Kakak Gemes

Kakak Gemes
Liburan


__ADS_3

"Dih..kamu kok pucet ya.."


Tera menyadari sang kekasih yang hari ini tak seperti biasanya. Namun Noa bersikap biasa, tak ada keluhan yang ia lontarkan.


"Oh, iya. Aku tadi bedakan..jadi putihan..." elak Noa.


"Ck, ngeles mulu atuh kamu mah..yang aku liat, kamu pucet..bukan pengen tau kegiatan ngondek kamu..." omel Tera.


Noa memainkan tirai kerang yang terpasang di pintu kamar Tera. Noa sedang berada di rumah Tera, hari ini hari pertama liburan setelah berakhirnya ujian yang melelahkan.


"Aku bukan banci kaleng-kaleng..."


Noa melirik Tera sekilas dan lanjut berbicara.


"---kamu tega amat ngatain aku ngondek. Aku ganteng gini, macho pula."


"Daripada ngomel mulu mendingan bantuin aku beres-beres." kata Tera.


Noa kembali memainkan tirai kerang dengan suara derak dan gemerincing menyambut indera pendengaran. Tirai pun bergerak bergoyang ke kiri dan ke kanan.


"Bayar aku kalo mau di bantuin." kata Noa kalem.


"Aku bayar pake nasi sepiring." balas Tera cuek.


Noa mendecakan lidah. "Ck, ogah ah."


"Dih, ngambek. Ya udah, pundung sana." ujar Tera.


"Okelah..." kata Noa.


Tera memandanginya datar. Noa berjalan ke dapur, ia mengobrak abrik peralatan masak. Suara benda memotong-motong mengundang rasa penasaran Tera. Tentunya yang Tera lakukan adalah menghampiri Noa ke dapur, ingin melihat apa yang kekasihnya lakukan disana.


Noa sedang memotong-motong bawang merah dan cabai. Tera tersenyum kala melihat Noa begitu santai seakan sudah terbiasa melakukannya.


Noa memandang sekilas pada Tera yang berdiri di ambang pintu dapur. Kembali, ia melanjutkan mengiris-iris bawang dan cabai.


"Mau bikin apa?" tanya Tera.


"Gak tau." jawab Noa cuek.


Hm, mungkin Noa memang tak terima di katai oleh Tera. Kegiatan mengirisnya hampir selesai. Namun Tera masih bertahan memperhatikannya. Noa orang yang santai, rasanya melihat ia diam dengan damai seperti itu membuatnya semakin berkharisma. Noa mempunyai pesona tersendiri.


"ahh..."


"Yah, Noa..."


Tera berlari menghampiri Noa, ia memperhatikan tangan Noa yang teriris. Pisau nyaris menusuk menembus kuku jari telunjuknya.


Ketika mengangkat tangan Noa, Tera berucap. "Obatin dulu ya."


Noa menarik tangannya. "Gak usah. Pake aer aja."


Ia menuju wastafel dan memutar kran, air mengalir membuang darah dari lukanya. Setelah bersih, ia kembali melanjutkan kegiatan mengiris yang belum terselesaikan.


"Obatin dulu lukanya. Aku pakein plester ya." ucap Tera lembut.


Noa mengangkat wajahnya yang menunduk tersebut, ia menghentikan kegiatan mengirisnya lalu memandang datar pada Tera.


"Gak usah. Gapapa. Luka kecil doang." gumam Noa.


Tera memandangi wajah datar itu. Noa kembali menunduk, ia mengambil bahan-bahan lain untuk diolahnya menjadi masakan. Tera pun menahan pergerakan sang kekasih.


Noa menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa?" tanya Noa lembut.


"Kamu marah? Karena aku ledek kamu barusan?" tanya balik Tera.


Noa menggeleng. "Ck, itu masalah kecil kan. Jangan terlalu di pikirin."


Ia kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Tera pun menyibukan diri dengan kembali membersihkan seluruh bagian rumah.


Kegiatan Tera di rumah ini di akhiri dengan makan hasil masakan Noa. Rasanya enak, Noa memang berbakat dalam segala hal.


Dari pagi saat Noa melakukan kegiatan rutinnya, yaitu memberikan tiga kuntum bunga mawar biru untuk Tera, ia terlihat kurang bersemangat. Tak seperti biasanya.


Ia terbiasa memuji Tera setiap pagi saat baru membuka mata, hari ini ia tak melakukannya. Kini wajahnya memucat setelah ia tak fokus hingga jari tangannya teriris pisau.


"Kamu sakit?" tanya Tera khawatir.


Ketika Tera menyentuh dahi Noa, ia merasa dahi itu sedikit hangat. Noa pun terlihat lesu dan tak bergairah. Hari ini pun ia sangat sensitif, biasanya ia tak akan marah hanya karena sebuah candaan.


Gurat cemas terukir jelas di wajah Tera, Noa menoleh ke samping. Tera duduk memandanginya. Noa tersenyum kecil dan mengusap rambut Tera lembut.


Noa mengajak Tera kembali ke kosan.


Di perjalanan, tak ada obrolan. Mereka hanya diam, yang terdengar hanyalah deru mesin kendaraan lain. Bisingnya tanpa percakapan atau candaan yang selalu ia lontarkan untuk Tera.


***


Suara mengerang dari kamar samping, membangunkan Tera dari tidur nyenyaknya. Ia mengerjapkan mata sejenak, memfokuskan penglihatan ke sekeliling kamar kemudian refleks berlari keluar dari kamarnya.


Noa kembali mengerang. Membuat Tera cemas dan panik ketika ia memasuki kamar kekasihnya. Seperti kesakitan, Noa terus mengerang.


Tera menggoyang pelan bahu kekasihnya, membuat Noa membuka perlahan matanya, ia melihat Tera dengan peluh membasahi wajahnya.


"Kenapa? Mana yang sakit?" bisik Tera.


Noa menggeleng pelan. Ia mengernyit kemudian memejamkan matanya. Erangan kembali terdengar membuat kecemasan Tera kian bertambah.


Tera pun bangun hendak keluar kamar berniat meminta pertolongan dari penghuni kosan yang lain. Tetapi Noa mencekal pergelangan tangannya dan menggeleng pelan.


"Gapapa..." lirih Noa.


Wajahnya semakin memucat dengan peluh menghiasinya disana.


Tak sadar, air mata Tera pun turun. Menetes di hadapannya. Noa belum menyadari, ia memejamkan mata menahan sakit. Isakan kecil membuatnya tersadar, ia membuka matanya yang kini melihat Tera tengah menangisi dirinya.


Noa mengusap pipi Tera dengan lembut dan sayang.

__ADS_1


"Euh, kamu nangis kenapa?"


Suara Noa bahkan hampir tak terdengar.


Tera menggeleng. Mengapa Noa tiba-tiba menjadi seperti ini. Pertanyaan di dalam kepalanya terus berputar-putar menginginkan jawaban yang pasti.


Noa bangun dari tidurnya dan duduk di hadapan Tera.


"Hm, cuma demam aja, baby." gumam Noa.


Pandangan Tera terkunci, ia terfokus hanya pada sosok tampan yang pucat tersebut.


"Yakin cuma demam aja? Ke dokter ya." ucap Tera.


"Hem, gak usah. Pake obat penurun panas aja." ujar Noa.


Ia tersenyum lalu mengusap rambut dan menggenggam tangan Tera. Terasa panas genggaman tangan itu, Tera yakin Noa benar-benar sedang demam.


Saat melepas genggaman tangan Noa, Tera keluar kamar. Ia mencari obat penurun demam dan membawakan baskom berisi air untuk mengompres Noa.


Di dalam kamar, Tera mengacak lemari mencari saputangan. Ia menemukan satu dan kembali duduk di samping Noa.


"Minum obat dulu ya." bujuk Tera.


Noa menurut, ia meminum obatnya.


"----rebahan. Aku mau kompres kamu."


Noa merebahkan diri dan Tera mulai mengompresnya. Saputangan pun menempel di dahinya.


"Enak ya. Lagi sakit gini ada yang ngurusin." ucap Noa.


"Lebih enak lagi kalo badan kamu sehat kan." kata Tera.


Noa mengangguk. "Makasih ya. Kamu perhatian banget sama aku."


"Emang harusnya seperti itu kan." bisik Tera.


"Nanti kamu ketularan, jangan deket aku." ucap Noa.


Tak mendengarkan ucapan peringatan dari Noa, Tera tetap bertahan menunggui dan mengompresnya. Bahkan berbaring di sampingnya, ia pun memeluk Noa erat. Dan ia mengelus dada Noa penuh rasa sayang.


"Cepet sembuh, sayang..." gumam Tera.


***


Pagi dini hari, Noa berjalan sempoyongan menuju keluar kamar. Tera bergegas mengikutinya. Ternyata, ia keluar kosan mengambil bunga yang sudah biasa tersimpan di meja teras kosan.


Walaupun sakit ia tetap melakukan sesuatu yang membahagiakan Tera. Sakit tak menghalangi rasa sayangnya terhadap Tera. Tak terhalang barang sedikit pun, ia tetap Noa seperti hari-hari kemarin.


Bila kemarin Noa lebih banyak diam. Hari ini ia kembali bersikap biasa. Bukan karena ia telah sembuh dari sakitnya, Tera yakin Noa hanya tak ingin membuatnya khawatir.


Suhu badannya belum normal, wajahnya pun masih sama pucatnya dengan hari kemarin. Tetapi canda dan tawa riangnya seakan menutupi bahwa tubuhnya sedang sakit.


Ia bercanda, saling melempar ledekan, dan membalas ejekan dengan sesama penghuni kost lain. Mereka awalnya khawatir dengan kondisi Noa. Karena Noa bersikap biasa, rasa khawatir mereka luntur. Tetapi tidak untuk Tera, apalagi saat mengingat semalam Noa mengerang seperti merasakan kesakitan yang amat sangat.


Dimas duduk di teras di samping Noa. Ahmad duduk di hadapan Noa sembari memandangi wajah pucat itu.


"Lur, sakit apa lo?" tanya Dimas.


"Ck, demam doang. Kalem, lur." ucap Noa santai.


Tera setia memandangi mereka dari kaca depan kosan. Ia mendengarkan semua percakapan mereka.


"Gak periksa dulu? Ntar nambah parah loh." kata Dimas.


"Demam biasa aja." ucap Noa santai.


"Kita mah cemas, lur. Lo malah santai kayak gini." omel Ahmad.


"Kalem..kalem..daripada ngebahas sakit mendingan kita bahas masalah liburan. Pada gak bete apa diem mulu di rumah?" kata Noa sembari merangkul Dimas yang duduk di sampingnya.


"Uuh, boleh juga." kata Ahmad bersemangat.


"Bakal liburan dimana nih?"


Dimas pun antusias mendengar penuturan Noa membahas tentang liburan.


"Sewa villa di puncak." kata Noa.


Dimas dan Ahmad bersorak gembira. Seseorang menghampiri tiga orang yang sedang duduk gembira. Sandy, menyapa ramah dan ikut membicarakan masalah menyewa villa.


"Ah, gue punya kenalan disana. Ntar gue yang sewain. Gimana?" kata Sandy meminta persetujuan dari Noa dan kedua sahabatnya.


Mereka semua menyetujui usulan Sandy. Kendaraan pun tak luput dari pembahasan mereka. Semua sepakat menggunakan kendaraan sewa dengan Noa yang bertugas menyetir.


"Cuma kita berempat doang kan?" tanya Sandy memastikan.


"Kalo ajak Noa harus sepaket sama Tera." celetuk Ahmad.


"Hm, bener tuh. Mereka paket double." timpal Dimas.


Sandy mengangguk dan tersenyum kecut. Selesai mengobrol, Sandy pulang ke rumahnya. Ahmad mengajak Noa ke kebun buahnya. Tentunya, Noa dan Dimas menyetujui ajakan itu.


Noa memasuki kosan, Tera berpura-pura duduk menonton acara televisi yang sama sekali bukan favoritnya.


Wajah Noa sumringah saat menghampiri Tera. Kondisi sakit itu mengkhawatirkan, saat ia mulai kembali pulih membuat Tera sedikit merasa lega.


"Baby, liburan yuk. Ke puncak." kata Noa bersemangat.


Tera memandangi wajah dengan senyum lebar itu, semangat Noa membuat perhatian Tera terhadap wajah pucatnya teralihkan. Mengabaikan kecemasan yang masih tersisa, Tera mengangguk menyetujui.


"Yes. Liburan euy."


Noa memeluk Tera. Ia menggoyang tubuh Tera dalam pelukannya ke kiri dan ke kanan.


Masih dalam pelukannya, Tera mengucapkan sesuatu.


"Tapi cek ke dokter dulu ya. Aku pengen tau kondisi kamu sekarang."

__ADS_1


Noa melepas pelukannya. "Hm, iya deh."


"Kok kayak gak ikhlas gitu. Demi kebaikan kamu juga kan." omel Tera.


"Hm, iya. Males minum obatnya, ah." elak Noa.


Tera memandangi Noa dengan sinis, Noa nyengir lebar dan mengangguk.


Tera pun mendengus melihat kelakuan Noa.


Sebelum ke kebun Ahmad, Tera membawa Noa ke klinik tak jauh dari kosan. Dimas dan Ahmad pun ikut menemani.


Keluar dari klinik, Noa menggerutu karena banyak obat yang harus ia minum. Ia mengakui di depan dokter yang memeriksanya bahwa dirinya membenci segala jenis obat-obatan.


"Ah, banyak amat obatnya. Aku buang aja lah separo." gerutu Noa.


Tera mendengus sebal, ia merebut plastik berisi obat dari tangan Noa.


"Demi kesembuhan kamu juga kan."


Noa cemberut dan jalan menuju motornya. Sebegitu takutnya Noa untuk minum obat. Tera pun mulai memikirkan cara agar Noa mau minum obat.


Kekhawatiran Tera semakin berkurang kala telah mengetahui Noa hanya sakit demam biasa. Kesakitan yang di rasa Noa semalam karena suhu badannya lumayan tinggi. Untungnya, obat penurun panas semalam berefek baik untuk tubuh Noa.


***


"Dim, sini buruan. Udah banyak nih." teriak Ahmad.


Dimas berlari membawa bakul berisi buah manggis, ia menghampiri tiga orang yang sedang duduk di atas tikar.


"Mad, ntar gue bawain buat Justin ya. Kan besok kita mau liburan. Kasian Justin bisa kekurangan gizi. Betul kan, menantuku."


Dimas melihat sekilas pada Noa untuk meminta dukungan.


Noa mengacungkan jempol. "Betul Bapak mertuaku."


Tera menggeleng dan mendengus geli. Ahmad cuek menanggapi Dimas. Karena tanpa perlu di minta pun, buah di kebunnya bebas di bawa pulang.


"Kang Ahmad..."


Panggilan seseorang mengalihkan perhatian mereka. Semua menoleh ke sumber suara. Seorang remaja yang usianya di bawah mereka pun menghampiri Ahmad.


"Eh, iya. Kenapa?" tanya Ahmad yang langsung berdiri di ikuti oleh Dimas.


"Mau minta manggis boleh gak? Buat si teteh yang lagi ngidam." kata remaja perempuan itu.


"Oh, ambil aja atuh. Ini aja, cukup gak?" Ahmad menyerahkan sebakul manggis pada si remaja perempuan.


Sebakul manggis yang di kumpulkan oleh Dimas, di terima remaja perempuan tersebut dengan senang hati.


Dimas tak terima. Ia pun protes.


"Mad, itu kan gue yang naek ke pohon. Buat Justin."


"Ntar lo ngambil lagi. Ini buat yang ngidam dulu." kata Ahmad.


Tera dan Noa hanya duduk memperhatikan mereka bertiga. Noa memang selalu bersikap cuek pada orang lain yang belum di kenalnya, terutama setelah mereka resmi berpacaran.


Remaja perempuan itu menyerahkan bakul pada Dimas.


"Ntar saya manjat sendiri aja."


"Eh, jangan deh. Iya itu buat eneng aja."


Dimas tak tega bila seorang wanita harus memanjat pohon.


Ahmad tersenyum. "Justin mah suruh panjat pohon gue sendiri aja. Dia kan pemanjat ulung."


"Justin emang naluri pemanjat. Dia kan monyet." kata Noa cuek.


Perhatian remaja perempuan itu pun beralih pada Noa. Ia seperti terpesona melihat sosok Noa. Ia terus memandangi tak lepas barang sedetik pun.


Dimas mengalihkan kembali perhatian remaja perempuan tersebut.


"Eneng namanya siapa?"


"Ahmad..." kata Ahmad yang berada di samping remaja perempuan tersebut.


"Bukan lo." kata Dimas dengan dongkolnya seraya mencolek pipi Ahmad.


Remaja perempuan itu menjawab. "Imas, kak."


"Oh, Imas. Kenalin dong, babang Dimas." kata Dimas yang mengulurkan tangannya yang kemudian di jabat malu-malu oleh remaja bernama Imas tersebut.


"Kalo Akang yang itu namanya siapa?" tanya Imas menunjuk sosok Noa yang berada di samping Tera.


Noa tak mendengar, tugas Tera lah yang menjawab pertanyaan Imas.


"PACAR GUE." jawab Tera ketus.


Imas merasa canggung dan malu mendengar penuturan Tera. Dimas dan Ahmad tersenyum sembunyi-sembunyi. Noa masih anteng makan manggis tanpa memperdulikan sekitarnya.


Imas undur diri setelah berterima kasih pada Ahmad dan Dimas, dan ia berlalu membawa sebakul manggis.


"Jiah segitunya, takut Noa di ambil orang." ledek Ahmad kembali duduk di atas tikar.


"Iri tanda tak mampu."


Dimas ikut duduk dan mengejek Ahmad.


"Kalian lagi ngomongin apa sih?" celetuk Noa sambil membuka kulit manggis.


Dimas dan Ahmad menepuk dahi. Tera tersenyum melihat pemandangan ini. Noa tak menyadari sekitarnya, ia yang seringkali menebar pesona dengan tak di sengaja membuat orang-orang menyukai kharismanya.


Ia seorang yang cuek dan kalem, bahkan terkesan terlalu cuek, pembawaannya yang terlalu santai kadang menjengkelkan. Tetapi itulah Noa. Kekasih tersayang untuk Tera.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2