Kakak Gemes

Kakak Gemes
Pita biru muda


__ADS_3

Beberapa hari Tera beristirahat di rumah, hari ini ia mulai bersekolah kembali.


Saat ia membuka risleting tas hendak mengeluarkan buku, ada yang lain di dalam sana. Ada benda kotak yang bukan miliknya. Penasaran akan benda tersebut, tangannya kembali merogoh ke dalam tas.


Ia mengambil benda tersebut dan mengeluarkannya dari dalam tas. Ternyata, benda tersebut adalah cokelat. Dengan pita biru muda dan gulungan kertas kecil diatasnya yang di ikat pita biru muda pula.


Tentunya sekarang ia mengetahui ini dari Noa. Namun alasannya yang masih menjadi abu-abu. Gulungan kertas tersebut ia buka dan tertera tulisan disana.


Tulisan tangan yang sudah dikenali dan tak asing lagi. Tulisan Noa. Dalam kertas tersebut hanya tertulis satu kata yaitu 'ramadhan(i)'.


Apa maksudnya dengan ramadhan. Salah satu sebutan bulan dalam agama islam atau mungkin nama kepanjangannya. Lalu apa yang ingin Noa sampaikan dengan satu kata tambahan ini. Semua itu masih menjadi tanda tanya, tetapi untuk bertanya pada Noa mungkin saat ini belum waktunya.


Memikirkan hal yang memang jawabannya bukan ada padanya akan percuma saja. Lebih baik menikmati cokelat yang menjadi favoritnya. Rasanya masih sama. Tak berubah, sama seperti perasaannya pada Noa. Tak akan pernah berubah.


Saat pelajaran usai, Noa menghampiri kelas Tera. Ahmad yang sekelas dengan Tera masih setia duduk dibangkunya. Tak beranjak barang sedikit pun, begitu menuruti perintah boss nya, Noa.


Saat Noa mulai memasuki kelas Tera, Ahmad mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk sembari memainkan ponselnya.


"Boss, ke rumah gue yuk." ajak Ahmad.


Noa duduk di sebelah Tera dan menjawab ajakan Ahmad.


"Boleh. Tunggu si Dimas dulu, Mad."


"Apaan? Nama gue di sebut-sebut?" tanya Dimas saat ia berjalan masuk ke dalam kelas Tera.


"Wah, jin nya udah muncul." canda Noa.


Semua perhatian tertuju pada Dimas yang berjalan mendekati meja Tera. Ahmad pun angkat bicara menjawab pertanyaan Dimas barusan.


"Ke rumah gue. Oke." kata Ahmad.


Tentunya Dimas tak akan menolak. Ia berjalan bersama Ahmad sambil bersenda gurau seperti biasanya.


Karena gedung sekolah sudah sepi, Noa merangkul Tera. Tanpa penolakan, Tera malah mengaitkan tangan di pinggang Noa.


Perjalanan ke rumah Ahmad di hari yang terik begitu terasa menguras tenaga. Panas matahari sangat menyengat. Di bale bambu belakang rumah Ahmad, mereka disuguhi es cincau yang Ahmad sengaja beli dari tetangganya yang bernama Imas itu.


Tera duduk di bale bambu memperhatikan Noa dan Dimas yang sedang berjongkok di dekat kandang ayam. Ahmad pun ikut berjongkok setelah menyimpan nampan berisikan es cincau.


"Woh, erotis ya." kata Dimas.


Ia merangkul Noa yang berjongkok di sampingnya.


Noa dengan jurus santainya membalas ucapan Dimas.


"Lebih erotis lagi kalo lo liat kucing kawin."


"Lo berdua liatin apa? Liatin ayam kawin?" tanya Ahmad yang jongkok terpisah tak jauh dari mereka.


"Yang lo liat di depan mata kan emang ayam kawin. Kapan lo beli ini ayam?" tanya Dimas.


"Kemaren. Beli sepasang gue." jawab Ahmad yang mendapat anggukan mengerti dari Dimas.


"Dim, lo liatin pantat ayam betina mulu sih." kata Noa.


Dimas sedikit menoleh ke samping, menatap Noa.


"Ayam bertelor keluar lewat pantat. Gue kepikiran kalo cowok bisa hamil, ngelahirin dari pantat, lur?" tanya Dimas.


"Ck, lo mah mikirinnya sampe kesana." kata Ahmad.


"Kepikiran aja atuh, gembel. Kayak gue gak boleh mikir aja." sewot Dimas.


"Di sesar atuh. Kasian amat oroknya keluar lewat pantat. Kayak buang hajat aja, oroknya mirip *** dong." kata Ahmad.


"Euh, jangan gaduh wahai terompet taun baru."


Noa menengahi mereka berdua yang kini sedang perang mulut.


Dimas dan Ahmad kompak kembali, terlihat dari mereka yang menganiaya Noa dengan segala ketulusannya.


"Eh, Tera. Lo ntar ngelahirinnya gimana?" tanya Dimas.


Noa memandang Dimas dan matanya kini beralih menatap Tera yang belum memberi jawaban. Noa melihat Tera tak bisa memberikan jawaban, akhirnya ia angkat bicara.


"Dia gak ngelahirin. Kita mah nanti download aja." canda Noa.


Perhatian Dimas dan Ahmad kembali pada Noa. Dua orang itu bekerja sama menumbangkan Noa. Candaan mereka mau tak mau mengundang senyuman di bibir Tera.


***


"Noa, nikahan Bunda kapan sih?" tanya Tera.


Mereka sudah pulang ke kosan. Sore hari ini, Noa hanya tiduran dikasurnya. Tera tengah membereskan isi lemari Noa yang berantakan.


"Sebulan lagi, baby. Cuma ijab kabul aja gak pake resepsi." jawab Noa.


"Terus kamu gak nyiapin hadiah buat Bunda?" tanya Tera lagi.

__ADS_1


"Udah, baby. Ada di dalem lemari. Dua kotak. Satu punya aku, satunya punya kamu." kata Noa enteng.


Tera menautkan alis. "Kok aku gak tau kamu udah siapin hadiah itu? Isi kotak hadiah aku apa?"


"Aku hadiahin mukena. Kado kamu cek sendiri." ucap Noa malas-malasan.


Sembari membereskan isi lemari, Tera mengambil kotak yang cantik itu. Tutupnya pun ia buka. Saat membuka satu kotak berisikan mukena, ia menutupnya kembali. Kotak ini milik Noa. Kotak satunya pun tak kalah cantik dan ia yakin ini kado yang di maksud untuk ia hadiahkan pada Bunda nanti di hari pernikahannya.


Tera membuka tutup kotaknya perlahan, ia menengok ke dalam kotak tersebut. Isinya tas yang sangat bagus.


Sedangkan kado dari Noa adalah mukena, mengapa kado ini harganya lebih mahal?


"Noa, kamu gak salah beliin kado ini buat aku kasih ke Bunda. Ini harganya lebih mahal dari mukena itu kan." kata Tera.


"Bukan harganya, baby. Tapi kegunaannya. Mukena itu untuk ibadah, penting dan berharga untuk Bunda. Kalo tas, aku rasa kamu yang lebih baik hadiahin ke Bunda. Aku kasih tau, Bunda suka banget sama tas kayak gitu. Biar Bunda makin sayang sama kamu, kasih tas itu nanti." kata Noa menjelaskan.


Tera tersenyum dan menutup kembali kotak-kotak kado tersebut. Ia kembali memasukannya ke dalam lemari. Noa kembali bermalas-malasan dikasurnya. Tangan Tera tak sengaja menyentuh benda yang di gulung rapi.


Matanya menangkap objek yang tak asing. Gulungan pita biru muda. Sama persis dengan yang Noa hiaskan pada kado ulang tahunnya. Pita yang sama yang mengikat gulungan kertas itu. Totalnya sudah ada empat. Dan gulungan kertas tersebut tersimpan rapi dalam kotak berisikan kertas ulangannya. Bergabung dengan tiga yang lainnya, kertas yang ke empat pun sama-sama membingungkan.


Tera heran, untuk apa Noa melakukan ini. Pertanyaan ini mengganggu pikirannya tetapi bertanya saat ini rasanya bukan waktu yang tepat. Biarlah masih menjadi rahasia untuknya.


Isi lemari kini sudah rapi. Tera duduk di tepian kasur. Noa melingkarkan tangannya di perut Tera dan menariknya hingga Tera tertidur disampingnya. Noa tak berkata apa-apa saat dengan sengaja Tera menatap wajahnya. Ia memejamkan mata, bergerak mencari posisi yang enak di tengkuk Tera.


Tidur dengan posisi menyamping membuatnya nyaman. Noa tertidur pulas, nafas yang teratur menunjukan bahwa ia sedang menjelajahi alam mimpi. Tera pun ikut kesana. Berharap bertemu di mimpi yang sama. Tak ingin terpisahkan walau dalam alam mimpi sekalipun.


Karena pengganggu hubungan mereka bukan tak mungkin akan mengunjungi mimpi Noa. Tera hanya ingin memastikan tak ada pengganggu, hanya ingin memastikan Noa tak akan pergi atau berpaling. Hanya ingin memastikan hubungan mereka akan baik-baik saja.


***


"......-fall in love so deeply with you."


'Hem? Suara itu. Dia. Sang pemilik hati.' batin Tera.


Ia terbangun dari tidur saat matahari terbit di ufuk timur. Mata yang terbuka di sambut oleh bunga-bunga yang selalu Noa persembahkan setelah telinganya yang di sambut oleh pernyataan cinta.


Tangan Tera yang tak jauh dari tangan Noa, kini saling bersentuhan. Tera mengelus tangan milik Noa yang masih menggenggam bunga-bunga yang terlihat lebih cantik dan lebih berwarna.


Bukan hanya biru, kini bunga itu mempunyai warna merah. Dan satu kuntum berwarna putih. Bukan lagi tiga kuntum.


Tera tersenyum. 'Ini terlalu banyak. Ini terlalu indah.'


"Pagi cantik..."


Noa mencium pipi dan rahang Tera berkali-kali. Perlakuan manis dan romantisnya pagi ini di tambahi satu kata ambigu. Cantik. Untuk apa atau siapa.


Tera bertanya dalam bisikan tanpa menoleh pada Noa yang masih mendekap dari belakang tubuhnya.


"Kamu..."


Noa selalu memuji seperti itu.


Tera tersenyum kembali. 'Bahkan bunga ini lebih cantik tapi gak ada pujian untuk bunga-bunga dalam genggaman tangannya. Dan gue harus memuji bunga tersebut.'


"Bunganya cantik..."


"Kamu lebih cantik..."


"Hm, apa-..."


"Cantik dalam segalanya."


Tak ada kata lagi untuk menjawab ucapan itu. Tangan Tera meraih bunga tersebut. Kini bunga-bunga penuh warna itu ada dalam genggamannya.


Noa mendekap Tera sangat erat. Hati yang dulu kosong kini dipenuhi kasih sayang. Yang dahulu kepercayaan atas cinta hanyalah mitos belaka kini kenyataanya cinta itu ada, hidup dan berkembang.


"Duh, gemes...sumpah." kata Noa saat ia memandangi kekasihnya.


Ia kembali menciumi seluruh wajah Tera.


"Disini. Aku tandai kalo aku bakal mencintai tanpa akhir."


Ucapan yang ia lontarkan setelah mengecup lama di kening Tera.


"Disini. Aku gak akan biarin kamu nangis karena sakit hati. Mata indah yang bulat dan hitam pekat sempurna, bulu mata yang panjang dan lentik juga sempurna."


Lagi. Noa memuji. Mengecupi sepasang mata yang terpejam.


"Disini. Hidung yang mungil di saat nafas masih berhembus, aku bersumpah akan mencintaimu tanpa akhir."


Kemudian ia mengecup pelan ujung hidung Tera.


"Disini. Gak akan aku biarkan pipi lembut dan merona merah ini menjadi tempat mengalirnya air mata."


Ia menciumi kedua pipi Tera secara bergantian.


"Disini. Gak akan aku biarkan dagu yang manis ini menjadi tempat terakhir tetesan air matamu."


Noa mencium lama, lalu mengemut ujung dagu bahkan menggigit kecil disana.

__ADS_1


"Disini. Bibir tipis merah muda milikmu adalah candu untukku. Ucapkan kata cinta jangan kau ucapkan kata perpisahan."


Noa mencium lama disana, menggigit pelan mengisyaratkan meminta lebih. Bahkan ciuman yang dalam, membuat desahan pun tak bisa di hindari.


"Dan terakhir, di dalam ruang hatimu biarkan hati aku berada disana. Karena disanalah tempat yang tepat, sayangku. Sumber keinginan untuk kamu mengucapkan kata cinta melalui bibirmu."


Tera tersenyum. 'Bukankah ia romantis. Ia hangat. Ia aliran listrik yang mengejutkan. Ia arus deras yang menghanyutkan. Ia bagai pohon rindang yang meneduhkan.'


***


"Wah, Bunda harus nikahin mereka nih." kata Bunda pada semua orang disana.


Acep, Jhon, Rima, Ahmad, Dimas dan tak ketinggalan Sandy pun berada di antara mereka.


Abah dari Ahmad, calon suami Bunda Noa pun merasa terancam. Ia akan menikahi Bunda bulan depan. Jangan sampai keduluan Noa dan Tera yang menikah.


"Neng, yang nikah kita dulu kan?" tanya Abah.


"Iya, kang. Kecuali kalo Tera udah di tokcerin Noa. Aku harus menikahkan mereka." kata Bunda.


"Calon Bunda, mereka kan masih sekolah. Masa nikah?" tanya Ahmad.


"Ck, Mad. Si Tera tekdung mah ntar perutnya melendung mana bisa sekolah lagi. Si Noa sih masih bisa. Ya kan, Tante?" bisik Dimas.


Bunda mengangguk. Tiga orang penghuni kosan masih khusyuk menguping suara-suara dari dalam kamar.


Sepertinya mereka salah paham, kawan.


Bunda niatnya datang sepagi ini untuk menemui anaknya. Karena ada keperluan meminta di antar ke sebuah butik untuk membeli kebaya, kini beliau disuguhi adegan mesra walaupun hanya lewat suara. Audio yang untungnya tak membuat Bunda syok.


Bunda menjauhkan telinganya dari pintu kamar Noa. Ia mengibaskan tangan dilehernya. Tak kuasa akan sensasi yang tercipta hanya akibat mendengar suara-suara dari dalam sana dimana dua raga kini sedang terhubung dengan keromantisan.


"huh...gerah mendadak ya. Padahal disini dingin loh." kata Bunda masih mengibaskan tangannya merasakan kegerahan di cuaca yang masih dingin.


Semua pun merasakan itu. Akhirnya, mereka duduk termangu. Entah melamunkan apa. Kosong. Mereka syok.


Berlama-lama kemudian, akhirnya pintu kamar Noa terbuka. Menampilkan dua sosok yang keluar dari dalam kamar. Salah satunya dalam gendongan yang mesra ala pengantin baru.


Wajah Tera memerah kala menyadari banyak pasang mata memperhatikannya. Noa dengan cueknya melanjutkan langkah keluar ambang pintu. Paha mulus Tera membuat semua pasang mata tertuju kesana.


"Noa, duduk." perintah tegas Bunda.


Noa bertelanjang dada hingga menampilkan otot-otot yang mengagumkan. Hanya menggunakan celana pendek, dengan cueknya ia mendudukan Tera di kursi dengan lembut.


Tera menggunakan baju yang terlalu besar untuk dikenakan di tubuh mungilnya. Membuat sebelah bahunya terekspos karena lahak baju yang kebesaran.


Tera merasa risih di perhatikan sebegitunya dalam keadaan ia yang berbusana kurang pantas. Baju kebesarannya hanya menutupi sebagian paha, dan semakin memendek bahkan tersingkap hingga paha mulus itu menjadi pameran untuk mata-mata yang kini melotot melihatnya.


Noa merangkul Tera yang sedikit menunduk. Ia memperhatikan Bunda. Mencuri pandang ingin melihat reaksinya.


"Kamu ini, kalo Tera tekdung gimana?" kata bunda.


Noa terkejut. "Hah? Hamil? Emang Noa apain Tera, Bun?"


"Kalian abis gituan kan di kamar barusan?" tanya Abah.


Noa terkejut combo. Tera terkejut level satu. Sepertinya ada kesalahpahaman yang harus diluruskan. Mereka berpandangan. Ini semua diawali dari tidur semalam. Seharusnya Tera tidak tidur di kamar Noa. Dan pagi ini seharusnya tak ada yang berburuk sangka kepada mereka berdua.


"Bunda bakal menikahkan kalian." kata Bunda.


"Yess....nikah euy." ujar Noa bersorak gembira.


Apapun itu tentang kesalahpahaman, pagi ini Noa bahagia. Ia berterima kasih pada salah paham dan buruk sangka.


"Bunda, sekolah kami gimana?" tanya Tera.


"Kalo kamu tekdung kan gak bisa lanjut sekolah." ucap Bunda kalem.


Tera berpikir sejenak. Ia berkesempatan memiliki Noa dengan sah. Dan ia pun berterima kasih pada salah paham dan buruk sangka. Ia melihat sekeliling, matanya berkeliling ke subjek yang menatap dirinya. Kilatan sinis tertangkap sepasang matanya. Tatapan membunuh milik..............???


'Ini kesempatan untuk mengikat Noa. Agar dia sah menjadi milik gue. Mungkin, setelah ini gangguan akan berakhir.' pikir Tera.


"Gimana Tera?" tanya Bunda meminta persetujuan.


Tera kembali terfokus pada Bunda. Sekilas ia melihat wajah berharap dari Noa.


"Tera mau...Bunda." jawab Tera.


Tak semua menghembuskan nafas lega dan tersenyum tulus. Ada satu orang dengan sepasang matanya menatap penuh kebencian. Ia menghembuskan nafas kesal yang ia sembunyikan dari semua yang sedang duduk mengelilingi meja di ruangan tersebut. Sepasang mata yang mengintai, ingin menerkam diri Tera.


'Gue bakal nikah. Gak akan ada lagi pengganggu. Gak boleh. Noa milik gue.' batin Tera.


'Gue nikah...yess...' batin Noa.


'Gue gak rela.' batin Sandy.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2