
Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Tera, itulah jadwal Noa dan dua sahabat barunya kali ini. Ya, dua kroninya, Dimas dan Ahmad.
Masih ada yang kurang dari sekian informasi yang Noa dapatkan saat ini. Ia tak mengetahui Tera memiliki phobia apa.
Info yang ia dapatkan hanya seputar Tera yang mempunyai pacar alias statusnya sudah laku. Noa telah mendapatkan alamat rumah Tera dari data-data pribadi siswa yang susah payah ia dapatkan memakai aksi tipu kepada karyawan tata usaha. Dan nomor ponsel yang ia dapat dari hasil pemaksaan dari salah satu siswa yang ekskul bersama Tera.
Membuntuti kegiatan Tera sepulang sekolah tak luput Noa lakukan. Tera memiliki janji dengan pacarnya di salah satu taman kota. Pria yang malam minggu Noa lihat jalan bersama Tera bahkan makan sekoteng bareng itu sedang asyik mengobrol dengan Tera.
Noa, Dimas, dan Ahmad mengintip mereka dari jarak aman terkendali dan tertutupi rimbunnya tanaman. Aksi bunglon itu ingin Noa akhiri kala Tera mengobrol mesra dan tertawa bersama pacarnya.
Noa ingin pergi saja, ia tak kuat. Tak kuasa melihat lagi. Ahmad menjaga Noa agar tetap setia menontoni Tera berpacaran. Noa hanya jongkok dengan Ahmad yang memegangi pundaknya kuat-kuat agar tak kabur.
Dimas asyik mengupil di sebelah Noa, baju seragam Noa jadi korbannya. Dimas memeperkan upil disitu, Noa ingin protes namun terserang rasa malas gara-gara terpotek-potek hatinya melihat pemandangan yang semakin mesra. Ingin rasanya Noa menyanyi lagu 'kemesraan' dari Iwan Fals.
Ingin rasanya Noa mencomot Tera jauh-jauh dari pacarnya, memasukannya ke dalam plastik kemudian di bawa pulang.
"Aku pulaaaang..tanpa pernaaah ku terimaaaa kekalahankuuu.." ledek Ahmad dengan cara menyanyi.
"Hancur..hancur hatiku..hancur hancur hatiku..hancur hancur hatiku..hatiku hancuuuur."
Dimas pun ikutan meledek.
Noa yang mendengarkan suara nyanyian mereka rasanya ingin menangis. Suara mereka terlalu merdu sampai bapak-bapak yang berjalan di dekat mereka bersembunyi, menjadi botak mendadak.
Noa hanya bisa memegangi dada. Meremas-remas dada agar sakitnya mereda.
"Sedih atuh lah, gue liatnya pengen ngasih hashtag iba."
Ahmad yang menyudahi aksi menyanyinya menepuk pundak Noa.
Dimas membuka tasnya kemudian mengambil selembar kertas. Ia menulis sesuatu dengan huruf besar-besar.
Selesai menulis, ia tunjukan kepada Noa. Kertas itu di pegang depan dadanya, Noa di suruh menoleh ke samping, ke arah Dimas yang sedang berjongkok. Tertera tulisan 'HASHTAG IBA'.
Noa tertohok.
Tak tinggal diam, ia pun merebut kertas itu dari tangan Dimas. Ia juga mengambil selotip di tas dan memasang kertas yang sudah berselotip tersebut di dadanya.
Noa menunjukan muka merana, Dimas dan Ahmad malah kesenangan seperti di ulang tahunkan. Ngakaknya sudah tingkat jahanam. Mereka berlomba-lomba, cepat-cepatan memfoto Noa dan meng'upload fotonya ke sosmed, tak lupa di beri bubuhan 'hashtag iba'.
Ahmad menepuk pelan kepala Noa. Dimas berperan mengelusi pundak Noa.
Sedangkan Noa tengah menikmati sensasi perih-perih di dada masih dengan sok kalem. Kesedihan yang hakiki.
"Lo harus dapet kesempatan deket-deket dia kayak cowok itu. Biar impas." kata Dimas yang mengompori Noa kemudian menunjuk ke pria di sebelah Tera.
"Kita beraksi besok, okeh." ujar Ahmad.
Noa hanya mengacungkan jempol pertanda setuju.
"Kasih tau kalo ada info tambahan. Besok gue mau temu kangen langsung sama dia. Lupain rencana gue yang di kantin itu." perintah Noa.
"Siap, bos."
Ahmad memberikan penghormatan kepada Noa.
Sedangkan yang di panggil 'bos' hanya menampilkan cengiran saja. Ia mengamini, mungkin saja suatu saat ia menjadi bos betulan.
"Mad, lo kan sekelas sama dia. Masa lo gak tau apa-apa tentang dia?" tanya Dimas heran.
"Ck..dia mah gak gaul ah. Susah lah."
Ahmad mengibas-ngibaskan tangannya sembari memasang wajah sebal.
"----tapi gue usahain cari info yang lebih detail lagi."
__ADS_1
"Good, Mad." tanggap Noa.
Ahmad nyengir. Dimas mengajak yang lain untuk pulang. Noa pun undur diri dari pemandangan menyesakkan tersebut.
Inikah perasaan yang tak berbalas? Mungkin ia harus siap jikalau suatu saat nanti ungkapan hatinya di tolak sang pujaan.
Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan arah yang berbeda. Noa yang selama perjalanan, betulan jalan kaki maksudnya, memikirkan rencana yang ia susun di kantin sekolah tempo hari.
Rencana itu harus batal, ia harus secepatnya membuat rencana baru. Namun dengan tujuan yang sama. Besok ia harus bertemu langsung, bertatap muka dengan Tera.
Melewati salah satu warung makan, ia teringat para akang di kosan. Para penghuni kost itu terkadang makan tak teratur karena kesibukannya masing-masing.
Terlebih dahulu ia melihat isi dompet, ada rejeki lebih bulan ini, bahkan bunda mentransfer uang untuk bulan ini sangat berlebih untuknya.
Hm..mungkin membeli nasi ayam enak juga, begitu pikirnya.
Akhirnya, ia memutuskan membeli nasi ayam di warung makan tersebut. Ia pun menuju warung makan itu yang langsung di sambut ramah pelayan rumah makan. Noa memesan apa yang ia inginkan dan tentunya sesuai jumlah orang yang akan menikmatinya.
Pelayan dengan gesitnya membuat pesanannya. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit pesanan siap, Noa membayar dan sesegera mungkin pulang sebelum makanannya dingin.
***
Sesampainya di kosan, kang Ajat dan kang Tisna juga baru tiba di susul kang Engkos. Wajah mereka sangat kusut akibat kelelahan bukan karena belum di setrika.
Kang Jhon sudah berada di kosan, terlihat dari motor Noa yang terparkir rapi di teras dan suara musik metal yang di setel dengan volume gila-gilaan.
Untung ibu kost orangnya baik. Ia tak pernah menegur anak kost nya yang selalu membuat kerusuhan setiap harinya.
Noa membuka pintu utama yang memang tak di kunci dan langsung masuk, di susul kang Tisna dan kang Ajat.
Sedangkan kang Engkos mendapat telepon dari pacarnya, dan ia sedang menyapa kesayangannya dengan suara di buat seimut mungkin.
Kang Tisna membuka kamar kang Jhon, semakin berisik lah suara musik metal itu.
"Jhon, pareuman lagu na. Gandeng nyaho teu." tegur kang Tisna.
Kang Jhon tak menuruti perintah kang Tisna, ia malah sengaja semakin membesarkan volume nya. Suaranya semakin kencang sampai kaca jendela depan kosan pun bergetar.
Kang Ajat kalem saja, duduk-duduk selonjoran di lantai sambil kipas-kipas. Memperhatikan mereka semua, Noa sampai lupa dengan tentengan yang ia bawa. Ia urung ke dapur karena kehadiran kang Acep yang baru pulang dari kampus sembari berteriak.
"Acep pulang. Mana sambutannya?"
Kang Acep itu makhluk paling narsis di geng penyamun ini.
Noa yang bengong melihat tingkah kang Acep di kejutkan rangkulan kang Jhon yang menyanyi tepat di depan telinganya.
Kaget dengan kelakuan kang Jhon, ia menyumpal mulut si peneriak memakai plastik isi kerupuk kulit.
Kang Jhon nyengir, ia membuka plastiknya dan memakan kerupuk itu dengan tampang bahagia. Mengunyah 'kriuk kriuk' garing di depan wajah Noa.
Hal sepele seperti itu saja sudah membangkitkan semangat Noa lagi, ia nyengir melihat tingkah kang Jhon.
"Itu apaan, Noa? Baunya enak." tanya kang Acep yang mengintipi plastik yang di tenteng oleh Noa.
Karena penasaran itu menyiksa, Noa pun menunjukan isinya. Ia mencomot satu ayam goreng dari plastik kemudian ia goyang-goyangkan di depan wajah kang Acep.
"Guk..guk.."
Kang Engkos yang meledek kang Acep.
Bisa di lihat wajah kang Acep yang memang seperti ****** lapar dengan mata yang mengikuti arah gerakan tangan Noa. Kang Engkos menyudahi teleponan manjanya bersama sang pacar dan masuk ke kosan.
"Uh..mulus yah. Seksi. Pahanya.."
Kang Acep menunjuk paha ayam yang masih Noa pegang.
__ADS_1
"Paha ayam goreng aja lo bilang seksi, kang." kata Noa yang memberikan paha ayam itu kepada kang Acep.
"Betul..betul..betul..emmmh, sedapnye ayam goreng." ucap kang Acep sambil menggadoi paha ayamnya.
Karena Noa tahu semua orang sudah lapar, ia menggiring mereka semua ke ruang makan. Ia yang melayani mereka di samping karena usianya yang paling muda, ia juga sangat menghargai mereka.
Semua makan dengan lahapnya.
"Biasanya, sebelum si Noa kesini mah kita jarang makan bareng gini. Sibuk semua sama kerjaan masing-masing sampe lupa makan. Paling ngumpul di rumah ibu kost kalo sarapan aja, itu juga kalo sempet." curhat kang Ajat.
Yang lain mendengarkan sembari menyuap.
"Nah, berarti kebiasaan baru ini kudu di biasain." ucap kang Tisna.
Noa mengangguk, semua juga setuju terlihat dari senyuman mereka di sela suapannya.
***
Kantuk benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Noa tiduran di kamar, ia menguap beberapa kali. Kasur yang tersedia disini hanya kasur lantai tanpa ranjang, anehnya Noa malah lebih nyaman tidur begini.
Baru saja akan terlelap, acara 'hijrah ke alam mimpi' nya gagal. Sumber dering dari ponsel mengagetkannya.
Ada telepon masuk dari Ahmad. Ini menandakan ia mendapat info baru atau iseng saja?
Noa penasaran, ia pun bangun dari posisi tidur, duduk nyaman dan segera menerima panggilan teleponnya.
Terdengar suara dari seberang telpon.
Ahmad: "Hallo, bos. Udah molor?"
Noa: "Baru mau, Mad."
Ahmad: "Elah, jangan tidur dulu. Banci aja baru dandan. . .belum mangkal. Gue ada info tambahan nih."
Noa: "Hm, apa tuh?"
Ahmad: "Jadi gini, gue dapet info dari temen sebangkunya. Kalo Tera itu takut sama kecoa. Nah gue udah nangkep dua kecoa nih. Buat besok kita nakutin dia."
Noa: "Kok di takut-takutin sih? Lagian lo niat amat nyari kecoa gitu?"
Ahmad: "Mumpung tadi lewat depan gue. Gemes lah. . .mereka jalan berdampingan depan jomblo kayak gue. Pacaran gak tau tempat tuh kecoa beriringan gitu."
Noa: "Lo curhat?"
Ahmad: "Ya sekalian, bos. Mumpung lo mau denger."
Noa: "Hm. . . Oke oke. . .gue udah ada gambaran buat besok. Lo bawa kecoa nya sama Dimas ke depan dia. Gue pengen tau itu ngefek atau enggak. Selanjutnya biar gue yang eksekusi. Lakuin pas dia naek tangga ke kelasnya."
Ahmad: "Siap, bos. Kalo gitu gue info'in ini dulu ke si Dimas. Mumpung pulsa gue masih ada."
Noa: "Pake gratisan juga, belagu lo. Ngaku hayo !!!"
Ahmad: "Hahaha. . . Udah jangan komentar. Good molor, bos."
Dan sambungan telpon pun terputus. Noa melanjutkan tiduran, pikirannya menerawang kembali.
Ia siapkan rencana matang-matang, selangkah demi selangkah nyatanya malah batal. Dan ia membuat rencana dadakan dari sedikit info dan ide yang di berikan Ahmad.
Suntikan ide yang patut di coba. Walaupun ia tak tahu akan berhasil atau tidak, info itu belum tentu benar tetapi harus tetap di coba.
Hm, rencana barusan harus sinkron dengan yang ia susun sebelumnya, hasilnya harus sama yaitu temu kangen. Tera harus sadar akan kehadiran Noa. Ia harus tahu, Noa menantikannya sekian lama.
Noa bukan bayangan, ia harus nampak di penglihatan Tera. Ia tak perlu tahu siapa seorang Noa di setitik masa lalunya tetapi bila itu perlu, ia akan membuat Tera tahu siapa dirinya.
***
__ADS_1
Tbc