Kakak Gemes

Kakak Gemes
Gemas akut


__ADS_3

Ketika banyak orang berkumpul menjadi satu di sebuah hari bahagia, masa lalu tentang kesendirian dan kesepian itu hilanglah sudah. Bagai terlupakan bahwa dahulu pernah ada tangis di sudut ruang gelap karena meratap.


Bahwa dahulu pernah ada kalimat yang merutuki nasib yang tak baik. Kemalangan itu kini berubah menjadi kebahagiaan. Kesendirian itu kini berubah menjadi canda dan tawa. Kesepian itu berakhir.


"Baby, disini aja ya."


Noa mendudukan Tera di sebuah kursi. Lalu ia berjalan menghampiri teman-teman kost nya yang telah pindah ke kota lain. Hari ini adalah hari dimana Noa mengadakan acara syukuran karena ia masuk kelas akselerasi.


Noa mengundang kang Tisna dan kang Ajat yang sudah menjadi duo sukses itu.


Mereka semakin sukses sejak terakhir kali mereka di undang ke selamatan pernikahan Bunda dan Abah. Noa pun mengundang kang Engkos dan istrinya yang baru dua bulan ini sudah melahirkan seorang bayi perempuan. Mereka jauh-jauh datang dari Lombok demi acara selamatan yang sederhana ini.


Kang Jhon dan kang Acep pun ikut berkumpul disana. Mereka sedang temu kangen. Bunda dan Abah pun mengundang beberapa teman terdekatnya.


Sandy pun hadir di antara kebahagiaan ini. Ia sedang duduk di antara Bapak dan Ibu kost. Dimas dan Rima sedang mengobrol seru. Dan terakhir Ahmad dan Justin yang sedang berebut puding cokelat buatan Bunda.


Puding itu sengaja di simpan di meja prasmanan untuk menggoda iman perut setiap orang. Puding begitu menggugah selera dan Tera pun menyukai puding tersebut.


Noa memang yang terbaik. Setelah selesai menyapa teman-teman yang sudah jauh-jauh datang itu pun kini sedang mengambilkan puding cokelat untuk Tera tentunya. Ia memotong puding dengan tak tanggung-tanggung. Potongan besar yang kini sudah berada di atas piring di bawanya ke tempat dimana sang kekasih berada.


Noa menyuapi Tera, sesekali ia mengusap bibir Tera menggunakan jarinya bila ada puding yang tercecer disana.


Ia pun mengecup pipi Tera penuh rasa sayang. Semakin hari ia semakin menunjukan rasa gemasnya pada Tera.


"Noa, kita gak akan nikah terlalu muda kan?" tanya Tera yang mulai khawatir akan menuju ke jenjang pernikahan di usia yang masih muda karena Noa kini masuk kelas akselerasi yang artinya Noa dan dirinya akan lulus


"Masih banyak waktu buat pacaran, kan kita belum kuliah. Belum ngerasain kerja juga. Tapi hubungan yang serius juga gak ada salahnya dijalanin kan." jawab Noa.


Tera mengangguk mengiyakan. Tentunya Tera tak mau bila harus berhenti sekolah dan tak meluluskan pendidikannya di SMA. Setidaknya ia harus lulus dulu.


"Noa..." seru kang Jhon.


Ia melambaikan tangan untuk isyarat memanggil Noa. Dengan pamit terlebih dahulu kepada Tera, Noa berjalan kembali menuju tempat berkumpulnya para penyamun berkedok anak kost tersebut.


Kini Tera sendirian. Duduk dengan kepala menunduk sembari memperhatikan perutnya. Ia kembali mengelus perutnya, ia memikirkan penolakan Bunda kala mengetahui kekurangannya.


Saat Tera duduk sendirian, sesekali ia melihat sekeliling. Dimas meneguk ludah sembari menatap Tera tanpa berkedip. Ahmad pun tak kalah aneh, ia memperhatikan Tera tanpa merasakan cakaran Justin di tangannya.


Bergantian, Tera melihat dua pengabdi tersebut. Mereka berlari ke arah Tera dengan berlomba cepat-cepatan. Saling sikut menyikut untuk menghampiri Tera terlebih dahulu.


Tetapi, Ahmad yang menang dalam hal sikut menyikut. Larinya Ahmad itu sekuat macan. Ia suka makan biskuit macan yang bungkusnya bergambar gorila.


Ahmad mungkin sudah menjadi siluman. Karena barusan mendapatkan cakaran Justin. Bila spiderman menjadi superhero dengan digigit laba-laba. Ahmad pun sama, ia menjadi somplakman karena cakaran Justin.


Dimas terjengkang dan di tendang Ahmad hingga berguling masuk ke kolong salah satu meja prasmanan. Lalu setelah menganiaya Dimas, Ahmad melanjutkan larinya ke arah Tera.


Ahmad berlutut di hadapan Tera. Ia membuat wajah semelas mungkin.


"Tera, mumpung si Noa gak ada. Boleh kan gue minta puding itu."


Tera mengangguk setuju. Ahmad pun bahagia. Ia tersenyum lebar dengan mata yang berbinar-binar.


Ketika suapan pertama berhasil memasuki mulutnya, Ahmad terkejut dan spontan melihat ke sekeliling. Ia melihat Noa masih mengobrol bersama gengnya. Lalu Ahmad mengelus dadanya sembari menghembuskan nafas lega.


"Huh, gue kira si Noa liat gue malakin calon istrinya." monolog Ahmad.


Ketika ia melihat ke depan kembali, terlihat Dimas yang sedang merapikan penampilannya yang awut-awutan.


Dimas pun menghampiri Tera. Sama-sama berlutut di hadapan si manis yang sedang memegang piring berisi cemilan manis itu.


"Boleh?" tanya Dimas singkat.


Tera pun mengangguki permintaan tersebut. Puding buatan Bunda tak ada yang mampu menolak untuk memakannya. Tetapi kejadian tak terduga pun terjadi. Ketika Ahmad merasa kegiatan disuapinya terganggu, tangan Dimas pun terkena cubitan Ahmad.


Tak tanggung-tanggung, Ahmad mencubitnya dengan sangat keras. Dimas pun mengaduh, ia tak rela dianiaya untuk kedua kalinya. Dimas menarik jambang tipis Ahmad.

__ADS_1


Mereka ribut. Dimas mencolok hidung Ahmad. Tak kalah sadis, Ahmad pun menusukan jarinya di ketiak Dimas.


Mereka terus menerus ribut bagaikan mempertahankan wilayahnya. Dimas menjawil pipi Ahmad hingga kulit wajah Ahmad melebar. Ahmad segera membalas dengan mendorong Dimas hingga terjengkang dari posisi jongkoknya.


Mereka berdua itu tak sadar akan posisinya yang hanya sebagai omega. Sedangkan sang alpha kini sedang memperhatikan makanan pasangannya yang diperebutkan oleh dua omega tak tahu diri tersebut.


Noa terus memperhatikan dua sahabatnya dari jarak yang lumayan jauh. Bukan tak terjangkau, tetapi ia ingin melihat pertengkaran dua manusia idiot yang sedang berebut puding di tangan Tera.


Kekasihnya itu tak menghiraukan pertengkaran dua sahabatnya. Ahmad yang melihat lawannya tumbang dan terjengkang indah itu pun kini hendak menendang senjata Dimas. Tetapi Dimas pun tak mau kalah telak, sebelum jempol kaki Ahmad mengenai burung langkanya, ia membuat jurus ninja dengan menyatukan dua jari telunjuknya. Dimas menendang Ahmad hingga terjengkang pula dan memulai aksi jurus ninjanya.


Ahmad pun berteriak karena kalah telak. Dimas yang menang pun sedang tertawa kencang. Ia tergelak-gelak kala melihat Ahmad mengusap kasar pantatnya yang hanya tertutupi celana bahan berwarna hitam.


"Najis. Telunjuk gue harus mandi tujuh lautan." ucap Dimas sembari menoyor kepala Ahmad.


Yang di toyor hanya cengengesan.


Sang raja kini sedang berjalan mendekati ratunya. Sang Alpha kini akan memberikan pelajaran pada omega karena sudah berani menyentuh makanan pasangannya. Noa menghampiri duo idiot yang belum menyadari kemurkaan di beberapa langkah mendekat tersebut.


Tera masih mengabaikan keributan itu. Ia masih asyik dengan pikiran dan hatinya sendiri. Noa menjewer jambang kedua sahabatnya. Dimas dan Ahmad mengaduh. Mereka dipaksa berdiri dengan jeweran tersebut. Barulah Tera memperhatikan Noa yang sedang berulah.


"Ngapain lo berdua, hem? Grepein makanan dia tandanya lo berdua udah bosen makan." omel Noa.


Tera membetulkan ucapan Noa yang terakhir itu.


"Bosen idup. Bukan bosen makan, sayang."


"Gak salah, baby. Mereka harus tetep idup buat kamu babuin." ujar Noa.


"Kok babu? Gue sohib." bela Ahmad.


"Gue juga sohib." kata Dimas tak mau kalah.


"Meskipun bini gue itu gemes akut, dan pudingnya juga bikin gemes akut, lo berdua harus tahan sama godaan itu." peringat Noa.


Tera melerai mereka semua. Ia tahu bahwa Noa hanya bercanda. Noa pun melepaskan jeweran di jambang Dimas dan Ahmad.


"Gue lagi mode pengen nyobain ngidam. Lo berdua mesti bayar puding gue yang tadi kalian makan dengan nurutin kemauan gue." ujar Tera.


Dimas dan Ahmad terkejut. Mereka mengelus dada, bisa-bisanya ada makhluk yang menzolimi mereka. Ingin rasanya memuntahkan puding itu secara utuh. Noa hanya memandang penuh rasa iba pada dua sahabatnya.


Sayangnya, rasa iba Noa tak ada gunanya. Percakapan dua sahabatnya membuat Noa menyesal telah iba kepada mereka.


"Dim, gue juga bisa mengandung loh." kata Ahmad.


Dimas menoleh ke arah cengiran butuh tabokan itu.


"Lo mah bukan mengandung. Tapi mengandang."


"Mad, lo kalo ngimpi jangan melek. Ngeri tau. Lo kalo jadi abah hamil, gue yang harus paksa si Justin nikahin lo." ujar Noa.


"Ck, daripada debat terbuka gitu mendingan ambilin kue cokelat itu." tunjuk Tera pada puding cokelat yang menggugah selera di atas meja prasmanan tersebut.


Dimas pun bertanya. "Itu termasuk ngidam bukan?"


Tera mengangguk lucu. "Iya. Pengen makan itu. Ini percobaan ngidam pertama."


Ahmad menimpali. "Mau apa lagi? Nanti gue ambilin."


"Mau peluk Ayahnya aja." goda Tera kepada Noa yang berada di sebelahnya.


Noa tertawa kecil melihat sikap manja Tera. Ia menyukai apapun yang Tera tunjukan. Menurutnya, Tera itu mempunyai banyak pesona yang jarang orang lain miliki.


"Bentar ya. Gue ambilin dulu." Dimas berlari ke arah meja dimana kue cokelat itu sedang berusaha menggoda semua yang melihatnya.


Ia mengambilkan potongan super besar untuk Tera.

__ADS_1


Sementara itu, Noa menuruti keinginan Tera yang menginginkan pelukannya. Di curinya kecupan di pipi Tera. Noa begitu gemas pada kekasihnya itu.


Gemas akut sedang mewabah.


Noa menggesekan hidungnya di pipi Tera. Yang di perlakukan romantis itu sedang tertawa kecil. Ia kegelian akibat godaan Noa.


"Baby, kok aku sayang banget sih sama kesayangannya aku ini." bisik Noa.


"iih geli." gumam Tera yang terkena hembusan nafas Noa.


Ahmad tersenyum melihat sepasang kekasih yang telah bersatu itu. Dahulu, perjuangan itu disaksikan olehnya. Sulitnya Noa mendapatkan hati Tera. Pengejaran tiada henti. Kesabaran yang terkuras tetapi tak ada habisnya. Bagaikan mata air abadi.


Ahmad melihat pemandangan indah itu. Dan ia yang sudah sejak awal menemani perjuangan Noa pun ikut berbahagia.


Dimas pun tak jauh berbeda. Ia membawa piring berisi potongan besar kue cokelat sembari menatap pemandangan penuh kasih itu. Ia yang dahulu sempat merasa pesimis. Ia yang meragukan perjuangan itu. Ia yang selalu marah bilamana Noa mendapatkan perlakuan tak baik dari Tera. Kini ia melihat perjuangan yang berujung cinta sejati.


Mereka dua orang yang setia menemani, setia membantu, setia menghibur Noa di kondisi yang menyakitkan. Dan dalam keadaan berbahagia pun mereka dua dari sekian orang yang menjadi saksi indahnya cinta dalam kesabaran dan penantian panjang.


Dimas berjalan perlahan menuju Tera. Ia tak ingin terburu-buru menghampiri. Karena ia ingin melihat lebih banyak lagi kisah manis itu. Bagaimana Noa begitu mengasihi dan menyayangi Tera yang kini telah membalasnya dengan penuh kasih sayang pula.


Pandangan Dimas tak lepas pula kepada Ahmad yang terharu. Ia melihat Ahmad sedang menghapus air matanya diam-diam. Air mata haru. Dimas bukan tak terharu, ia menahan air mata itu dengan terus membendung di pelupuk matanya.


Ahmad yang masih duduk di bawah pun berpura-pura menunduk saat ia membersihkan sisa air matanya. Dimas merangkul Ahmad yang terkejut karena aksi terharunya kepergok. Ia menaikturunkan alis kepada Ahmad yang tersenyum tipis.


"Mana yang mau kue." seru Dimas sembari mendekatkan piring berisi potongan besar kue cokelat pada Tera.


"Ini nih. Disini." seru Tera bersemangat.


Noa meraih piring itu, kini piring itu sudah berpindah tangan kepada Noa. Ia menyuapi Tera. Tanpa di duga, Tera meraih sendok yang berada di pegangan Noa dan memberikan satu suapan untuk kekasihnya.


Noa menerima suapan itu, lalu mencubit pelan pipi Tera. Yang di cubit sedang memainkan sendok di atas piring kuenya.


Bukan sampai disitu saja, Tera kemudian memberikan satu suapan untuk Dimas.


"Ini buat Dimas yang baik." kata Tera.


Dimas tersenyum lebar dan menerima suapan dari Tera. Ahmad menganga lebar, ia pun ingin disuapi. Ahmad memberikan isyarat dengan mencolek tangan Tera.


Yang di colek tertawa kecil. Noa mengusap lembut rambut Tera. Ahmad terus menunjuk mulutnya yang terbuka lebar. Tera menggodanya dengan berlama-lama memotong kue di piring yang Noa pegangi.


Ahmad terus membuka mulutnya. Tera yang tak kuasa melihat tingkah Ahmad pun memberikan suapan super besar.


"Ini buat Ahmad yang udah pegel buka mulut." kata Tera.


Ahmad sesegera mungkin memasukan kue itu ke dalam mulutnya. Pipinya gembung karena besarnya suapan yang Tera berikan. Lalu dengan kekuatan maruk beruk, Ahmad menelan kue di dalam mulutnya itu.


Noa kembali meraih sendok dari tangan Tera. Ia memberikan suapan kecil untuk bibir tipis nan mungil itu.


"Ini buat si cantik." puji Noa.


Tera menerima suapan dari Noa dengan senang hati. Ia memeluk Noa dengan mendadak. Dimas dengan sigap meraih piring berisi sisa kue yang hampir jatuh dan menyimpannya di tengah-tengah antara dirinya dan Ahmad.


Noa tersenyum lebar menerima perlakuan manja nan manis itu. Ia mengusap lembut punggung kekasihnya. Ada desah bahagia. Ada hembusan nafas lega. Tak luput dari penglihatan Dimas dan Ahmad saat melihat Noa yang sedang dalam pelukan kerinduannya.


Ahmad berkomat kamit mendoakan. Dimas pun sama. Dan Noa, pria yang kini selalu bahagia itu pun sedang berbahagia bersama kekasih dan kedua sahabat setianya. Tera pun bahagia karena Noa selalu membahagiakannya. Sesederhana itu.


Di lain tempat dalam waktu yang bersamaan, ada hati yang lain yang begitu menginginkan cecap kebahagiaan pula.


Sandy menatap pemandangan indah yang menurutnya memuakan. Ia belum bisa menerima bahwa dirinya tersisihkan bahkan terbuang. Bahwa dirinya bagaikan pemeran antagonis yang akan selalu di benci setiap insan.


Tak ada yang memperdulikannya. Semua orang menyukai Tera tetapi tidak padanya. Hanya menurutnya saja.


Tali kasih yang Tera miliki begitu kuat dan tak bisa diputuskan dengan mudahnya. Erat.


"Gue belum rela, Tera. Maaf." monolog Sandy.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2