Kakak Gemes

Kakak Gemes
Senyum


__ADS_3

Satu minggu setelah insiden di kamar kost Noa, Tera selalu menghabiskan waktu dengan melamun. Jati beberapa kali mengajaknya bertemu, ia minta jalan tetapi Tera selalu menolaknya. Entah mengapa, setiap kali Jati memohon meminta bertemu, Tera selalu ingat sosok Noa.


Tera sadar pacarnya itu Jati, tetapi ia secara tak sengaja selalu ingat Noa. Terlintas di bayangan hanya sosok Noa, membuat banyak penolakan atas permintaan pacarnya sendiri. Ini bukan karena foto-foto Jati yang di kirim seseorang tak di kenal ke rumahnya tempo hari.


Tera kepikiran, tentu saja. Tetapi tak ia ambil hati, semua keputusan ada pada Jati. Ada saatnya pula Tera bisa memutuskan sesuatu untuk kebahagiaan mereka.


Kedatangan Tera ke kosan Noa tempo hari pun tanpa di rencanakan. Ia malas pulang ke rumah dan kakinya melangkah ke kosan Noa. Tera tak tahu ada daya tarik apa sampai-sampai ia bisa datang dan terjebak disana.


Di kamar Noa, sesuatu terjadi. Sesuatu yang sebenarnya hanya kesalahpahaman saja. Namun bukan itu yang sedang berputar di pikiran Tera saat ini. Tera tak mengerti dengan jalan pikiran Noa.


'Bagaimana bisa dia menyukai gue, yang dalam kenyataannya gak pernah berbuat baik kepadanya.


Apa yang dia suka dari gue? Gue bukan cewek seksi yang suka bersolek. Bukan pula cewek berkarisma dengan sejuta pesona untuk menarik perhatian semua orang. Gue hanya Tera, perempuan tujuh belas tahun yang kesepian, galak, dan sederhana. Sederhana dalam hidup sehari-hari, sederhana dalam berpenampilan.


Lalu apa yang membuat dia begitu tertarik? Keukeuh mengejar gue. Padahal gue selalu memperlakukannya dengan gak baik bahkan menjurus kasar. Dan satu kalimat itu masih jelas teringat, berulang kali kalimat itu terngiang bagai lagu pengantar tidur kala lelah menyambut.' batin Tera.


'Kak, kutunggu secondmu.'


Selalu terngiang di telinga Tera tentang satu kalimat yang tak asing itu.


Disini, ia duduk sendiri. Di taman tak jauh dari perumahan tempatnya tinggal. Ia duduk melamun, sesekali memperhatikan orang-orang sekitar. Matanya tertuju pada satu anak berusia kira-kira empat tahun yang bermain bersama ayah dan ibunya. Bahagianya.


Tera membayangkan, jikalau anak itu adalah dirinya. Seperti itulah, seperti anak itulah perasaannya dahulu. Bahagia. Lengkapnya hidup dengan keluarga yang lengkap pula. Sesederhana itu.


Suara yang tak asing membuyarkan lamunan. Suara itu, suara yang membuat hidupnya perlahan berubah.


"Justin pegangan. Dim, pegangin layangannya yang bener."


Suara Noa. Tera menoleh dan benar ada sosok Noa disana. Noa tengah menggendong seekor monyet di pundaknya sambil menerbangkan layangan bersama dua orang sahabatnya.


"Justin, awas jatoh. Pegangan." seru Noa.


Tera memperhatikan Noa yang tertawa bersama orang-orang yang berada di sekitarnya.


'Sesederhana itukah kebahagiaannya? Pernahkah dia merasakan berada di posisi gue saat ini?' pikir Tera.


Mereka tak menyadari Tera pun berada disini, di tempat yang sama seraya memperhatikan mereka.


"Dim, yang gue pegangin juga biar cepet terbang." ujar Ahmad.


Dimas mengangguk sembari tersenyum kepada sahabatnya. Layangan milik Noa sudah terbang tinggi. Dimas bersorak gembira, Tera melihat mereka macam bocah TK.


"Wuuh..terbang Justin. Liat, layangannya terbang." seru Noa.


Monyet yang berada di pundaknya bertepuk tangan seakan ia mengerti dan ikut merasakan kesenangannya.


"Punya gue. Punya gue." teriak Ahmad.


Dimas beralih pada layangan Ahmad. Ia memegangi layangan tersebut dan Ahmad mulai mencoba menerbangkannya. Layangan itu pun perlahan terbang semakin tinggi menyusul layangan milik Noa.


"Mad, gantian." ujar Dimas.


Ahmad menyerahkan benang layangannya dan membiarkan Dimas bermain.


"Justin, mau gantian gak?" tanya Noa dan monyet itu menggeleng. Lucunya mereka. Seperti ayah dan anaknya, ups.


Pernahkah mendengar kata-kata ini 'manusia punya perasaan bilamana di perhatikan walau sesaat'. Dalam kata lain, apabila kita di perhatikan oleh orang lain, lama atau sekejap. Perasaan kita bermain disana, dengan refleks kita akan menoleh ke sumber yang memperhatikan kita padahal kita tak ingin untuk melihat kesana.


Seakan di tunjukan oleh sesuatu tak kasat mata, Noa melirik ke arah Tera yang sedang duduk memperhatikannya. Noa tersenyum.


Tera bukan tak mau membalas senyuman itu. Bibirnya seakan kaku untuk bisa tersenyum dengan ikhlas.


Begitu terkunci, setelah sekian lamanya kebahagiaan tak pernah singgah di kehidupannya. Kebahagiaan semu dan tawa palsu menghiasi hari-harinya sampai detik ini.

__ADS_1


Tersenyum hanya formalitas keramahan semata. Tetapi untuk Noa, Tera ingin bisa senyum seikhlas itu. Namun ia tak bisa. Sulit. Itu semua sulit dilakukan.


Noa masih memandang dengan senyumannya, mengundang dua sahabatnya menoleh ke arah Noa memandang. Dimas dan Ahmad melihat Tera, mereka saling menyikut satu sama lain. Menunjuk Noa dengan dagunya, itu yang Dimas lakukan dan Ahmad hanya mengedikan bahu.


"Mad, pegang ini." ujar Noa yang menyerahkan benang layangan pada Ahmad.


Tera bisa mendengar Dimas berucap sesuatu saat Noa menghampirinya dengan masih menggendong seekor monyet di pundaknya.


"Wah, istri tua sama istri muda mau di kenalin tuh." kata Dimas.


"Istri yang pertama siapa?" tanya Ahmad antusias.


"Si Justin aja deh. Biar dia gak sakit hati. Gue kasian sama Justin, dia kemarenan overdosis pisang waktu di tolak Noa." ucap Dimas.


"Si Tera selingkuhan dong. Itu mah emang makanan monyet lo, ******. Yakali overdosis, yang ada mah over kenyang monyet lo." kata Ahmad sambil menendang pelan kaki Dimas.


Noa semakin mendekat, menghampiri Tera yang masih duduk di bangku taman.


Sampailah ia di hadapan Tera. Di belakang sana Tera melihat Dimas dan Ahmad pun berjalan menghampiri kawanannya.


"Tera, sendirian aja. Gabung yuk." ajak Noa yang membuat Tera refleks bangkit berdiri.


"Bos, layangannya putus tadi gesekan sama punya Dimas." kata Ahmad.


Noa menoleh kepada Dimas dan Ahmad. "Hm, biarin aja."


"Tera, kenalin. Ini Justin."


Dimas menunjuk monyet di pundak Noa.


"----istri pertama Noa."


Dan ucapan itu di hadiahi jitakan di kepala Dimas. Pelaku penjitakan itu Ahmad.


Noa mengacungkan jempolnya untuk Ahmad.


'Mereka gila tapi lucu juga. Pantes aja orang gila selalu di tertawakan anak-anak kecil. Gue baru tahu itu lucu banget.' batin Tera.


"Gue kira lo lagi mau ngamen bawa monyet kesini." tunjuk Tera ke monyet di pundak Noa.


"Gak boleh, itu ekploitasi hewan. Udah dilarang pemerintah. Piaraan gue tersayang nih." kata Dimas.


"Gue gak lagi ngamen. Justin sukanya mulung. Ya kan, Justin?" tanya Noa.


Justin bergerak-gerak kesenangan.


"uu..aa..uu..aa..."


"Apa artinya, Dim?" tanya Ahmad.


"Enak aja si Justin suka mulung. Mulung cinta lo mah iya banget, Noa." Dimas yang menyeletuk langsung terkena toyoran instan dari Noa.


"---oh, hm...artinya, apa aja asal Noa bahagia. Aku rela. Gitu."


"Asoy..." koor Ahmad dan Noa.


"Lo, Justin. Keren banget sumpah. Rela berkorban buat Noa. Uuh, romantisnya." ledek Ahmad yang mendapat jambakan dari monyetnya Dimas.


Tera kira Dimas itu memang sotoy, sampai mengerti bahasa monyet.


'Gak ngerti deh gue, dengan perkumpulan orang gila ini.' pikir Tera.


"Monyet, galak amat lo. Macem si Tera. Gue doain berbulu pantat lo. Biar gak seksi lagi."

__ADS_1


Perkataan Ahmad itu tak hanya mengundang cakaran dari monyet itu tetapi jitakan dari Tera juga.


"Lo nyamain gue sama monyet?" maki Tera kepada Ahmad.


Yang di maki hanya nyengir santai.


"Lo sama Justin itu sama. Lo kayak monyet beranak. Galak gak ada tandingannya."


"Mad, kondisikan omongan lo, elah." ucap Noa memperingatkan salah satu sahabatnya.


"---maaf, Tera. Si Ahmad cuma becanda."


"Yaelah, Tera mah biasa ngomong pedes apalagi sama lo. Dia juga harus kebal di pedesin orang." kata Dimas.


"Minta maaf sama Tera !!!" titah Noa pada dua sahabatnya.


Dan Tera tak menyangka mereka menuruti perintah itu.


"Maaf." ucap mereka berbarengan.


Tera mengangguk. Dimas membawa monyetnya dan mengajak Ahmad pergi dari hadapan Tera. Mereka meninggalkan Tera dan Noa berduaan. Tera kembali duduk, Noa pun ikut duduk di sampingnya.


"Lo gak marah kan sama mereka?" tanya Noa.


Tera menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan barusan.


"Maaf. Mereka gak niat ngomong kayak gitu. Terbawa suasana jadi asal nyeplos gitu." ucap Noa lembut.


"Gapapa." jawab Tera singkat.


Noa tersenyum. Lagi dan lagi. Ia tersenyum.


'Begitu mudahkah baginya berbagi senyuman seperti itu.' batin Tera.


"Lo sering senyum. Gampang banget malah." kata Tera yang melirik sekilas pada Noa dan kembali menghadap depan berpura-pura memperhatikan pepohonan disana.


"Senyum juga bentuk ibadah. Senyum itu sedekah. Yang paling murah meriah, gak usah di beli." kata Noa.


"Seandainya senyum bisa di beli. Gue mau satu buat persiapan kalo gue bener-bener butuh buat tersenyum." gumam Tera.


"Lo bisa se-..."


"Gak. Gak bisa."


Tera menyela sedangkan Noa diam tak melanjutkan ucapannya.


"----gue gak bisa senyum dengan ikhlas kayak gitu. Gue gak tau senyum tulus itu gimana."


Noa menanggapi. "Gue juga baru nemuin senyuman tulus itu gimana. Gue bahkan baru denger suara tawa itu seperti apa."


Dan Tera tak mengerti maksud dari penuturan Noa.


'Tentang masalalu kah?' pikir Tera.


"Gue gak tau maksud lo apa." kata Tera yang menautkan alis bingung mencoba berpikir tetapi jawaban itu ada pada Noa bukan berada di kepalanya.


"Gue bisa bantuin lo 'tersenyum'. Kita bisa nemuin senyuman itu bersama." ucap Noa penuh ketulusan.


'Bisakah? Bagaimana caranya?'


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2