memelas kepada Noa.
"Laper...pengen jajan yang banyak." rengek Tera.
"Mau jajan apa, baby?" tanya Noa.
"Pengen burjo, bubur ketan item, bubur sumsum, cilok dua ratus biji, bakso setan gentayangan, bakso misterius, mie yamin, bakpao, cakue, odading, bandros, ciki bal, cimol lima ratus ribu rupiah, seblak kerupuk satu baskom, sama es lilin mang Ojo segerobak."
Tera sedang mengabsen jajanan yang ada dalam daftar maruknya hari ini.
"Dim, lo beliin semua yang Tera mau. Inget, perintah nyonya. Gak boleh sedikit pun nyonya kecewa. Nih, kartu ATM gue. Beliin semuanya. Atau lo mau gue blacklist dari daftar peduli jomblo gue." perintah dan ancaman Noa segera di angguki Dimas yang sedang bersusah payah meneguk ludahnya.
"Jangan nelen ludah mulu. Buru laksanakan." kata Tera.
Dimas menerima kartu ATM Noa dan memberikan sikap hormat sembari berdiri tegak.
"Siap pak bos. Siap nyonya besar"
Tetapi Dimas kebingungan setelah melihat kartu ATM yang sudah berpindah tangan itu.
"----gue gak tau nomor pin lo. Gimana caranya gue ambil duit lo?"
"Sue, yang bener aja. Emang mamang keliling itu bawa mesin EDC gitu? Tetep butuh pin. Ngaco lo, ngarang bebas." dumel Dimas.
"Dagangan Mang Ojo udah bisa di bayar pake kartu debit. Buru beliin yang gue sebutkan tadi." omel Tera.
"Gue udah kirim nomor pin lewat chat. Buru beliin yang Tera mau." ujar Noa.
Setelah usiran itu, Dimas berjalan pergi menjauhi taman. Noa dan Tera berjalan pulang ke kosan karena hari sudah sangat sore. Waktunya mereka pulang ke rumah bersama rumah untuk hati mereka.
***
"Ini semua gara-gara lo, Rim. Lo yang bawa wabah jomblo. Lo itu menular." gerutu kang Acep.
Noa dan Tera baru saja sampai di kosan. Mereka langsung disuguhi perdebatan khas anak kost. Kerusuhan yang tak pernah berhenti di setiap harinya.
Rima yang tak terima dengan pernyataan dari kang Acep pun sedang membela diri dan hak asasinya sebagai jomblowati sejati.
"Gue sebagai duta jomblo sejagat gak terima dikatain wabah jomblo. Gue gak menular dan gak menulari kalian jadi jomblo. Lo emang nasibnya jelek aja, Cep. Tuh, si Noa akur bae sama Tera." bela Rima.
"Tapi ini semua karena di awali gue yang jalan bareng lo di koridor kampus. Tiba-tiba cewek gue mutusin. Kalo lo bukan jomblo menular terus gue harus sebut apa diri lo?" dumel kang Acep.
Kang Jhon yang sudah wisuda satu minggu yang lalu pun kini sedang disibukan oleh pencariannya untuk mulai bernafkah ria. Ia yang merasa terganggu oleh keributan itu pun mulai angkat bicara.
"Rim, lo mungkin emang menular. Si Acep itu awet banget sama ceweknya. Kalo lo pengen tau, gue barusan abis beli sate sama lo, status gue berubah lagi jadi jomblo." kata kang Jhon.
"Lah, kok gitu? Ada apa sama gue? Kenapa gue yang kalian zolimi? Gue ini cantik yang belum di berdayakan." ujar Rima.
"Mendingan teh Rima kita boyong aja ke planet TIBLO." celetuk Tera.
"Hem, gue punya usul. Mendingan bawa Rima rame-rame ke penangkaran makhluk jomblo. Gue agak ngeri nanti dia punah." usul Noa.
"Mendingan dia musnah aja." sewot kang Acep.
Rima pun berdiri tegak. "Cep, kok lo nyolot sih. Bukan salah gue, lo jadi jomblo. Gue kok di pojokin. Gue bukan warung pojok. Gue kok di sudutin. Gue bukan sofa sudut."
Noa dan Tera duduk sembari menyimak tontonan seru tentang perdebatan para jomblo di gedung DPR ini. Daerah Pertengahan Ruangan.
"Noa, menurut lo dan akal bulus terasoy punya lo, si Rima ini salah apa enggak?" tanya kang Acep meminta pendapat sekaligus dukungan.
"Ck, jomblo gak menular. Tapi gak tau deh sama masalah si Rima. Kayaknya dia emang wabah jomblo." tanggap Noa.
Kang Acep merasa menang oleh dukungan Noa. Rima semakin menjadi jomblo terpojokan. Kang Jhon yang memang sudah terbiasa menjadi jomblo akut pun tak memperdulikan lagi statusnya yang hari ini berubah menjadi status jomblo baru.
__ADS_1
Sedangkan kang Acep yang baru kali ini menyandang status jomblo jelas saja menjadi merana. Noa pun miris melihat nasib kejombloan dadakan mereka. Mungkin karma dari Rima baru saja sampai ke para zolimin tersebut. Karena tempo hari karma tidak naik jet seperti biasanya di sebabkan sedang kesulitan finansial, akhirnya karma tersebut naik odong-odong. Dan baru tiba hari ini melibas habis kang Acep dan kang Jhon.
Sementara itu, Dimas datang ke kosan berbarengan dengan Ahmad yang juga baru sampai. Mereka memarkirkan motornya berjamaah. Dimas membawa banyak gembolan plastik yang sudah dapat dipastikan berisi semua jajanan yang di pesan oleh Tera.
Dengan wajah kusut, Dimas menghampiri Noa sembari mengembalikan kartu debitnya. Kemudian Dimas dan Tera melakukan serah terima plastik jajanan. Dengan senang hati, Tera menerimanya. Lalu dengan berlapang dada dan mengurut dada, Dimas tak mendapatkan jatah jajanan tersebut.
Noa mengakui bahwa Tera saat ini semakin berisi, dalam bahasa ilmiah Jawa Baratnya biasa di sebut Tera bahenol nerkom bin semok aduhai bohay.
Ahmad duduk di samping Tera sembari mengintip isi plastik jajanan.
Perdebatan yang masih berlangsung itu kembali mencuri perhatian Noa.
"Rim, lo mesti ubah status gue biar gak jomblo lagi. Atau besok gue bawa lo ke posyandu biar di imunisasi anti wabah jomblo." gerutu kang Acep.
"He'eh, Rim. Kayaknya wabah jomblo ini di bawa lo. Menular ke gue sama si Acep." ujar kang Jhon.
Ahmad yang menangkap sinyal kesialan pun mulai masuk ke perdebatan terbuka ini.
"Ck, teh Rima. Gue ogah deketan sama lo. Gue baru dapet pacar. Dan gue ogah jomblo dini."
"Terus si Dimas gimana? Dia jomblo juga loh." celetuk Tera sembari menunjuk Dimas.
Perhatian semua orang tertuju kepada Dimas. Rima beberapa menit ini akan terbebas dari kezoliman yang lainnya, ia masih diberikan nafas lega.
"Dim, lo jomblo dari lahir. Jangan deketin gue. Menurut artikel yang gue baca onlen, jomblo dari lahir itu ngenes. Wabah jomblo paling parah dan susah di obati." kata Ahmad yang sudah menjauhi sosok Dimas.
Rima dan Dimas telah menjadi makhluk jomblo yang di zolimi. Noa merasa kasihan kepada mereka. Mungkin suatu saat nanti mereka akan mendapatkan cinta. Tapi bila saat ini mereka membutuhkan bantuannya, akan Noa pastikan untuk membantu mereka sekuat akal bulusnya.
'Pantang menyerah, wajib di terima'. Motto Noa yang tertancap dan tertanam di dalam hati ketika ia mengejar Tera. Dan untuk motto baru Noa saat ini ialah 'Pantang gagal, pantang galau'.
"Gue juga ogah jomblo. Kok kalian jauhin gue? Lo juga, Mad. Jahat lo. Mentang-mentang lo udah laku." kata Dimas.
Rima tak ingin kalah. Ia membela dirinya pula.
"Gue bukan wabah jomblo. Bukan."
"Lo wabah jomblo." keukeuh kang Acep.
"Lo emang wabah jomblo, Rim." ujar kang Jhon dengan santai.
"Noa, bantuin gue dapetin pacar. Gue gak mau di katain wabah jomblo." kata Rima.
"Noa, lo yang sohib kental gue juga harus bantuin gue. Bantuan lo belum sampe akhir." kata Dimas mengingatkan.
"Gue bantu semampunya. Karena gue belum mampu sedekah cinta buat para fakir asmara, jadi gue mikirin dulu cara buat bantuin kalian." ujar Noa dengan kalem.
Tera tertawa kecil mendengarkan penuturan Noa. Ia menyeletukan satu kalimat.
"Bayar tiket bantuan mantan wabah jomblo ke gue."
"Siap nyonya." koor Dimas dan Rima.
Kang Acep dan kang Jhon tak ingin jomblo pula. Mereka pun melakukan transaksi dengan Tera. Noa mendengus geli melihat pemandangan tersebut. Penampakan teman-temannya yang bercanda transaksi bersama Tera. Padahal mereka hanya modus mendekati Tera untuk mendapatkan icip jajanan.
Tera dengan jiwa nyonya sejati menyuapi para prajurit yang masih bertahan dengan kejombloan yang hakiki. Terkecuali Ahmad yang sudah terlepas dari belenggu kejombloan.
"Ini foto siapa?"
Tera mengacungkan selembar foto berpose alay.
Serentak semua mata jelalatan melihat ke acungan tangan Tera yang masih memegangi selembar foto.
"Cih, alay." celetuk Rima.
"Foto gue..."
Kang Jhon menoyor kepala Rima.
"iih.. Jhon lo udah tobat di fase alay sekarang?"
Kang Acep menilik penampilan kang Jhon. Ia menerka-nerka mungkin kang Jhon masih di fase alay.
"Bukan. Kang Jhon udah di fase mohon maaf." ujar Noa dengan segala kekaleman.
Kang Jhon mengambil fotonya yang berada di tangan Tera. Lalu ia menyimpan di selipan buku agendanya. Ia tak ingin fotonya di jadikan konsumsi publik nyinyir.
"Tobat Jhon." kata kang Acep.
"Sia lah. Gak denger lo. Si Noa bilang gue udah di fase mohon maaf?" bela kang Jhon.
Tera masih asyik memakan cemilan super banyaknya, Noa mengajaknya ke dalam kamar untuk menyelamatkan Tera dari stress berlebihan akibat perdebatan dalam kosan ini setiap harinya. Kosan masih kisruh oleh mereka dengan judul kerusuhan yang hakiki.
"Bobo aja ya. Jangan dengerin debat di luar." ujar Noa.
Tera mengangguk. "Kita mah gak akan jadi jomblo kan, sayang?"
"Gak atuh, sayangku."
Kemudian dengan rasa sayang dan syukur tak terkira, Noa mengecup kening Tera.
Kecupan yang lama itu sebagai simbol Noa tengah menyalurkan perasaan cinta yang tak akan berakhir dengan kejombloan tragis.
__ADS_1
***
Tbc