Kakak Gemes

Kakak Gemes
Kenangan itu...


__ADS_3

Siang menjelang sore hari yang masih sangat cerah. Terik menyengat itu kini sedang berganti ke sejuknya kembali.


"Dim, gue pengen si Justin lo jauhin dari calon suami gue." omel Tera.


Woooow...calon suami? Noa suka, kawan.


Dimas mengisyaratkan Justin untuk menjauhi Noa. Tetapi Justin tetap menjadi monyet pelakor yang nakal. Ia masih setia bergelendotan dalam gendongan Noa.


Calon suami Tera itu malah keenakan selingkuh terbuka. Ia dengan santainya menepuk-nepuk pantat Justin. Noa mesumnya tak melihat manusia dan monyet. Semua ia berikan perhatian. Semua ia perlakukan sama.


Kini Tera merasa keimutannya dengan Justin sedang bersaing. Ternyata Sandy saja kalah oleh pesona Justin. Noa lebih peduli kepada Justin.


"Si anak cabul. Bini lo ngamuk tuh." ujar Ahmad.


Noa menampilkan cengiran lebar anti amukan. Ia menurunkan Justin dari gendongannya. Tetapi Justin si monyet pelakor itu malah sengaja terus menempel di badan Noa. Ia tak mau di lepaskan dari gendongan calon suami Tera.


Justin memeletkan lidahnya. Ia meledek Tera.


"uu..aa...uuuu...aaaaaa..."


Tera menoleh kepada Dimas yang kini sedang berjengit ngeri melihat tampang Tera yang garang.


"Terjemahin. Apa kata si pelakor?" tuntut Tera.


Dimas salah tingkah, ia melirik ke kanan dan ke kiri meminta dukungan dari makhluk tak kasat mata. Karena Noa dan Ahmad ada dihadapannya.


"Euh, itu...euh...Justin sini. Buruan. Ntar lo di tikam pake garpu." kata Dimas menitahkan Justin untuk mendekatinya.


"Lo jangan mengalihkan obrolan, Dim. Apaan tadi artinya?"


Tera mulai bersungut-sungut kembali.


"Itu...hm, kata Justin..dia juga mau minta di nikahin si Noa. Dia pengen menyandang status momil." jelas Dimas.


"Apaan momil?" tanya Ahmad.


"Ck, monyet hamil lah." jawab Noa kalem.


"Justiiiiiiiinnnn...lepasin calon suami gue." teriak Tera.


Justin tetap anteng dalam gendongan Noa. Membuat Tera semakin naik darah. Karena Noa pun tak berusaha lagi untuk melepaskan Justin dari gendongannya, Tera pergi dari hadapan tiga manusia dan satu monyet langka tersebut.


"Baby...."


Halaman depan rumah Dimas lumayan luas. Tera berjalan cepat-cepat, tak menghiraukan seruan Noa yang jauh di belakangnya. Ternyata Justin itu lebih berbahaya daripada Sandy.


"Tera...sayang..."


Tera terus mengabaikan panggilan Noa. Ia terus berjalan secepat yang ia bisa. Noa masih berusaha mengejarnya. Selintas Noa teringat aksi pengejarannya ketika tunas cinta itu belum tumbuh. Ketika benih rasa itu belum terasa.


"Baby Tera...." seru Noa memanggil Tera kembali.


Entahlah, bagaimana Noa bisa melepaskan Justin dari gendongannya. Ketika Tera pergi dari hadapan mereka dan Noa berusaha mengejarnya, Justin sudah lepas dari gendongan Noa.


"...awww...."


Tiba-tiba saja perut Tera memberontak serasa mau copot. Serasa dililit dan di tarik kuat-kuat. Ia tetap melanjutkan untuk berjalan seraya memegangi perut dan tertunduk-tunduk.


"Aww...."


Noa meraih pinggang Tera dari belakang, tiba-tiba saja Tera di angkat ke gendongan Noa. Tersadar akan sesuatu, Tera berontak dalam gendongan Noa.


"Lepasin..." gerutu Tera.


"Diem, baby. Nanti kamu jatoh. Mau jatoh, hem?" ujar Noa dengan santainya.


Setelah itu Tera pun terdiam sembari murung. Tak mencoba berontak kembali karena perutnya terasa sakit kembali. Noa kembali membawa Tera ke rumah Dimas. Tetapi Tera protes pada Noa.


Sembari menghela nafas panjang, Noa berjalan masih sembari menggendong Tera. kemudian mereka menuju rumah Tera yang tak jauh dari rumah Dimas. Dalam gendongan Noa, Tera merasakan kenyamanan.


Hingga Tera tak menyadari bahwa ia sudah dibaringkan di atas kasur. Noa duduk di samping Tera yang berbaring. Ia mengecupi punggung tangan Tera berkali-kali.


Tera mencoba untuk bangun dan duduk dengan di bantu oleh Noa. Tera meraih bibir Noa, lalu menggigit dengan gemas di bagian bibir bawahnya. Noa terkejut saat Tera dengan nakal menggigitnya keras-keras. Bibir Noa yang baru saja sembuh dari luka gigitan Tera tempo hari kini terluka kembali. Terasa bibir itu sobek dan berdarah.


Tetapi Tera tak peduli dan Noa pun membiarkannya. Ia membebaskan Tera melakukan apapun padanya. Semakin hari Tera semakin agresif. Noa hanya maklum.


Setelah puas dengan kenakalannya sendiri, Tera kembali berbaring seraya menatap langit-langit kamar.


Noa tiduran menyamping dengan tangan menopang kepala. Tera pun ikut berbaring menyamping.


"Laper, hem?" tanya Noa ambigu.


Tera menautkan alis. "Enggak, iih."


"Aku kira laper, baby. Kamu brangasan gigitin akunya." ucap Noa kalem.


Tera tak bisa membalas ucapannya. Hanya menampilkan cengiran lebar sajalah yang bisa ia lakukan. Noa menggusak rambut Tera dengan sayang.

__ADS_1


"Eh, aku laper..."


Tanpa aba-aba dan Noa pun tak menyadarinya di awal, Tera mengalungkan tangan di tengkuk Noa yang kemudian merunduk karena paksaan. Dan selanjutnya, Noa hanya berpasrah diri tak akan bisa mencicipi sambal sampai bibirnya yang terluka itu sembuh.


***


Ini waktu yang tepat untuk....percobaan ngidam.


Tanggal merah di akhir pekan membuat banyak orang berwisata ke kota lain. Total tiga hari libur yang lumayan bisa membantu menjernihkan otak.


Tetapi tidak untuk Noa. Ia sedang melayani acara percobaan ngidam Tera sejak tadi pagi. Dimas dan Ahmad sudah tepar di ruang tamu kosan. Tiga penghuni kosan pulang ke kandang masing-masing. Mereka kangen masakan di rumahnya.


Semenjak pagi, Tera memang sudah rewel meminta ini dan itu. Dimas sudah bolak balik membawa motor membeli makanan untuk ngidam. Ahmad pun tersiksa, ia memasak tutut super pedas berkali-kali karena menurut Tera pedasnya kurang nampol.


Setelah menurut Tera pedasnya lebih dari cukup, Tera menyuruh Noa yang menghabiskan tutut super pedas itu. Awalnya Noa protes karena bibir bagian bawahnya masih luka dan tak mau memakan makanan pedas. Panas di bibirnya karena bumbu masakan tak ingin ia rasakan dahulu.


Tera yang ngidam bohongan dan mereka yang harus memenuhi keinginannya tak akan bisa berkutik kala Tera menggembungkan pipi dan menatap sinis terlebih kepada Noa. Sembari melipat dada dan cemberut, Tera terus memperhatikan Noa yang sedang memonyongkan bibirnya untuk menyedot tutut.


Tera melihat ekspresi Noa yang miris. Sesekali Noa mengibaskan tangan di depan bibirnya kala tutut itu menyentuh luka di bibirnya, sesekali ia memejamkan mata dengan tautan alis tergambar jelas. Tak jarang Tera mendengar Noa mengaduh pelan karena bibirnya yang terluka itu merasakan perih akibat makanan pedas. Tutut itu juga penyebab sakit perutnya saat ini.


Noa berkali-kali keluar masuk toilet karena makanan pedas itu melawan dalam perutnya. Setiap keluar toilet, Noa selalu mengelus perutnya. Lalu ia meringis dan mengaduh sembari memegangi perutnya dan masuk kembali ke dalam toilet. Bibirnya pun sudah jontor bukan karena menyedot tutut itu saja, tetapi karena pedas yang menyiksa bibirnya yang luka. Merahnya seperti di beri lipstik.


"Pengen kue parabola." teriak Tera.


Dimas membelalakan matanya karena terkejut mendengar teriakan itu. Sedangkan Ahmad masih mengorok dengan damainya. Dan calon suami Tera keluar toilet dengan terburu-buru.


"Kue parabola?" tanya Dimas bingung.


"Kue ape, Dim." jawab Noa kalem.


Dimas manggut-manggut paham. Ia pun mengiyakan ngidamnya Tera.


"Tunggu ya, nyonya. Gue beliin kue ape pesenan lo dulu."


Dimas beranjak dari kursi dan bergegas pergi mencari kue parabola itu. Noa kembali merasakan perlawanan yang bergolak di dalam perutnya, ia kembali memasuki toilet. Hunian barunya saat ini.


Tera membayangkan kue berwarna hijau yang enak. Dan ia kembali berteriak pada Noa. Ia menggedor pintu toilet tersebut.


"Noaaaa...." teriak Tera.


Dari dalam toilet terdengar seruan Noa.


"Sebentar, baby...nanggung nih."


"iih, lama..."


Tera menendang pintu toilet dan pastinya Noa di dalam sana sedang mengelus dada karena jantungan mendadak. Tera berjalan menuju ruang tamu lalu berteriak tepat di telinga Ahmad.


"Pengen klepon sama kue putu." teriak Tera.


Ahmad tak bangun sama sekali, bahkan bergerak minimal pun tidak. Tera pun kembali berteriak.


"Mad, lo pilih bangun apa tidur? Atau gue pecat dari persohiban sekarang juga tanpa pesangon." teriak Tera lagi.


Ahmad membuka matanya lebar-lebar. Ia akan sangat ketakutan bila ancaman itu terjadi. Posisi sohib kental akan lengser begitu saja.


"Ampun nyonya manis. Mau apa tadi?" tanya Ahmad.


"Klepon sama putu." rengek Tera.


"Tlepon sama kutu? Buat apa?" tanya Ahmad yang masih berusaha mengumpulkan nyawa.


Mungkin nyawa yang menghuni di telinganya belum kembali dari alam mimpi. Tera mencubit pipi Ahmad agar proses pengumpulan nyawanya cepat rampung.


"Kue klepon sama kue putu." jelas Tera.


Ahmad nyengir lebar dengan pipinya yang juga melebar akibat cubitan Tera.


"Duitnya mana?" kata Ahmad yang menadahkan tangan.


Tera pun memelankan suara, ia mencoba membuat suara yang di buat seimut mungkin.


"Pake duit lo aja. Atau gue bikinin film 'sohib kentalku jadi sohib encerku'." rayu Tera yang mengarah ke ancaman.


Ahmad bergidik. "iih, ngeri ya. Oke deh, gue beliin dulu."


Ahmad pun bergegas pergi meninggalkan kosan dengan membawa motor gede milik Noa.


Selama setengah jam menunggu akhirnya Tera pun bosan. Noa tak kunjung keluar toilet. Mungkin ia betah menjadi penghuni toilet. Atau tertidur dengan posisi jongkok.


Tera berjalan santai menuju taman. Selama perjalanan, ia memperhatikan kanan dan kiri jalan. Ramainya jalanan itu di hari libur yang panjang ini. Banyak orang hilir mudik sesuka hati.


Sesampainya di taman, ia duduk di salah satu bangku taman yang kosong. Bagaikan dejavu, ia melihat pemandangan penuh kasih. Keluarga kecil nan bahagia.


Dahulu sebelum cinta Noa menyentuh hatinya, pernah ia termenung melihat pemandangan indah itu sebagai pemandangan yang mengiris Hati. Kini tidak lagi. Karena Tera dan Noa pun akan merasakan seperti layaknya keluarga kecil yang lainnya. Suatu saat nanti.


Di depan sana, seorang anak lelaki berusia kira-kira empat tahun sedang tertawa riang. Bermain ayunan dengan dorongan pelan sang Ayah. Ibunya bertepuk tangan dengan tawa renyah.

__ADS_1


Dahulu, Tera membayangkan ia yang ingin merasakan kembali kenangan itu bersama kedua orangtuanya. Tetapi sekarang, ia membayangkan dirinya dan Noa yang berada di depan sana dengan anak yang lucu dan menggemaskan sebagai pelengkap kebahagiaan mereka.


Tera mengelus perut yang berdemo. "Pengen bandros, iih."


Tiba-tiba saja perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang menyentuh kakinya berkali-kali. Perhatiannya terpecah menjadi dua. Ingin melanjutkan melihat pemandangan keluarga kecil itu dan ingin pula meraih mobil remote control yang terus menabraki pelan kakinya.


Ia menunduk untuk mengambil gulungan kertas yang terpasang di antena mobil-mobilan tersebut. Tak seperti sebelumnya, mobil itu dahulu langsung meninggalkannya tetapi kini benda itu seperti menungguinya.


Perlahan ia buka gulungan kertas tersebut. Tera berpikir, pasti Noa ada di sekitar sini saat ini.


Tertera satu kata disana. 'Noa'.


Hanya itu saja.


Tera berusaha memutar otak. Memutar kembali memory lampau. Mungkin ada yang terlupakan dan total enam gulungan kertas yang ia miliki itu harus ia artikan sendiri. Bagaikan teka teki yang harus dipecahkan. Bagaikan puzzle yang harus di susun satu persatu. Ia mulai merangkai kata per kata.


Setelah berusaha mengingat kenangan itu, ia meyakinkan dalam hati bahwa memang itulah kenangan yang di maksud. Dengan mengingat sosok lelaki kecil dalam galery foto di ponsel Noa. Hem, mungkin itu jawabannya.


Flashback on


Minimarket itu,


"Kak, lagi cari apa? Parfum?"


Bocah kelas 6 SD yang itu,


"Iya. Lagi cari merk kucelle sama presh."


"Ini kak. Di bawah sini."


"Oh, iya. Makasih ya, dek."


"Iya kak. Boleh tau nama kakak siapa?"


"Tera. Tera Ramadhani."


"Wiih...nama belakang kita miripan. Aku Noa, kak. Noa Ramadhan. Kakak sekolah dimana, kelas berapa?"


"SMP Nusa. Baru kelas tujuh kok."


"Oh, aku Kelas 6 SD, kak. Ntar lulus sekolah, aku masuk sekolah yang sama dengan kakak, ah."


"Oh, oke. Aku mesti buru-buru pulang nih. Makasih ya udah bantu nyariin Parfumnya."


Cekalan tangan itu. Beberapa bulan ke belakang pun gue rasakan lagi di dalam sebuah Minimarket juga di area rumah gue.


"Kak, kayaknya kita Jodoh deh. Nama belakang kita aja miripan. Kita gak kembar juga, lain ibu. Aku yakin kita Jodoh."


........................


.........................


"Kak, oy tunggu. Kak Tera."


..........................


"Kak...kutunggu secondmu."


"Kutunggu secondmu."


"Kutunggu secondmu."


Flashback off


"Noa..."


Tera tersadar akan sesuatu yang terlupakan, seseorang di masa lalu yang dilupakan bagai kehadirannya tak penting dan mengganggu. Noa bagaikan setitik debu di masa lalu dan menjadi pangeran impian di masa kini dan masa depan.


"Jadi...Noa itu bocah sinting waktu itu."


Tera terkejut.


"Jadi...dia emang jodoh gue."


Tera tersenyum.


"Jadi...ini maksud dari sesuatu yang ingin Noa sampaikan."


Tera kembali tersenyum.


Mobil remote control kembali menyentuh kakinya berkali-kali. Lalu benda itu berubah arah dengan berjalan lambat. Benda itu bagai mengisyaratkan sesuatu.


Maka Tera pun mengikuti arahan benda bergerak dengan bantuan remote control tersebut.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2