Kakak Gemes

Kakak Gemes
Puncak


__ADS_3

Pagi ini di kamar Tera, Noa sudah sibuk. Ia memasukan pakaian dan barang-barang yang di perlukan ke dalam tas.


Kang Acep dan kang Jhon seperti biasa membuat kegaduhan dengan berdebat. Dari dalam kamar yang pintunya di biarkan terbuka, terlihat kang Acep adu mulut dengan kang Jhon tentang masalah yang tak penting.


"Kalo gue sukanya sama Selena Gemes, lo mau protes?" sewot kang Acep.


Kang Jhon tak mau kalah, ia pun meninggikan suaranya.


"Dih, kalo gue sukanya sama Kelly Klakson masalah buat lo?"


Rima yang sudah rapi sambil menggendong tasnya berniat memisahkan mereka.


"Ck, mendingan berangkat kuliah deh. Gue sukanya sama Hailee Nyempil."


Tera melihat perdebatan mereka, ia duduk di atas kasur sambil memegangi bunga mawar biru pemberian Noa pagi ini.


Noa tak mempedulikan perdebatan mereka, ia sibuk memilih pakaian Tera untuk di masukan ke dalam tas.


Ponsel Noa berbunyi, telepon masuk dari Bundanya tertera di layar menyala tersebut.


"Angkat telponnya, baby..." titah Noa.


"Dari Bunda kamu." ujar Tera memberitahukannya.


Noa mengangguk. "Angkat aja."


Ia kembali sibuk menata pakaian dan barang-barang di dalam tas.


"----jaket Tera, udah...hm, apa lagi ya." monolognya.


Tera mengangkat telepon dari Bunda Noa. Lalu suara lembut menyambut indera pendengarannya.


Bunda: "Hallo."


Tera: "Ha-..hallo."


Bunda: "Loh, kok beda suaranya. Hallo, Noa. Itu kamu, nak?"


Tera: "Sa-..saya bukan Noa, tante."


Noa melihat Tera sekilas.


Bunda: "Loh, saya gak salah telpon kan? Ini nomor telpon anak saya deh."


Tera: "Saya temen Noa, tante."


Noa kembali melihat Tera. Ia memandang lama pada Tera dengan wajah datarnya.


Ia berkata pelan. "Temen? Ck, terserah lah."


Tera melihat wajah kesal Noa dan kembali melihat ke arah lain, ia berfokus pada telinganya yang masih mendengarkan suara Bunda Noa yang berasal dari sambungan telepon.


Bunda: "Oh, temennya. Noa ada kan?"


Tera: "Ada, tante. Mau bicara dengan Noa?"


Bunda: "Pengen sih. Tapi saya mau tanya dulu sama kamu. Noa baik-baik aja kan? Tante gak enak hati udah dua hari ini."


Tera terdiam sejenak. Ikatan batin orangtua khususnya seorang ibu pada anaknya begitu kuat. Ia tahu walaupun tak melihat langsung dan merasakan bahwa anaknya tak baik-baik saja.


Tera melihat sekilas wajah Noa yang sedikit menunduk di hadapan tasnya, wajah itu masih pucat. Ia belum benar-benar sembuh. Obat pun harus Tera paksakan masuk mulutnya dan membujuknya dengan susah payah.


Tera: "Noa kemaren sakit, tante. Tapi tante gak usah terlalu khawatir. Noa udah di bawa ke klinik, cuma demam."


Bunda: "Haduh, pantes perasaan tante gak enak. Tapi dia minum obatnya kan?"


Tera: "Minum kok, tante. Sekarang udah agak baikan."


Bunda: "Oh, syukurlah. Noa itu sekalinya sakit suka bikin panik. Sehatnya udah kayak tupai loncat. Kalo sakit liatnya aja bikin prihatin. Bener-bener drop sampe bikin tante panik sendiri."


Tera pun meniatkan merawat Noa sebaik-baiknya mulai saat ini.


Tera: "Tante jangan khawatir. Nanti biar saya yang kontrol kesehatan Noa."


Di detik itu, Noa tersenyum mendengar penuturan Tera. Kemudian ia melanjutkan kembali mengecek barang bawaannya.


Bunda: "Terima kasih ya. Nama kamu siapa?"


Tera: "Tera. Nama saya Tera, tante."


Noa melihat sekilas kepada Tera. Ia menepuk dahinya.


"Oh, iya lupa. Sendal Tera. Duh, mana ya?"


Ia keluar kamar, kemudian berjalan mencari sendal milik Tera.


"----baby, sendal kamu yang aku cuciin kemaren mana?"


Noa menyembulkan kepala di pintu kamar. Tera mengisyaratkan berbicara tanpa suara dengan memberikan petunjuk bahwa Noa harus menuju ke rak sepatu. Noa pun kembali berjalan ke ruang tamu dimana rak sepatu berada.


Bunda: "Oh, iya nak Tera. Makasih ya. Tolong kasih tau Noa, tante nanti mau tengokin dia. Kalo tante melewati kota Bandung, tante mampir ke kosan Noa."


Tera: "Oh, iya tante. Nanti saya sampaikan."


Noa kembali ke kamar dengan membawa dua pasang sendal. Milik Tera dan miliknya. Ia tersenyum sekilas melihat Tera masih merapatkan ponsel di telinga menandakan Tera dan Bundanya masih bercakap-cakap.


Bunda: "Ya udah, tante mau lanjut kerja lagi. Sekali lagi makasih ya, Tera."


Tera: "Sama-sama, tante. Selamat bekerja kembali. Jaga kesehatan disana."


Noa kembali tersenyum. Mungkin mendengar ucapan Tera pada Bundanya dengan kalimat yang manis.


Bunda: "Kamu perhatian sekali. Makasih Tera. Iya pasti. Tante tutup telponnya ya."


Tera: "Iya tante."


Sambungan telepon terputus. Layar ponsel Noa kembali memperlihatkan wallpaper foto mereka.


Tera menyimpan kembali ponsel Noa di atas kasur. Ia memandangi kembali bunga mawar biru yang masih dalam genggaman tangannya. Ia pun memeluk bunga itu dengan rasa sayang.


Noa berucap. "Ck, yang di peluk bunganya terus. Aku kapan?"


Tera mendengus dan menjawab ucapannya.


"Semalem kan aku peluk kamu terus."


Noa tertawa kecil, dan melanjutkan kegiatannya. Teringat akan pesan bunda Noa, Tera memanggil Noa membuat Noa kembali memandangnya.


"Noa, bunda kamu titip salam. Katanya kalo bunda kamu lewatin kota Bandung dia mau mampir ke kosan." kata Tera.


"Hm, iya." jawab Noa sekenanya.


"Kamu masih pucet gitu, mau liburan ke puncak. Nyetir lagi." kata Tera.

__ADS_1


"Sehat. Aku sehat." ucap Noa santai.


Sikapnya yang seperti itu kadang membuat Tera jengkel. Rasa khawatir Tera di balas santai olehnya. Menohok sekali.


"Mendingan mandi dulu. Kamu duluan, baby."


Noa membangunkan Tera dan menyimpan bunga di atas kasur.


Ia menggiring Tera ke kamar mandi tak lupa memberikan handuk sebelum menutup pintunya.


Setelah Tera selesai mandi, gantian Noa yang memasuki kamar mandi.


Dimas dan Ahmad datang membawa tas gendong masing-masing.


Sandy pun menyusul beberapa menit kemudian, saat Noa baru keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggangnya.


Tera mencuri pandang melihat mimik wajah Sandy yang terlihat mengagumi kekasihnya. Noa cuek, ia masuk kamar tanpa menyadari sepasang mata memandanginya penuh rasa kagum. Kekaguman yang secara sengaja tak Sandy tutupi di hadapan Tera.


Dimas dan Ahmad hanya menghela nafas melihat pemandangan ini.


Dimas bergumam. "Bakal ada yang menegangkan nih."


"Noa tegang? Ah, masih layu kali, Dim." kata Ahmad gagal fokus.


"Ck, mikir kotor."


Dimas menjitak Ahmad yang cengengesan.


Ahmad pun berujar. "Orang cuek gitu mah, kalemin aja. Lagian ada yang galak kayak Tera mah aman."


Tak menghiraukan bisikan dua setan, Tera pun memasuki kamar Noa. Ia melihat Noa sedang memakai baju.


"Mau aku bantu?" tawar Tera.


Noa mengangguk. Tera pun bergerak membantu memakaikan jaket dengan rapi.


"---obatnya udah di masukin tas belum?"


Noa nyengir lebar. Ia menggaruk kepala dan cengengesan. Tera mendengus geli melihat tingkah Noa, ia memasukan obatnya ke dalam tas membuat Noa mengeluh dan protes dalam waktu yang bersamaan.


"Yah, minum obat lagi deh. Jangan di bawa atuh. Aku bosen liat obat itu."


Noa hendak mengeluarkan obatnya dari dalam tas tetapi Tera menepis tangannya.


"iish, mau sembuh gak? Kamu belum beneran sembuh tau." omel Tera.


"Hm, iya permaisurinya aku."


Akhirnya Noa menyerah. Ia tak akan membantah Tera dalam situasi seperti ini. Ia pasrah daripada mendapat omelan dari Tera. Noa sering menyebutnya ceramah mama Tera. Apalah itu Tera tak peduli, yang penting Noa segera sehat seperti sedia kala.


Mereka keluar kamar, tiga orang yang menunggui mereka pun berdiri dan segera membawa tas masing-masing. Noa membuka bagasi mobil, ia memasukan semua tas ke dalamnya lalu menitipkan kunci kosan pada ibu kost.


Saat semua akan memasuki mobil, Sandy membuka pintu depan yang segera di cegah oleh Ahmad.


"Sandy, jangan disitu. Di belakang aja." kata Ahmad.


Sandy memasang wajah bingung. "Kenapa emang?"


"Disitu bekas di pipisin kucing. Biar Tera aja yang dudukin." serobot Dimas.


Tera tahu niat mereka baik. Noa berdiri dengan pintu mobil yang sudah terbuka, wajah pucatnya memandang datar pada semua orang. Ia duduk di belakang kemudi tanpa menghiraukan perbincangan yang sedang berlangsung.


Sandy akhirnya duduk di belakang. Di sebelah kanan tepat di belakang Noa. Tera duduk di posisi depan dengan Noa sebagai pemandangan di sisi kanannya.


Noa memandang Tera yang baru duduk, ia memasangkan sabuk pengaman untuk Tera tanpa bicara sepatah kata pun. Ia tersenyum sekilas dan menghadap ke depan kembali, lalu ia pun menyalakan mesin mobil tetapi belum beranjak pergi dari depan pagar kosan.


Dimas yang duduk di belakang tepatnya di tengah-tengah antara Ahmad dan Sandy pun menyembulkan kepalanya ke depan. Ia menoleh ke kanan dan kiri untuk memperhatikan mereka. Ia pun menyeletukan satu kalimat.


"Oy, berangkat kali. Senyum-senyum bae." celetuk Dimas.


Noa dengan santainya melajukan mobil tanpa banyak bicara. Sesekali ia melirik pada Tera dan mengacak rambut itu penuh sayang.


Tera memperhatikan Sandy lewat kaca spion tengah. Sandy memandanginya penuh rasa benci. Mungkin.


Mengabaikan Sandy, Tera pun menyibukan diri dengan memainkan ponsel Noa. Ia membuka sosial media milik Noa.


Perjalanan lumayan memakan waktu karena kemacetan yang tak terelakan.


Sore hari, mereka baru sampai di tempat tujuan. Villa yang mereka sewa memiliki lima kamar. Semua bebas memilih kamarnya masing-masing.


Dimas dan Ahmad berlarian berebut kamar. Sandy berdiam diri di samping Noa. Tangan Tera di tarik Noa menuju kamar yang tak di jadikan aksi rebutan Dimas dan Ahmad.


"Kamarnya bagus. Mandi dulu gih." titah Noa.


Tera mengangguk, ia memasuki kamar mandi yang sebelumnya di tengok oleh Noa.


Tak lama, Noa berjalan keluar, suara langkahnya agak terdengar keras dan sangat jelas oleh Tera yang berada di dalam kamar mandi.


"Dim, bilangin si Ahmad. Disini pake toilet duduk." kata Noa.


"Sue, lo gak usah ngomong kenceng juga kali. Gue kan duduk sebelahan sama si Dimas." gerutu Ahmad.


"Oh, lo ada disitu, Mad. Gue kirain lo itu *** kucing di atas sofa." canda Noa.


"Tengil si Noa. Ggahahaha... serok dong. Bau asem yah." ledek Dimas.


"Lalu ejekan apa lagi yang akan kalian lontarkan wahai gagang serokan." kata Ahmad.


Dimas tertawa terbahak-bahak. "Sorry, Mad. Ejekan lo gak ngepek."


"Ngepet kali ah." kata Ahmad.


"Profesi lo jangan di umbar ke khalayak ramai dong." ledek Noa.


"Ggahahaha...,Noa. Gue bisa tidur nyenyak nih abis ledekin Ahmad si curut botak." kata Dimas yang terbahak.


"Mad...lagian gue cuma mau ngasih tau lo. Disini pake toilet duduk." ucap Noa kalem.


"Gue tau. Noa, lo brengsek ya." kata Ahmad.


"Apa? Kresek? Belanja kali ah." canda Dimas.


Ahmad menoyor Dimas yang sedang tertawa.


"Mad, lo inget gak waktu kita ke ****** di pinggir sawahnya kakek lo. Gue liat lo BAB ngepasin sama lobang sampe duduk gitu." kata Noa.


"*****, gue inget. Ngakak abis gue liatnya." ujar Dimas.


"Jangan di bahas, elah. Lagian lo berdua niat cabul amat sih, pake intipin gue yang lagi buang hajat." kata Ahmad bersungut-sungut.


Suara tawa Noa dan Dimas membahana. Noa kembali meledek Ahmad.


"Di rumah Dimas, lo inget gak? Di toilet duduk lo malah jongkok. Aduh, pose lo gak banget, Mad."

__ADS_1


"Jangan di bahas, Noa. Gue timpuk nih." sewot Ahmad.


"Hahaha..gue inget tuh. Pas gue gak sengaja buka pintu toilet yang gak di kunci. Si Ahmad gak bisa kunciin pintu toilet gue." ledek Dimas.


"Ejek gue aja, terusin. Pasaran gue udah turun ini. Tinggal di diskon buat lebaran. Cuci gudang gue mah." sewot Ahmad.


Noa dan Dimas semakin terbahak. Noa kembali melancarkan aksi meledeknya.


"Lo inget, Mad. Pas lo butuh ke toilet kosan gue. Toilet jongkok, lo malah duduk. Selonjoran lagi."


"Kayak orang jompo...hahaha." kata Dimas yang semakin terbahak.


"Udah puas belum?" tanya Ahmad.


"Udah, gue puas banget, Mad. Makasih ya."


Dimas masih melanjutkan tawa yang tersisa.


"Puas. Gue seneng, Mad. Laen kali gue sewa lo lagi. Sewa buat di ejekin." kata Noa.


"Hahaha...gue sakit perut." kata Dimas yang kembali terbahak-bahak.


"Kampret banget, sumpah. Daripada lo ledekin gue mulu mendingan kita makan. Gue laper nih." kata Ahmad.


"Nah, bener tuh. Tumben lo bener, Mad. Masalah toilet aja, lo ****." ejek Dimas.


"Bentar ya. Nunggu permaisuri gue beres mandi dulu. Lo juga mandi sana. Khusus lo, Mad. Di kamar mandi ada shower, gak usah bolongin ember buat bikin pancuran." canda Noa.


"Brengsek lo, Noaaa..." teriak Ahmad.


Terdengar suara tawa Dimas dan suara kaki terburu-buru memasuki kamar yang Tera tempati. Lemparan benda di luar kamar mengenai pintu setelah Noa menutupnya.


Noa tertawa terbahak saat memasuki kamar. Tera yang sudah berpakaian lengkap menengok sekilas padanya.


Suara tawa Dimas dan gerutuan Ahmad masih terdengar dengan sangat jelas. Noa mendekati Tera dan memeluk dari belakang.


Ia mengelus tangan Noa yang melingkar di perutnya. Sisa tawanya masih ia perdengarkan, nafasnya terasa begitu panas di leher Tera. Yang mengherankan adalah ia yang masih aktif seperti kondisinya yang sehat.


Tetapi itu sedikit menenangkan, Tera malah tak mau melihat diri Noa seperti beberapa malam yang lalu, membuat Tera panik akan keadaannya.


Tera menepuk pelan tangan yang melingkari perutnya, Noa menghentikan tawanya. Wajah pucatnya masih mendominasi, gurat gembira yang barusan ia perlihatkan masih tersisa disana.


Memutar tubuh untuk berhadapan dengannya, Tera pun menangkupkan tangan di pipi Noa yang terasa panas.


"Kamu kena gejala tifus kayaknya." ucap Tera.


"Bentar lagi juga sembuh." kata Noa santai.


"Ganti baju aja ya. Gak usah mandi." ujar Tera yang di respon anggukan kepala Noa.


Di kamar samping yang akan ditempati oleh Noa, Tera memakaikan Noa pakaian santai dengan celana panjang. Noa protes, ia ingin memakai celana pendek selutut seperti biasanya. Tak menghiraukan protesan Noa, Tera pun merapikan rambut Noa yang sedikit berantakan.


"Ayo cari makan. Yang laen pasti udah nungguin."


Tera menarik Noa agar ia berdiri. Tak lupa ia membawa plastik berisi obat.


Mereka keluar kamar, Sandy duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Dimas dan Ahmad pun keluar pintu.


Dimas berteriak. "Ayo, Noa. Gue laper."


"Sandy, ayo kita cari makan."


Noa mengajak Sandy yang masih duduk anteng.


Sandy mengangguk, ia mengikuti di belakang Tera dan Noa. Di rangkulnya bahu Tera oleh Noa namun Sandy sengaja berjalan mengiringi Noa, ia pun mengaitkan tangannya di lengan kekasih dari Tera tersebut.


Noa yang mendapat perlakuan seperti itu dari Sandy pun sedikit menghindar. Ia melepas kaitan tangan Sandy dilengannya dan meminta maaf untuk penolakannya. Tera cukup berpuas diri. Noa selalu menjaga hatinya untuk Tera.


Saat akan memasuki mobil, Noa mendengarkan dahulu usulan dua sahabatnya tentang makanan yang ingin mereka santap malam ini.


Tera memandangi plastik berisi obat di tangannya, ia belum berniat memasuki mobil. Ia menunggu Dimas dan Ahmad yang berdebat dan Noa yang menengahi mereka.


Sandy mencolek lengan Tera, membuat Tera memandang lurus tepat ke wajahnya. Ia memberikan senyuman yang sulit untuk di artikan. Memandanginya, Tera diam menunggu Sandy menyampaikan maksudnya.


Sandy membuka mulutnya dan mulai menebarkan ancaman. Ia berbisik dengan intonasi yang jelas.


"Boleh, Noa buat gue aja? Gue ambil dia ya. Kalian putus aja. Atau gue yang bikin kalian...P-U-T-U-S."


"Sayangnya, gak boleh." jawab Tera dengan bisikan lembut menusuk gendang telinga.


"----Noa milik gue."


Satu pernyataan pun menohok Sandy. Ia memberikan senyuman sinis. Menatap penuh penilaian.


"Gue maunya sama Noa. Gimana dong?" bisik Sandy penuh penekanan.


Tera pun berbisik di hadapan Sandy. Ia tak gentar sedikit pun.


"Lo gak laku? Gue saranin lo pasang diskon dan tempel di depan dada."


Bisikan Tera belum sempat di balas Sandy. Noa menghampiri di ikuti Dimas dan Ahmad.


"Baby, berangkat yuk."


Noa membukakan pintu mobil untuk Tera.


Dimas dan Ahmad memandang Sandy sekilas sebelum memasuki mobil. Sandy pun menyusul, kini ia telah duduk di samping Dimas.


"Berangkat..." teriak Dimas.


"Makan...makan...makan..." seru Ahmad.


Sandy memandang Tera dengan senyuman miring yang ia tunjukan saat Tera menengok pada dua sahabat Noa yang kekanakan.


Tera tersenyum tulus untuk membalasnya. Sandy wujud manusia yang perlu di kasihani. Iri hati merusak ketulusan dan keramahan yang selalu ia tunjukan dan ia umbar pada semua orang.


Noa kembali memasangi Tera sabuk pengaman.


"Lupa terus sih." ucap Noa lembut.


Tera tersenyum. "Iya lupa. Makasih."


Tera melirik sekilas pada spion tengah, Sandy melihat pemandangan ini dengan murkanya, ia meredam amarahnya dengan mendengus pelan dan menunduk berpura-pura memainkan ponsel.


"Siap, lur?" seru Noa.


Seruan tersebut di balas teriakan semangat dari dua sahabatnya.


"Siap banget, lur."


Tera tersenyum kembali saat melihat adegan lucu Dimas dan Ahmad. Noa melajukan mobil menuju tempat makan yang telah di setujui. Di iringi tatapan membunuh dari Sandy. Tera berdoa dalam hati, agar Noa tak akan hilang dari pandangannya.


'Noa milik gue. Sang kekasih tunggal.'

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2