Kakak Gemes

Kakak Gemes
Cinta yang menular


__ADS_3

"Plis atulah, bantuan urang. Maenya urang sorangan anu jomlo. Keun bae lah jeung si Sandy oge. Penting mah urang payu we." keuekuh Dimas.


(Plis dong, bantuin gue. Masa gue sendiri yang jomblo. Biarin lah sama si Sandy juga. Yang penting gue laku aja).


"Euy, Dim. Mun anjeun rumasa teu bogoh ka jelemana mendingan entong we lah. Ai kapaksa jeung naon atuh. Bebela ngarubah status jomlo mah. Meunang kabungah henteu. Karunya ka manehna." ujar Noa.


(Nih, Dim. Kalo lo ngerasa gak cinta ke orangnya mendingan jangan aja lah. Kalo terpaksa buat apa. Demi merubah status jomblo. Dapet bahagia enggak. Kasian ke dianya).


"Ck, atuh Noa. Lo kan udah janji mau bantuin gue. Ini udah ada target yang pas. Dia jomblo. Gue belum laku." mohon Dimas.


Noa menghela nafas dengan kesabaran.


"Gak gitu juga, Dim. Lo mendingan pikirin dulu mateng-mateng. Kalo lo udah yakin sungguh-sungguh sama dia, gue bakal bantuin lo. Gue kasian aja sama dia. Ntar dia patah hati, emang lo tega liatnya?"


Dimas mengacak-acak rambutnya. Ia membuat wajah semelas mungkin.


"Atuh, Noa. Gue gak perlu pikirin mateng-mateng ntar gak bisa di rujak. Kalo mateng ntar keburu di makan kalong. Gue pengen laku. Gue pengen pacaran juga."


"Jangan samain lo sama buah. Lo pengen cepet. Pengen buru-buru. Hasilnya gak akan bagus, Dim." nasihat Noa.


Dimas duduk berselonjor di lantai dengan wajah kusutnya. Noa menepuk pundaknya pelan.


"Dim, gue udah janji bakal bantuin lo. Dan gue pastiin janji itu gue tepati. Tapi gue pengen lo yakin dulu sama keputusan mendadak lo itu. Gue gak mau sohib gue sama bokinnya gak bisa jadi pasangan bahagia."


Dimas menoleh, ia mengangguk pelan sebagai persetujuan atas ucapan Noa.


"Jadi mau di mulai darimana nih akal bulus lo?" tanya Dimas.


"Ck, otak cerdas bukan akal bulus." koreksi Noa.


"Semerdeka lo. Eh, nyonya mana?" tanya Dimas sembari celingukan.


Noa menunjuk pintu kamarnya yang tertutup.


"Tidur. Dia sekarang suka bobo siang. Rutin."


Dimas manggut-manggut. "Oh, nyonya lagi bobo. Eh, kapan nih mulai pake akal bulus lo?"


Noa berpikir sejenak. "Hm, gimana kalo besok aja. Bunda nyuruh gue ke Lido Bogor. Ada titipan buat temennya di daerah situ. Gue mau bawa Tera nginep di resort yang deket situ. Ntar gue ajakin si Sandy biar ikut. Lo manfaatin waktu buat pedekate sama dia."


"Sayangggggg...."


Sontak Noa dan Dimas segera menoleh ke asal suara panggilan. Tera sedang mengucek-ngucek matanya. Lalu ia mengerjapkan mata beberapa kali. Dimas menyikut Noa yang terpana.


"Nyonya bangun tuh." bisik Dimas.


Noa tak menjawab ucapan Dimas. Tetapi bergegas menghampiri kesayangannya. Lalu merangkul Tera dengan sayang.


"Kirain kamu kemana.." ucap Tera dengan nada manja.


Noa mengajak Tera untuk duduk di pangkuannya. Tera membawa-bawa cokelat kesukaannya yang sebelum tidur siang barusan Noa berikan untuknya.


Membuka bungkus cokelat itu, Noa kemudian memberikannya pada Tera yang langsung memakan cokelatnya dengan satu gigitan kecil.


Dimas berpindah duduk di kursi tepat di samping Noa yang sedang memangku Tera.


"Noa, besok jadi ke Lido berdua?" tanya Tera.


"Iya jadi. Tapi gak jadi berdua." jawab Noa.


"Lo mau ikut, Dim?"


Tera berhenti menggigit cokelatnya. Ia memalingkan wajahnya kepada Dimas.


"Hooh nyonya." cengir Dimas.


Tera menatap Noa kembali. Lalu ia pun bertanya kembali.


"Jadi bertiga ya. Hm, si Ahmad gak ikut?"


"Berempat, baby." jawab Noa sekenanya.


"Sama Ahmad?" tanya Tera memastikan.


Noa menggelengkan kepala. "Sama Sandy."


"Kok sama dia? Ngapain ngajakin dia?"


Tera mendadak bangkit dari pangkuan Noa dan berdiri sembari membelalakan mata.


"Sini duduk lagi." perintah Noa dengan menepuk paha untuk mengisyaratkan kepada Tera agar kembali duduk di pangkuannya.


Tera dengan mode Emak-emak sensitif pun beranjak pergi dari hadapan Noa dan kembali memasuki kamar.


"Yah, si nyonya ngambek." kata Dimas.


"Hm, kalem aja. Lo besok pagi kesini aja, Dim. Ntar gue yang bujukin Tera. Gue juga yang ajakin Sandy." ujar Noa.


"Semoga lancar deh. Si nyonya gak ngambek lagi. Sandy juga mau di ajakin." harap Dimas.


Noa mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Dimas pun pulang dengan membawa motor maticnya. Noa pun memasuki kamar kekasihnya, ia melihat Tera yang sedang duduk sembari menggembungkan pipi.


"Boleh aku jelasin gak, baby?" tanya Noa meminta persetujuan dari Tera.


Yang sedang dalam mode ngambek pun langsung melempar cokelat dari tangannya ke lantai di dekat kaki Noa.


"Kamu mau genit sama Sandy? Kamu niat mau cari bini muda?" tuduh Tera.


"Ck, gak gitu atuh sayangku. Siapa yang mau selingkuh. Dimas yang pengen di comblangin sama si Sandy. Aku mau bantuin Dimas aja." jelas Noa.


"Bohong. Kamu jahat. Katanya kamu setia tapi malah madu dua. Ntar madu tiga kayak judul lagu itu." teriak Tera.


Noa mendengus geli mendengarkan penuturan Tera. Mendekatinya perlahan, Noa mencoba untuk memeluk tubuh Tera. Tetapi Tera memundurkan tubuhnya tak ingin di raih oleh Noa.


"Jangan peluk aku, calon suami yang jahat." bentak Tera.

__ADS_1


Noa bangkit dan berdiri tegak kembali.


"Ya udah, kalo kamu galak gitu aku beneran mau madu empat sekalian."


Noa mengerling sekilas untuk melihat ekspresi Tera saat ia telah selesai mengucapkan satu kalimat cuek itu.


Tera bergegas berdiri dan ia menghentak-hentakan kakinya.


"Jangaaaaaannnn." teriak Tera.


Noa tertawa puas setelah melihat ekspresi lucu itu. Tera memang tak pernah membosankan. Noa selalu suka tingkah menggemaskan itu.


Tera yang tak terima kemudian mengaitkan tangannya di lengan Noa. Lalu ia pun bergelendot manja.


"Kamu nanti miskin loh, kalo biayai empat istri. Biar aku aja yang jadi istri kamu. Nanti uangnya di tabung. Tapi janji jangan di pake buat kawin."


"Hahaha...adeuh, baby. Aku udah lebih dari cukup punya kamu. Gak akan nikahin yang laen sekalipun itu si Justin." canda Noa.


"iih, Justin si monyet pelakor. Jangan sayang, dia makan pisangnya banyak. Mendingan sama aku aja." rayu Tera.


Ketika Noa dan Tera hendak beromantis ria, tiba-tiba...


"Noaaaaaaaaa...."


"Anjiiiirrrrrr...." umpat Noa.


Tera menyahuti. "Siapa lo?"


"Aing maung. Ck, ini gue..Dimas." jawab Dimas.


"Pulang sana." seru Tera.


"Nyonya, lo jangan galak-galak." kata Dimas.


"Ck, pulang lo sana. Ngapain sih balik lagi." bentak Tera.


Noa diam saja. Membiarkan Tera dan Dimas berdebat. Ia membiarkan aksi usir dan bertahan itu.


"Atuh nyonya, gimana nasib gue besok? Kasih jawaban setuju dong." pinta Dimas.


"Gue gak set-.."


"Baby, mau lolipop?"


Teriakan Tera tertahan oleh permen lolipop yang tertanam di mulutnya. Noa diam-diam membuka tasnya untuk meraih satu buah permen lolipop hasil kembalian dari minimarket karena pusing mendengarkan debat terhalang pintu itu.


"Atuh nyonya kasih jawaban setuju." mohon Dimas yang masih mengetuk pintu kamar.


Noa menyempatkan diri untuk bertanya pada Tera. Mungkin bila perlu akan membujuknya meminta persetujuan.


"Baby, besok boleh kan Dimas ajakin Sandy?" tanya Noa.


"eumm...enak lolipopnya...boleh, tapi kamu gak boleh genit. Aku bakal santet kamu kalo berani colek si Sandy." ancam Tera.


"Santet?" tanya Noa sembari menautkan alis.


Noa kembali tertawa tanpa suara. Tetapi Tera tak memperdulikan tawa itu. Ia melanjutkan kembali kegiatan **** permen lolipop favoritnya.


"Nyonya, plis atuhlah."


Dimas masih berusaha memohon pada Tera.


Yang di mintai persetujuan malah tak mendengarkan permohonan itu. Ia mengabaikan nada sumbang Dimas. Akhirnya, Noa yang berinisiatif menjawab permintaan itu.


"Boleh, Dim. Lo balik dulu. Beneran balik sana. Tera udah setuju." kata Noa.


Dimas dengan nada bersemangat meyakinkan kebenaran pendengarannya.


"Ah, yang bener? Noa beneran? Nyonya kok gak ngomong sama gue. Suara dia ilang?"


"Berisik lo ah. Balik sana." sahut Noa.


"Siap pak bos." kata Dimas.


Dan setelah ucapan itu, tak ada lagi suara Dimas yang terdengar. Mungkin ia sekarang sudah benar-benar pulang.


Noa memperhatikan Tera yang masih memamerkan tingkah menggemaskan itu.


"Aslina ngalimet amatan atuh sayangku."


(Asli, menikmati banget sayangku).


"Biarin, aku sukaaaaa..." seru Tera seraya mengacungkan permen lolipopnya.


Noa berpikir alay. 'Gyaaahhh...gue bisa mati muda kalau gini caranya. Tera itu bikin detak jantung gue boros. Tera itu bikin nafas gue boros. Tera itu bikin senyuman gue boros.'


Hem, rayuan dan godaan apapun di luaran sana sepertinya tak akan mempan bilamana Tera selalu menggemaskan seperti ini. Noa tak bisa berpaling walaupun hanya melirik sekilas pada seseorang yang mungkin saja melebihi tingkat gemas milik Tera.


Terlalu mentok. Bahkan sudah buntu. Noa terjebak di ruang hati Tera. Ia tak akan bisa keluar lagi karena ia terperangkap terlalu dalam. Ia pun tak akan mampu keluar karena Tera selalu bisa membuatnya nyaman dalam perangkap cinta yang bernama pesona Tera.


***


Cinta saat ini sudah menulari semua orang di sekitar Noa. Cinta yang menular bahkan membuat mereka yang jomblo ingin mengakhiri masa-masa terzolimi itu. Dimas dan Rima salah duanya.


Cinta yang menular itu sedang melanda mereka. Cinta yang menular itu selalu di awali dari rasa membutuhkan hati yang mau menerima kala seseorang yang tertulari virus cinta melihat orang terdekatnya mempunyai bahagia yang lain dan bisa menghabiskan banyak waktu bersama seorang yang terkasih.


Tentunya, Dimas ingin hal itu terjadi pula padanya. Mana mampu jika Noa dan Ahmad sibuk dengan pasangan masing-masing dan Dimas hanya menyingkir di dalam rumah atau ke keramaian.


Seberapa asyik memainkan ponsel sepintar apapun bila hampa yang terasa. Ada saatnya bosan melanda. Ada saatnya ingin diperhatikan dan disayangi yang bernyawa bukan hanya memandangi yang berbaterai.


Yang hidup menggunakan baterai tidak bisa memberikan kasih sayang dan kehangatan. Jikalau panas pun mungkin karena digunakan berlebihan bukan karena benda itu menyayangi pemiliknya.


Seberapa asyik ponsel bilamana benda itu tak berbunyi dengan menandakan adanya pesan atau telepon masuk dari yang terkasih. Dari seseorang yang memperhatikan. Bila tak ada, tetap saja terasa hampa.


Rima pun pasti tak jauh beda dengan Dimas. Perasaan ingin hatinya di miliki hati yang lain pun meluap. Dimas ingin merubah status jomblo karena ada sedikit rasa iri dengan yang di rasakan teman-temannya.

__ADS_1


Rima pun sama. Ia ingin kembali berpacaran bukan karena ingin move on instan tetapi karena ingin mempunyai hati untuk masa depannya. Ketika dirinya merasakan putusnya sebuah hubungan dan kenyataan tak sesuai keinginan, ia rindu dengan kebaikan sebuah hubungan.


Ketika sang kekasih tak bisa memenuhi ruang rasanya, ia pun merasa hampa. Ketika kesalahan membuat tali kasih terputus, ia frustasi. Karena khayal yang terlalu tinggi.


Hm, mungkin kini bukan salah dua. Tapi salah tiga.


Sandy. Ia juga bernasib jomblo. Dan Noa sedang berusaha mengurangi manusia galau saat ini. Kini Sandy berstatus sang target dari Dimas.


Noa sebagai Pak comblang sedang mencoba peruntungan. Mungkin saja bisa menjadi bisnis biro jodoh untuk kelanjutannya.


Noa sedang berada di depan pintu rumah Sandy. Ketukan pintu segera di tanggapi sang pemilik rumah. Kediaman yang sepi itu selalu membuat Noa bertanya-tanya. Kemana gerangan anggota keluarga yang lain.


Tetapi memikirkan hal seperti itu di saat seperti ini rasanya tidak tepat. Ada tugas penting yang harus ia lakukan bukan saja karena janji yang terucap dan harus ditepati. Noa ingin Dimas pun merasakan bahagia mempunyai pasangan yang bisa saling berbagi perasaan cinta.


Alasan Dimas memilih Sandy pun tidak Noa pertanyakan. Karena sebuah rasa itu datangnya tiba-tiba ketika hati merasakan seorang itu tepat adanya di samping kita.


Seperti Dimas dan Sandy, begitu pula Noa dan Tera dahulu. Noa tak pernah tahu bahwa Teralah yang terpilih dari sekian banyak manusia yang lewat dalam kehidupannya.


Alasan yang tepat untuk memilih seseorang tak bisa di ungkapkan dengan benar. Karena sukarnya menjabarkan jawaban apa yang seharusnya diberikan.


Ketika hati Noa memilih Tera, ada rasa dimana dirinya harus selalu berada di samping Tera. Bahwa hatinya adalah milik Tera. Bahwa ia selalu benar untuk Tera.


Mungkin begitulah yang kini sedang di rasakan Dimas. Bagaikan sebuah perputaran pengalaman hidup. Saat Noa telah merasakan dan menjalani yang telah lalu dan berhasil di masa kini, berarti inilah saat yang tepat untuk berbagi pengalaman dan membantu yang membutuhkan. Dalam hal ini mungkin Dimas yang lebih dulu memerlukan bantuan Noa. Selanjutnya, siapa yang tahu. Mungkin Ahmad, kang Jhon, kang Acep atau Rima yang menyandang status baru. Hm, iya Rima si mendadak jomblo.


Pintu rumah Sandy terbuka, kemudian memperlihatkan sosok manis di baliknya. Sandy memperhatikan Noa seakan tak mempercayai keberadaan Noa di depan pintu rumahnya.


"Noa. Ada apaan kesini?" tanya Sandy heran.


Noa jawab dengan santai. "Besok gue mau ke Lido. Gue mau ke resort disana sekalian anterin sesuatu buat temen Bunda. Lo mau ikut gak?"


Sandy berpikir sejenak. "Sama siapa? Sama Tera juga?"


"Iya. Ada Dimas juga. Hem, sekalian bantuin gue." alibi Noa.


Sandy sedang menimbang-nimbang keputusannya. Ia tak segera menerima ajakan Noa. Padahal tawaran itu bisa saja merubah nasibnya menjadi lebih baik lagi.


Lalu tanpa di sangka, Sandy menganggukan kepalanya tanda ia menyetujui ajakan itu. Noa tak menyangka akan semudah itu. Noa tak memerlukan bujukan berkepanjangan.


"Oke..." jawab Sandy sekenanya.


"Gue tunggu besok pagi ya. Jam tujuh." ujar Noa.


Sandy mengangguk kembali tanda mengerti dan Noa tanpa berlama-lama berpamitan pada Sandy untuk kembali ke kosan. Karena Noa tak mau Tera cemburu akibat ia yang terlalu lama berada di rumah Sandy.


Salah satu kesensitifan Tera tentu saja penyebabnya ialah Sandy. Dan Noa tak akan membuat suatu masalah terjadi dalam hubungan yang sudah terjalin baik ini.


Noa kembali ke kosan tepatnya ke dalam kamar kekasihnya. Tera sedang duduk sembari membaca novel Harry Potter. Noa menghampiri Tera lalu merangkul nyonya besar itu.


Tera menoleh dengan santainya. "Udah ajakin Sandy? Gimana tawaran kamu di terima gak?"


"Hm, di terima. Dia mau." jawab Noa.


Tera kembali membaca novelnya. Ia pun menyeletukan kalimat yang super sensitif.


"Jelas aja mau. Kan kamu yang ajakin. Dia bisa berharap lagi kan."


"Jangan gitu, sayangku. Lagian aku juga gak akan tertarik sama yang laen. Meskipun kamu sekarang makin galak. Gapapa deh. Aku suka sama nyonya galak kayak kamu." ujar Noa.


"Galaknya jangan di bawa-bawa dong. Aku kan gak mau kamu ninggalin aku pas udah sayang-sayangnya gini." gerutu Tera.


"Idih, siapa yang mau ninggalin kamu. Aku udah mentok bogoh ke kamu." ucap Noa dengan kalem.


Tera kembali menoleh. Ia pun tersenyum dengan sangat manis. Membuat yang melihatnya ingin membalas senyuman itu. Terutama dalam hal ini adalah Noa.


"Bogoh terus sama aku ya, calon suami."


"Iya, baby."


***


Sore ini Noa di kejutkan oleh kejombloan yang terlalu akut. Dimas sedang memegangi si Jordan, ayam jantan peliharaan Ahmad.


Karena Noa ada tugas memetik buah belimbing wuluh untuk Tera, mendadak ia datang ke rumah Ahmad. Noa yang salah karena datang tak memberitahukan terlebih dahulu. Dan sesal di akhir kemudian itu ternyata memang benar adanya.


Dimas sedang di uber oleh Ahmad. Dimas membawa ayam jantan sembari berlari dan Ahmad mengejar Dimas sembari membawa ayam betina pasangan dari ayam jantan yang Dimas bawa lari tersebut.


"Jangan bawa lari Jordan." teriak Ahmad.


"Pinjem dulu. Pelit amat lo." seru Dimas.


Ahmad menyahuti dengan teriakan membelah dada. Bukan membelah lautan.


"Lo mau cabulin ayam jago gue kan? Lo kalo gak laku jangan paksa ayam gue jadi belok dong. Dia udah punya pasangan. Nih, si Julia. Ayam betina. Kalo mau juga lo culik yang betina, duhai jomblo."


Dimas pun berteriak dalam lari berkelilingnya.


"Pelit lah. Mau si Jordan atau Julia sama aja buat gue mah."


Ahmad masih berusaha mengejar berkeliling pula.


"Si Justin aja yang lo korbanin. Monyet lo masih jomblo. Ayam gue mah udah punya anak dan istri. Masa mau lo pake praktek mesum. Kasian anak sama istrinya nanti syok tau si Jordan pindah haluan."


"Kalo gitu lo boleh duluan perawanin si Jordan." tawar Dimas.


"Perjakain, Dimas gila. Lo mesum amat. Kasian si Julia udah melas banget pengen suaminya balik lagi. Anak-anaknya nangis menantikan sang bapak pulang ke kandang." teriak Ahmad.


Dimas tersandung kurungan ayam sehingga ia tak sempat untuk membalas ucapan Ahmad. Dengan sesegera mungkin Ahmad menangkap Jordan. Dan dengan terburu-buru ia membawa Jordan dan Julia ke dalam kandangnya kemudian menguncinya. Kini mereka aman dari pelakor macam Dimas. Keutuhan keluarga ayam itu terjaga kembali.


Ahmad menghampiri Dimas yang masih duduk di dekat tempatnya tersandung. Lalu ia menoyor kepala Dimas dengan rasa tega berlebihan.


"Mesum si jomblo. Lo cabul itu liat dan mikir. Kalo mau, ayam duda jangan yang masih berkeluarga. Ayam bujang banyak. Jangan jadi pelakor." kata Ahmad menasihati.


Dimas menendang betis Ahmad dan terjadilah perang persahabatan. Noa yang tadinya mau meminta belimbing wuluh kepada Ahmad pun segera berbalik pulang.


"Mendingan gue beli di pasar aja deh. Gue gak mau ketemu dua orang itu dulu. Pura-pura gak kenal aja deh." monolog Noa.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2