
"Gaaahh..telat..telat.." teriak kang Jhon, perusuh kosan di pagi ini.
Ia berlari kesana kemari tak jelas juntrungannya. Bahkan tak segan memakan sarapan milik kang Engkos. Saking tak ikhlasnya, kang Engkos melempari kang Jhon menggunakan sendok yang ternyata salah sasaran. Sendok tersebut melayang dan sukses mengenai dahi Noa yang apes masuk ruang makan pagi ini.
PLETAK !!!
"Adaw.." suara Noa mengaduh.
Kang Jhon memasang wajah sok polos, watados. Kang Engkos, sang pelaku pelemparan sendok berpura-pura membereskan bekas sarapannya.
"Kang Engkos, gue minta ganti rugi. Jidat gue merah kayak bekas di ***** bencong." protes Noa sambil mengusap-usap dahinya.
"Ada apa ini? Ribut aja, masih pagi juga." ujar kang Tisna yang berjalan ke ruang makan di ikuti kang Ajat.
Kang Acep yang masih memajang muka bantal dan paling kucel di antara mereka semua pun menguap lebar.
"Pagi dulur, Acep kuliah siang. Bebenahnya di kerjain Acep aja." kata kang Acep sok imut.
"Okeh..."
Semua penghuni kost menjawab berjamaah termasuk Noa.
Akhirnya, ia bisa kompak berama mereka. Ini kekompakan pertamanya bersama mereka.
Kang Tisna dan kang Ajat berangkat kerja bersama dengan satu motor. Kang Jhon yang tadinya mau menebeng kang Tisna pun mengurungkan niatnya.
Kang Ajat sudah memberikan serangan kilat mata. Bila mencoba mengganggu aksi nebengnya, gledek di pastikan menyambar kang Jhon.
Giliran kang Engkos yang sudah selesai mencuci piring bekas sarapannya yang di mintai tebengan ke kampus.
"Kang Engkos, nebeng atuh ke kampus." ucap kang Jhon memelas.
"Beda arah atuh, Jhon." ujar kang Engkos yang sedang memakai helmnya.
Ia tanpa rasa kasihan, pergi meninggalkan kang Jhon begitu saja.
Kang Jhon menggaruk-garuk kepalanya.
"Alaaaaah telat..." teriak kang Jhon yang mulai frustasi.
Kang Acep yang merasa terganggu acara 'mari bebenah'nya pun bergerak mengambil serokan sampah untuk membuang kang Jhon ke bak sampah di depan kosan.
"Kang, pake motor gue aja."
Noa yang prihatin melihat kang Jhon merana pagi-pagi mencoba bicara kepadanya. Ia menyerahkan kunci motor ke tangan kang Jhon.
Kang Acep bertepuk tangan "hush..pergi sana. Acep pengen konsentrasi bebenah."
Kang Jhon menoyor kepala kang Acep dan beralih menjabat tangan Noa.
"Nuhun pisan, Noa. Gue anter ke sekolah deh. Hayu." ujar kang Jhon yang kembali ceria.
"Akang bukannya telat. Langsung ngampus aja, kang." ucap Noa.
"Terus lo gimana?" tanya kang Jhon.
"Gampang, kang. Naek angkot aja."
Noa tersenyum kepada kang Jhon.
Ia harus secepatnya berangkat. Karena naik angkot, ia tak mempunyai waktu untuk bersantai lagi. Maka ia pun pamit dan pergi dari kosan di iringi lambaian tangan kang Acep dan di susul deru mesin motor yang di gas gila-gilaan. Kang Jhon ngebut, sepertinya ia benar-benar telat.
Sesampainya di pengeteman angkot, Noa naik angkot jurusan menuju sekolahnya. Hari pertama di sekolah baru untuk yang ke sekian kalinya. Ia berharap, semoga ini perpindahan sekolah terakhir untuknya.
Turun dari angkot, ia mengecek jam di pergelangan tangan kirinya.
Hm..masih lima belas menit lagi untuk mengikuti upacara. Karena ia siswa baru, biasanya ia tak perlu mengikuti upacara.
Ia hanya harus mengurusi registrasi yang belum selesai. Dan ia lupa bertanya dimana kelasnya berada. Terlalu fokus mencari Tera dan menemukannya di daftar siswa sekolah ini, Noa terlalu girang sampai lupa menanyakan posisi kelasnya.
Dan Tuhan mempertemukan seseorang yang satu dengan yang lainnya bukan tanpa sebab, bukan tanpa alasan, bukan karna kebetulan. Itu sudah suratan.
Takdir Tuhan bukan suatu kebetulan. Rencana Tuhan itu PASTI.
Noa berjalan menuju gerbang sekolah, tetapi belum sampai gerbang sekolah sudah ada yang berteriak memanggil-manggil seseorang.
Disana, di depan warung tenda sebrang sekolah. Dua orang siswa berteriak memanggil seseorang. Noa menoleh, dan mereka mengisyaratkan lambaian tangan dengan menunjuk ke arahnya.
Noa yang belum yakin siapa yang mereka panggil hanya memandang ke arah mereka dan memberikan isyarat menunjuk dadanya sendiri untuk memastikan jika yang mereka panggil memanglah dirinya.
Mereka mengangguk-angguk. Setelah yakin yang mereka panggil itu dirinya, segera ia hampiri mereka. Sesampainya di hadapan mereka, Noa tersenyum sebagai sapaan awal yang ramah.
"Lo anak baru?" tanya salah satu dari mereka.
Noa mengangguk sebagai jawaban.
Ia lanjut bertanya "----kelas berapa, lur?"
Noa menjawab. "Kelas sepuluh."
Mereka tersenyum dan mengangguk setelahnya. Siswa yang barusan bertanya kepada Noa lanjut bicara.
"Oh, salam kenal lah. Gue Dimas dan yang ini namanya Ahmad." tunjuk siswa yang bernama Dimas itu ke siswa di sebelahnya.
"----kita kelas sebelas. Kakak kelas lo lah."
Noa mengangguk. "Salam kenal, kak."
"Gak usah manggil pake embel-embel 'kakak', panggil nama aja. Kalem, lur." ujar Ahmad.
"Oke..gue lupa tanya kelas gue nih. Gue permisi ya." jelas Noa dan berpamitan ke dua orang kenalan barunya.
"Bareng lah. Gue anter sekalian." ucap Dimas.
Noa agak heran dengan mereka berdua. Tiba-tiba memanggilnya dan sekarang bersikap ramah. Mereka baik sungguhankah?
Apabila benar, mereka bisa bersahabat, Noa sangat bersyukur.
Hm, bukankah tadi mereka mengatakan mereka kelas sebelas. Itu artinya mereka satu angkatan dengan Tera. Noa bisa meminta tolong pada mereka, setidaknya tahap pedekatenya kepada Tera bisa lebih mudah dengan bantuan mereka.
Noa dan di temani dua kakak kelas yang beberapa menit yang lalu baru saja berkenalan dengannya pun berjalan beriringan di koridor utama menuju ruang tata usaha.
Noa merasa di kawal ajudan saat ini. Semua siswa yang berada di koridor memandang aneh ke arahnya. Ada apa ini? Seperti inikah sambutan mereka untuk siswa baru?
Setelah sampai di depan ruang tata usaha, Noa memilih masuk sendiri. Ia menyelesaikan registrasi dan tak lupa menanyakan dimana kelasnya berada.
Kelas X-3 yang akan ia tempati enam bulan ke depan selama ia duduk di kelas sepuluh ini.
Oh, pastinya ia menanyakan juga kelas Tera. Karyawan tata usaha agak curiga ia bertanya tentang Tera dari awal ia mendaftar di sekolah ini. Namun akhirnya, ia tetap di beri tahu dimana kelas Tera.
Ia berada di kelas XI-IPA 2. Lebih mudah untuk Noa bergerak mendekatinya sekarang. Inginnya langsung buru sergap, namun ia harus mendekati Tera selangkah demi selangkah.
__ADS_1
Ia tak mau Tera kabur lagi seperti dahulu dan menganggapnya bocah sinting lagi.
Selesai urusannya di ruangan ini, ia pamit keluar setelah mengucapkan terima kasih. Dimas dan Ahmad masih setia menungguinya di luar ruangan.
"Udah kelar?" tanya Ahmad.
"Beres. Ngikut upacara apa enggak ya?"
Noa bingung, padahal ia sudah sering menjadi siswa baru.
Ini kali pertamanya mempunyai teman yang bisa di ajak mengobrol di sekolah. Biasanya ia sendirian dan tak mencoba mencari teman karena ia merasa itu percuma saja. Sia-sia di saat ia harus pindah sekolah lagi. Tetapi kali ini ia memutuskan untuk menetap. Dan mungkin mereka juga bisa membuat ia kerasan bersekolah disini.
"Ke gudang aja lah. Hayu." timpal Dimas.
Noa di seret mereka ke gudang sekolah. Tempatnya di ujung koridor lantai satu, dan selama proses penyeretan itu, ia melewati kelas yang akan ia tempati. Sekilas ia melihat siswa yang berada di dalam kelas tersebut.
Gudang sekolah. Kotor, berdebu, dan bau apek. Kesan yang sudah biasa terlihat. Ia dan dua kakak kelasnya memasuki gudang yang tak terkunci, mereka duduk-duduk beralaskan matras usang.
"Lo pindahan dari mana..ehem..Noa?" tanya Dimas.
"Gue selalu pindah-pindah. Kalo gue sebutin kebanyakan." jelas Noa.
"---- lo berdua..maaf nih, kok tiba-tiba manggil gue tadi? Ngikutin gue, sampe ngajak ke gudang segala?"
"Hm..gak ada maksud sih. Tadi gue liat wajah baru aja. Penasaran, makanya gue panggil." jelas Dimas.
Ahmad yang sedari tadi diam saja, angkat bicara. "Eh, Noa. Lo kelas sepuluh berapa? Gue kelas XI-IPA 2."
"HAH???" sela Noa dengan nada terkejut.
Ahmad masih mangap belum selesai berbicara, Noa pun melanjutkan.
"----lo kelas XI-IPA 2 ? Lo kelas apa, Dim?"
Ia menanyai mereka berdua untuk memastikan ia tak salah mendengar barusan.
"Hooh..kelas itu. Dim, lo jawab tuh. Si Noa nanya?"
Ahmad memastikan telinga Noa masih berfungsi dengan baik bahwa Noa tidak salah mendengar.
Dimas yang sedang memainkan ponselnya kini menjawab pertanyaan Noa. "Gue sebelahan sama si Ahmad. XI-IPA 1. kenapa? Jangan bilang lo mau nyamperin kita ntar pas istirahat. Mau minta jajanin?" Dimas pura-pura curiga dan nyengir setelahnya.
"Gapapa..nanya aja gue mah." alibi Noa.
"Kita orang baik. Percaya deh. Gue gak lagi promosi, kita bukan sales." ujar Dimas menepuk pundak Ahmad yang tengah tersenyum di sampingnya.
Noa memperhatikan mereka lekat-lekat. Ada nada ketulusan dari ucapan mereka disana, ada senyum tulus yang terukir. Senyum tulus bukan di buat-buat. Mirip seperti saat pertama kali kang Jhon berkenalan dengannya. Senyum yang sama.
Haruskah ia percaya sesingkat itu? Tentang perasaannya? Tentang Tera yang menjadi tujuannya?
Terlalu cepat. Ini terlalu cepat.
"Hm..gue percaya."
Noa tersenyum ke arah mereka yang masih memandanginya.
"Kita ini dulur (sodara). Kita gak lagi drama dan bukan pemeran novel yang suka bully atau bermuka dua. Kalem lah, Noa."
Ahmad menepuk pundak Noa yang di balas hanya dengan senyuman.
"Nah, gitu. Lo bakalan dapet manfaatnya sahabatan sama kita nanti."
Dimas memasang wajah bangga dan menepuk dadanya sok yakin.
"Kira-kira gak ngikut upacara, gapapa nih?" tanya Noa.
"Kalem lah. Kalo ketauan kita disini, di grebeg dan di marahin guru, bilang aja gini 'Pak, ntar senin depan saya QODO'in upacaranya', gitu." kata Ahmad yang di sambut ngakaknya Noa dan Dimas.
"Shaum meren ah eta mah (puasa kali ah itu mah)." jawab Dimas yang lanjut ngakak sambil bertepuk tangan.
Noa tertawa ringan kala mendengar candaan mereka. Ternyata mereka tak jauh beda dengan para akang penghuni kosan.
Ia bisa menemukan tawa lagi setelah tawa itu tenggelam. Setelah sekian lama yang terngiang hanya lagu sedih. Kidung-kidung menyayat hati. Ya, elegi.
"Eh, lo masuk kelas apa?"
Dimas menghentikan aksi ngakak berjamaah mereka.
"X-3.. Hm..iya itu."
Noa mengingat-ingat dimana letak kelasnya bahwa tadi ia tak salah melihat.
"---lurus dari sini, ke depan kan?"
"Iya..bener." kata Ahmad yang mengacungkan jempolnya.
"Denger gak tuh, upacara udah beres. Hayu lah kita cabut dari sini."
Dimas berdiri di susul oleh Noa dan Ahmad.
"Iya lah, kelamaan disini ntar jadi siluman laba-laba." kata Ahmad.
Noa dan Dimas nyengir menanggapi Ahmad. Mereka pun berjalan lurus ke arah kelas X-3.
Sesampainya di depan kelas tersebut, Dimas dan Ahmad tak langsung meninggalkan Noa, hingga seorang guru menegur mereka.
"Kalian ngapain di luar kelas?" tegur seorang guru.
"Oh, Bu. Ini murid baru. Saya mah nganter aja." kata Dimas menunjuk Noa.
"Ya sudah, kalian masuk kelas masing-masing." ujar sang guru.
Dimas dan Ahmad pergi ke kelasnya, Noa pun tersenyum ke arah sang guru.
"Saya udah di beri tau ada siswa baru. Nama kamu?" tanya sang guru.
"Saya Noa Ramadhan, bu. Kelas X-3." jawab Noa.
"Saya wali kelas kamu. Ini jam saya mengajar di kelas ini. Panggil saya Bu Eni."
Guru itu memperkenalkan dirinya dan mengajak Noa untuk masuk kelas.
Saat di dalam kelas, semua mata memandang, semua seperti ingin tahu. Noa di pajang di depan kelas, seperti biasanya formalitas murid baru harus perkenalan terlebih dahulu.
Bu Eni mempersilakan Noa untuk memperkenalkan diri. Lalu ia pun memulai perkenalan di depan kelas.
"Saya Noa Ramadhan. Salam kenal."
Perkenalan singkat itu mengundang banyak pertanyaan dari setiap siswa yang ada di dalam kelas ini. Hampir semua siswa mengangkat tangan, mereka bertanya ini dan itu sampai Bu Eni pusing dengan keadaan kelas yang riuh. Kegaduhan yang hakiki.
Karena Noa juga bingung harus menjawab semua pertanyaan itu, ia memandang Bu Eni dan sepertinya beliau paham maksudnya. Bu Eni menyuruh Noa untuk duduk di bangku kosong tepatnya di ujung kelas. Meja kedua dari belakang.
__ADS_1
Noa pikir ini gerombolan perusuh di kelas. Markas penyamun yang di jauhi para siswi. Ia tak masalah, toh ia tak tertarik pada mereka. Disini jauh dari jangkauan guru dan pastinya para guru ogah melirik ke arah sini.
Dan benar saja, ia tak bisa berkonsentrasi belajar seperti di sekolah sebelumnya. Dulu ia hanya bisa diam, memperhatikan guru menjelaskan materi dan mengerjakan tugas. Singkatnya, itu kegiatan yang monoton.
Disini ia menemukan sesuatu yang berbeda. Mereka remaja yang asyik. Satu lagi yang ia temukan dari kehidupan. Sumber bahagia yang lain. Salah satu cara terciptanya tawa yang hilang di masa lalu.
Tidak sulit beradaptasi dengan mereka, semua siswa lelaki di kelas ini bisa di bawa asyik. Bahkan siswa perempuan pun juga bisa di ajak seru-seruan bersama. Baru beberapa jam, dan Noa bisa akrab dengan mereka. Tak sulit pula menghapal nama mereka.
***
Satu minggu berlalu. Bel istirahat berbunyi, hampir semua siswa keluar kelas. Tak jauh alasan mereka hanya ingin mengisi perut. Dimas dan Ahmad sudah bersender di pintu kelas X-3.
"Noa..ngantin lah."
Ahmad melambaikan tangannya memanggil Noa.
"Tunggu.."
Noa berlari ke arah mereka. Satu minggu yang kini di isi dengan keakraban, membuat Noa kini mulai terbiasa mempunyai teman.
Dimas nyengir melihat Noa berlari macam bocah. Hari ini sungguh berbeda, Noa lebih bersemangat entah karena alasan apa.
Mereka bertiga jalan ke arah kantin. Ahmad yang ambil bagian memesan makanan. Noa dan Dimas duduk manis menanti.
Noa melihat Tera memasuki ke kantin. Ia memperhatikan Tera yang ngantin sendirian. Tera memesan siomay dan duduk di bangku kosong tak jauh dari tempatnya duduk. Tak lepas Noa memperhatikan Tera. Dimas menepuk lengan Noa akibat gelagat aneh yang tertangkap olehnya. Bahkan Ahmad yang membawa nampan pun melihat ke arah Noa memandang.
Ahmad menyimpan mangkuk di meja. Noa mengambil salah satu mangkuk dan saat ia hendak menyuap, Dimas menepuk pundaknya. Alhasil, suapan pertama Noa gagal.
"Lo liatin si Tera?"
Ahmad yang bertanya duluan. Dimas kalah cepat, ia baru saja membuka mulut hendak berbicara.
Noa menoleh ke arah Ahmad yang penasaran.
"Hooh.." jawab Noa sekenanya.
"Ngapain? Kenal?" tanya Dimas.
"Susah jelasinnya. Gue dulu pernah kenalan sama dia. Tapi kayaknya dia udah gak kenal gue. Gue masih bocah soalnya dulu." jelas Noa.
Ahmad hanya mengangguk sambil menyuap baksonya. Dimas memandang Tera dan balik memandangi Noa.
"Jelasin lah, lur. Masih blur nih." kata Dimas.
"Panjang lah. Gue males jelasin." kata Noa yang menolak menjelaskan.
"Intinya aja." timpal Ahmad.
Noa keceplosan saat melihat Tera yang salah sasaran saat menusuk makanannya di piring. Garpu tersebut malah membuat telinga berdenging akibat pergesekan yang tak di sengaja.
"Aduh, Tera kesayangan..." ceplos Noa.
"HAH?" kata Dimas yang menggebrak meja membuat Noa tersadar.
Noa menelan ludah dengan pemandangan dua pasang mata yang melotot. Bila sudah begini, tak ada salahnya untuk mulai percaya. Lambat laun mereka juga akan tahu.
"Gue suka dia. Gue dateng kesini lagi, alesannya dia."
Noa menunjuk Tera dengan dagu sembari menjelaskan intinya kala Ahmad yang masih terkejut tengah mengangkat sendok di depan mulutnya.
Ahmad yang sedang menyuap bakso, tersedak baksonya bulat-bulat. Mungkin ia makan tak di kunyah terlebih dahulu jadi begini hasilnya.
Dimas yang terkejut temannya tersedak dan terkejut mendengar penjelasan Noa barusan pun salah memberikan minum untuk Ahmad.
Bukannya memberikan air mineral, ia malah memberikan mangkuk isi sambal cabai hijau untuk bakso. Ahmad menjitak Dimas, Noa serba salah dengan keadaan yang ingin tertawa terlebih dahulu atau mengulurkan gelas berisi air minum.
Karena ini menyangkut nyawa teman yang baru satu minggu berkenalan dengannya, Noa pun mengulurkan gelas berisi penuh air mineral. Ahmad buru-buru minum, dan derita tersedaknya berlalu sudah.
"Maneh bogoh ka si galak?" tanya Dimas berbisik. (lo cinta ke si galak?).
Ia masih melotot tak percaya.
Noa sulit untuk mengakui. Ehem, mengakui Tera memang galak. Ahmad kalem saja, malah melanjutkan makan baksonya.
"Serius?" tanya Dimas lagi yang yakin bahwa Noa ingin mengatakan 'iya'.
"Si Tera kan udah punya pacar, lur." Ahmad angkat bicara.
Ngomong-ngomong baksonya sudah habis dan ia kini menjajah mangkuk bakso Noa yang menganggur.
"Tau, gue tau." jawab Noa singkat.
Ia mendorong mangkuk isi bakso yang masih penuh ke arah Ahmad, matanya berbinar-binar bahkan Noa terundang menampilkan cengiran kala melihatnya dan lupa dengan masalah perasaan yang tengah di bahas oleh Dimas.
"Tapi aman lah. Cowoknya beda sekolah."
Ahmad memberikan info gratis untuk Noa.
Pandangan mata Noa tertuju kembali pada Tera. Satu tujuannya.
"Kalem, lur. Rahasia aman." cengir Ahmad.
Dimas berkata. "Sama kita mah bebas."
"Ini tuh namanya sahabat. Tah kos kieu (nah kayak gini)." ujar Ahmad menunjuk Noa dan Dimas memakai sendoknya secara bergantian.
Noa tersenyum canggung. Mereka menganggapnya sebagai sahabat. Cinta yang unik, perasaan yang unik dan sahabat yang unik. Semuanya terkesan singkat. Aneh namun unik.
Dahulu mencari seorang teman pun sulit Noa dapatkan, patah semangat terlebih dahulu karena takut akan perpindahan lagi.
Sekarang ia bisa benar-benar merasakan persahabatan itu seperti apa. Setelah ia merasakan persaudaraan yang di ajarkan secara tak sengaja oleh para penghuni kost.
Percintaan? Seperti apa rasanya?
Ia hanya ingin berpacaran dengan Tera. Mustahilkah?
Tak ada yang mustahil bukan?
Dimas dan Ahmad tersenyum tulus. Noa pun belajar untuk tersenyum setulus itu.
"Gue bantu lo deketin dia. Lo udah kasih semangkuk bakso buat gue barusan. Gue bakal bantuin lo sebagai balesannya. Gue sama si Tera sekelas ini." kata Ahmad.
"Thanks, lur." kata Noa dan mereka nyengir menanggapinya.
"Si Tera galak maksimal. Lo mesti kebal, Noa. Mesti di mulai dari mana nih?" tanya Dimas.
Noa memberikan isyarat kepada mereka berdua untuk mendekat ke arahnya. Kemudian ia bisikan sesuatu, mereka pun mengangguk-angguk mengerti.
'Tera Ramadhani, gue bakal bikin hidup lo gak tenang setelah ini.'
***
__ADS_1
Tbc