Kakak Gemes

Kakak Gemes
Permintaan Tera


__ADS_3

Satu minggu berlalu setelah mereka gagal menonton film di bioskop. Tera sering kali Noa pergoki tengah melamun. Tera lebih banyak diam.


Setiap kali Noa bertanya, Tera selalu mengelak dengan banyak alasan. Entah itu lelah, mengantuk atau pusing. Alasan yang sangat di buat-buat.


Seperti saat ini, Tera sedang duduk di lantai dengan tangan menopang dagu dan memainkan pulpen, tugas sekolahnya ia abaikan demi lamunan yang Noa tak tahu apa penyebabnya.


Noa membatin. 'Apa gue ada salah. Atau dia ingin sesuatu yang gak bisa dia utarakan ke gue. Pastinya gue bingung dan heran dengan sikapnya seminggu belakangan ini. Kami baru menjajaki hubungan ini. Tahap awal yang sangat membutuhkan adaptasi. Gue takut dia merasa gak nyaman dengan gue.'


Karena Noa tidak bisa berdiam diri melihat keganjilan ini, ia pun menghampiri Tera dan duduk di sampingnya. Sudah cukup satu minggu Noa bersabar menghadapi keanehan ini. Ia merangkul bahu Tera, itu pun sudah membuat Tera terkejut, matanya membulat kala memandang wajah Noa.


"Ada masalah? Aku perhatiin seminggu ini sejak kita pulang dari bioskop, kamu jadi banyak ngelamun." ucap Noa.


Tera hanya menggeleng dengan mimik wajah yang kembali seperti semula. Datar.


"Aku ada salah sama kamu?" tanya Noa.


Tera menggeleng lagi sebagai jawaban atas pertanyaan Noa, kekhawatirannya.


"Kamu ngerasa gak nyaman sama aku, dengan hubungan ini?" bisik Noa di hadapan wajah datar itu.


Tera kembali menggeleng. Lama, ia memandangi wajah Noa. Tangannya bergerak, ingin memeluk Noa.


"Aku gak mau putus." lirih Tera.


Noa menautkan alis, ia bingung. Tentu saja. Ia tak habis pikir Tera bisa mengucapkan kalimat itu.


"Kenapa harus, hem? Aku gak ada niat mutusin kamu." ucap Noa.


Tera melepas pelukannya. Ia memandangi kembali wajah Noa dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Noa. Tera memanyunkan bibirnya.


"Hm, kenapa?"


Noa balas menangkupkan tangan di pipi yang kini berisi itu. Tera menggeleng pelan.


"----yakin?" tanya Noa yang memperhatikan Tera lekat-lekat. Tera mengangguk masih dengan cemberutnya.


"-----senyum. Gini nih." kata Noa yang menggerakan kedua jempolnya untuk menarik kedua ujung bibir mungil tersebut.


Tera kini tersenyum buatan, bukan alami. Membuat wajahnya menjadi semakin menggemaskan.


Tera mencubit kedua pipi Noa keras-keras membuat Noa mengaduh. Tetapi, hasilnya ialah Tera kembali menyunggingkan senyum. Bukan hanya tersenyum, ia tertawa.


Gemas melihatnya, Noa mencubit pelan pipi Tera. Ia mendekatkan wajah pada pipi yang berisi dan mengecupnya sayang.


"Jangan ngelamun lagi." ucap Noa seraya mengelus rambut Tera dengan sayang.


"----mau aku beliin sesuatu?"


"Hem, aku gak pengen apa-apa." jawab Tera.


"Terus kenapa ngelamun? Aku kira ada yang pengen kamu beli sampe di lamunin gitu. Aku tanya ada masalah atau enggak, kamu jawabnya geleng-geleng kepala aja." kata Noa panjang lebar.


"Takut putus..." bisik Tera.


Ia menunduk. Memainkan ujung bajunya. Ada yang ia sembunyikan dari Noa. Ia selalu memutus kontak mata, menghindar seperti ingin menutupi sesuatu dan Noa tak boleh mengetahui itu.


Noa mengangkat wajah Tera sehingga Tera mendongak.


"Liat sini. Aku lagi ngomong sama kamu. Jangan nunduk, aku gak bisa liat manisnya kamu."


Tera hendak memeluk Noa lagi tetapi Noa menahan pergerakan itu. Noa menatapnya intens tanpa berkedip. Tera kelihatan sedikit takut dan memutus kontak mata dengan berpaling ke arah lain.


Noa merasa Tera tak jujur, ada yang ia sembunyikan dan Noa tak menyukai itu. Lebih baik jujur walaupun menyakitkan. Ia harus membuat Tera berbicara, memberikan alasan untuk perubahan sikapnya yang drastis seminggu ini.


Noa menuntun Tera untuk melihat ke hadapannya dengan cubitan di dagunya.


"Kenapa?" tanya Noa penuh penekanan.


Matanya berkaca-kaca, air mata masih terbendung belum ingin menetes. Tera ketakutan.


Noa terus memandangnya meminta jawaban yang pasti. Ia memberikan sorot mata tajam yang membuat tubuh Tera gemetaran. Bibirnya bergetar dan air mata mengalir dengan derasnya. Tera terisak-isak masih dengan wajah yang dipaksakan mendongak untuk memandang Noa.


Isakan tangisnya semakin menjadi-jadi. Tera ingin kembali berpaling, tetapi Noa kembali memaksa Tera untuk tetap melihatnya.


"Kenapa?"


Pertanyaan yang sama dengan penuh penekanan kembali terucapkan.


"Gapapa..." lirih Tera.


"Boong kan. Kenapa?" paksa Noa.


Tera menggeleng pelan sambil terisak.


"Gapapa...enggak..."


"Kalo gak jujur, aku putusin kamu. Mau?" ancam Noa.


Aliran air mata semakin deras membanjiri wajah manisnya. Membasahi pipi yang selalu merona merah alami itu.


Tera sesenggukan, ia kembali menggeleng. Menolak untuk bicara sejujurnya.

__ADS_1


"Jadi mau aku putusin, hem?" bisik Noa dengan ujung hidung mereka yang bersentuhan.


"Enggak...gak mau..." kata Tera.


Suaranya hampir tak terdengar. Isakan tangisnya yang semakin terdengar jelas.


Tangan itu gemetaran saat menutupi bibirnya, berusaha memblokir isak tangisnya. Ia menunduk kala menyadari Noa memandanginya tajam. Yang Noa lakukan hanya berdiri di depan dan terus memperhatikan yang tengah menangis.


Noa pun berjongkok di hadapan Tera. Tangan Tera meraih pundak Noa meminta pelukan. Tetapi Noa menepisnya kasar.


Tangisannya pecah kembali. Suaranya serak, tangis pilu yang menggores hati Noa.


Tak tega melihatnya, Noa memeluknya erat. Ia terduduk, merasa bodoh atas perbuatan yang menyakiti itu.


Noa mengelus punggung Tera dengan lembut. Memberikannya ketenangan. Tangisan itu lambat laun mereda. Isakannya semakin pelan dan perlahan menghilang.


Tera memeluk Noa tanpa suara. Kembali, Noa mengelus punggung dan belakang kepala Tera.


"Pengen bunga mawar biru." ucap Tera yang mengutarakan keinginannya.


"Iya. Nanti aku beliin." bisik Noa tetap mengelus punggung Tera.


"Tiap hari beliinnya."


Tera melepas pelukannya. Ia memandang wajah Noa.


Terpampang di hadapan Noa, wajah manis, pipi yang kembali merona merah dan mata yang memberikan sorot berharap.


"Iya...maaf soal yang tadi..."


Noa mengecup pipi Tera yang masih basah bekas air mata. Ia mengusap jejak-jejak kesalahan yang ia perbuat. Noa membersihkan sisa air mata yang tak akan ia biarkan mengering disana.


"Kalo ada apa-apa kamu bilang sama aku. Terbuka lah, jangan buat aku seperti pajangan yang bisanya cuma diem aja dan hanya kamu pandangi." ucap Noa lembut.


Tera mengangguk paham. Itu sudah lebih dari cukup sebagai respon darinya saat ini.


Noa teringat akan sesuatu. Nomor ponsel toko bunga yang salah satunya mempunyai stok beragam bunga setiap harinya. Berharap disana akan selalu tersedia dan menyediakan bunga mawar biru.


Noa pun menghubungi nomor ponsel tersebut. Ia menyebutkan pesanan yang diinginkan. Dan pemilik toko bunga menyanggupinya. Noa memesan tiga kuntum setiap harinya dan meminta pengiriman pagi hari.


Kenapa tiga?


Hanya ingin mengingatkan bahwa tanggal tiga ia memulai hubungan dengan Tera dan mempunyai status baru. Impiannya tercapai untuk berpacaran dengan Tera. Untuk mengingatkan setiap bulannya saat melewati tanggal tiga, bahwa ia akan selalu bertahan dengan hubungan ini, menemukan tanggal tiga dengan hubungan yang masih menyambung.


Setiap melewati tanggal tiga, ia ingin hubungan ini terus terhubung sampai menemukan lagi tanggal yang sama setiap bulan berganti tahun dan seterusnya. Selama hidup mereka. Selama nafas masih berhembus. Selama hidung masih bisa menghirup udara. Jantung yang berdetak, memompa darah disana dan ada debaran untuknya.


***


Pagi hari yang indah terulang lagi. Satu minggu setelah Tera memutuskan untuk tinggal bersama Noa, Tera menjadikan hari-hari Noa lebih berwarna.


Noa melihat Tera membuka mata pagi ini, sepasang mata yang indah dan hitam bulat sempurna seperti mata bayi, bulu mata yang lentik mengerjap pelan mencoba menghilangkan sedikit kantuk yang tersisa.


Tera tersenyum untuk yang pertama di pagi ini yang ia perlihatkan hanya untuk Noa.


"Pagi pacarnya aku..." ucap Tera pelan.


Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Wajah memerah malu itu menggoda.


Noa membuka tangan yang menutupi keindahan pagi ini. Tera memandangi Noa dengan senyum tertahan. Noa mengecup bibir yang malu-malu mengukir senyuman itu. Berkali-kali hingga Tera akhirnya tak bisa lagi menahan senyumnya. Tera tertawa kecil saat Noa menggodanya lagi dan lagi.


"iih, masih subuh..." kata Tera saat melihat jam dinding.


"----bobo lagi ah...ganggu deh kamu, maen masuk kamar aku."


"Ck, gak boleh. Ngobrol aja sama aku." kata Noa yang tak bisa di bantah.


Ketukan di pintu menyadarkan Noa, mengingatkan akan pesanan bunganya. Meninggalkan Tera yang masih berbaring, Noa membuka pintu depan dan mengambil bunga yang di simpan di meja teras kosan.


Noa pun kembali ke kamar membawa bunga untuk yang terkasih. Tera bangun dan duduk karena melihat sesuatu yang ia suka pagi ini.


"Bunga anda yang mulia." ucap Noa lembut bersikap layaknya ksatria di hadapan sang putri.


"Hehe...peluk..."


Tera menerima bunga tersebut, tiga kuntum bunga mawar birunya. Ia menghirup aromanya dan tersenyum. Noa pun memeluk sesuai permintaan Tera. Sebuah keinginan yang harus di penuhi.


"Permaisuri nya aku seneng gak?" bisik Noa dalam pelukan.


"Seneng...." bisik Tera.


"Besok ada bunga lagi buat kamu. Setiap hari akan ada bunga yang kamu terima." ucap Noa yang mendapat anggukan dari Tera.


"Aku gak akan bosen dapet bunga setiap hari dari kamu." kata Tera yang tersenyum lebar seraya mendekap bunganya.


"Hm, apapun baby...apapun asal kamu bahagia..." ucap Noa yang memeluk Tera lebih erat lagi. Pelukan sayang penuh kehangatan.


***


Noa sedang berada di rumah Dimas, tentunya Tera ikut. Ia tiduran di pahanya. Benar-benar tertidur, di tengah kebisingan yang di buat dua sahabat Noa. Tera sama sekali tak terusik.


Dua sahabat Noa semakin gencar mengusik Tera. Sengaja membuatnya terbangun. Mereka tak tahu bila Tera yang tiduran dengan gaya seperti ini di paha Noa, tak akan mau bangun walaupun ada tsunami menyapu mereka sebelum ia kenyang tidur. Terkadang, Noa kesemutan dan kram. Tetapi Noa tahan demi tak terganggunya tidur Tera.

__ADS_1


"Berisik, gembel." gerutu Noa.


Dimas semakin mengamuk, macam orang kesurupan. Membunyikan perabotan di dekat Tera yang sedang bobo manis.


"Kok dia gak bangun sih."


Ahmad mulai menampakan wajah menyerah.


"Ah, ngebo nih dianya."


Dimas ngos-ngosan lalu duduk berselonjor di lantai dekat Noa.


"Lagian lo berdua kerajinan amat ganggu orang tidur." omel Noa.


Mereka nyengir lebar.


"Iri ya lo...?" kata Ahmad kepada Dimas yang memasang wajah datar kemudian Dimas menghadiahkan jitakan di kepala Ahmad.


"Lo juga kan...?" kata Dimas.


Ahmad nyengir lebar dan mengangguk semangat membenarkan ucapan Dimas.


"Gini nih, cara bangunin putri tidur ya pake cara pangeran di buku dongeng." kata Noa dan ia mulai beraksi mencium bibir Tera lama membuat mata itu perlahan terbuka.


"----tuh, liat kan. Gak cape kayak kalian, kesannya malah enak."


Ya, selain dia terbangun karena ingin. Dan kantuk yang benar-benar hilang. Tera akan bangun bila di kecup di bibir. Ciuman bisa membuat kantuknya benar-benar hilang dadakan.


Dimas dan Ahmad tercengang. Melotot dengan mulut sedikit menganga.


"Ngiler lo, elah." kata Noa menjentikan jari menyadarkan mereka dari ketercengangan.


"Euh, adegan mesranya di sensor dong." kata Dimas.


"Ini bukan film, oy." kata Noa cuek.


Ahmad ngesot mendekati Noa. "Ajarin gue menaklukan hati manusia dong."


Noa memasang wajah datar. "Lo biasanya menaklukan hati ayam?"


Ahmad nyengir lebar. "Enak dong."


"Ngomong-ngomong, kalian mau nonton gak?" kata Dimas membuat Ahmad berpaling dari Noa.


"Apa? Bukan film itu kan?" kata Ahmad.


Dimas kebingungan dan bertanya. "Apaan tuh, Noa?"


"Film yang bikin si Ahmad khusyuk tiap malem jumat." kata Noa kalem.


"Ya bukan lah..." toyor Dimas kepada Ahmad yang nyengir santai.


Tera duduk di samping Noa dan menempelkan wajahnya di dada Noa. Ia menguap lebar dan mengusel-ngusel kepalanya di dada Noa.


"Pengen nonton kolor op dering." kata Tera yang suaranya teredam dada Noa.


"HAH?"


Mereka bertiga saling berpandangan.


Ahmad memastikan pendengarannya dengan mengorek kuping.


"Gak salah denger kan gue."


"Mana cd film yang tadi di sebutin Tera."


Dimas mengacak-acak koleksi cd nya.


"Kolor op dering?"


Noa menggaruk kepala sembari berpikir.


Tera menjauhi dada Noa dan mengulangi ucapannya.


"Lord of the ring, iih."


Noa, Dimas dan Ahmad yang sama-sama salah dengar pun terbahak atas kebudegan ini.


"Conge iih." kata Tera kepada Noa.


"Ada lumer di dalemnya dong." canda Noa yang membuat Tera menjewer telinganya.


"Bonge maneh (tuli lo) ." kata Tera pada Dimas.


"Ceuli atawa gagantel konci panto?" kata Tera pada Ahmad.


(Kuping atau gantungan kunci pintu?).


Mereka terbahak mendengar penuturan Tera, ia pun tertawa kecil menyaksikan kebegoan tiga bersahabat.


Menonton film ulat kuning dan merah menjadi pilihan mereka untuk menyambung canda dan tawa, agar tak hilang tergerus oleh arus mematikan bernama kesedihan.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2