
"Saya terima nikah dan kawinnya Tera Ramadhani bin...eh, binti bapak... euh, bapak kamu namanya siapa, baby? Euh, skip dulu deh. Dengan mas kawin seperangkat alat kontrasepsi di bayar tunai." kata Noa.
Tera menggeleng pelan mendengarkan ucapan Noa di pagi hari ini. Rajinnya Noa yang pagi ini sudah mengapeli Tera ke kamarnya.
"Kamu ngigau atau ngapalin?" tanya Tera kalem.
Noa cengengesan. "Persiapan. Biar sekali ucap langsung sah."
"Hm, kamu mikirnya kejauhan. Masih lama tau." kata Tera.
"Waktu itu cepet berlalu." kata Noa penuh kekaleman.
"----hari ini gak ada bunga di pagi hari. Hm, selama liburan seminggu disini, baby." ucap Noa penuh penyesalan.
Tera menghela nafas. Ia bergeser sedikit kemudian menghadap wajah Noa. Ia mengelus pipi kekasihnya.
Tera membatin. 'Hm, suhu badannya masih belum normal.'
"Gapapa." bisik Tera penuh kelembutan.
Noa mendekatkan wajahnya, ia mengecup pipi Tera penuh sayang. Ia berbisik di telinga Tera, panas nafasnya dan sensasi geli bergabung menjadi satu. Perasaan berdebar itu membuat pipi Tera memanas.
Noa berbisik. "Sebagai gantinya, hari ini kita ke taman bunga Cipanas aja. Mau gak?"
Tera menggangguk kecil. "Mau. Aku buatin sarapan ya. Bubur merah mau gak?"
"Bubur merah yang manis itu ya. Mau, aku pengen makan itu." kata Noa antusias.
Semangatnya itu patut di acungi jempol, padahal kondisinya masih belum menandakan bahwa ia kembali sehat.
Semalam, setelah makan malam usai Tera meminta pada Noa untuk berbelanja bahan makanan. Mereka menyempatkan ke sebuah supermarket di sela kantuk semua orang yang berada dalam mobil.
Agar Noa cepat sembuh, ia tak boleh banyak makan dan jajan di luar. Itulah tekad Tera.
Setelah membersihkan diri, Tera bergegas memasuki dapur untuk membuatkan sarapan bubur merah manis seperti keinginan Noa.
Sedangkan Noa berkumpul bersama dua sahabatnya, mereka sedang bermain congklak yang Ahmad temukan di belakang villa. Mungkin mainan itu milik penyewa villa sebelumnya yang tertinggal disini.
Candaan dan ledekan mewarnai kebersamaan mereka. Saling melempar ejekan sudah jadi hal yang lumrah untuk mereka.
Sandy memasuki dapur, ia membuat cokelat panas yang asapnya mengepul di gelasnya. Ia melirik sinis tanpa berkata apa-apa. Tera pun cuek dengan tetap melanjutkan mengaduk bubur.
Saat perhatian Tera tercurah hanya pada panci bubur, tangan yang ia gunakan untuk mengaduk bubur di tepis kasar oleh Sandy membuat Tera mengangkat wajahnya.
"Apa yang dia liat dari diri lo?" sinis Sandy.
Tera tersenyum. "Tanyakan sendiri. Lo bakal dapet jawaban dari dia."
"Jangan bersikap sok lembut." kata Sandy penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.
"Karena orang seperti lo, wajib di kasihani." ucap Tera penuh kelembutan.
Bubur yang ia buat sudah matang. Ia mengangkat panci dari atas kompor lalu menciduk beberapa sendok besar ke dalam mangkuk. Tera pun berjalan membawa satu mangkuk bubur merah ke tempat dimana Noa berada.
Mereka masih memainkan congklak. Ada percakapan yang sengaja Tera simak sebelum berjalan mendekati mereka.
"Si Ahmad, licik lo. Masa satu lobang lo isi dua biji." protes Dimas.
"Kan emang kayak gitu, Dim."
Noa dengan kalemnya menjawab ucapan Dimas.
"Iya bener. Orang yang maen gue sama si Noa. Lo yang ribet." kata Ahmad menjitak kepala Dimas dengan senang hati.
Dimas mengaduh, lalu bertanya pada Noa. "Maksudnya? Gue gak ngerti."
Noa nyengir lebar. Ahmad yang menjawab pertanyaan Dimas.
"Lo punya dua biji buat satu lobang kan. Emang biasanya lo pisah satu-satu?"
"Cabul lo." gerutu Dimas.
Tera menggelengkan kepala saat mendengarkan candaan mereka yang super mesum di hari yang masih pagi ini.
Ketika Tera menghampiri Noa yang masih setia duduk memunggunginya, Dimas dan Ahmad berteriak heboh.
"Tera...gue mau." teriak Ahmad.
Dimas pun heboh. "Emmm...wangi. Buat gue ada gak?"
Tera duduk di hadapan Noa, ia menjawab pertanyaan Dimas.
"Ada. Masih banyak di panci."
Setelah ucapan itu berakhir, Dimas dan Ahmad berlari cepat-cepatan, mereka berlomba menuju dapur, saling sikut menyikut dan mendorong hingga Dimas jatuh terjengkang dengan bunyi gedebuk keras.
Noa tak mempedulikan mereka. Ia melihat isi mangkuk yang masih mengepulkan asap.
__ADS_1
Tera menyuapinya, suapan pertama itu Noa makan dengan semangat.
"Enak..." ucap Noa.
Ia mencolek tangan Tera sebagai isyarat meminta suapan lagi.
"Udah ini minum obat lagi ya." bujuk Tera.
Noa hanya mengangguk. Tera pun kembali menyuapinya.
"-----abisin ya."
Sandy memperhatikan mereka, Noa duduk memunggungi Sandy dan ia tak tahu apa yang Sandy lakukan. Sesekali Tera mencuri pandang pada Sandy yang menatap penuh rasa benci padanya. Sandy memegangi gelas isi cokelat panasnya, ia tersenyum mengejek pada Tera.
"Udah abis. Mau nambah?" tanya Tera.
Noa menggeleng. "Minum obat aja. Udah kenyang."
Tera tertawa kecil mendengarkan ucapan Noa.
"Tumben, biasanya harus di bujuk. Susah banget, bikin jengkel tau."
"Aku gak mau repotin kamu." ucap Noa santai.
"Aku gak ngerasa di repotin." bisik Tera.
Mengambil obat Noa di kamar, Tera melewati Sandy yang masih berdiri memperhatikan. Ia kembali dengan membawa gelas berisi air mineral dan obat.
Noa tanpa perlu di bujuk pun menelan obatnya. Biasanya ia akan protes di waktu-waktu yang mengharuskannya untuk minum obat. Ia benci obat, dan di saat ia luka atau sakit selalu ia biarkan. Alasannya, hanya karena membenci obat yang fungsinya mengobati dan menyembuhkan. Terlalu cuek dan santai juga kebenciannya dengan segala bentuk pengobatan membuat sakitnya menjadi awet.
***
Menjelang siang, Noa melajukan mobil ke Cipanas. Membawa mereka semua mengunjungi taman bunga. Tak tega melihat kondisinya yang masih sakit dengan wajah yang pucat itu, Tera memandangi Noa. Sayangnya fokus Noa hanya pada jalanan di depannya.
Sesampainya di taman bunga, semua berkeliling. Memasuki labirin pun mereka tempuhi. Mereka tersesat berkali-kali. Ahmad dengan kelicikannya menembus tembok labirin yang di buat dari tanaman yang di potong rapi. Dimas menaiki pagar tanaman tembok labirin yang lebih tebal. Kelakuan mereka untungnya tak menular pada Noa.
Ia bersikap wibawa. Membawa peta dan menggandeng tangan Tera. Sandy mengajaknya mengobrol agar perhatian Noa tercurah padanya. Sayangnya, Noa selalu melibatkan Tera dalam setiap obrolannya bersama Sandy. Membuat Sandy semakin jengkel pada Tera.
Setelah puas bermain di labirin, mereka berkeliling kembali. Tera pamit pada Noa untuk ke toilet. Sandy mengikuti dengan memberi jarak, Tera tahu tetapi berpura-pura tak tahu.
Keluar dari toilet, di depan pintu Sandy telah menyambut. Tera tersenyum seadanya dan menghindar pergi, namun Sandy mencekal tangan Tera dengan sangat kencang.
"Biarin Noa sama gue. Lo udah nyakitin dia sebelumnya. Lo tolak dia, sok jual mahal. Sekarang lo nempelin dia. Buat apa? Demi biaya hidup yang bisa lo irit dengan memacari Noa." kata Sandy menohok ke hati Tera.
"Gue gak semurah itu." celetuk Tera.
"Gak usah ngelabrak kayak gitu. Ngomong di depan Noa. Biar dia tau, Sandy."
"Harusnya ini bukan urusan lo." maki Sandy.
"Emang bukan. Urusan gue sekarang itu jemput Tera yang kelamaan di toilet." ucap Dimas santai. Ia melihat Sandy yang murka dan berpindah memandang Tera.
"----Noa nungguin."
Tera dan Dimas berjalan beriringan, meninggalkan Sandy yang berjalan di belakang.
Tera kembali ke tempat dimana Noa menanti. Noa tersenyum mengajak Tera untuk duduk di sampingnya.
"Lama ya. Toiletnya penuh?" tanya Noa.
"Iya penuh."
Dimas yang menjawab dan Tera hanya mengangguk membenarkan yang bukan suatu kebenaran. Tera pun memaksakan senyuman pada Noa.
Sandy hendak duduk di samping Noa, tetapi Dimas dengan sigap menarik Sandy.
"Selfie yuk. Gue belum punya foto sama lo, Sandy. Iya kan, Mad."
Ahmad mengiyakan. Mereka berfoto bertiga. Ketika Tera menoleh sekilas, Ahmad memberikan isyarat berbicara tanpa suara.
"Enjoy, Tera."
Itulah ucapan Ahmad yang Tera angguki.
"Foto yuk, baby." kata Noa.
Ia memposisikan kamera depan ponselnya. Mereka berfoto dalam berbagai gaya.
"Lur, keliling Bogor yuk. Sekalian wisata kuliner." ajak Ahmad.
"Boleh. Sekarang aja mumpung masih siang." jawab Noa kalem.
Ia menggandeng tangan Tera hingga ke parkiran.
Mereka melanjutkan perjalanan berkeliling kota Bogor. Bahkan berwisata kuliner hingga perut Dimas tak mampu menampung makanan lagi. Ahmad pun lemas dan susah bergerak, ia mengantuk dan tertidur selama perjalanan pulang.
Sandy selalu mengajak Noa mengobrol sepanjang perjalanan. Kemacetan tak membuat Noa mengeluh. Padahal Tera tahu, bahwa Noa kelelahan menyetir seharian.
__ADS_1
Sampai di villa, Dimas berjalan terseok-seok karena kekenyangan. Ahmad duduk di teras depan sambil mengelus perutnya. Dan Tera menuju teras belakang, hari ini ia ingin melihat pemandangan puncak di malam hari.
Noa masih asyik mengobrol dengan Sandy. Suaranya terdengar semakin jelas, mereka menuju ke tempat dimana Tera sedang duduk menikmati udara dingin menusuk tulang.
Hanya semilir angin malam yang menusuk tulang dan sendi, hanya rerumputan yang menjadi alas duduk Tera saat ini. Ia menengadahkan wajah menatap gelapnya langit malam. Langit yang begitu sendu.
Suara Noa dan Sandy semakin jelas terdengar menandakan mereka semakin dekat menuju ke belakang villa. Mereka berjalan menghampiri Tera. Noa yang baru setengah perjalanan menepuk dahi dan berbicara pada Sandy.
"Duh, dingin. Gue mau ambil jaket buat Tera dulu ya. Lo mau sekalian gue ambilin?" kata Noa.
"Ehm, gak usah. Ya udah ambil dulu aja." ucap Sandy.
Noa berbalik jalan memasuki villa kembali. Sandy menghampiri Tera, ia duduk di samping Tera sembari melihat sesekali ke arah pintu belakang villa.
"Kasian banget ya, Noa. Suka sama orang yang cuma manfaatin dia doang karena biaya hidup." sindir Sandy begitu menohok demi menyudutkan diri Tera.
'Bukan. Kenyataannya bukan itu. Dia cuma memojokan gue. Kenyataannya gue sungguh menyayangi Noa. Seiring berjalannya waktu. Iya.' batin Tera.
"Gue gak merasa tersudut. Berusahalah ambil hatinya. Kalo dia bales perasaan lo, gue rela pergi." kata Tera.
Noa kembali dengan terburu-buru. Sandy bersikap ramah kembali. Sifatnya seperti penjilat.
"Pake jaketnya dulu. Dingin banget." titah Noa.
Ia memakaikan jaket untuk Tera. Padahal dirinya sendiri tak mengenakan jaket. Sandy undur diri dengan alasan mengantuk.
Noa mengangguk dan Sandy berlalu pergi seperti biasa mengabaikan Tera seakan ia sesuatu yang tak kasat mata.
Noa duduk di samping Tera, ia memandangi wajah Tera dari samping. Ia menyadari ada yang berbeda dari diri kekasihnya.
Sedangkan Tera menghembuskan nafas berkali-kali agar menetralkan kembali perasaannya. Ia menghela nafas panjang ingin membuang kekesalan yang masih mendominasi.
Kalimat yang Sandy ucapkan sungguh membuat hatinya sakit. Dan ia tak rela bila Noa di miliki yang lain. Ia tak ingin pergi seandainya Noa memilih yang lain.
Noa menepuk tangan Tera untuk meminta perhatian. Tera menoleh pada wajah pucat yang kini terlihat sendu.
"Kenapa?" tanya Noa pelan.
"Kamu kok sedih gitu?" tanya balik Tera yang mengabaikan pertanyaan yang begitu sulit untuk diberikan jawabannya.
Noa menghela nafas. "Ketularan kamu."
"Aku gapapa." jawab Tera sekenanya.
Noa mendongak. Melihat langit luas tak berbintang.
"Kalo ada bintang, kamu masih sedih gak?"
Tera menengadah, ia memejamkan mata sejenak dan menghembuskan nafas perlahan.
"Langitnya tanpa bintang." gumam Tera.
Noa mengangkat tubuh Tera agar mendekat padanya. Ia memangku dan mendekap Tera dengan erat. Dari tengkuknya, Tera merasakan hembusan nafas panas Noa.
Dengan santainya Noa mengotak atik ponselnya. Ia menunjukan layar ponsel yang memperlihatkan suasana langit malam di penuhi bintang yang berkelip.
"Bintangnya disini. Mungkin besok bintang di langit gak akan maen petak umpet lagi. Kamu bisa liat kerlipan aslinya." ucap Noa penuh kelembutan.
Meraih ponsel Noa, Tera memposisikan ponsel itu ke arah langit. Ia menengadahkan kepala dan tersenyum.
"Ini. Bintangnya udah ada di langit. Udah bosen sembunyi." kata Tera.
Noa pun mendongak melihat ponselnya yang Tera pegangi tinggi-tinggi dengan kedua tangan. Ia melingkarkan tangannya ke perut Tera dengan erat.
Hidungnya kini menyentuh bahu Tera. Nafas yang panas dan tubuh yang menggigil membuat Tera mengembalikan perhatian pada Noa.
"Besok malem kita liat bintang lagi ya. Barangkali bintangnya gak akan malu-malu lagi." gumam Noa.
Tera mengangguk. "Pasti bagus banget ya, pemandangan disini kalo ada banyak bintang."
Noa pun mengangguk setuju. Tera menoleh melihat wajah Noa. Wajah kerinduannya. Noa mengulas senyum sekilas. Wajah sendu itu tak mengurangi ketampanannya. Ia begini karena terbawa oleh perasaan kekasihnya.
Tera mendekat ke wajah yang menghadap padanya. Kini wajah Noa merunduk mendekati wajah Tera yang tak di biarkan menunduk.
Hidung mereka pun bersentuhan. Noa kembali membuat hati Tera berbunga-bunga dengan ungkapan sebarisnya.
"Tera... wujud rasa cinta, kasih sayang dan kerinduanku." kata Noa.
Tera hanya membalas ucapan itu dengan senyuman. Kehangatan mereka begitu kontras dengan udara di sekitar.
Terakhir, Noa membuat keromantisan mereka kian lengkap dengan untaian kata yang mengundang senyuman.
"Saya terima nikah dan kawinnya Tera Ramadhani..."
"Udah di terima kok, sayangku..."
***
__ADS_1
Tbc