
Terbangun di pagi hari masih dengan perasaan yang sama. Kesepian.
Tak ada sapaan pagi yang menghangatkan. Tak ada rona merah kebahagiaan kala melihat yang terkasih.
Bertahun-tahun lamanya hidup sendiri, Tera sendiri bukan penyendiri. Semenjak kecelakaan yang merenggut dua nyawa yang sangat berharga di kehidupannya.
Kecelakaan tragis membawa pergi sosok orangtua dari sisinya. Mereka pergi tanpa pesan yang tersirat untuk menguatkan anaknya dalam menjalani hidup seorang diri di hari berikutnya.
Rumah ini, peninggalan orang tuanya. Hidup dengan mengandalkan harta yang tersisa, yang di wariskan karena kepergian yang tak di rencanakan. Rencana Tuhan memang yang terbaik untuk hamba-Nya.
Perpisahan itu menyakitkan. Menjadi anak tunggal menjadikan dirinya tak mempunyai tumpuan kala kesedihan menerpa.
Keseharian Tera kecil hanya pergi bersekolah dan pulang ke toko jam milik keluarganya. Bisakah keduanya itu di sebut 'rumah'?
Di kala rumah yang sebenarnya pun hanya di gunakan untuk istirahat sejenak, menutup mata agar tak terpaku pada dunia fana. Melupakan sejenak rasa sedih yang menggerogoti utuhnya hati. Bermain di alam mimpi, mengarungi keindahan yang kadang kala menyapa. Dan disaat mimpi buruk itu tiba, hanya tangisan yang tercipta.
Hanya toko jam itu yang membiayai hidupnya saat ini. Kini di kelola oleh seseorang yang di anggap sahabat oleh Abah semasa hidupnya. Berbagi hasil untuk kelanjutan hidup mereka.
Abah Anom, hidup seorang diri. Tinggal di ruko setelah di tinggal pergi sang istri yang wafat sepuluh tahun yang lalu. Tanpa seorang anak, tanpa tempat berlindung yang di sebut rumah.
Tera mengijinkannya tinggal di ruko. Mengurus dan menjaga toko jam yang sejak saat orang tuanya meninggal menjadi miliknya.
Abah Anom selalu ramah terhadap pelanggan. Pantaslah ia menjadi sahabat dari orang tua Tera. Sejak saat itu, Tera tak perlu bolak balik setiap pulang sekolah untuk menjaga toko.
Hm, bukankah Tera kecil juga membutuhkan waktu bermain seperti anak-anak kebanyakan? Bukankah tak indah rasanya kala masa bermain di renggut paksa untuk meraih sedikit peruntungan untuk melanjutkan kehidupan?
Di tinggal orang tua di usia tujuh tahun bukan hal yang mudah. Mengurusi usaha yang seharusnya belum menjadi tugasnya. Abah Anom yang bersedia menggantikan tugasnya. Agar Tera kecil ikut merasakan indahnya bermain bersama teman sebayanya.
Di usia ke tujuh belas tahun tepatnya jatuh di hari ini, tak ada hal spesial yang tercipta. Itu hanya impian untuk seorang yang hidup sendiri seperti Tera.
Jati, pacarnya yang sudah hampir lima tahun ini mencoba mengisi kekosongan di hatinya pun tanpa kabar hari ini. Hatinya tetap terasa kosong bukan?
Awalnya, Jati hanya teman dekat yang mengaku-ngaku pacar Tera pada semua orang. Tera yang lugu bisa apa dengan itu semua. Akui saja.
Hubungan mereka berlanjut hingga hari ini, di hari pertambahan usia.
Bukan hanya hari ini ia tanpa kabar, sudah seringkali ia lakukan. Seakan Tera ini hanya pacar cadangannya. Sekedar mengucapkan 'selamat ulang tahun' pun tak ada. Ia datang di saat ia ingin. Kesepian tak akan sirna tatkala obatnya tak ada. Rasa hati ingin mempunyai pelipur lara. Adakah?
Lamunan itu terpecah, bunyi pesan masuk mengejutkan Tera. Secara refleks ia membuka pesan itu. Berharap dari Jati, tapi itu hanya sekedar harapan kosong. Pesan itu berasal dari nomor baru.
Isinya:
'Selamat ulang tahun, Tera. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.'
Hanya itu pesan yang ia terima.
Siapa? Siapa dia? Kebahagiaan katanya.
Puh, lucunya.
Cih, bagi Tera itu hanya mitos belaka.
Ini hari libur, dan ia bingung harus berbuat apa. Nomor Jati tidak aktif. Harus sekali Tera beli kue ulang tahun yang ia pasangi lilin menyala dan ia tiup sendiri.
Tera berusaha setiap saat menghubungi Jati tetapi nihil hasilnya. Hingga malam menjelang sama sekali tak ada kabar darinya.
Bangun tidur dengan kesepian dan kembali tidur dengan kesedihan. Harus berapa ribu kotak tisu yang ia beli, dan isinya akan sama seperti hatinya. Kosong.
Berbaring dengan ponsel yang menyala, menampilkan pesan singkat dari seseorang yang asing untuknya. Tertidur dengan satu pertanyaan, kapan sedih ini akan berakhir dan berganti dengan bahagia?
***
Senin pagi, rutinitas seorang pelajar yaitu kembali sekolah. Tera datang seperti biasanya.
Masih pagi, terlalu pagi untuk siswa lainnya. Jauh mata memandang di depan sana, terlihat sosok yang tak asing. Orang gila itu lagi.
Ia duduk bersandar pada pilar depan tangga menuju kelas Tera. Mendengar suara langkah kaki, ia pun menoleh. Tersenyum.
Tera tak tahu senyum tulus itu seperti apa? Seperti itukah?
Ia bangkit berdiri, Tera pun siaga. Selalu waspada seandainya lelaki itu mesum lagi seperti sebelumnya. Satu bulan sejak tragedi ciuman berdarah itu, ia masih keukeuh mengejar-ngejar Tera. Hidup Tera di sekolah menjadi tak tenang, di tambah dua orang yang lainnya. Dimas dan Ahmad yang juga ketularan virus gilanya. Tera tak tahu namanya siapa.
"Hey...pagi." sapanya.
"Hm..." jawab Tera.
"Duh, jutek amat pagi ini. Matahari itu bersinar terang di pagi hari. Bukan mendung kayak gini, lo bukan awan." katanya.
__ADS_1
"Gue bukan matahari. Kalo gue matahari, gue bakal bersinar terik biar lo kebakar." maki Tera.
"Wesss...sadissss..."
Koor dua orang di belakang Tera yang langsung menoleh dan mendapati dua sosok kecoa sedang cengengesan.
"Hati lo aman kan, bos?" tanya Ahmad kepada si orang gila.
Ia hanya mengangkat jempol. Ia pun menyerahkan sesuatu kepada Tera yang berasal dari tasnya. Bungkusan yang manis dengan pita biru muda.
"Nih, buat lo. Selamat ulang taun ya." ucapnya dengan senyuman yang tersungging.
"Gue gak butuh." jawab Tera ketus.
"----lo yang chat gue kemaren?"
"Iya." jawabnya singkat.
"Terima aja kali." kata Dimas.
Tera pergi dari hadapan mereka bertiga tanpa menerima pemberian si orang gila. Trio gila yang membuatnya tak aman di sekolah ini, harus selalu ia hindari.
Tumben mereka tak mengejar Tera. Mereka beranjak pergi entah kemana. Biasanya mereka akan selalu merecoki Tera. Mengejar Tera kesana kemari macam bocah. Hm, aneh.
Tera curiga, ia harus tetap waspada. Mungkin saja ini termasuk rencana mereka. Tera turun tangga lagi dengan rasa penasaran yang membuncah.
Mereka memasuki gudang, markas mereka. Dengan pintu di tutup rapat. Sayup-sayup Tera masih bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Eh, ini hadiah mubazir dong."
Itu suara yang Tera kenali. Suara Ahmad, teman sekelasnya.
"Apa isinya?"
Tanya suara lain. Suara Dimas.
"Sesuatu yang bermanfaat pokonya."
Ucap suara yang lain lagi. Suara si orang gila.
"Noa, udah nyerah aja. Si Tera mah tak tersentuh." ujar Ahmad.
"Ck...gak akan. Gue yakin dia jodoh gue." jawab suara itu. Suara Noa.
Jodoh?
Tera pernah mendengar kata-kata itu. Pernah ada yang mengatakan itu beberapa tahun lalu. Rasanya, iya. Tera tak terlalu ingat. Tetapi ia pernah merasa ada yang mengatakan itu kepadanya. Bahkan ia dan Jati pun tak pernah membahas masalah jodoh.
Terlihat di sudut pandang orang lain, Tera dan Jati adalah pasangan berbahagia. Berpacaran lama tanpa pertengkaran hingga putusnya sebuah hubungan. Tetapi di sudut pandang Tera, mereka tak tahu. Jati bukanlah sosok pacar yang di idamkan.
Bercanda dan tertawa bersamanya selalu Tera lakukan ketika bertemu dengannya. Itu karena Jati bisa membuat suasana menjadi lebih baik. Merubah mood Tera dengan cepat. Tetapi tetap hampa yang terasa, seakan suara tawa itu hanya gaung yang jauh. Menggema di indera pendengaran tanpa merasuki hati yang lara.
Tera menajamkan pendengaran untuk menguping kembali.
"Yakin amat lo." kata Dimas.
"Bos, cewek laen banyak. Masa mau jadi pelakor?" timpal Ahmad.
"Pacaran itu bisa putus. Gue tunggu dia putus lah kalo mau macarin dia." ucap Noa kalem.
Putus? Apa suatu saat nanti Tera dan Jati akan putus?
Mungkin, iya. Kala hati bertemu titik jenuh. Kala hati Tera berhenti untuk menantikan kepedulian yang sesungguhnya dari seorang Jati. Ia bisa mencari kepedulian yang sesungguhnya dari orang lain kan?
"Buset, kalo gak putus..jomblo mulu lo." canda Dimas.
"Gue single. No jomblo." bela Noa.
"Ck, sama aja kampret. Lo single, ntar duet terus bikin album gitu. Basi lo, ah." ucap Dimas lagi.
"Yang jomblo ada saatnya bakal pacaran. Yang pacaran aja ngaku jomblo. Biar apa coba? Biar punya banyak simpenan. Bank kali ah." balas Noa.
Tera meninggalkan gudang. Meninggalkan obrolan mereka yang masih berlanjut. Masuk kelas lebih nyaman untuknya. Duduk menunduk dengan alibi membaca buku. Orang lain tak akan mengetahui bila ia sedang merenungi nasibnya.
Bel masuk berbunyi, Ahmad berlari tergopoh-gopoh masuk kelas sebelum satu menit lagi guru matematika memasuki kelas.
Hening. Suasana yang tercipta di kelas ini. Seperti keheningan yang merasuk di hati Tera, yang bertahun-tahun ia jalani dan ia rasakan.
__ADS_1
Berjam-jam telah ia lalui di sekolah ini, sekarang waktunya pulang ke rumah. Iya, rumah. Tempat yang paling tak ia inginkan untuk kembali. Tapi apa daya ia harus selalu kembali kesana. Hanya rumah dan toko jam yang selalu menjadi 'rumah' nya. Tempat persinggahan untuknya.
Hujan turun dengan derasnya. Kebanyakan siswa pulang dengan kendaraan masing-masing. Motor dan mobil berlalu, menerobos derasnya hujan.
Tera tak berani pulang, ia naik kendaraan umum. Ke halte di bawah guyuran hujan yang deras, sepertinya ia harus berpikir ulang. Ia pun akhirnya menunggu hujan reda di depan pintu koridor utama.
"Bos, kita duluan ya." teriak seseorang di belakang.
Tera menengok, Ahmad melambaikan tangan dan Dimas merangkulnya. Mereka pergi ke parkiran motor meninggalkan seseorang yang hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya.
Dia, Noa. Orang gila bernama Noa itu menghampiri Tera. Masih dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
'Dia kenapa sih? Gue heran dia bisa nampilin senyuman kayak gitu di depan gue. Padahal gue udah nunjukin dengan jelas rasa gak suka ke dia.' batin Tera.
Noa membuka tasnya, setelah berdiri di samping Tera. Ia mengeluarkan lagi bungkusan berpita itu, lalu mengulurkannya ke hadapan Tera.
Pura-pura tak melihat, itu yang Tera lakukan.
"Ini, hadiah buat lo." ucap Noa.
"----lo buka. Lo bakalan butuh ini sekarang."
Tera memandang sinis tepat ke wajah Noa.
"Ck, pulang lo sana. Mati aja lo."
"Gue bakal mati kalo Tuhan udah panggil gue." kata Noa kalem.
Wajahnya datar, masih dengan tangan mengulurkan bungkusan berpita itu.
"Gue gak mau terima sesuatu dari orang asing." ketus Tera.
"Gue bukan orang asing buat lo. Ini, terima ini Tera." paksa Noa secara halus.
"Gak..." ketus Tera lagi.
Noa membalas ucapan Tera dengan nada lembut.
"Kalo gue asing menurut lo. Di mulai dari detik ini gue bakalan jadi orang terdekat buat lo."
Ia tersenyum "----gue Noa. Gue udah gak asing buat lo kan?"
"Cih, jangan harap lo bisa deketin gue." decih Tera.
"Akan selalu ada harapan. Bahkan Tuhan memberikan hamba-Nya suatu perkara dan memberikan solusinya dengan doa. Salah satu cara termudah dan pertama kali yang terlintas dalam pemikiran manusia. Doa."
Noa tersenyum kembali kemudian melanjutkan ucapannya.
"----doa artinya senandung harap. Dan harapan itu ada, gak ada yang mustahil."
Tera memandang Noa tepat di wajahnya. Ada senyuman disana, nada suara yang halus dan tutur kata yang lembut itu bisa merubah perasaan menjadi lebih baik. Seakan kepribadiannya berbeda dari sosoknya di ruang UKS saat itu.
"Kenapa harus gue? Kenapa gue yang lo recokin?" tanya Tera.
"Hm, gue gak niat recokin lo. Kenapa harus lo? Gue gak tau. Tapi rasanya gue harus selalu ada di sekitar lo." jawab Noa.
Ia menyerahkan kembali bungkusan berpita biru muda itu. Tera memandangi wajah Noa dan bungkusan itu secara bergantian.
"Terima ini. Lo bakal butuh ini. Saat ini." ucapnya lembut penuh perhatian.
Tera menerima sembari tetap menatap wajah Noa. Ia tak menyangka orang gila ini bisa begitu perhatian.
"Buka." titah Noa.
Dan Tera membuka bungkusan itu. Isinya jaket berwarna biru muda.
Entah kenapa ia menjadi suka warna itu sekarang. Akan menjadi warna favoritkah?
"Cuacanya dingin. Lo pake aja."
Noa meraih jaket itu dan memakaikannya ke tubuh Tera.
Noa tersenyum kembali. Dan ia pergi dari hadapan Tera di bawah rintik hujan yang tersisa. Hujan telah mereda. Dinginnya cuaca yang di ciptakannya, kini tak di rasa tubuh Tera.
Ia bercermin pada genangan air bekas perbuatan sang hujan, wajah yang terpantul kini merona. Seakan kebahagiaan telah menampakkan wujudnya.
Jaket ini menghangatkan raga. Terbalut sempurna di tubuhnya. Berbalut jaket ini, Tera pulang ke 'rumah' dengan hati yang menghangat.
__ADS_1
****
Tbc