Kakak Gemes

Kakak Gemes
Kode


__ADS_3

"Ciaciacia...pasangan ganda campuran kita lagi mesra nih..nyam...nyam..uhuk..." Ahmad berbicara sambil memakan cimolnya sampai ia tersedak.


Dimas tergelak, melihat Ahmad yang batuk sampai menunduk. Ia pun menepuk punggung Ahmad pelan.


"Keselek dosa lo." ejek Dimas.


"Keselek cimol, sinting." kata Ahmad di sela batuknya.


"Udah nafas di ujung aja masih sinting-sintingin gue."


Dimas menjitak gemas kepala Ahmad.


"Tewas dong gue. Yakali, ntar di berita onlen judulnya 'seorang pemuda tampan rupawan tewas keselek cimol karena ngutang di Pak kumis'. Turun dong pasaran gue." kata Ahmad panjang lebar. Ia menahan batuknya saat berbicara. Batuk bersambung mungkin.


"Pasaran lo turun kan lo udah tewas ini. Malah lo naek pasaran yang buat mayat itu." canda Dimas.


"Ck, kualat lo, Mad." ucap Noa santai sembari memasukan dua tangannya ke dalam kantung celana.


Tera yang tak tega melihat derita Ahmad, membuka tasnya dan memberikan sebotol air mineral yang ada manis-manisnya itu. Apalah namanya. Kalau tak salah Le Minumane.


"Mad, nih..minum."


Tera menyerahkan botol air mineral kepada Ahmad yang masih menunduk terbatuk-batuk.


"Hah? Tera, lo baek banget..gak nyangka gue..."


Dimas kaget melihat kebaikan Tera dan menepuk punggung Ahmad keras-keras sampai deritanya bertambah. Ahmad tersungkur di aspal.


Kasihan aspalnya robek, harus di bawa ke rumah sakit untuk di jahit.


"Cacingan gue nih..lo tepok segitu kencengnya. Nyusruk gue."


Ahmad menggerutu sambil bangun berdiri lagi.


"Makasih, neng Tera."


Dimas nyengir lebar sambil menerima botol air mineral dari tangan Tera.


Dimas pun berbicara pada Ahmad yang masih batuk bersambung.


"Elah, lo kan udah uleran bukan cacingan lagi."


Ahmad merebut botol air mineral dari tangan Dimas dan langsung menenggaknya. Tandas.


"Nagaan aja sekalian. Hinaan lo gak ngepek." kata Ahmad.


"Ngefek. Apaan lo, ngepek-ngepek. Ntar ketauan warga. Lilin lo goyang dumang, gue antepin loh." kata Noa super kalem.


"Itu mah ngepet."


Ahmad melempar Noa menggunakan botol kosong.


"Kegiatan lo pas malem jumat, Mad. Jangan lo lupain. Gue yang jaga lilin waktu itu." canda Dimas.


"Oh, sekarang gak pake lilin, Dim. Biar gak usah dijagain mendingan pake lampu LED aja. No goyang-goyang." ujar Noa yang mengundang tawa Dimas.


Ahmad manyun maksimal. "Kalian jahat. Gue kan tiap malem jumat khusyuk tau."


"Ngapain? Ngeb*kep?" tanya Noa.


"Tuh tau..."


Ahmad nyengir lebar hingga terdengar tawa kriuk. Sebahagia itulah dirinya.


Noa dan Dimas geleng kepala. Tera adem ayem saja di samping Noa.


"Mad, lo diem. Ntar gue campakin nih." Dimas menutup mulut Ahmad.


"Campakin? Jangan dong, daddy. Ntar baby mu ini jadi gembel ganteng."


Ahmad memandang wajah Dimas yang datar. Ia melepas bekapan di mulutnya.


"Cabut ah, gue gak kuat kalo si Ahmad udah panggil daddy. Bawaannya pengen adopsi temennya Justin."


Dimas berpura-pura pergi yang kemudian di seret Ahmad kembali.


Noa terbahak yang langsung di sikut Tera.


"Secara gak langsung lo bilang si Ahmad mirip Justin dong, Dim."


Dimas ngakak berat sambil menunjuk muka Noa yang merah menahan tawa. Noa takut di sikut Tera lagi.


"Bener, lur. Wekawekaweka..."


Dimas yang masih ngakak di tendang Ahmad yang kesal di nistai terus menerus.


"Lo..lo juga.." tunjuk Ahmad kepada Noa dan Dimas.


"----gak akan dapet jatah duren di kebon gue. Awas lo. Ancaman gue mematikan."


Ahmad pun menunjukan wajah sok seriusnya.


"----tapi, lo boleh Tera. Lo mah baik tadi udah kasih gue minum."


Tera senyum untuk pertama kalinya di hadapan dua sahabat Noa. Dimas dan Ahmad membalas senyuman manis milik Tera.


"Bodo amat. Gue gak dapet jatah duren gak bakal mati. Yang penting dapet jatah malem mingguan dari Tera. Iya kan?" ucap Noa sambil menaikturunkan alis memandangi Tera yang menatap datar.


"Iya deh." jawab Tera sekenanya.


"Pulang sekolah ntar kita ke kebon duren gue ya." ajak Ahmad kepada Tera.


"Yes. Panen duren."


Dimas merangkul Ahmad.


"Kan gue bilang lo sama Noa gak dapet jatah."


Ahmad memandang Dimas dengan wajah sok di buat datar.


"Muka lo, elah. Kayak dataran rendah." ucap Noa cuek.


"Dih, Ahmad mah emang dataran rendah. Kan yang disini gak tumbuh." tunjuk Dimas ke dua dada Ahmad.


"Haha..yang tumbuh sebelah mana, Dim? Sebelah bawah kan."


Noa ngakak lagi dan di sikut Tera kembali.


"Hahaha..iya bener. Lo emang cabul maksimal."


Dimas ikutan ngakak sambil merangkul Ahmad.


"Itu pujian?" tanya Ahmad kepada Noa dan Dimas. Mereka mengangguk berbarengan masih dengan tawa yang tersisa.


"----okelah, lo berdua udah puji gue. Kita panen duren balik sekolah ya."


Noa dan Dimas mengangguk sembari mengacungkan jempol tanda setuju. Tera menggelengkan kepalanya.


"Kok ada sih, makhluk kayak si Ahmad. Pujian macem apa itu."


Tera pandangi wajah Noa yang kalem.

__ADS_1


"Ck, gak usah di pikirin. Itu urusan Ahmad dan otaknya. Urusin aja hati gue. Kapan kita jadian?" ucap Noa kalem yang menyindir Tera secara halus.


"Jawab dong, Tera." kata Dimas mengompori.


"Kasian si anak mesum, lo antepin mulu." kata Ahmad.


"Lo nembaknya bisa lebih romantis gak?" tanya Tera cuek.


"Kupinang kau dengan duren yang udah di belah-belah ya." canda Noa.


Tera mencubit pinggang Noa dengan kencang sampai Noa mengaduh.


"Oh, salah. Kita belah duren. Mau gak?"


"Gyahahaha..anak mesum, lo emang ***** tak terkira."


Dimas ngakak nista.


Ahmad menimpali. "Sekarang berharap belah duren. Balik sekolah belah duren di kebon gue. Mabok lo nanti."


"Mabok cinta mah iya banget. Iya kan, Tera." kata Noa.


Tera menunduk dengan wajah memerah. Sedangkan Noa menggoda Tera dengan colekan di pipi.


"iih, gue sebel sama lo."


Tera menyingkirkan tangan Noa yang berada di pipinya.


"ah, gue mah cinta sama lo." ucap Noa enteng.


"Tembak gue yang bener..." lirih Tera.


Ia pergi meninggalkan mereka bertiga yang tercengang mendengar penuturannya.


"Kode tuh, boss."


Ahmad menunjuk kemana arah Tera pergi dengan matanya yang melotot dan mulut menganga saking syoknya.


Dimas mengangguk. "Hooh, lur. Ini kesempatan."


"Kalo kalian inget, dia masih punya pacar." kata Noa.


"Tapi kan lo udah berlebihan sama dia, lur. Lo ngarep sampe dia juga berharap." kata Ahmad menyadarkan Noa.


Dimas angguk membenarkan.


Noa diam sejenak, berpikir. "Hm, gue gak tau ini hal yang bener atau enggak karena dari awal gue udah salah langkah."


Ia pandangi wajah antusias dua sahabatnya yang mengharapkan kelanjutan ucapannya.


"----Bantuin gue. Ada yang harus gue lakuin buat dia."


Dimas dan Ahmad tersenyum, mereka mengacungkan jempolnya.


"Siap..." ucap mereka berbarengan.


"Sekarang..." ucap Noa final.


"Sekolah gimana? Bentar lagi bel." Dimas menunjuk gerbang yang sebentar lagi akan di tutup.


"Mad, lo awasi Tera di kelas. Jangan sampe Tera balik duluan nanti. Gue kesini lagi sama Dimas." kata Noa kepada Ahmad.


"----Dim, lo ikut gue. Motor lo antepin aja. Pake motor gue."


"Siap, boss. Mana kunci motor lo, Dim. Buat antisipasi kalo si Tera kabur." Ahmad menadahkan tangan meminta kunci motor Dimas yang langsung di respon Dimas dengan menyerahkan kunci motornya, lalu Ahmad memasuki gerbang sekolah. Noa dan Dimas pergi, mencari sesuatu untuk Tera.


***


Noa yang sedang berjongkok lalu memandang Dimas datar.


"Ngedumel mulu lah. Buruan bantuin gue."


Dimas berjongkok di samping Noa. Membuat banyak hiasan dari kawat yang di bentuk dengan sedemikian rupa.


"Nah, beres." ucap Noa puas.


"Huft, terus sekarang apa lagi? Mampus lo, kalo ada duren jatoh kena hiasan ini." tunjuk Dimas.


Duren berjatuhan di sekitaran hiasan yang mereka buat.


"----si Ahmad gak bener iket durennya, nih."


"Itu jadi tugas lo. Kasih tau sama duren yang mau jatohnya, jangan sampe kena hiasan kita ini. Awasi jangan sampe kena kepala lo sendiri." kata Noa.


"Lo emang gila. Nego sama buah duren. Ya udah sana, jemput si Tera. Udah siang nih, gue gak yakin si Ahmad kuat sama sifat liar Tera. Lo kan pawangnya." ucap Dimas sambil mengibaskan tangan menyuruh Noa pergi.


Noa nyengir dan bergegas pergi ke arah sekolah. Ia akan menjemput Tera, sang mentari paginya. Kenapa begitu, karena wajah Tera itu indah dan rona merah alaminya membuatnya semakin indah. Bagaikan matahari terbit.


Di gerbang sekolah, Ahmad celingukan memperhatikan sekitaran.


"Mad, mana Tera?" tanya Noa.


Ahmad menolehkan kepala melihat Noa yang baru datang.


"Gue gak tau. Dia ngilangnya cepet banget."


"Susulin ke rumahnya aja lah." kata Noa dan kembali menghidupkan mesin motor.


Ahmad mengangguk dan berlari ke parkiran, ia membawa motor Dimas. Kemudian mereka menuju rumah Tera.


Di perjalanan, Ahmad membuntuti di belakang Noa. Teringat akan sekuntum bunga mawar biru yang sebelumnya pernah ia bawa ke rumah Tera, Noa menepikan motor di toko bunga.


Ia membeli sekuntum bunga mawar biru untuk Tera.


Singkat cerita...


Di rumah Tera, Noa mengetuk pintu. Tera tak membukakan pintunya.


Noa menelepon dan mengirim pesan, namun tak ada respon dari Tera.


Akhirnya, ia menunggu di depan rumah bersama Ahmad. Mereka duduk di lantai teras rumah Tera, Noa memegangi sekuntum bunga mawar biru yang masih setia ia pandangi.


Dan pandangan Noa berpindah kala mendengar suara mesin mobil. Seseorang turun dari taksi. Tera berjalan lesu sembari menundukan kepalanya menuju rumahnya. Tak menyadari kehadiran Noa dan Ahmad.


Saat Tera sudah berada di teras, Noa dan Ahmad yang sudah berdiri masih tak di sadari kehadirannya.


"Tera..."


Akhirnya Noa harus menyapa.


Tera mengangkat wajahnya untuk memandangi Noa. Wajahnya sedih, Noa pun terbawa akan suasana sedih yang meliputinya. Ahmad memandangi mereka sebab ingin mengetahui kelanjutannya.


"Gue harusnya tetep benci lo..."


Tera menunduk dan mengusap kasar matanya.


"Enggak..kasih gue kesempatan buat nunjukin sesuatu sama lo." ucap Noa lembut.


Tera menggeleng kuat-kuat. Memandangi Noa penuh rasa benci.


"Lo cuma maenin gue. Pergi..." teriak Tera.

__ADS_1


Ahmad melongo mendengar teriakan Tera. Noa berusaha mendekati Tera, tetapi Tera menolak. Ia menyingkirkan tangan Noa yang berusaha meraihnya.


"Jangan sentuh gue. Jangan deketin gue lagi." teriak Tera lagi.


Noa masih tetap berusaha meraih tubuh Tera tetapi kini Ahmad mencekal tangannya. Ahmad menggeleng untuk mengisyaratkan sesuatu.


Sekuntum bunga mawar biru terjatuh begitu saja dari tangan Noa. Masih ia pandangi wajah Tera, tak lepas sedikit pun.


Tera menginjak bunga mawar biru tersebut hingga rusak.


"Gue benci lo..." lirih Tera.


Ia melewati Noa dan Ahmad, di bukanya pintu depan rumahnya dan ia memasuki rumah dengan membanting pintu keras-keras membuat Noa dan Ahmad terkesiap.


"Mending kita balik dulu. Percuma kalo udah kayak gini." ucap Ahmad memberi kesabaran.


Noa mengangguk dan menuju motor yang terparkir. Sesekali matanya memandangi pintu rumah Tera, berharap Tera akan membuka pintu kembali.


"Lur, ayo cabut.."


Ahmad menepuk lengan Noa untuk menyadarkannya dari lamunan.


***


"Hah? Lur, sabar lur..jangan patah hati lagi." respon Dimas setelah Ahmad menceritakan semuanya.


"Hm, gue balik ya." jawab Noa lesu.


"Hati-hati lo."


Ahmad menepuk pelan pundak Noa.


Di perjalanan pulang menuju kosan, Noa membawa motor sambil melamun. Hingga tak menyadari bahwa ia mengambil arah berlawanan. Tabrakan tak terhindarkan. Noa menabrak pengendara motor lain.


Karena Noa yang salah, ia harus membiayai pengobatan korban yang ia tabrak.


Noa kembali ke kosan dengan kaki pincang, celana seragam yang bernoda darah ia abaikan. Ia ke rumah sakit untuk mengobati korban yang ia tabrak saja, tanpa menghiraukan kondisi diri sendiri. Sakit di kakinya rasanya tak terasa hanya karena ada yang lebih sakit lagi di area hatinya.


Kang Jhon lari menghampiri Noa bersama Sandy.


"Lo kenapa?" tanya kang Jhon khawatir.


"Jatoh dari motor." jawab Noa lesu.


"Motor lo gapapa. Aspalnya udah dapet jaitan belum."


Kang Jhon masih sempat becanda kepada Noa di sela aksi membantu Noa memasuki kamar kost.


Noa mendengus mendengar candaan kang Jhon. Ia melirik Sandy yang juga ikut membantunya berjalan.


"Lo disini?" tanya Noa.


"Gue nunggu lo dari siang." kata Sandy.


"Oh, gitu." jawab Noa singkat dan kembali berjalan menunduk.


Noa duduk di kasur dan kang Jhon mengambilkan kotak obat ke rumah ibu kost. Sedangkan Sandy mengambil baju ganti untuk Noa dari dalam lemari.


Kang Jhon kembali dengan nafas ngos-ngosan. Mungkin ia berlari bolak balik.


Ia duduk di depan Noa dan membuka kotak obat.


"Kang, biar gue aja yang obatin luka Noa. Tadi kang Jhon mau cari makan kan?" kata Sandy.


"Iya sih. Tapi lo gapapa ngurusin si Noa sendiri?" tanya kang Jhon kepada Sandy.


"Gapapa, kang."


Sandy tersenyum dan menggeleng.


"Gue pergi dulu cari makan ya. Buat lo sama Noa sekalian." kata kang Jhon.


Sandy mengangguk dan kang Jhon berlalu pergi meninggalkan Noa dan Sandy berduaan.


"Kang Acep sama Rima mana?" tanya Noa pelan.


"Masih ngampus mungkin." jawab Sandy.


Ia hendak melepas baju seragam Noa yang kemudian langsung Noa cegah.


"Gue bisa sendiri." ucap Noa.


"Gue bantu. Nurut aja, sini."


Sandy membuka semua baju Noa dan menyisakan celana boxer yang masih menempel di badannya.


Ia membersihkan kotoran di luka kaki Noa. Sandy begitu telaten mengobati luka-luka tersebut. Keadaan Noa membaik setelah luka di kakinya di obati.


"Makasih." ucap Noa tulus setelah Sandy selesai mengobati semua lukanya.


"Ada luka yang laen lagi gak?"


Sandy memperhatikan kaki dan tangan Noa.


"Ada..." gumam Noa.


"Yang mana?" tanya Sandy.


Noa jawab dengan lemah. "Hati gue."


Sandy tersenyum. "Ada masalah? Mau gue bantu obatin?"


"Gak perlu...makasih Sandy..."


Noa memaksakan senyuman pada Sandy.


Tanpa di duga, Sandy mendekat perlahan. Noa tak bisa menghindar darinya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Noa dan mengecup bibir Noa sekilas. Noa tak bergerak di buatnya. Noa tak mengira Sandy akan melakukan hal itu.


Kembali, Sandy hendak mengecup bibir Noa. Namun kali ini Noa bisa menghentikannya.


"Maaf, Sandy. Gue gak mau kasih harapan kosong buat lo." kata Noa.


Iya, karena Tera membencinya pun dengan alasan Noa yang memberikan harapan kosong.


"Lo udah kasih gue harapan berlebih, Noa. Secara gak langsung, karena kebaikan lo. Gue sayang lo." ucap Sandy bersungguh-sungguh.


"Gue gak bisa, Sandy. Maaf..." lirih Noa.


"Karena seseorang yang lo sukai?" tanya Sandy dan Noa mengangguk membenarkan.


"----lo sabar buat dia. Biarin gue juga sabar buat lo. Sabar menunggu lo membuka hati untuk menerima pernyataan gue."


Noa tertunduk, ia hanya bisa terdiam. Sandy memeluk Noa dengan erat. Ia berbisik di telinga Noa.


"Gue sayang lo, Noa."


'Maaf...Tera...gue nyakitin lo...'


'Maaf...Sandy...gue sayang Tera...'


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2