Kakak Gemes

Kakak Gemes
Bukan akhir


__ADS_3

"Noa, coba jelasin sama si Ahmad kalo gue ini cinta sama dia."


Rima sedang berkoar-koar di teras kosan hingga Ahmad urung berkunjung. Ahmad menggeber motornya dan berlalu dengan kencang.


"Cih, si kampret. Lo kalo bodoh jangan dipiara sampe beranak pinak. Gimana lo mau sergap si Ahmad. Kalo dia baru nyampe pager aja, lo udah koar-koar." kata Noa.


Tera pun menimpali. "Ck, dia udah punya pacar loh. Mana bisa lo rebut pake cara tarzan gitu. Lagian lo dulu anggun dan lembut, sekarang kok begajulan gitu."


Rima menampilkan cengiran lebarnya. Ia memang si bolot yang tak bisa mendengarkan nasihat dari yang berpengalaman.


Bila ada yang mempertanyakan kang Jhon dan kang Acep. Mereka ada. Mereka sedang mencari cinta terbaik dengan cara berjamaah. Mereka bersatu untuk tujuan yang sama yaitu beranak pinak di masa depan nanti.


"Gue mau deh sama second nya si Ahmad. Biarin gue aja yang dapet sisanya asalkan cinta dia full buat gue seorang." ujar Rima yang mulai sinting bin sableng.


"Duh, akal bulus bakal di mulai lagi nih." gumam Tera.


Noa menjawil pipi Tera karena gumaman itu sungguh lucu. Rima pun tertawa kecil melihat sekelumit keromantisan tersebut.


"Cuma segelintir orang yang bisa romantis gitu. Gue juga pengen." kata Rima sembari berharap penuh.


"Lo pasti bisa." ujar Noa menyemangati.


"Makanya lo bantuin gue. Biar gue bisa jadian sama sohib lo itu." kata Rima sembari tersenyum.


Noa mengangguk dan balas tersenyum.


"Gue bantu sebisanya. Eksekusi mah harus lo yang jalani sendiri. Cari kesempatan aja, itu kunci rahasianya."


"Kayak gue dong. Gue cari kesempatan terus curi hatinya." ujar seseorang yang baru saja datang.


Dimas bergabung di antara mereka bertiga di teras kosan itu.


"Maksud lo?" tanya Rima tak mengerti.


Noa dan Tera sudah paham maksud ucapan Dimas barusan. Bahwa ada yang ingin Dimas sampaikan pada mereka tentang kepemilikan hati yang sah. Bahwa dirinya telah berhasil mendapatkan sebuah rasa yang bersambut.


"Noa, apa yang lo bilang itu bener. Gue udah cari kesempatan. Sekarang gue udah curi hatinya jadi milik gue. Setelah lo denger ini, apa lo masih mau jadi sahabat gue? Karena orang yang gue sayang itu orang yang udah bikin lo marah besar." kata Dimas.


Rima hanya terdiam menatap Noa dan Tera. Membuang nafas tanpa kelegaan itulah yang saat ini Noa lakukan. Masih terasa sesak tatkala mengingat kejadian beberapa hari yang lalu ketika ia harus melihat kekasihnya disakiti. Ia takut membayangkannya. Bila tak ada sang kekasih, ia bisa mati kesepian. Ia menolak untuk memikirkan hal itu.


Ia pandangi wajah memelas Dimas. Lalu Noa beralih menatap tepat ke sepasang mata indah bagaikan oase yang menyegarkan.


Tera tersenyum manis dan ia menyampaikan keinginan hatinya.


"Maafin dia. Aku gak mau kamu jauhi Dimas. Kamu juga gak mau itu terjadi kan? Persahabatan kalian istimewa. Lagipula aku gapapa. Buktinya kita masih sama-sama."


Noa mendengar deru mesin motor yang mendekat kemudian memasuki area teras kosan kembali. Ahmad menenteng sesuatu sembari turun dari atas motornya. Bahkan hal itu pun tak mencuri perhatian Rima. Ia tak berpaling karena hal yang Noa hadapi mencuri seluruh perhatiannya.


Kang Jhon dan kang Acep berbarengan berjalan menuju keramaian. Mereka pun mencurahkan perhatian kepada Noa.


Dengan menatap Tera lekat-lekat, Noa mulai mengucapkan seluruh rasa yang menggumpal di dalam hati. Tera pun memandangi intens kepada Noa. Ada kesungguhan disana.


"Apa kamu udah maafin dia? Sungguh-sungguh? Setelah segala perbuatan buruknya. Aku enggak. Aku enggak bisa. Aku masih gak bisa maafin dia. Aku cuma takut kehilangan kamu. Gimana kalo dia jahatin kamu lagi saat aku lengah? Aku gak mau nyesel lagi karena aku lalai." bisik Noa.


"Aku gapapa. Aku disini. Aku gak akan tinggalin kamu. Maafin dia, karena aku juga udah maafin dia." balas Tera dengan berbisik pula.


"Aku gak bisa seperti kamu. Aku bukan lelaki baik hati. Semudah itukah memaafkan?" lirih Noa.


Tera pun berbisik di telinga Noa dengan memaksanya untuk menunduk.


"Maafin dia. Biarin hati kamu lega kembali."


Noa pun spontan memeluk Tera setelah bisikan lembut itu selesai menyapanya. Tera refleks membalas pelukan itu.


Noa membatin. 'Hm, usai sudah ketakutan itu. Seharusnya rasa takut itu gak ada gunanya karena milik Tuhan memang harus kembali pada-Nya bila DIA menginginkannya. Dan Tera hanyalah titipan Tuhan semata. Gue hanya bisa menjaga sebisanya. Semampu tangan gue merengkuhnya. Gue hanya berhak membahagiakannya tanpa bisa memilikinya secara abadi dalam kehidupan yang fana.'


Ia mengalihkan tatapan kepada Dimas yang masih setia memandanginya. Ahmad mengangguk sebagai isyarat untuk melakukan hal yang lebih baik. Rima tersenyum untuk mengisyaratkan bahwa Noa harus melakukan kebaikan. Kang Jhon dan kang Acep mengangguki pula untuk menyemangati Noa bahwa ia bisa melakukan yang terbaik untuk Dimas dan Sandy.


Tera yang masih dalam pelukan erat Noa pun tak kalah menyemangatinya. Tera menyalurkan sebuah rasa yang menghangatkan raga hingga ke jiwa. Ia menghidupkan hati yang layu karena perbuatan Sandy. Sebuah rasa untuk memaafkan.


"Gue harusnya gak pamerin ini sekarang. Kalo gue udah pacaran sama Sandy. Kayaknya ini gak tepat sama sekali." kata Dimas.


Tera berbisik dalam pelukan erat Noa.


"Sayang, mereka pacaran. Kamu gak mau kan musuhin Dimas?"


"Aku gak mau jauhin Dimas. Aku mau maafin Sandy. Asal dia janji gak akan sentuh kamu dengan kekasaran lagi." bisik Noa.


Dimas melambaikan tangannya untuk mengisyaratkan kepada seseorang di balik pagar kosan agar menghampiri mereka.


Sandy berjalan perlahan menghampiri Noa yang masih memeluk Tera. Eratnya tak akan bisa dilepaskan dengan mudah.


Sandy berjalan semakin mendekat. Semakin meragu pula pergerakannya juga mimik wajahnya.


Dimas membuat gerakan agar Sandy mendekat semakin cepat dengan menarik lembut pergelangan tangan kanan kekasih barunya itu.


Noa melepaskan pelukan erat itu untuk sementara. Karena nanti ia akan mendekap Tera lagi. Tera memang seharusnya ada dalam pelukan Noa. Kembali mengisi penuh lingkaran tangannya.

__ADS_1


"Kamu mau sampein sesuatu kan?" tanya Dimas kepada Sandy yang berdiri kaku.


Sandy mengangguk kemudian menghembuskan nafas menenangkan. Lalu dengan sungguh-sungguh ia mengucapkan penyampaiannya. Ucapan yang bukan hanya sekedar singgah untuk meyakinkan seseorang tetapi kesungguhan yang semestinya.


"Gue minta maaf Tera atas perlakuan buruk gue sebelumnya. Gue minta maaf Noa. Gue nyesel gak dengerin peringatan lo sebelumnya. Maafin gue. Jangan jauhi Dimas. Gue minta maaf." ucap Sandy.


Tera mendongak untuk melihat wajah Noa. Ia menggenggam erat tangan kekasihnya. Terasa hangat genggaman tangan itu.


Noa pun menunduk untuk menatap mata yang di penuhi kekagumannya itu. Tera berkedip dengan polosnya. Bulu mata yang panjang nan lentik itu menyapu angin. Kelopak matanya menutup sepersekian detik lalu membuka kembali untuk memamerkan mata hitam bulat sempurnanya.


Bibir tipis nan mungil itu menampilkan senyuman manis untuk memberikan semangat demi sebuah tindakan yang baik untuk ke depannya.


"Ayo sayang." ucap Tera tanpa suara.


Noa menatap Sandy kemudian mengucapkan kalimat yang seharusnya terucap. Kalimat yang begitu diharapkan oleh Sandy.


"Gue maafin lo." ujar Noa.


Sandy tersenyum sembari membuang nafas lega. Ia pun berpindah menatap Tera.


"Lo maafin gue, Tera?" tanya Sandy.


"Gue udah maafin lo." ucap Tera tulus.


"Makasih, Noa. Makasih, Tera. Lo masih mau maafin kesalahan gue." gumam Sandy.


Tera tersenyum dengan begitu manisnya sehingga semua pun tertular oleh kelembutan itu. Semua bernafas lega dan tersenyum mengikuti perbuatan si manis yang selalu menggoda tanpa rayuan itu.


Noa memeluk Tera kemudian mengecup dahinya penuh rasa sayang. Rasa yang membuncah. Meledak-ledak. Meluap. Lalu dengan rasa sayang pula ia menyudahi kecupan tersebut.


Semua yang memperhatikan perlakuan Noa kepada Tera menghembuskan nafas lega di iringi senyuman hangat.


"Aku gak pernah salah pilih. Bahwa kamu emang jodoh yang baik hati." bisik Noa tepat di telinga Tera sehingga hanya Tera yang mendengarkan itu.


Noa tersenyum. 'Karena sesungguhnya kalimat cinta itu hanya untuknya. Teruntuknya seorang. Tera Ramadhani.'


***


Petang yang menyambut kali ini bukan berarti menggelapkan hati yang sedang gemerlap.


Petang ini, tatkala bintang berkelip menggoda para insan yang sedang di mabuk asmara, saat itu pula bulan berusaha untuk menyinari dengan seberkas sinar yang ia punya untuk menambahkan semarak cinta, membuai hati yang sedang terbuai.


Jangan salah mengira kemustahilan itu tak akan menjadi kenyataan. Tuhan itu Maha Adil. Mustahil itu berpasangan dengan mukjizat.


Tentang rasa yang terbentuk tiba-tiba kala cinta ada di depan mata. Kala cinta berada di hadapan dengan segala penghalang. Seluruhnya luruh oleh ketulusan yang diperlihatkan. Maka ketika seseorang ditunjukan jalan menuju cinta tak ada gunanya untuk menolak. Menjalaninya dengan tabah dan tegar itulah kuncinya. Menerima dengan bijaksana.


Tatkala cinta hadir di antara luka maka biarkanlah cinta mengobatinya. Mungkin sosok pecinta itu mempunyai obat mujarab untuk menyembuhkan luka hati. Atau dirinyalah sang penyembuh sebagai obat untuk laranya hati.


Tatkala cinta ada di antara cinta yang sedang bersemi maka biarkanlah cinta itu bersemi di antara berseminya. Mungkin suatu hari nanti cinta itu bisa memberikan musim semi kala cinta milikmu tak lagi bersemi. Bila cinta yang di miliki menjadi tandus mungkin tidak berpengaruh terhadap cinta bersemi tersebut. Biarkanlah cinta lain tumbuh dan bersemi walaupun engkau telah memiliki musim semi yang lain yang hampir tandus dalam hatimu.


"Jhon, gue pengen deh kita sama-sama terus kayak gini. Lo mau kemanapun gue bakal ikut. Semoga aja kita bisa sohiban dari masih jadi gembel sampe sukses macem kang Tisna sama kang Ajat." kata kang Acep.


Kang Jhon menanggapi. "Semoga aja, Cep. Semoga Emak gue gak jantungan kalo liat anaknya yang tinggal sebiji di follow sama lo. Gue ngeri Emak salah paham. Gue mau usaha, lo dukung gue ya."


"Kampanye gak nih, make dukung lo segala." canda kang Acep.


"Ck, lo doain aja. Jadi sohib yang baik dong." ujar kang Jhon.


Kang Acep menadahkan kedua tangannya berusaha mendoakan.


"Semoga si Jhon jadi makhluk yang sukses, jadi gue bisa naek mobil olahraga dan gue bisa ikutan sukses."


"Mobil sport, Cep." koreksi kang Jhon.


"Sama aja lah, Jhon." elak kang Acep.


"Semerdeka lo." kata kang Jhon.


Di lain tempat di waktu yang sama. Dua insan sedang memadu kasih. Siapa lagi kalau bukan Dimas dan Sandy.


Mereka sedang mencari celah untuk membuat keromantisan. Mengobrol banyak untuk saling mengenal lebih dekat satu sama lainnya. Dimas benar-benar serius dengan ucapannya bahwasanya ia bisa mempersembahkan keromantisan yang diusahakannya sendiri.


"Gue udah romantis belum?" tanya Dimas yang sedang memangku Sandy.


Ia sedang berada di rumah Sandy untuk sekedar menemani sekaligus membuat moment romantis. Segala daya dan upaya telah ia lakukan beberapa hari ini saat mereka telah resmi berpacaran. Seluruh jiwa dan raga telah ia pasrahkan untuk cintanya. Dimas telah jatuh ke dalam pesona tersembunyi milik Sandy.


Tentunya Sandy pun ingin membalas perasaan yang sama besarnya itu. Ia akan menjadi pasangan yang baik untuk Dimas. Janjinya ia pegang teguh.


"Hm, Dim. Makasih karena lo mau nemenin gue. Makasih buat usaha lo, kerja keras lo jadi pacar yang romantis. Ini udah lebih dari cukup, Dim."


Sandy memeluk Dimas dengan mesranya.


"Jangan meragu ya. Cinta yang dateng tiba-tiba bukan berarti cuma singgah sebagai permainan. Ini serius. Lo juga harus mau gue seriusin." ujar Dimas.


"Gue mau banget kok, Dim."


Sandy semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Sementara itu, ada dua insan bukan pasangan atau mungkin belum menjadi pasangan yang sedang mengobrol atau lebih tepatnya berdebat di teras kosan.


Rima dan Ahmad para pelaku biang onar malam ini. Ahmad yang hendak pulang sudah akan menaiki motornya tetapi Rima menariknya sehingga pergerakan itu tertahan.


"Apaan sih lo. Rese deh." sewot Ahmad.


"Ck, galak amat lo. Kayak Emak-emak bunting." kata Rima santai.


"Cih, maksud lo si Tera yang galak juga termasuk dalam hinaan lo?"


Ahmad mendecih dengan kesalnya. Baru kali ini ia direcoki manusia koplak. Baru pertama kalinya ada manusia ngebet ogah jomblo. Selain Dimas tentunya. Itu dulu. Itu masa lalu. Kini Dimas sudah laku dan tobat menjadi manusia ngebet ogah jomblo.


"Gue gak masukin nama Tera ke daftar Emak galak ya. Lo yang bilang barusan." jawab Rima.


"Eh, rese. Lo mati dulu semalem bisa gak? Gue mau balik ke rumah terus bobo manja. Kasian guling gue. Udah sana balik ke kamar lo. Hussshh." gerutu Ahmad.


"Hm, Mad lo makin galak makin hot. Sambel Ibu kost aja kalah. Gue udah mencret cinta nih. Gue tunggu second lo. Sumpah gue doyan sama lo. Mau lo jadi duda juga gue mah hayu lah."


Rima nyengir lebar membuat deretan gigi putih bersinar itu semakin menambah kadar kecantikannya. Si cantik yang sayangnya masih jomblo ngebet kawin.


"Eh, gue udah punya pacar. Gue punya Imas dan sampe saat ini kita baik-baik aja." kata Ahmad.


"Ck, gue yakin. Lo bakal jadi bokin gue. Lo pasti bakal nyerah. Lo bakal bertekuk lutut di hadapan gue." ujar Rima dengan kalemnya.


Yakin yang terlalu berlebihan dengan usaha yang masih nol.


"Gimana, Mad. Lo pasti kalah. Nyerah aja dari sekarang." kata Rima.


Ahmad terdiam. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Entah apa.


"Mad, oy...Mad..."


Rima menggoyangkan tangan Ahmad untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Gue ogah sama lo. Gue ini pejuang, bukan pihak yang diperjuangkan. Lo gak boleh kudeta gue. Inget juga, gue punya pacar. Lo aja yang nyerah, sana." jelas Ahmad sepanjang lebarnya.


Tentunya Ahmad gengsi diperjuangkan seperti ini. Ia pria. Bukan wanita. Ia mempunyai hak berjuang seratus persen. Namun perjuangan untuk mendapatkan cinta telah dicapainya.


"Ya udah, gue tunggu second lo. Gak masalah kok. Kalo Noa aja berhasil dapetin Tera. Dimas akhirnya di terima Sandy. Masa gue gak bisa dapetin lo? Mad, gue udah tau cewek lo itu terlalu cuek. Biarin gue tunggu lo bosen di cuekin. Lo bakal butuh gue nanti." kata Rima yakin.


"Semerdeka lo."


Ahmad menaiki motornya tanpa dihalangi oleh Rima lagi.


Ahmad melajukan kendaraan beroda dua itu tanpa memikirkan seluruh isi percakapan barusan. Bahwasanya ada cinta yang mau menanti. Ia tak belajar banyak bahwa Noa dan Dimas mempunyai kesabaran menanti. Dan Ahmad yang menjadi pihak yang dinantikan belum peka pada cinta sejati itu.


Mungkin waktu yang akan menjawab semuanya. Agar seluruh cinta itu hadir merata dan setara untuk semuanya. Supaya rasa iri itu jauh dari mereka. Supaya yang abadi di fananya itu ada.


Dalam kamar yang sunyi, dua insan yang masih saling mencintai sedang asyik melakukan sesuatu.


"Ini tuh disini, baby." kata Noa yang tengah memajang foto mereka.


"Jangan iih." dumel Tera.


Ia cemberut dengan semaksimal bibir mungil nan tipisnya mampu.


"Jangan manyun berat. Aku gak mampu hibur kamu." bisik Noa.


"Kamu kan bukan cowok penghibur, sayang." kata Tera.


"Hem, biarin aku jadi cowok penghibur cuma buat kamu." bisik Noa.


Tera berucap. "Kamu cowok badut dong."


"Kalo itu mau kamu, aku mau jadi badut." gumam Noa.


"Enggak ah, aku pengen kamu cepet jadi suami sah aku. Buruan nikahin aku." bisik Tera.


"Hm, kisah kasih kita belum berakhir sayangku. Ini bukan akhir. Akan ada kisah lanjutannya untuk kita ceritakan kepada pihak yang mau mengetahui kelanjutan hubungan ini. Kisah manis yang masih banyak lagi untuk kita perlihatkan. Bukan untuk dipamerkan." ujar Noa.


Kalung berliontin kunci sedang berada di tempat semestinya. Di lubang kunci sebuah kotak musik yang sedang mengalunkan lagu indahnya. Sama halnya dengan Noa dan Tera yang memang keduanya tak bisa terpisahkan satu sama lainnya.


Dan kalung 'NoTe' masih melingkari leher yang terkasih. Tak akan lepas bila mereka tak ingin melepaskan. Bagaikan ikatan yang penuh tanpa celah sebagai pemisah. Tak ada jarak yang di buat dari bulat sempurna kalung dan liontinnya.


Hm, liontin yang bulat itu pun tak bersudut runcing. Pertanda hubungan itu pun tak akan berujung ke keruncingan yang bertujuan memisahkan.


Kisah kasih yang masih berlanjut ini akan terus melanjutkan perjalanannya ke sebuah ujung yang indah.


Senandung harap itu telah membalikan keadaan dari sedihnya ke bahagia. Elegi kini tak akan terdengar lagi oleh dua insan yang sedang bertatapan itu.


Mereka bahagia. Dan ini bukan akhir dari segalanya.


Bukan akhir.


*******


End

__ADS_1


__ADS_2