Kakak Gemes

Kakak Gemes
Olahraga?


__ADS_3

Minggu pagi Noa menyempatkan diri untuk jogging keliling kompleks dan berakhir di taman tak jauh dari kosan.


Kejadian semalam, pertemuan tak terduga itu masih terbayang. Raut bahagia itu masih tergambar jelas di pikiran Noa.


Ia tak bisa seperti ini terus. Apapun yang terjadi nanti, biarlah terjadi. Noa berpikir, biarlah ia egois untuk satu hal. Untuk ini. Ia tak mau usahanya gantung seperti ini. Ia hanya harus berjuang, apapun hasilnya nanti biarlah tetap menjadi rahasia Tuhan untuk saat ini.


Terlalu lama melamun di taman nyatanya tak nyaman. Ia merasa menjadi pusat perhatian, terutama dari para mojang. Cantik namun ia tak tertarik.


Menurut orang lain, ia akan di nilai tak normal. Tapi menurutnya dan di tambah kang Jhon sekarang, Noa merasa normal. Ia masih mempunyai ketertarikan pada orang lain, walaupun hanya satu. Hanya Tera yang bisa membuatnya tertarik. Ia juga masih mempunyai nafsu, walaupun berlaku hanya pada sang pujaan hati.


Noa memutuskan pulang ke kosan. Ia menyempatkan diri untuk mampir membeli bubur ayam. Bukan hanya untuknya, melainkan untuk sarapan semua penghuni kost. Tadi sewaktu ia berangkat, semua penghuni kost masih mendengkur di kamar masing-masing.


Lima belas menit berjalan santai dari taman ke kosan, ia lalui seraya menenteng bubur ayam.


Ia pun mengetuk pintu utama, tak ada yang membukakan satu pun.


Karena pintu tak di kunci, ia masuki kosan. Niatnya hendak ke arah dapur, menyiapkan sarapan untuk langsung di santap semua orang. Namun niat tinggalah niat, gagal di tengah jalan ketika ia melewati kamar kang Tisna.


Semua penghuni kost sedang berkumpul disana, fokus mereka ke sebuah benda yang biasanya di gunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ya, ponsel.


Noa penasaran. Mungkin lebih condong ke curiga. Sedang apa semua orang berkumpul di satu kamar memandangi satu benda dengan fokusnya.


Noa berinisiatif memasuki kamar kang Tisna dan yang menyadari kehadirannya hanya kang Acep. Salah satu penghuni kosan yang masih berkuliah itu memberi isyarat agar Noa menghampiri mereka.


"Kang, gue beliin sarapan nih. Bubur ayam."


Ia membuka percakapan dengan mereka yang masih fokus memandangi ponsel.


Kang Acep yang memang dari awal sudah menyadari kehadiran Noa menjawab.


"Kadieu..engke we ngabuburna mah. Aya nu leuwih asik pokona mah."


(Kesini..nanti aja ngebuburnya. Ada yang lebih asik pokonya).


Noa yang memang dari awal penasaran, terburu-buru menghampiri gerombolan penyamun itu. Iya penyamun.


Di mata wanita normal, mereka seperti gerombolan penjahat, apalagi di lihat dari tampang mereka saat ini. Hanya pengandaian saja, muka mereka itu memang di buat-buat terlalu buron pagi ini.


Akhirnya Noa bergabung bersama mereka. Kang Acep mendudukannya di tengah-tengah tepat di samping kiri kang Tisna yang serius memegangi ponselnya.


Noa melihat layar ponsel. Dan apa yang ia lihat?


Ternyata mereka sedang melakukan kegiatan bermain ludo berjamaah. Noa mulai agak meragukan kelanjutan hidupnya yang sudah belok-belok menjadi tambah berkelok.


"Para akang, itu ludo?" tanya Noa dengan nada polos untuk memecah keheningan yang tercipta.


Semua yang awalnya fokus ke layar ponsel berbalik menatapnya dengan wajah datar. Mereka memandanginya tanpa bicara. Noa yang di perlakukan dan di respon seperti itu hanya nyengir dan menggaruk-garuk kepala.

__ADS_1


Kang Engkos masih dengan wajah datarnya menjawab pertanyaan bodoh Noa.


"Cing atuh Noa, maneh geus gede maenya kakara nyaho ieu ludo? Noa, maneh ti kota pan? Sanes tenyom turun gunung?"


(Duh Noa. Lo udah gede gini masa baru tau ini ludo. Noa, lo dari kota kan? Bukan monyet turun gunung?).


Kang Ajat angkat bicara "Noa, maneh tong jadi kerdus."


(Noa, lo jangan jadi kerdus / kera dusun).


"Ini ritual kita setiap hari minggu kalo semua kumpul di kosan. Tiap bangun pagi kita olahraganya kayak gini. Jalan-jalan muter-muter sampe si ludo cape."


Kang Tisna memberikan penjelasan atas aksi mereka.


"Ini mah lebih sehat dari jogging..hahaha." ucap kang Jhon sotoy.


"Dan sampe saat ini juara bertahan kita masih kang Tisna." timpal kang Acep.


Noa diam mendengarkan penjelasan para akangnya. Noa berpikir, mereka kompak sekali. Ia juga harus menyesuaikan diri agar bisa kompak bersama mereka. Ini adaptasi yang aneh.


Maklumilah, ia sedang bergaul bersama para penyamun. Ternyata ia salah masuk kosan, ini markas penyamun. Namun pada kenyataannya, ia malah merasa betah dan nyaman bersama mereka.


"Geus..geus..urang lanjut okeh." ujar kang Tisna memandang ke semua personil penyamun.


(Udah..udah..kita lanjut okeh).


Mereka semacam paduan suara. Noa yang diam saja melirik kanan dan kiri. Ia mengikuti mereka semua, fokus memandang layar ponsel yang di pegangi kang Tisna.


Kemudian kang Tisna memulai permainan itu lagi. Mulai bergerak adegan demi adegan bidak yang berjalan memutari bidang permainan yang tadi sempat tertunda dan terdengar pula suara-suara geraman para penyamun kala bidaknya menjadi korban hingga masuk kandang kembali.


Noa yang pada dasarnya tak tertarik pada game, tak bereaksi sedikit pun.


Sedangkan para akang sudah bergerak gelisah dan wajah mereka penuh ekspresi. Noa masih kalem saja. Ia malah sempat memperhatikan satu persatu wajah mereka dan kang Tisna yang mereka bilang juara bertahannya masih sedikit kalem. Oh, ia masternya.


Akhirnya, satu persatu tumbang. Kang Engkos yang pertama kali tereliminasi. Ia di tendang keluar kamar di susul kang Acep beberapa menit kemudian.


Kang Ajat sudah tak kuat berjalan akibat bidaknya kalah telak. Ia di seret kang Tisna keluar kamar.


Nasib kang Jhon juga tak kalah naas. Dengan mengenaskan, ia di gulingkan dari kasur dan lanjut berguling-guling keluar kamar oleh kang Tisna. Tinggal Noa dan kang Tisna yang tersisa.


Setengah permainan kang Tisna masih bertahan. Dan disitu awal penggulingan tahta sang master. Juara bertahan tumbang juga. Noa mengkudeta sang master. Kang Tisna tak mengetahui Noa memperhatikan permainan itu sedari tadi.


Noa tahu betul kelemahan seniornya. Kang Tisna melempar ponselnya dan Noa dengan sigap menangkap ponsel tersebut. Kang Tisna berlari ke arah toilet akibat kesedihan mendalam yang di alaminya usai dikalahkan juniornya.


Semua sudah gugur di medan perang. Noa menyimpan ponsel kang Tisna di kasur setelah mematikan ponsel tersebut.


Noa melanjutkan niat awal menyiapkan sarapan. Ia menuang semua bubur di mangkuk supaya mereka bisa langsung sarapan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, akhirnya Noa selesai menyiapkan sarapan, dan ia segera duduk di meja makan.


Kang Ajat yang aneh melihat Noa adem ayem angkat bicara.


"Noa, lo adem aja."


Noa menyuap bubur ayam sembari menatap kang Ajat. Ia menelan bubur itu dan menjawab. "Hmm...ini masih pagi, kang. Masih adem."


"issh..polos lo mah. Rayakan kemenanganmu dong, wahai makhluk adem."


Kang Ajat bersungut-sungut karena jawaban yang di lontarkan oleh Noa.


Ia mengerti maksud dari penuturan kang Ajat. Namun ia malas bila harus menanggapi dengan bangga.


Kang Jhon memasuki ruang makan dan nyengir melihat Noa dan kang Ajat. Kang Jhon menaikturunkan alisnya, sedangkan Noa hanya senyum menanggapinya.


Setelah beberapa lama dan bubur ayam Noa hampir habis, penghuni kost sudah lengkap mengelilingi meja makan. Mereka semua mengucapkan terima kasih kepada Noa.


Mereka sarapan dengan saling melempar candaan dan ejekan. Senyum yang terukir dan tawa yang membahana menghiasi suasana sarapan di kosan ini.


Noa tak mau kehilangan moment ini. Moment berharga yang jarang ia dapatkan bahkan dari Bunda. Seandainya ia mempunyai keluarga yang lengkap, mempunyai seorang Ayah. Bunda tak akan menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja atau memikirkan semua kebutuhan Noa agar terpenuhi dengan baik. Mungkin ia bisa mendapatkan kasih sayang lebih banyak dari Bundanya.


Ia membayangkan seandainya ini di rumah. Ayah, Bunda dan dirinya yang mengelilingi meja makan. Bercanda bersama mereka, tertawa bahagia selayaknya keluarga utuh pada umumnya. Betapa bahagia hidupnya.


Dan di satu sisi, ia mengingat Tera. Teringat kejadian semalam saat Tera bercanda dan tertawa dengan seseorang. Betapa tololnya Noa, membayangkan Tera bahagia bersamanya. Semua kebahagiaan itu hanya ada di pikirannya. Kenyataannya, ia baru bisa menemukan canda dan tawa saat ini.


Di antara semua kebahagiaan yang tercipta saat ini, tepatnya di kosan ini, hatinya miris. Rasanya bagai teriris.


Perih. Pedih.


Hidup itu hanya bisa nyanyi satu lagu. Lagu sedih. Elegi.


Ia tak meratap.


Untuk apa?


Meratapi nasib pun hanya sia-sia. Ia berjuang menapaki hidup ini menemukan satu persatu hal yang ia belum miliki.


Bagai puzzle yang sedang di mainkan. Ia susun satu persatu hingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Menemukan satu persatu rasa, selain kidung sedih yang terngiang di telinganya.


Setiap manusia yang mempunyai kesempatan untuk hidup di dunia ini berhak memilih jalan hidupnya. Merasakan semuanya yang Tuhan telah sediakan. Menjalani lika liku kehidupan. Merasakan sedih dan senang silih berganti bagai roda yang berputar, terkadang di atas beralih tertekan di bawah. Dan ia tinggal menunggu waktu juga untuk merasakannya.


Manusia yang lebih awal hidup akan merasakan lebih banyak hal yang terjadi dalam hidupnya. Tetapi bukan berarti yang baru menapaki kehidupan pun tanpa pengalaman.


Semua orang akan merasakan apa yang Tuhan telah sediakan. Takdir dan nasibnya. Takdir yang sudah di tetapkan dan nasib yang mempermainkannya. Manusia hanya lakon dari sebuah sandiwara. Dan ia juga mempunyai giliran berperan di dalamnya. Inilah awal kisahnya.


***

__ADS_1


Tbc


__ADS_2