Kakak Gemes

Kakak Gemes
Perubahan


__ADS_3

"Mad, yang itu. Udah mateng tuh."


Noa sedang berada di rumah Ahmad, tepatnya di kebun rumah Ahmad. Hari libur ia habiskan dengan membantu Ahmad memanen mangga.


Abahnya Ahmad berteriak di bawah pohon untuk mengarahkan anaknya memetik buah yang benar di atas pohon sana. Noa memunguti buah mangga yang sudah Ahmad petik. Sedangkan Dimas duduk di bale bambu sambil mengupas kulit mangga.


Abahnya Ahmad orang yang baik, ramah dan tipe pekerja keras. Baru pulang kerja ojek online ia tak langsung tidur, tetapi membantu tiga remaja memanen buah dan ia yang akan mengangkut buah itu untuk di jual.


"Udah. Udah. Turun, Mad." seru abah Ahmad.


"Turun, Mad. Ntar lo jadi kayak Justin." seru Noa.


Dimas melempar Noa menggunakan biji mangga.


"Jangan gibahin Justin." kata Dimas.


Noa tertawa tanpa suara. Terlihat mangap-mangap bahagia itu sudah lebih dari cukup baginya.


Ahmad turun dari pohon. Ia berlari ke bale bambu menghampiri mangga di piring bukan menghampiri Dimas. Selesai memunguti mangga, Noa dan Abah Ahmad ikut duduk di bale bambu untuk menikmati hasil panen ini.


"Hape lo getar, noh." tunjuk Dimas ke ponsel Noa.


'Ada telepon masuk dari Tera. Hm, Tera tumben telepon.'


Noa: "Hallo."


Tera: "Hallo, emm...Noa."


Noa: "Hm, kenapa?"


Tera: "Gapapa. Temenin gue di rumah. Mau gak?"


Noa: "Oke. Gue otewe sekarang."


Tut...sambungan telepon di putus Tera. Tak perlu berlama-lama karena cinta telah memanggilnya, Noa berpamitan ke semua orang yang ada disana. Dimas dan Ahmad memandang Noa meminta penjelasan.


"Gue pergi dulu ya." kata Noa ke kedua sahabatnya


"----abah, Noa pulang."


Abah mengangguk sembari makan buah mangga.


"Siapa yang telpon?" tanya Dimas penasaran.


"Tera." jawab Noa singkat.


"Wow..." seru Ahmad yang melotot.


Noa berjalan ke tempat motornya terparkir dan langsung pergi menuju rumah Tera.


Perjalanan tak membutuhkan waktu lama. Ia sudah berada di depan rumah Tera. Ia pun turun dari motor dan mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama, Tera membuka pintu dan mempersilakan Noa untuk masuk.


"Ada apa?" tanya Noa sambil duduk di sofa.


"Temenin gue." jawab Tera singkat.


Noa menaikan sebelah alis. "Lo udah gak 'ogah deket' gue lagi?"


"Masih ogah sih." jawab Tera.


"Ya udah, gue balik deh."

__ADS_1


Noa berdiri namun di hadang oleh Tera. Pergelangan tangannya di cekal erat.


"Jangan. Disini aja." pinta Tera memelas.


Noa pun kembali duduk di sofa. Hanya saja berpindah posisi menjadi di samping Tera.


"Lo gapapa kan?" tanya Noa penasaran.


Tera hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Noa yang asli khawatir dengan keadaannya.


"Aslina aing mah bingung. Tera sayang kamu kenapa?" tanya Noa.


Tera menggeleng lagi tanpa menjawab sepatah kata pun. Noa menunggu lama, tetapi Tera sama sekali tak bicara.


"Jalan yuk." ajak Noa.


Dan Noa mendapat respon yang lain selain gelengan kepala. Tera menoleh ke samping, ke tempat dimana Noa berada.


"Kemana?" tanya Tera.


"Lo mau kemana? Gue bakal bawa lo kesana." kata Noa.


"Gue pengen ke curug." kata Tera semangat


Noa tersenyum. "Kesana? Oke. Ganti baju. Sekarang juga kita kesana."


Tera memandang tak percaya namun ia menuruti perintah Noa.


Motor melaju menuju tempat yang ingin Tera sambangi. Tera berada di boncengan Noa. Ia duduk tertib tanpa obrolan yang menghiasi selama perjalanan hingga sampai di tempat tujuan.


Noa mengajak Tera ke sebuah curug yang tak jauh dari tempat wisata edukasi tersebut. Noa bahkan menggulungkan celana jeans yang Tera kenakan.


"Enggak." jawab Tera sembari geleng kepala.


Mereka berjalan menyusuri air yang dangkal. Noa menggandeng tangan Tera. Ia tak peduli tatapan mata semua orang di sekitar. Tera pun tak keberatan dengan itu semua.


Sore menjelang menggantikan siang. Matahari hendak pulang ke peraduannya. Pertanda untuk insan pun pulang ke 'rumah' nya.


Noa pun mengajak Tera pulang, sebelumnya ia mengajak Tera ke kosan untuk mengambil tirai kerang.


Sesampainya di rumah Tera, Noa tak langsung pulang seperti biasanya. Ia ingin memasang tirai kerang itu di depan kamar Tera.


Di tunjukannya kamar itu oleh Tera, Noa pun memasang rapi tirai kerang tersebut di kusen pintu kamar tersebut.


Setelah terpasang semua, Noa menggerakan tirai kerang dari ujung ke ujung. Menimbulkan bunyi derak khas kerang beradu dan gemerincing hiasan lainnya.


Pada saat itu, untuk pertama kalinya Noa melihat Tera tersenyum. Terbitnya senyuman yang lama ia nantikan. Terpana melihat senyumannya, ia mendekat masih dengan menatap Tera lekat-lekat.


Ia mengecup bibir Tera sekilas untuk menandai senyuman itu miliknya seorang.


"Makasih buat hari ini." ucap Tera pelan masih dengan menyunggingkan senyuman.


"Hm, selalu buat lo. Gue pulang ya. Hati-hati di rumah sendiri, kunci pintu. Mimpi indah." kata Noa.


Tera mengantar hingga depan pintu rumahnya dan Noa menyempatkan waktu untuk menatap Tera yang menutup pintu rumah.


***


Kang Jhon sedang bahagia. Akhirnya ia laku juga. Ia sudah mempunyai pacar sekarang. Katanya, itu semua berkat meminjam motor Noa.


"Cimot berarti cewek lo." kata kang Acep.

__ADS_1


"Nah itu. Gue mau coba gak bawa motor si Noa ke kampus." cengir kang Jhon.


"Gak takut jomblo lagi, kang?"


Noa acungkan kunci motor sambil lanjut sarapan.


"Ah, jomblo lagi mah nasib aja, Noa. Pake sana motor lo ke sekolah." kata kang Jhon final.


Noa memang hampir telat gara-gara mendengarkan curhatan pagi kang Jhon. Ia tak menolak untuk membawa motor ke sekolah.


Singkat cerita, motor terparkir rapi di halaman sekolah. Noa berjalan menuju kelas. Sepanjang perjalanan, siswa di koridor asyik dengan ponselnya masing-masing.


Ia melihat punggung Tera berlalu menjauh menuju toilet. Noa mengubah arah menuju toilet juga. Menunggui Tera keluar toilet sembari bersandar di tembok.


Tera keluar juga, Noa pun menariknya ke gudang sekolah. Ia membuka pintu gudang dan membawa Tera masuk, tak lupa mengunci pintunya dan segera berbalik ke tempat Tera berdiri mematung. Noa terpaku pada tatapan mata yang menurutnya lucu.


"Sini duduk." ajak Noa membawa Tera duduk di matras usang.


"Upacara..." tunjuk Tera tanpa arah memandang ke wajah Noa.


"Hm, disini aja." kata Noa.


Ia dan Tera saling menatap intens. Bahkan sesekali ia menghirup aroma yang berasal dari tubuh Tera yang pagi ini begitu wangi. Harum yang menenangkan.


Tera sedikit mendongak, seperti memberi waktu pada Noa untuk berpuas-puas memandangi wajahnya. Satu pertanyaan yang berputar di kepala begitu mengganggunya maka Tera pun menanyakannya langsung kepada sosok yang memang memiliki jawaban untuknya.


"Kenapa lo suka gue?" tanya Tera.


"Gak tau alesannya. Gue cinta lo. Sayang lo. Semuanya buat lo." jawab Noa.


"Gue bukan cewek feminin. Jujur aja, gue gak sempurna. Gue gak kayak cewek yang lainnya. Gue gak bisa punya keturunan karena gue gak pernah ngerasain datang bulan." ucapan Tera begitu lirih nyaris seperti bisikan.


Noa terkejut, tentu saja. Namun tak sedikit pun ia kecewa atas penuturan yang jujur itu. Sedangkan Tera, ia sedikit menyesali kejujurannya. Ia pikir, Noa tak akan seperti Jati yang mau menerima dirinya apa adanya. Namun...


"Kalo gue pengennya sama lo, gimana dong?" bisik Noa yang menyatukan hidung dan dahi mereka sambil tersenyum.


...Tera terkejut dengan nada tulus dari ucapan seorang Noa. Refleks yang tak di sadari oleh Tera adalah ia memeluk Noa dengan erat. Ck, Tera sudah jinak, kawan.


"Gue kayak lagi meluk koala." canda Noa.


Tera menjitak kepala Noa keras tanpa belas kasihan, Noa tertawa pelan. Takut suaranya terdengar hingga keluar.


Noa menarik pelan tengkuk Tera agar sedikit menunduk, ia kembali menyatukan bibir yang menjadi candu. Hanya Tera yang begitu ia inginkan di dunia ini. Dan ketika harapan itu timbul, ia tak akan membiarkannya tenggelam lagi.


Noa melihat Tera tersenyum dalam ciuman ini. Di sela ciuman ini pula Noa tersenyum, bukan hanya untuk membalas senyuman sang pujaan hati saja tetapi juga untuk perasaan yang mungkin sudah berbalas. Masih kemungkinan, tetapi harapan itu masih sama besarnya.


Dua kali senyuman itu terbit, hangat bagaikan mentari pagi yang muncul malu-malu menerangi bumi.


Rona merah itu muncul, bukan karena pulasan make up. Begitu naturalnya rona kemerahan menghiasi pipinya.


Bulu mata yang panjang dan lentik semakin memperindah wajahnya. Pesonanya begitu kuat hingga Noa pun tak mampu berpaling barang sekejap. Lagi dan lagi Tera mengukir senyuman yang manis. Bibir yang sesekali melengkung itu selalu membuat rona kemerahan muncul kembali.


"Hm, Tera. Suatu saat nanti jadi pacar gue ya." ucap Noa pelan.


Tera menunduk tanpa menjawab, gestur tubuhnya yang menjawab pernyataan itu. Masih dengan tangan yang mengalung indah di tengkuk Noa, Tera mendekatkan wajahnya di ceruk leher Noa.


Tera memeluk Noa semakin erat. Hembusan nafas yang teratur begitu terasa di leher Noa, ia membiarkan Tera tetap dalam posisi ini. Yang Noa lakukan hanya....tersenyum.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2