
Tera...sosoknya sedang Noa perhatikan. Ada begitu dekat di hadapannya. Ingin Noa mendekatinya. Lebih dekat lagi dari sekarang ini. Sayangnya, meja makan menghalangi aksinya. Ah, sial.
Noa membatin. 'Pencuri hatinya gue, coba lo dikit aja liat gue. Kan disini gue bukan dompet berjalan, ceritanya gue lagi kencan sama lo.'
Iya, pencuri hatinya. Ia memperhatikan wajah yang manis itu. Bulu mata yang lentik itu memang pantas untuk wajahnya yang sungguh manis.
Jam sudah menunjukan pukul lima sore dan mereka pun sudah selesai menyantap makanan masing-masing. Noa berinisiatif mengantarkan Tera pulang. Tanpa banyak percakapan akibat kekenyangan, mereka pun menaiki angkutan umum.
Tera masih memeluk kotak yang isinya sudah diketahuinya. Begitu erat pelukannya terhadap si kotak hingga membuat Noa iri.
'Dih, kapan gue di peluk mesra sama dia? Giliran gue dong, kotak. Gue juga pengen.' batin Noa yang sungguh sedang dalam mode hampir mesum.
Perjalanan ke rumah Tera terasa singkat bagi Noa. Ia memandang Tera yang masih memeluk kotak pemberiannya, Tera tersenyum singkat lalu berbalik badan dan melangkahkan kaki menuju pintu depan rumahnya.
"Gak basa basi ngajak gue masuk dulu gitu?" tanya Noa dengan penuh pengharapan.
Tera menahan tawa seraya membalikan badan. Ia melihat wajah memelas dari remaja pria yang telah mengantarkannya hingga depan rumah.
"Enggak deh. Gue cuma mau bilang makasih aja buat traktiran sama anterannya." kata Tera.
Noa menghela nafas, kemudian ia tersenyum pelit. Sepertinya Tera tak ingin ada tamu hari ini, Noa paham akan hal itu. Ia melambaikan tangan yang tak di balas oleh Tera.
Ketika malam baru saja hadir menggantikan sore yang penuh pengharapan, Noa keluar kamar akibat alarm di perutnya. Sepertinya ia butuh cemilan malam ini dan ia pun memutuskan untuk membelinya sebelum cacing di perut berdemo dengan anarkis.
Saat menutup pintu kamar dari luar, seseorang menepuk pundaknya membuat ia menoleh ke asal tepukan itu.
"Noa, mau kemana?" tanya Rima yang telah berpakaian rapi, di sampingnya ada Jati. Keduanya tersenyum kepada Noa.
"Mau nyari cemilan, teh."
Noa membalas senyuman seadanya.
"Oh, iya. Kenalin, ini Jati. Pacar gue." kata Rima.
Jati mengulurkan tangannya dengan gaya sok maskulin.
"Jati." katanya singkat.
Noa tersenyum dan balas menjabat tangan itu.
"Noa." kata Noa singkat.
"Beb, ayo. Aku udah laper." ajak Jati sembari memberikan usapan lembut di rambut Rima.
"Gue keluar dulu, ya. Si Jhon sama Acep katanya mau mangkal." kata Rima.
"Mangkal?" tanya Noa bingung.
Rima nyengir lebar. "Mangkal nyari cewek katanya."
Noa manggut-manggut. "Oh, ya udah lah. Fenomena yang udah biasa."
"Hahaha...aduh, fenomena lagi lo mah. Ya udah, gue sama Jati berangkat ya." kata Rima.
Noa menganggukan kepala dan mereka pergi dari kosan.
__ADS_1
'Andai Jati tahu pacarnya tadi ada disini juga. Andai dia tahu, Tera sama gue. Jati berselingkuh dengan status hubungan berpacaran dengan Rima. Dan gue malah ada di antara hubungan mereka. Apa perbedaannya gue dan Jati?
Kami sama-sama orang yang buruk. Bencikah dia setelah semua yang gue lakukan padanya? Menutupi keburukan Jati demi menghindarkan Tera dari sakit hati.'
Noa memikirkan hal itu selama perjalanan.
Sambil melajukan motor di sepanjang jalan, ia memergoki kang Jhon dan kang Acep sedang menggoda para wanita di jalanan. Mereka menjadi binal setelah di tinggal para tetua adat yang biasa menjadi pawang penjinak kebinalan mereka.
Noa putuskan membeli siomay. Ia teringatkan Tera. Seringkali ia melihat Tera makan siomay. Ia berasumsi kalau Tera suka siomay. Ilmu sotoy itu keluar begitu saja. Mungkin siomay bisa jadi alasan untuk menemui Tera malam ini.
Membawa dua plastik siomay ke sisi motornya, Noa langsung menggeber motor menuju satu rumah. Langkah kakinya terburu-buru saat telah sampai di depan rumah yang sore tadi baru saja ia sambangi.
"Tera..." panggil Noa dari depan pintu.
Tak lama kemudian suara kunci yang di putar membuat Noa mendadak degdegan. Noa merasa rindu. Noa merasa ingin cepat melihat kerinduannya.
"Noa. . .mmh...lo kok balik kesini lagi?" gumam Tera sembari mengucek matanya.
"Ini nih..siomay buat lo sama gue. Ngemil yuk."
Noa mengangkat plastik berisi dua porsi siomay. Baru saja hendak melangkahkan kaki melewati ambang pintu, Tera mendorong pelan dada Noa.
"Disini aja...hem, Noa." ucap Tera seraya menguap.
Tera membuka matanya lebar-lebar kala merasakan debaran jantung Noa di telapak tangannya yang menyentuh dada bidang itu. Irama degup jantungnya yang tenang membawa ketenangan di hati Tera pula.
Namun Tera menampik perasaan nyaman itu, ia berjalan cepat menuju ke dapur untuk membawa dua piring dan sendok. Ia mendapati Noa sedang duduk di teras rumahnya yang tak luas itu.
Dituangkannya dua porsi siomay pada piring yang tersedia. Mereka makan cemilan malam itu dalam keheningan. Bukan karena heningnya malam melainkan heningnya tanpa percakapan. Tera merasa ada kecanggungan sedangkan Noa berharap suasana menghangat dengan obrolan santai. Sayang, ia masih di permainkan oleh harapan seperti tadi sore. Namun Noa tak kecewa.
Noa memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa.
"Tera, gue sayang lo." bisik Noa.
Tera tersenyum manis. Sangat manis. Noa berharap pesan itu benar-benar tersampaikan ke hatinya. Agar ia tahu Noa sungguh-sungguh mempunyai perasaan padanya.
Perasaan cinta, perasaan sayang, dan perasaan rindu. Iya, rindu menantikan cintanya menyambut. Rindu akan kasih sayang yang ingin Noa rasakan hanya dari Tera seorang. Tera Ramadhani. Yang ia anggap cinta sejatinya.
"Tera, bales perasaan gue ya." bisik Noa lagi.
Tera hanya diam tanpa jawaban yang begitu Noa nantikan. Noa sadar diri, Tera masih milik orang lain. Namun ia menegaskan kembali perasaannya.
"Tera, gue sayang lo."
Noa kembali berbisik. Kembali menyatakan perasaan ini. Kembali memohon samar agar Tera tersadar ada cinta yang selalu bersabar. Ada jantung yang selalu berdebar ketika ia selalu mengumbar pesonanya.
Fokus Noa beralih pada pakaian yang Tera kenakan. Noa baru menyadari bahwa Tera mengenakan baju tidur darinya.
"Lah, gue baru sadar lo pake baju tidur ini."
Noa menunjuk gambar wanita berkepang di baju tidur Tera. Dan kalimat romantis pun seperti menguap begitu saja.
"iih kemana aja mata lo dari tadi. Jangan nunjuk-nunjuk gitu. Jari telunjuk lo mesum." kata Tera yang menyilangkan tangan di dada.
"Cantik. Lo beneran cantik." puji Noa.
__ADS_1
Pipi yang di puji pun merona merah. Noa mendapatkan pemandangan yang begitu indah di malam hari ini.
"Foto yuk." ajak Noa.
"Gak mau..." tolak Tera.
"Ayo dong..."
"Pemaksaan iih..."
Noa mempersiapkan kamera ponselnya. Ia pun membuat pose yang bagus bersama Tera.
Noa berbisik. "..sayang..."
Tera tercengang mendengarkan satu kata yang membuatnya gagal terlihat cantik di kamera.
Tera membatin. 'Sayang? Hem, entah kenapa kata-kata itu saat ini membuat pipi gue memanas. Gue jadi suka di panggil seperti itu.'
Wajah Tera begitu dekat dengan wajah Noa, karena ingin memandang remaja tersebut lebih dekat lagi hanya untuk mengamati selain tampan yang di miliki. Sedangkan Noa telah menangkap tatapan Tera dengan tatapan penuh kelembutan. Noa bahkan mengusap pelan pipi kanan Tera.
"Lo cantik juga ya." sanjung Noa.
Kembali lagi pipi Tera memanas akibat pujian itu.
Noa kian mendekati Tera agar semakin mendekatkan wajah mereka. Ia pun berbisik di hadapan Tera.
"Bahagia bareng gue yuk." ucap Noa.
Hati Tera menghangat mendengar ucapan itu. Andai Noa tahu.
Noa kembali berbisik. "Lo disini aja." tunjuknya ke dadanya.
Ia menuntun tangan Tera untuk menyentuh dadanya, Tera merasakan detak jantung yang berdebar keras.
"----biar kita bisa ngerasain bahagia bareng."
Seyuman terukir di bibir Tera. Tersungging tanpa Tera perintahkan sebelumnya. Ada bahagia dan haru bercampur aduk di dalam hatinya. Dan jantungnya pun berdegup keras, berdetak tak menentu, berdebar-debar tak seperti biasanya.
"----satu cinta di dua tubuh yang berbeda." bisik Noa.
Lagi dan lagi bisikan itu membuat hati Tera kembali menghangat.
Tera tak mampu berkata-kata. Hanya senyuman untuk mengisyaratkan bahwa ia bahagia saat ini. Ia memberitahukan lewat hati dan tatapan mata bahwa ia pun ingin merasakan bahagia bersama Noa.
"----simpan hati gue baik-baik."
Noa menyentuh bagian dadanya seperti menggenggam sesuatu dan meletakan genggaman tangannya di dada Tera.
"----semua itu buat lo. Hati dan hidup gue. Cinta dan detak jantung gue."
Tatapan mata teduhnya mampu menghipnotis. Lagi dan lagi ia tersenyum menghangatkan hati Tera. Dan senyuman itu milik Tera saat ini.
Tera memberanikan diri meraba pipi Noa bahkan mengelusnya perlahan. Dan Noa menyambutnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Berharap sentuhan ini awal dari harapan yang pasti. Harapan miliknya.
***
__ADS_1
Tbc