
Tera bosan sendirian. Noa masih berada di toilet dan tak kunjung keluar. Dimas dan Ahmad sedang berusaha membelikan pesanan ngidamnya.
Ia mencetuskan bahwa Noa mungkin sedang tertidur di dalam toilet. Tera tak meminta ijin pada Noa. Mungkin nanti Noa akan panik dengan tak adanya Tera di rumah. Tetapi Tera tak mempedulikan itu. Ia mengedikan bahu dan memutuskan untuk berjalan-jalan menuju taman yang tak jauh dari kosan tersebut.
Rumah megah bercat putih yang selalu sepi dan di anggap tanpa penghuni, pagar tinggi itu terbuka separuhnya.
Separuh gerbangnya sedang menyembunyikan sosok remaja yang kini sedang memandangi kepergian Tera seorang diri. Dengan berjalan santai, Tera melirik kanan dan kiri jalanan yang ramai itu.
Sandy mengikuti di belakang Tera. Membuntuti kemanapun Tera pergi. Tera berbelok menuju taman dan duduk di bangku yang kosong. Ia sedang menatap pemandangan keluarga kecil yang bahagia.
Dengan tertutupi rimbunnya pepohonan yang tak tinggi itu, Sandy terus memperhatikan Tera.
Sementara itu, di saat Tera tak berada di rumah lagi, Noa pun panik. Ia keluar dari toilet dengan kepanikan total. Dimas dan Ahmad sampai di kosan berbarengan dengan berjalannya Noa menuju pagar kosan.
"Lur, kemana?" tanya Dimas yang baru saja turun dari motornya.
"Bos, tlepon sama kutunya udah gue beli nih." seru Ahmad.
Noa bingung dengan ucapan Ahmad. Ia pun dengan kepanikan yang ditutupi sedemikian rupa kini menghampiri Dimas dan Ahmad.
"Apaan, Mad?" tanya Noa.
Ahmad mengacungkan plastik jajanan berisi kue klepon dan kue putu yang masih panas. Noa manggut-manggut paham. Dimas menjitak Ahmad yang over bodoh itu.
"Yang ngidam mana nih. Kue parabola udah siap di ma'em..." seru Dimas.
"Ck, lur. Tera gak ada di rumah." ujar Noa.
Kemana?" tanya Dimas dan Ahmad berbarengan.
Mereka membelalakan matanya setelah mendengar Tera tak ada di rumah.
Noa menggelengkan kepala. "Gue gak tau. Barusan gue ketiduran di toilet."
"Sinting. Bisa amat lo tidur jongkok gitu." kata Ahmad.
"Lah, bukannya lo juga bisa ngorok di toilet, Mad." Dimas menimpali.
Ahmad nyengir lebar. "Tapi kan gak jongkok. Posisi gue tetep tiduran."
Dan Noa lupa bahwa ia seharusnya mencari Tera. Bukan larut bercanda bersama dua pengabdi idiot tersebut.
Beberapa detik kemudian...
Noa menepuk dahinya kuat-kuat karena ia sudah ingat kembali bahwa niatan dirinya keluar kosan ialah untuk mencari Tera.
Noa berjalan keluar pagar kosan. Di batas pagar, Dimas menarik kerah belakang kaus Noa.
"Kemana, lur?" tanya Dimas masih mencengkram kerah belakang baju Noa.
"Nyari Tera, kampret." Noa memberontak dan cengkraman itu lepas juga.
Ahmad memeluk Noa dari belakang.
"Lo jangan kayak gini, Noa. Kita bisa selesaikan baik-baik."
Noa meronta-ronta ingin lepas dari pelukan Ahmad. Karena plastik berisi kue putu yang masih panas itu mengenai bagian sensitifnya. Noa merasa sedang di asapi agar awet dan tahan lama dan jauh dari kadaluarsa.
"Lepasin, gila." berontak Noa.
"Lo gak bakal bunuh diri kan? Itu ada truk molen di depan. Lo gak bakal minta di aduk di dalem molen kan karena Tera ilang?" tanya Ahmad.
"Lo ngelawak aja sih. Itu mah buat cucian baju bukan buat ajang bunuh diri." jawab Noa.
"Lo pikir truk molen itu laundry buat cuci baju?" Dimas menoyor Noa dan melepaskan pelukan Ahmad dari tubuh Noa.
"---Hayu, cari si nyonya." ajak Dimas.
Ketika kedua sahabat Noa berjalan keluar pagar kosan, berbeda dengan Noa. Ia berjalan memasuki rumah lagi.
"Kesini, gembel." tunjuk Dimas ke jalanan di depan kosan.
"Bentaran. Gue mau ambil sesuatu."
Noa berlari memasuki kosan. Ia menuju kamarnya dan secepat yang ia bisa mengumpulkan benda-benda yang ia butuhkan dan membawanya keluar menuju dua kawan setia itu.
Baru berjalan beberapa langkah, Noa berhenti kembali. Dimas dan Ahmad pun berhenti. Noa melihat mamang tukang bandros. Entah kenapa hatinya tergerak untuk membeli kue tersebut.
Ia menghampiri gerobak tukang bandros dan memesan dua loyang panjang bandros manis.
"Mang, bandros dua loyang. Yang manis."
"Siap, akang."
Tukang bandros menyiapkan dengan kekuatan super mamang tukang dagang. Dua loyang bandros panas yang manis di kemas dalam kotak kini sudah berada di tangan Noa. Sekotak bandros yang masih mengepulkan asap itu menggugah selera. Noa membayarnya dan bergegas menghampiri dua sahabatnya.
"Lo bawa kue. Si ahmad bawa kue. Gue bawa kue. Emang Tera mesen kue bandros?" tanya Dimas.
Noa menggelengkan kepala. "Gue tiba-tiba pengen beli bandros. Tera pengen kali ya."
"Sebatin banget lo, Noa. Ngomong-ngomong lo tau si Tera dimana?" tanya Ahmad.
"Di taman. Hati gue sih yakin nunjukin kesana." jawab Noa.
Dimas menimpali. "Lo sehati ya. Coba kita buktiin bener apa enggak si Tera di taman."
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju taman tak jauh dari komplek perumahan tersebut. Dengan berjalan bak tentara militer tiga orang tersebut sampailah disana.
Indera penglihatan Noa pun langsung menemukan kekasih hatinya itu. Ia sedang duduk di bangku taman sembari memperhatikan keluarga kecil nan bahagia. Noa pun tak luput melihat Sandy yang sedang mengintip tak jauh dari posisi Tera berada.
"Dim, lo liat yang gue liat?" tanya Noa.
Dimas menganggukan kepala di samping Noa berada. Ahmad tanpa diperintahkan segera menghampiri Sandy setelah sebelumnya menitipkan seplastik kue klepon dan kue putu untuk Tera kepada Dimas. Ia menghampiri dan berbicara pada Sandy tetapi yang di ajak berbicara kini sedang mendorong Ahmad. Dimas melotot tak percaya dengan respon berlebihan dari Sandy.
"Dim, jangan sampe si Sandy liat apa yang bakal gue lakuin." kata Noa.
__ADS_1
Dimas pun mengangguk dan kembali memperhatikan Sandy dan Ahmad.
"Wah, kasian si Ahmad." kata Dimas.
Ia merutuki nasib Ahmad saat terlihat sahabatnya itu di dorong kembali oleh Sandy. Dimas tanpa berkata-kata memaksa Noa memegangi plastik jajanan untuk Tera. Ia segera menghampiri Sandy.
Noa terus memperhatikan adegan dua sahabatnya yang sedang berbicara dengan Sandy. Tampak Sandy berlalu pergi meninggalkan Dimas dan Ahmad.
Dimas mengejar kemana Sandy pergi. Sedangkan Ahmad berlalu ke tempat angkringan untuk membeli es cendol. Noa yang sudah melihat keadaan aman terkendali dan jauh dari gangguan dan intipan Sandy, kini mulai menjalankan aksinya.
Ia menyiapkan mobil remote control yang antenanya sudah di pasangi gulungan kertas berpita biru muda. Lalu ia mulai menjalankan mobil remote control itu perlahan menuju ke tempat dimana Tera sedang duduk memperhatikan anak di atas ayunan tersebut.
Mobil remote control sedang memberikan kode dengan menabrak pelan kaki Tera. Ketika Tera menunduk dan segera mengambil gulungan kertas tersebut, Noa sengaja tak menjalankan dahulu mobil-mobilannya. Ia akan menggiring Tera ke tempatnya bersembunyi dengan mobil remote control tersebut sebagai pemandunya.
Noa terus memperhatikan Tera yang bergumam sendiri dan terlihat ia berpikir. Kemudian Tera membelalakan matanya dan seperti sedang mengingat sesuatu. Beberapa lama Noa hanya terdiam memperhatikan Tera yang masih sibuk dengan ingatannya.
Setelah dirasa Tera cukup untuk mengingat, Noa kembali menabrakan mobil remote controlnya ke kaki Tera. Ia pun memutarbalikan arah mobil-mobilannya dan Tera seperti yang di rencanakan oleh Noa, sedang mengikuti arah perginya mobil remote control tersebut.
Noa meneroboskan mobil remote control itu ke semak yang rimbun. Bermaksud agar Tera memutari jalan di ujung semak sana. Noa bersiap-siap dengan sesuatu yang akan ia berikan. Ia pun mempersiapkan dirinya bagaikan sedang menyatakan cinta untuk pertama kali lagi.
Tera berjalan dengan senyuman lebar menghiasi bibirnya ketika melihat sosok kekasihnya. Noa berdiri dengan remote control yang masih dalam genggamannya. Ia menantikan kehadiran Tera di hadapannya. Bagaikan seorang mempelai pria yang sedang menantikan pasangannya menuju altar untuk segera mengucapkan janji suci.
Remote control tersebut di buang ke sembarang arah tatkala Tera telah berada di hadapannya. Senyuman Noa tak pernah luntur sedari Tera menghampirinya.
Noa meraih kedua tangan Tera dan menggenggamnya erat.
Noa menyunggingkan senyuman terbaiknya. Dan Tera pun sedang tersenyum padanya. Senyuman yang Tera buat semanis mungkin.
"Udah inget?" tanya Noa dengan lembutnya.
Tera mengangguk pasti. "Udah. Bocah itu kamu. Dan kamu emang jodoh aku, Noa." gumam Tera.
"Aku pengen membuktikan ucapan itu. Ternyata ucapan aku jadi sebuah janji. Dan aku hampir menepati semuanya." bisik Noa.
"Hem, aku seneng." lirih Tera.
Noa tersenyum dan memberikan anggukan singkat.
"Tutup mata kamu. Aku punya kejutan sebagai hadiah karena kamu udah inget tentang masa lalu yang terlupakan itu."
Kemudian Tera pun menuruti permintaan Noa. Menutup mata dan menunggu Noa memerintahkan untuk membukanya kembali.
"Sekarang boleh buka mata, baby." bisik Noa.
Ketika sepasang mata Tera terbuka yang menyambut adalah sebuah kalung yang menggantung di tangan kekasihnya. Noa memperlihatkan dengan jelas tepat di depan wajah Tera.
Kalung yang berkilauan dengan liontin yang indah. Liontin berbentuk lingkaran kosong dengan ukiran 'NoTe' di tengahnya memenuhi hampir kekosongan di tengah lingkaran itu.
"Aku pakein ya." bisik Noa.
Tera mengangguk. Kemudian Noa mengalungkannya untuk kekasihnya tersebut. Kalung indah itu kini berpindah dari tangan Noa ke leher Tera. Menghiasi kekosongan.
Tera terharu. Sangat terharu dengan perbuatan dan perlakuan manis Noa. Tera mengalungkan tangan di leher Noa. Ada banyak bahagia dan haru saat ini.
Noa mengelus punggung Tera dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia selalu membuat Tera merasa nyaman berada di dekatnya. Rasanya tak bisa jauh dari sekitarnya. Rasanya Tera selalu ingin berada dalam pengawasannya.
"Iya, sayangku." bisik Noa.
Ketika pelukan mereka terlepas, Noa menyempatkan diri mengecup kening Tera lama sekali. Menyalurkan rasanya pada sang kekasih.
Noa mengusap rambut Tera. "Aku beliin bandros buat kamu."
"Kok kamu tau aku pengen bandros?" tanya Tera.
"Hem, emang kamu pengen bandros?" tanya balik Noa.
Tera mengangguk membenarkan. Noa bukan hanya memberikan bandros tapi juga kue parabola atau kue ape. Dan sebungkus kue klepon dan kue putu yang masih panas.
"Dua pengabdi kamu mana?" tanya Tera sembari menerima beberapa plastik jajanan.
"Ada. Hem, gak tau dimana. Lagi tidur kali di bawah pohon rindang." ujar Noa cuek.
Sepertinya Noa tak menginginkan Tera mengetahui yang sebenarnya bahwa dua sahabatnya barusan sedang berusaha menghindarkan Noa dan Tera dari intipan Sandy yang sedang patah hati.
***
Dimas mengejar Sandy yang berlari keluar area taman. Cekalan tangan Dimas membuat pergerakan Sandy terhambat. Cengkraman kuat itu mencegah Sandy untuk berlalu pergi meninggalkan taman tersebut.
Dimas menarik tangan Sandy dan menuntunnya menuju rimbunan pohon yang sepi oleh pengunjung taman. Ia duduk bersebelahan dengan Sandy. Dimas memandangi wajah Sandy dari sisi kirinya.
Terlihat gurat kesedihan, auranya terpancar jelas disana. Dimas menepuk pundak Sandy sepelan mungkin. Sandy tak bereaksi sama sekali. Akhirnya, Dimas berinisiatif untuk membuka obrolan.
"Lo sedih karena Noa gak bisa tersentuh sama perasaan lo?" tanya Dimas.
Sandy menoleh ke samping dimana Dimas berada.
"Menurut lo?" sinisnya.
"Menurut gue, ya kayak gitu." ujar Dimas kalem.
"Itu lo tau." sewot Sandy.
Dimas manggut-manggut mengerti dengan perasaan Sandy saat ini. Ia membiarkan Sandy sibuk dengan pikirannya sendiri. Pemikiran Dimas berjalan ketika melihat sosok rapuh tersebut. Ia hanya berhak menunggu tidak untuk menghakimi Sandy. Lalu membantunya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Di akhir lamunan panjang yang Dimas tunggui itu, Sandy mencurahkan isi hatinya.
"Noa gak cinta gue. Dia bilang perasaan gue bukan cinta buat dia. Gak ada cinta yang terasa. Dia bilang gue cuma iri dengan yang Tera miliki. Gue cuma cinta karena peduli berlebihan. Dan gue cuma pengen dapet pasangan instan dengan merebut pasangan yang baik untuk kebaikan gue sendiri."
Dimas mengerti dengan ucapan Noa pada Sandy. Karena memang benar begitu adanya. Dimas melihat Sandy yang ramah dan baik hati berubah kala Sandy merasakan dan melihat Tera yang senasib tak bertakdir sama dengannya.
Sandy melihat Tera bahagia setelah perjuangan dan penantian panjang Noa mendapatkan hati Tera. Sandy memang hadir di saat Noa sedang galau saat berjuang tanpa kenal lelah untuk meraih harapan dari cinta Tera.
Sandy yang berbasa basi berubah menjadi peduli. Dan kepedulian itu berubah menjadi cinta samar. Cinta yang tak bisa menyentuh Noa. Cinta yang tak bisa di rasakan kehangatan sepenuhnya oleh Noa. Tak ada hangat yang menjalar hingga ke hati sehingga Noa tak bisa berpaling meskipun Noa mendapat perlakuan tak baik dari Tera sekalipun.
"Maaf Sandy. Karena semua yang Noa bilang itu emang bener adanya. Lo yang ramah dan baik hati jadi buta mata hati saat ini. Lo gak bisa terima kenyataan bahwa Noa gak pernah kasih setitik pun harapan buat lo. Harapan lo terlalu berlebih untuk dia yang gak ingin membalasnya."
__ADS_1
Sandy menatap lurus ke depan. Hanya ada bunga-bunga yang layu karena tersengat terik matahari. Dimas memperhatikan wajah Sandy dari sisi kiri. Masih tergambar jelas kesedihan disana.
"Lo bisa dapetin pasangan yang baik. Lo kan ramah dan baik hati. Pasti banyak yang sayangi lo asalkan lo mau membuka hati untuk yang lain." ujar Dimas.
Sandy mendengus geli. "Tau apa lo tentang gue?"
"Mungkin gue emang sok tau. Tapi gue bisa melihat lewat mata hati. Buang jauh-jauh rasa iri lo. Biar aura kebaikan lo terpancar tanpa penghalang." nasihat Dimas.
Sandy menggelengkan kepala sembari mendecih. Ia menghina nasihat Dimas. Ia masih belum bisa menerima kenyataan yang sudah muncul di permukaan.
"Cih, lo sok baik. Lo kayak lagi ceramah." kata Sandy.
Ia berlalu pergi meninggalkan Dimas yang ingin mencoba memahaminya. Dimas hanya tersenyum maklum. Bahwa ucapannya pasti akan tersampaikan kepada Sandy. Ia pasti akan memikirkan inti dari percakapan mereka. Dimas yakin Sandy adalah orang yang baik.
***
"Jati...." teriak Rima.
Ahmad yang sedang menyedot es cendolnya terkejut dan tersedak hingga terbatuk panjang. Ia melihat Rima dan Jati sedang bertengkar di sudut taman. Ahmad kini sedang berperan sebagai pendengar yang baik. Atau dalam bahasa ilmiahnya di sebut penguping terbaik.
Rima terlihat murka pada pria tampan di hadapannya.
"Kamu selingkuh terus sih. Aku udah berusaha jadi yang terbaik. Tapi kenapa kamu masih cari yang terbaik lagi."
"Aku gak selingkuh. Dia cuma temen aja." elak Jati.
"Selalu kayak gitu jawabannya. Kamu ngeles terus. Padahal dia aja tadi mengakui kalo kalian pacaran." kata Rima.
Jati terus mengelak. "Kamu lebih percaya cewek itu daripada aku?"
Rima menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Aku selalu percaya kamu. Tapi udah lebih dari jumlah jari tangan kanan dan kiri, aku pergoki kamu jalan dengan cewek laen dan selalu alibinya mereka cuma temen. Padahal mereka mengakui sendiri kalo kamu itu pacar mereka."
"Aku enggak selingkuh." kata Jati dengan penuh penekanan.
Ahmad mencibir percakapan tersebut. Apalagi setelah ia mengetahui sendiri bahwa Jati memang suka berselingkuh. Dan ia kini melihat korban kedua yang ia kenali setelah Tera tentunya.
Ahmad menggeleng-gelengkan kepalanya saat ia melihat pemandangan Jati yang berusaha meraih tangan Rima. Wanita itu menolak dan menepis raihan tangan Jati.
"Aku mau kita putus." cetus Rima final.
Jati menolak. "Enggak mau."
"Terserah. Sekarang kamu bebas maen-maen dan aku bebas cari kebahagiaan yang laen." kata Rima.
Ia pergi menghindari Jati yang masih berusaha mengejarnya. Rima berjalan secepat yang ia bisa agar tak terkejar lagi oleh Jati. Ahmad menyedot kembali es cendolnya setelah di rasa tontonan menarik itu sudah usai.
Perut yang keroncongan itu meminta di isi. Ahmad beranjak dari duduknya dan menuju tukang gorengan. Ia membeli sebungkus gorengan dan kembali duduk di bawah pohon yang sangat rindang untuk menghalangi cahaya matahari yang langsung mengenai kulit.
Tetapi kegiatan mengunyahnya tak berlanjut kala ia mendengar suara bernada sedih di belakang tempatnya bersandar. Punggung yang menyender itu kini menjauhi pohon yang di sangkanya berhantu. Ia menengok ke sumber suara tersebut. Dan ia tak salah mengira bahwa asal suara bernada sedih itu dari seseorang yang sudah ia kenali. Yaitu Rima.
Ahmad mencolek punggung Rima dan wanita galau tersebut menengok ke asal colekan. Ia melihat Ahmad yang tersenyum canggung.
Ahmad berinisiatif menyapa Rima. Ia berpura-pura tak mengetahui dan tak mendengarkan pertengkaran berujung putusnya sebuah hubungan itu.
"Teh Rima lagi apa disini? Kok kusut gitu? Lupa setrika muka?" tanya Ahmad.
"Lo ngapain disini, Mad?" tanya Rima yang tak menjawab pertanyaan kacau Ahmad.
"Makan gorengan lah." Ahmad menunjukan sebungkus gorengan itu kepada Rima.
"Maksudnya selain makan gorengan." kata Rima.
"Cari angin." jawab Ahmad santai.
Rima menggelengkan kepala. "Sejak kapan angin di cariin. Emang lo Emaknya?"
Ahmad menunjukan cengiran lebar anti galau. Ia menawarkan gorengan untuk Rima. Mereka kini sedang menikmati gorengan berdua. Rima melupakan patah hatinya dengan instan.
Ahmad memperhatikan Rima. Ia pun gatal untuk mengatakan sesuatu.
"Teh, udah dua minggu ini lo chat gue mulu. Tumben aja gitu. Padahal gak ada perlu."
"Emang gak boleh?" tanya Rima.
"Gak lah. Ntar lo cinlok sama gue dari chat itu. Masalahnya gue lagi nungguin jawaban Imas." jawab Ahmad.
"Ck, Mad. Lo kan lucu orangnya. Makanya gue suka chat lo." alibi Rima.
Ahmad manggut-manggut. Kemudian fokus Ahmad teralihkan tatkala ia melihat sosok cantik yang sedang menghampirinya. Wanita itu berjalan dengan senyuman lebar. Ahmad menyambutnya dengan berdiri dan membalas senyuman yang tak kalah lebarnya. Rima hanya menonton dengan sebungkus gorengan sebagai teman jomblonya.
"Kang Ahmad udah lama nunggu?" tanya si cantik bernama Imas tersebut.
"Udah. Sampe dua plastik cendol udah abis. Niatnya yang satu buat neng Imas tapi keburu abis." jawab Ahmad.
"Ah, akang mah bisa aja. Bilang aja doyan atuh." kata Imas.
"Langsung ke inti aja, neng. Gimana akang di terima gak nih? Udah ngebet pacaran nih." ujar Ahmad.
Imas mengangguk anggun. Ahmad jingkrak-jingkrak bahagia. Ahmad menggoyang-goyangkan lengan Rima yang masih melongo melihat adegan permulaan hubungan pacaran di hadapannya di saat dirinya baru saja berstatus jomblo.
"Gue di terima, teh. Gue gak jomblo lagi. Gue laku ternyata. Gue bisa mamingan sekarang." seru Ahmad sok laris.
Rima hanya tersenyum kecut menanggapi Ahmad. Yang Ahmad lihat senyuman Rima itu bukan kecut tetapi senyuman mendukung. Imas diajaknya untuk berjalan-jalan dan jajan di taman tersebut. Rima di tinggalkan oleh Ahmad tanpa kata pamit terlebih dahulu.
"Nasib penyandang jomblo anyar ya gini nih. MIRIS." monolog Rima.
Taman ini menjadi saksi eratnya tali kasih dan putusnya sebuah hubungan.
Di saat seseorang menyandang status baru sebagai fakir asmara, ada pula yang sedang tajir cinta.
Di saat ada seseorang yang patah hati, ada pula yang paham akan nasib tak mujur itu.
Dan di saat cinta selalu bersemi, ada kenangan dimana mereka bersakit-sakit di awal perjalanan meraih cintanya hingga rasa bahagia menggeser sakit yang sempat terasa.
__ADS_1
***
Tbc