Kakak Gemes

Kakak Gemes
Siswa baru


__ADS_3

Kondisi Noa berangsur-angsur membaik berkat perawatan dan kesabaran ekstra dari Tera yang tak pernah bosan membujuk Noa untuk minum obat.


Hari ini, hari terakhir liburan sekolah. Esok hari akan di mulai kembali kegiatan belajar. Melaksanakan kembali hak dan kewajiban sebagai pelajar.


Dimas ngotot mengajak Noa dan Tera ke rumahnya karena ada acara syukuran disana. Ayah dan Ibu Dimas mengadopsi seorang balita perempuan dari suatu panti asuhan. Nama balita tersebut adalah Keila.


Pipinya yang gembul membuatnya semakin lucu, mata bulat hitam pekat mirip dengan mata Tera. Kelakuan ala bocahnya yang selalu mengundang tawa, membuat mereka bergantian menggendong dan bermain dengannya.


Sandy ikut ke rumah Dimas. Ia pun larut dalam suasana meriah ini. Ia jatuh hati pada pandangan pertama pada bocah lucu tersebut.


Tera yang kini bersebelahan dengan Noa sedang cemburu. Hm, cemburu buta. Ia mencemburui Justin yang nemplok di pelukan Noa sejak mereka datang ke rumah Dimas.


"Ck, atuh baby...Justin aja di cemburuin." kata Noa.


Tera sedang memelototi Justin yang kini memeletkan lidahnya seolah mengejek.


"Nyebelin lo, nyet." omel Tera.


Ia mengancam Justin tanpa sepengetahuan Dimas.


"----gue bawa lo ke panti asuhan khusus hewan, baru nyaho lo."


"Emang ada?" tanya Noa


Ia mendengus geli kala mendengar penuturan bernada ancaman itu. Justin semakin gencar meledek Tera.


"Gak usah bongkar kebohongan aku juga kali, sayang. Nyebelin kamu mah. Si Justin jadi tau kan." gerutu Tera.


"Ck, udah atuh jangan cemburu mulu." timpal Ahmad.


Ia mengambil alih Justin ke gendongannya.


"----tuh, ntar bapaknya denger lo ngancem anaknya. Ntar ngamuk dia." tunjuk Ahmad kepada Dimas yang sedang mengasuh Keila. Di sampingnya, Sandy begitu ceria mendengar ocehan balita tersebut.


Tera mendengus dan melipat tangan di depan dada. Noa membujuknya bahkan menggodanya tetapi tak di respon.


"Tera. Si Justin mah udah tertolak." celetuk Ahmad.


"Dih, peluru kali ah." ucap Tera dengan nada sinisnya.


"Deuh, ngambek."


Noa mencolek dagu Tera yang awalnya melirik sinis namun semakin lama di goda akhirnya Tera luluh juga. Tera kembali mengobrol seperti biasa bahkan membukakan kulit pisang untuk Justin.


Noa tersenyum. 'Hm, dia unik. Dia...istimewa.'


***


"Noa..."


Seseorang dari kejauhan berteriak memanggil dan melambaikan tangannya dengan sangat bersemangat.


Pagi hari di depan gerbang sekolah, saat motor Noa belum mencapai tempat parkir sudah ada panggilan untuknya.


Sosok pemanggil itu ialah Sandy. Ia mengenakan seragam yang sama seperti yang Noa kenakan.


Saat motor Noa telah terparkir dengan benar dan Tera turun dari boncengannya, Sandy datang menghampiri mereka. Dengan wajah sumringah ia menyapa dan menyatakan telah resmi menjadi siswa disini.


"Oy, Noa. Gue sekarang sekolah disini. Gue juga sekelas sama lo." kata Sandy.


Hm, penyampaian yang tak mengejutkan bagi Noa. Tetapi berbeda dengan sosok di sampingnya. Tera melotot dan menoleh sekilas pada Noa hingga membuat Noa bingung.


"Oh, oke."


Hanya itu yang bisa Noa ucapkan pada Sandy.


"Gue tunggu di kelas ya. Oh, lo sebangku sama gue. Ngomong-ngomong bangku yang laen udah penuh." ucap Sandy dengan penekanan di akhir kalimat dan melirik sekilas pada Tera yang masih diam terpaku.


"----ketemu lagi di kelas ya."


Sandy melambaikan tangan dan berlalu pergi. Hari ini hari pertama MOS untuk siswa yang baru menginjakan kaki menjadi pelajar SMA.


Kegiatan monoton akan berlangsung selama tiga hari. Noa tak perlu repot cepat-cepat masuk kelas, apalagi meninggalkan Tera yang terdiam seperti itu.


"Kok aku takut ya. Sandy niat banget. Sampe pindah sekolah segala." gumam Tera.


Noa dengan santainya mengelus rambut Tera.


"Kalo kamu ngerasa takut, coba liat cincin yang ada di jari kamu. Bukan kamu yang mengikat aku. Tapi aku yang udah mengikat kamu. Hati kita gak akan pergi kemana-mana walaupun bosan suatu saat nanti akan melanda."


"Kamu sok puitis deh."


Tera mendengus geli dan kembali bersikap biasa.


"----dua pengabdi kamu mana?"


"Jangan bilang dua pengabdi setan lagi. Mereka pengabdi ketan. Inget gak, tape ketan item yang mereka makan waktu kita wisata kuliner." kata Noa dengan cueknya.


Tawa kecil tercipta dari Noa dan Tera. Peristiwa tape ketan yang di puja dua makhluk itu mana bisa mereka lupakan.

__ADS_1


"Mereka belum dateng?" tanya Tera.


"Tuh, mereka ada di warung tenda sebrang. Pasti lagi ngerayu Pak kumis minta ngutang lagi." ucap Noa kalem.


Noa menengok ke warung tenda sebrang sekolah yang menampakan sosok Dimas dan Ahmad yang sedang merayu Pak kumis pemilik warung tenda tersebut. Tera pun menengok ke sosok mereka, tawa kecilnya terdengar tanpa beban.


"Baby..." panggil Noa.


Tera kembali memindahkan perhatiannya pada Noa. Ia menunggu Noa membuka mulut kembali untuk berbicara.


"Kamu tenang aja. Aku masih doyan duduk di sarang penyamun. Gerombolan cowok di ujung kelas aku lebih menarik setelah ketertarikan aku sama kamu, tentunya. Daripada duduk tertib dengan Sandy."


Kata per kata Noa ucapkan dengan kelembutan berharap tersampaikan dengan baik pada Tera.


Dan Tera menerima dengan baik, responnya tersenyum dan kembali ceria seperti sedia kala.


Tera mengangkat tangannya di depan wajah Noa, ia memamerkan jarinya yang kini tersemat cincin berkilauan.


Perlahan senyum merekah kembali di bibir manisnya. Membuat hati Noa sesak oleh perasaan bahagia yang membuncah dan siap untuk meledak.


"Aku percaya kamu." ucap Tera singkat.


***


"Oper..." teriak Ketua kelas.


"Maen bola lo, minta di operin." kata Noa.


Ia sedang berada di kelas. Duduk di ujung kelas tempat sarang penyamun. Sandy duduk tak jauh dari Noa, ia sempat mempertanyakan mengapa Noa tak duduk sebangku dengannya. Alasannya tentu untuk menjaga perasaan Tera, tetapi alasan itu hanya Noa simpan dalam hati agar tak ada hati lain yang tersakiti.


Noa memberikan alasan pada Sandy, bahwa para penyamun membutuhkannya duduk disana untuk memberikan mereka contekan setiap diadakannya ulangan harian.


Untungnya, Sandy mengerti. Ia duduk bersama Maryam, siswi berhijab yang aslinya tomboy.


"Apaan nih?" tanya Beno.


Ia salah satu personil tetap geng penyamun yang kembali sekelas dengan Noa.


"Promo laundry punya Emak gue." kata Ketua kelas Noa yang bernama Baron.


"Gue mau cuci ******, Ron." kata Yoyo.


"Eh, ****** dilarang ya." jawab Baron. "Noa, lo kan ngekost. Lo pasti butuh jasa laundry."


"Hm, sekarang gue lagi gak butuh, Ron. Laen kali gue pake jasa laundry lo deh." jawab Noa kalem.


"Oke lah..."


Setelah adanya Tera di kosan, ia mengurusi Noa yang dulunya bagaikan seonggok manusia terbengkalai. Ia selalu mencucikan pakaian Noa, begitu pula sebaliknya. Terkadang, bila Noa melihat Tera kelelahan, Noa lah yang menggantikan tugas mencuci.


"Bocah tengil, lo di cariin tuh." teriak Maryam.


Sandy yang duduk di sampingnya menoleh ke pintu kelas.


Tera menatap datar pada Noa. Ia menunggu Noa menghampirinya. Ia melirik sekilas pada Sandy yang masih memperhatikannya.


"Noa, oy...samperin. Bengong aja lo." seru Yoyo.


Noa beranjak berdiri, ia menghampiri permaisurinya.


"Kenapa?" bisik Noa setelah berada di hadapan Tera.


"Cuma mau mastiin aja, kamu jauhan sama Sandy." bisik Tera pula.


Noa menaikan sebelah alis. Tera melirik sekilas pada Sandy. Ia kembali menatap datar kepada Noa.


"Aku balik ke kelas dulu." pamit Tera.


"Gak boleh."


Noa mencekal pergelangan tangan Tera hingga yang di cekal pun menautkan alisnya.


"----kamu udah bikin aku jalan kesini, aku mau minta ganti rugi."


"Ck, alesan yang di buat-buat. Lebay banget kamu, jalan ke pintu kelas doang." omel Tera.


"Aku di ujung kelas, jalan kesini itu jaraknya lebih jauh daripada yang duduk di bangku paling depan." kata Noa.


"Apaan sih."


Tera melepas cekalan di pergelangan tangannya.


"----ganti rugi segala. Ck, kamu itu kalo sehat malah ngelunjak ya."


"Ya udah aku sakit lagi aja." ucap Noa santai.


Tera dongkol, ia kembali mengomeli Noa. Omelan Tera adalah satu hal yang paling Noa rindui.


Noa membatin. 'Ini baru Tera. Ucapan super pedas dengan wajah judesnya. Salah satu sifat yang gue suka darinya. Semenjak kami berpacaran, Tera menjadi pribadi yang lembut dan penuh kasih sayang.'

__ADS_1


Noa teringat akan perjuangannya untuk mendapatkan cinta Tera hingga aksi kejar-kejaran mereka. Kini, tak perlu di paksa pun Tera akan dengan senang hati berdekatan dengannya.


"Udah ah, aku mau balik ke kelas. Di kelas kamu banyak makhluk berbahaya..." kata Tera sekilas melihat ke dalam kelas tepatnya kepada teman-teman Noa di ujung kelas dimana tengah berkumpulnya geng para penyamun.


"Jadi aku juga bahaya dong."


Noa menaikan sebelah alis dan menatap datar pada Tera.


"Iya. Gak usah di tanya lagi. Kamu emang berbahaya. Bahaya buat hati aku yang makin cinta kamu. Bahaya buat jantung aku yang rasanya jedag jedug terus kalo deket kamu." kata Tera dengan intonasi biasa.


Noa mendumel dalam hati. 'Godaan macam apa ini? Masa godain gue pake nada datar gitu?'


"----dulu, waktu kelas sepuluh, kelas kamu terkenal tengilnya. Sekarang, di kelas sebelas, di isi kebanyakan sama temen-temen kamu dari kelas sepuluh. Duh, aku ngeri." lanjut Tera.


"Enak ya, dapet kata-kata yang menohok gini. Udah lama aku gak di perlakukan kayak gini sama kamu." ucap Noa kalem.


"Ck, kamu gila. Maso banget sih."


Tera berdecak sambil bertolak pinggang.


Sembari memainkan kertas yang di bagikan Baron barusan, Noa bersandar di palang pintu. Ia menatap Tera dalam diam hanya untuk menikmati pemandangan merah merona alami.


"Jangan liatin aku terus." kata Tera judes.


"Aku nungguin kamu balik ke kelas, dari tadi kamu gak jalan ke kelas malah diem disini. Katanya mau balik ke habitat asli. Apa kamu mau masuk kelas aku, hem?" kata Noa yang hanya bercanda namun Tera malah tersinggung.


"Tau ah..."


Tera hendak beranjak pergi tetapi Noa menahan pergerakannya.


"----apaan sih. Tadi aja ngusir, sekarang nahan-nahan." kata Tera galak.


"......hem...."


Noa menunggu lanjutan kejudesan Tera.


"-----bilang aja, kamu kangen. Kamu sok ngusir." lanjut Tera yang semakin galak.


"Aku tau, kamu yang gak mau pergi kan? Ngaku?" kata Noa dengan santainya.


Bosan bersender, ia pun kembali menegakan badannya.


"----ikut aku."


Noa menarik tangan Tera menuju ke gudang sekolah. Ia menuntun Tera duduk di atas matras usang.


"Aku cuma pengen ngobrol tanpa gangguan." bisik Noa tepat di telinga Tera.


Ya, mereka hanya bercakap-cakap selayaknya pasangan kekasih pada umumnya. Noa paham betul akan perasaan Tera yang tengah dilanda rasa cemas karena Sandy kini bisa lebih dekat dengan Noa.


Usai banyak bercakap-cakap, mereka keluar gudang dan duduk di pinggir lapangan. Seorang siswi yang sedang mengikuti MOS menghampiri Noa.


"Kak, saya dapet hukuman dari permainan itu." tunjuknya ke kerumunan siswa baru yang membuat lingkaran tak rapi.


"----gini, saya di suruh ngerayu Kakak."


"Ayo, cepet di goda Kakak kelasnya. Kita mau lanjut ke game berikutnya." seru salah satu anggota OSIS.


"ayo...ayo...ayo..." teriak semua siswa baru menyemangati.


Saat siswi yang mendapat hukuman tersebut membuka mulutnya hendak melancarkan aksi merayu, suara itu tak jadi ia keluarkan. Tera mengangkat jari telunjuknya, ia menunjuk siswa tersebut dengan tatapan membunuh.


Tera berbisik dengan intonasi yang masih terjaga, agar setiap katanya di tangkap dengan baik oleh lawan bicaranya. Siswi tersebut hanya menatap takut-takut.


"Ssstt...dia...cowok gue. Awas kalo lo ngerayu dia. Menggoda dikit, gue bacok lo. Cari target yang laen. Sana." bisik Tera.


Dan siswi baru tersebut berlari ke tempatnya berasal, membuat semua orang menatap ke arah mereka berdua. Tera dengan tampang polosnya mengajak Noa menuju kantin tanpa menghiraukan tatapan heran dari semua orang.


"Mulai besok aku bakal bawa golok."


Tera berjalan dengan kesal di depan Noa.


Ia menghentak-hentakan kakinya. Noa tertawa tanpa suara melihat tingkah Tera. Noa pun mengejar langkah Tera hanya untuk merangkul kesayangannya.


"Kok aku makin sayang kamu. Kanyaah (kesayangan) aku." bisik Noa yang membuat Tera menoleh lucu dan tersenyum.


"Huh, ingetin aku buat bawa golok besok." kata Tera.


Noa membatin. 'Hm, kesayangan gue yang sangat disayangkan kegarangannya. Uh, yang tersayang gaharnya mantap. Tapi sayangnya, gue udah mentok sayang dia. Menyayangi Tera dengan kasih sayang yang tak terhingga.


Ia......unik.


Ia......istimewa.


Ia......sang kekasih...


TERA.'


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2