
"Gyaaahhh..pengabdi setan jilid 2, lo ngefans sama gue?"
Dua sahabat Noa sedang berlari mengejar Tera di kompleks perumahannya. Sepulang sekolah mereka membuntuti Tera pulang.
Aksi kejar-kejaran ini di mulai saat Tera membalikan badan dan menemukan tiga makhluk yang siap menerkam mangsanya. Bagaikan kijang, Tera berlari kencang.
"Pengabdi setan?"
Dua sahabat Noa bingung, berlari sambil berpandang-pandangan.
Tera menengok ke belakang sambil terus berlari. "Lo berdua pengabdi setan jilid 2. Tuh, setannya di belakang kalian."
Noa yang lari santai melihat ke belakang lagi. Dimas dan Ahmad menoleh ke belakang juga dimana mereka melihat Noa berlari sambil menengok ke belakang.
"Mana setannya?" tanya Noa.
"Lo, ******." kata Dimas dan Ahmad berbarengan.
Ini adegan yang terlalu horor. Noa ngebut mengejar Tera. Ahmad yang memang berada di depan Noa juga semakin ngebut. Ia tepat di belakang Tera.
"Gyaaahhh..lo ngefans sama gue?" ucap Tera.
Ia terlalu banyak nonton idola cilok, hasilnya seperti itu.
"Gak. Tuh, bos gue yang ngefans." teriak Ahmad.
"----kena lo.." kata Ahmad yang memegang tas punggung Tera.
Ahmad buru-buru menangkap Tera dari belakang. Tera yang memang terlahir liar, menyikut perut Ahmad. Dimas pun menolong Ahmad yang berguling-guling di aspal.
Tera lanjut berlari lagi, hanya Noa yang tersisa untuk mengejarnya.
Hm, anggap Noa bodoh. Definisi dari mengejar cinta pun Noa tak tahu pasti. Ia artikan dengan mengejar-ngejar betulan. Dalam artian sederhananya, Noa berlari mengejar Tera.
Anggap saja ia gila, itu sudah lama terjadi bahkan Tera juga mengakuinya. Ia mengidap penyakit gila akut dengan nama ilmiah 'Tera Maniac' dan dalam bahasa Indonesia disebut 'Noa Klepek'.
"Tera...i love you." teriak Noa.
Tera menengok lagi. Larinya semakin kencang seakan memakai kekuatan turbo.
"Najis." teriak Tera.
Noa membalas. "Sayang."
"Gue najis sama lo."
"Gue sayang sama lo."
"Sumpah, gue najis sama lo."
"Sumpah, gue sayang sama lo."
"Cuih."
"Muah."
Akhirnya, Tera berhenti lari, ia menghadap ke arah Noa yang masih lari mendekatinya. Tera angkat telapak tangannya, menyuruh Noa untuk berhenti.
"Stop." kata Tera.
Noa berhenti di depan Tera. Mereka sedang berhadap-hadapan.
__ADS_1
"Duh, Tera. Mahal banget lo. Diskon dikit napa." ucap Noa di sela nafas yang ngos-ngosan.
"Lo gila. Gue muak kayak gini terus." maki Tera.
"Emak-emak aja bakalan sedih kalo harga pangan terlalu mahal, mereka ngarep penurunan harga. Lo juga jangan kemahalan, gue ngarepin lo nih." kata Noa.
Tera memandang Noa datar. Ia mengusir. "Pergi lo."
"Ck, dingin amat kayak ubin toilet." ucap Noa kalem.
Tera menunjuk wajah Noa dan bertanya. "Lo jomblo?"
"Gue single." jawab Noa.
"Lo jomblo?" ulang Tera.
"Kadang-kadang gue mah." ucap Noa lagi.
"Maksud lo?"
"Maksud lo apa nanyain gituan, hem?"
"i-itu. . .hm, emang gak boleh?" gagap Tera.
"----apa maksudnya kadang-kadang tadi?"
"Kalo gue inget gue gak punya pacar, gue ngaku jomblo. Kalo gue inget lo, gue pengennya ngaku berpacaran. Kadang-kadang kan?" jelas Noa mengarah ke ngeles.
"----kenapa nanyain? Mau jadi pacar gue?"
"Najis." kata Tera.
"Iya. Iya. Sayang. Gue tau lo sayang gue." kata Noa.
"Apa? Mau lagi. Sayang sayang sayang sayang sayang sayang..."
Noa menaikturunkan alis sembari sedekah senyum pada sang pujaan hati.
Tera pergi dan Noa memandangi Tera yang beranjak dari hadapannya. Beberapa rumah lagi ia lewati dan sampailah di rumahnya. Tera masuk ke dalam rumah. Noa memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu rumah. Noa mengawasinya, hanya untuk memastikan Tera baik-baik saja.
Dimas dan Ahmad menghampiri, mereka berdiri di kanan dan kiri Noa.
"Nginep di rumah Ahmad yuk. Besok libur ini." ajak Dimas.
Noa mengangguk dan mereka bertiga menuju rumah Ahmad yang lumayan berjarak agak jauh. Mereka menaiki kendaraan umum lagi. Sesampainya di rumah Ahmad, matahari sudah berganti bulan di temani bintang-bintang.
Rumah Ahmad sangat-sangat sederhana. Ahmad sebenarnya bukan anak tunggal. Ia bercerita bahwa adiknya sudah meninggal dua tahun yang lalu karena demam berdarah dan sang ibu pergi entah kemana saat Ahmad masih berumur sepuluh tahun.
Ayah Ahmad sedang tak ada di rumah. Ia bekerja sebagai driver ojek online. Ahmad berkata, Ayahnya menarik penumpang di malam hari. Setiap malam Ahmad selalu sendirian di rumahnya.
"Gue biasa ikutan ronda kalo bete di rumah." kata Ahmad.
"Pantesan lo doyan molor di kelas. Tiap guru yang ngajar di kelas gue selalu bahas Ahmad kelas sebelah yang ngiler mulu, gak pernah merhatiin pelajaran." ujar Dimas.
"Haha..."
Ahmad tertawa. Ia mengacungkan jempol untuk membenarkan ucapan Dimas. Noa hanya senyum menanggapi mereka.
"Gue mau beli makan. Kalian mau gue beliin apa?" tanya Noa yang bangkit berdiri.
Ahmad menarik celana Noa. "Abah gue udah masak. Malem ini makan yang udah tersedia aja."
__ADS_1
"Kalo abah lo balik terus gak ada makanan buat dia makan gimana?" tanya Noa.
"Abah gue mah gak pernah makan kalo balik gawe. Langsung tidur." ucap Ahmad menjelaskan.
Ahmad berjalan ke dapur dan kembali dengan membawa tiga piring dan tiga gelas kosong. Ia bolak balik dari dapur ke kamarnya membawa berpiring-piring makanan dan nasi serta seteko teh.
"Mubazir kan kalo gak di makan. Abah gue kalo masak suka kebanyakan. Padahal gue doang yang makan." curhat Ahmad sambil menciduk nasi untuk Noa dan Dimas.
"Mad, itu makanan kalo gak abis di buang aja gitu?" tanya Dimas menunjuk makanan di piring.
"Gue bawa pake rantang ke pos ronda kalo gue ikut ngeronda. Hehe..." jawab Ahmad seraya mulai menyuap makanannya.
"Gue makan ya, Mad." ucap Noa yang di angguki oleh Ahmad.
Mereka menikmati makanan itu dengan khidmat. Tanpa di selingi obrolan. Noa sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tak menyangka, disini ia menemukan dua orang yang menjadi sahabat.
Mereka orang yang baik bukan hanya kepadanya tetapi juga kepada sekitar. Mereka sederhana tanpa topeng untuk di anggap baik. Tak ada kepalsuan yang mereka tunjukkan.
Mereka mengakhiri hari ini dengan tidur.
'Tera juga tidur kan? Semoga dia mimpi indah. Selamat tidur Tera. Mimpi indah ya.'
***
Noa kembali ke kosan siang harinya dari rumah Ahmad. Kosan sepi. Dua akang sepertinya sedang sarapan bubur atau menggoda para wanita yang sedang jogging. Itu kebiasaan baru mereka setelah di tinggal para tetua adat.
Sampai saat ini belum ada penghuni kost baru. Mereka masih stay bertiga tetapi kerusuhan yang terjadi masih tetap sama. Ramai sekali.
Beres-beres kosan Noa lakukan untuk membunuh rasa sepi. Selesai dengan keakraban bersama sapu dan lap pel, ia pun masuk kamar. Baru beberapa menit bersantai, perutnya berontak. Ck, ia lapar dan tanpa berlama-lama ia pun berganti pakaian dan pergi mencari makan.
Di perjalanan, ia bertemu seseorang yang ia yakini adalah pacar Tera. Iya, tak salah lagi. Tapi yang ia lihat pria itu sedang jalan bersama orang lain. Mesra sekali. Jalan bergandengan tangan, bermesraan di depan umum.
Noa mengikuti tersangka, mengintai dari jarak aman. Pria yang Noa yakini pacar Tera itu mengajak wanita di sampingnya masuk ke sebuah restoran. Noa ikut masuk, mumpung lapar ia juga memesan makanan.
Ia curi dengar percakapan mereka. Berpura-pura sedang mengotak atik ponsel.
"Beb, besok kamu jemput aku kan?" tanya wanita tersebut sembari mengusap tangan pria di sampingnya.
Prianya mengangguk dan tersenyum. Bahkan mengelus-elus rambut panjang tergerai milik wanita di sampingnya. Yang di elus pun bergelendotan manja di lengan si pria.
"Besok pulang kuliah jam berapa?" tanya pria yang Noa kenali sebagai pacar Tera.
Oh, wanita itu anak kuliahan. Pantas saja perlakuannya kepada pria itu lebih dewasa dan pria itu juga merasa nyaman di dekatnya.
"Tenang aja besok aku jemput kamu." ucap pria itu lembut.
Noa bisa melihat rona bahagia dari wanita tersebut.
"Abis ini jalan-jalan ya." kata pacar Tera.
"Iya, baby." respon terduga selingkuhan pacar Tera.
Noa bertanya-tanya, apa wanita itu tahu kalau pria yang sedang memanjakannya itu sudah mempunyai pacar. Sepertinya ia tak mengetahuinya.
Noa abadikan moment perselingkuhan ini dengan kamera ponsel secara diam-diam. Beberapa kali jepretan, ia lihat hasilnya. Hm, tak terlalu buruk. Wajahnya terlihat jelas, apalagi tampang si pria.
Noa tak tahu potret kemesraan mereka untuk apa. Seandainya ia tunjukan foto ini kepada Tera, ia tak akan serta merta percaya. Noa yakin Tera akan menuduh Noa memfitnah pacarnya.
Noa menyimpan baik-baik foto itu dalam folder lain. Barangkali suatu hari bermanfaat. Untuk membuka kedok pria itu, agar Tera tak selalu di bohongi. Noa yakin pria itu tak hanya sekali membohongi Tera. Di lihat dari kedekatannya dengan si wanita kuliahan itu, tak hanya hari ini mereka jalan berduaan.
'Andai kamu tahu, Tera. Aku bukan orang yang baik, tapi harus kamu tahu priamu begitu buruk memperlakukanmu. Kebencianmu tak adil bila hanya untukku. Dia tak lebih buruk daripada aku.'
__ADS_1
***
Tbc